
Mentari pagi telah bersinar pasangan pengantin yang baru saja kembali bersama ini, masih terlelap di bawah selimut saling mendekap satu sama lain dengan tubuh polos. Setelah dini hari tadi memadu kasih melepaskan semua rindu akan perpisahan yang panjang.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu terdengar sayup-sayup di telinga Arsen membuatnya tidur lelapnya terganggu. Menggeliat perlahan lalu mengerjap membuka matanya. Dua sudut bibirnya tertarik saat manik matanya menangkap perempuan yang ia cintai terlelap dalam dekapannya. Masih memandang takjub wajah cantik Sarah belum bergerak dari tempat hingga suara ketukan pintu semakin terdengar keras.
“Mengganggu saja,” gerutu Arsen.
Sebelum beranjak Arsen mengecup kening Sarah kemudian bangkit sebelum itu matanya mencari pakaiannya yang ia lempar asal semalam.
Arsen melangkah hanya membuka pintu dengan langkah gontai.
“Papa, ada apa?” tanya Arsen dengan suara serak khas bangun tidur di sertai wajah malas.
Wisnu menatap heran putranya yang masih belum bersiap ke kantor dan bertelanjang dada.
“Ar, Ara ngak ada di kamarnya, dia ngak ada dimana-mana. Apa mungkin dia sudah pergi tanpa pamit ke Papa,” jelas Wisnu dengan wajah sedih.
Arsen tersenyum kaku menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap wajah sedih Papanya, sungguh ia malu mengatakan pada Papanya jika Sarah ada di dalam kamarnya dan mereka baru saja memadu kasih.
“Ara ... Ara, dia ada di dalam kamar bersamaku,” ucap Arsen terbata mengalihkan pandangannya tidak ingin memperlihatkan wajahnya memerah.
Mendengar ucapan Arsen membuat Wisnu mengembangkan senyumnya, menatap wajah malu-malu putranya lekat membuat yang di pandang semakin tertunduk. Ia mengerti apa yang telah di lakukan pasangan yang baru saja bertemu ini apalagi Arsen keluar kamar hanya bertelanjang dada.
“Apa kalian kembali bersama?” tanya Wisnu hanya untuk menggoda Arsen.
“Ia, Pa.” Arsen mengangguk.
“Syukurlah papa turut senang mendengarkannya. Jaga dia baik-baik, kalian jangan sampai berpisah lagi,”pesan Wisnu menepuk pundak Arsen.
“Pasti Pa.”
“Papa tunggu di bawa.”
Wisnu melangkahkan kakinya, meninggalkan Arsen dengan penuh kebahagiaan. Putranya kembali bersama dengan orang yang ia cintai.
Arsen kembali masuk ke dalam kamar melangkahkan kaki di ranjang, di mana cintanya masih terlelap. Pemuda ini kembali naik bergabung dengan istrinya. Berbaring miring menatap wajah Sarah merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu, hingga Sarah akhirnya menggeliat mengumpulkan separuh nyawa, mulai membuka matanya perlahan. Jantungnya berdetak kencang saat ia membuka mata pertama kalinya sama seperti dua tahun yang lalu wajah tampan Arsen yang menghiasi paginya.
“Pagi bunda,” sapa Arsen dengan senyum semangat menatap Sarah lekat membuat pipi yang menerima ucapan dan tatapan itu menjadi merona.
“Ar jangan melihatku seperti itu,” protes Sarah semakin merona, menundukkan wajahnya rasanya ia tidak sanggup menatap wajah Arsen setelah apa yang ia lakukan semalam, ia memohon untuk kembali bersama.
“Kenapa kau malu sudah mengatakan cinta padaku?” goda Arsen mengerlingkan matanya, semakin dekat lalu mengecup bibir Sarah sekilas kembali memeluk tubuh Sarah.
__ADS_1
“Ar jangan dibahas lagi,” protes Sarah.
“Andai saja aku tahu perasaanmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tapi sekarang kita akan selamanya ini seperti ini. Kita tidak akan terpisah lagi,” ucap Arsen semakin mengeratkan pelukannya mengecup seluruh wajah Sarah.
“Ar, aku harus bangun, Papa pasti sedang mencariku,” jelas Sarah meronta karena setiap pagi dia pasti bertemu dengan Wisnu.
“Oh ia Papa sedang menunggu kita di bawa.” Arsen berdecak kemudian melepaskan pelukannya, rasanya ia ingin kembali menerkam istrinya namun saat ini sudah tidak ada waktu.
Sarah bangun mendekap selimut menatap ke mana Arsen membuang piyamanya semalam. Sarah mulai memunguti satu persatu pakaiannya setelah semua terkumpul Sarah menatap wajah Arsen yang berbaring miring di tempat tidur masih menatapnya lekat membuatnya malu untuk kembali mengenakan pakaiannya.
“Ar berbalik, aku malu jika kau melihatku berpakaian.” Sarah dengan wajah merona baginya semua terasa canggung setelah bertemu kembali apalagi hubungan mereka telah menjadi pasangan suami-istri sesungguhnya, ia merasa seperti pengantin baru yang masih malu-malu dengan suaminya.
“Untuk apa malu bunda, aku sudah melihat semuanya,” goda Arsen mengerlingkan matanya membuat wajah Sarah memanas menikmati wajah cantik Sarah yang terlihat jelas belum terbiasa padanya, ternyata beginilah wajah istrinya jika jatuh cinta manis dan malu-malu, seakan mati kutu di hadapan Arsen tidak sama seperti waktu Sarah belum mencintainya selalu cuek dan masa bodoh.
“Pokoknya berbalik ... ayah.”
Arsen mendengus lalu duduk di pinggir tempat tidur memunggungi Sarah. Secepat kilat Sarah mengenakan semua pakaiannya.
“Mau ke mana?” tanya Arsen saat berbalik menatap Sarah telah siap akan meninggalkan kamarnya. Arsen kemudian mendekat.
“Aku akan kembali ke kamarku, aku harus mandi,”
Arsen mendekat ke arah Sarah berbisik. “Kau tidak ingin mandi dengan suamimu,” tawar Arsen.
Sarah menelan salivanya dengan susah payah. “A ... aku harus pergi, papa menunggu di bawa,” jelas Sarah mempercepat langkahnya meninggalkan kamar membuat Arsen tersenyum geli menatap kepergian Sarah.
Arsen dan Sarah telah selesai membersihkan diri di kamar masing-masing secara bersamaan turun ke lantai bawah menuju ruang makan tempat di mana Wisnu duduk dari tadi menunggu mereka. Senyum penuh kebahagiaan terpancar dari keduanya dengan tangan saling bertaut.
“Papa senang kalian kembali bersama,” ucap Wisnu yang melihat pasangan ini duduk berdampingan di hadapannya.
“Ia Pa, kami telah memutuskan kembali bersama, aku akan mengatakan semua pada mama,” jelas Arsen menatap wajah Sarah tangan mereka masih bertaut.
“Mamamu biar papa yang urus. Kita tunggu waktu yang tempat untuk mengatakannya,” cegah Wisnu menatap pasangan ini.
“Waktu yang tempat itu kapan?” tanya Arsen penasaran.
“Tetap seperti ini saja dulu,” sarannya.
“Tetap seperti ini, berarti Ar ngak boleh menginap di sini dong sampai giliran Ar,” protes Arsen memasang wajah cemberut dengan ide Papanya apalagi minggu ini bukan gilirannya tinggal di rumah ini.
__ADS_1
“Emm.” Wisnu mengangguk pelan.
“Pa, ini ngak adil, Ar baru saja kembali sama Ara, masa beda rumah, tolong Papa mengerti kami ini masih dalam suasana penganti baru nih, masa kami pisah,” jelas Arsen panjang lebar tidak terima dengan keputusan papanya.
“Ar,” protes Sarah mencubit pinggang Arsen merasa lucu dengan kata pengantin baru.
“Aduh bunda sakit,” keluh Arsen. “Kita kan memang pengantin lama tapi rasa baru,” jelas Arsen.
“Penganti baru, kalian sudah menikah sudah lebih dari dua tahun.” Wisnu ikut protes ucap putranya.
Arsen menatap Sarah, dengan wajah yang terlihat putus asa akan keputusan papanya. “Bun, itu berarti masih ada lima hari lagi, giliran tinggal di rumah papa.”
“Cuma lima hari ngeluh, kemarin juga dua tahun bisa,” celetuk Wisnu tersenyum licik.
“Itu kan beda Pa.”
“Lagi pula kau harus menyelesaikan kekacauan yang kau buat. Hari ini semua berita di tv membahas kau mencium Nikita di pesta pernikahan Gerald,” Wisnu menyeringai menatap wajah putranya.
Arsen tercengang membulatkan matanya ia baru teringat jika semalam ia telah membuat heboh di pesta Gerald.
“Ara suamimu sudah terang-terangan mencium perempuan lain di belakangmu,” tutur Wisnu dengan tatapan menyelidik memercik api pada hubungan pasangan yang baru saja bersama ini agar kembali memanas.
“Benarkah Pa,” timpal Sarah melipat tangan di dada matanya memicing menatap Arsen.
“Papa jangan memancing keributan kami baru saja kembali bersama.” Wajah tampan itu terlihat gusar.
“Ia, Ra benar. Coba Kamu tanya kan saja pada suamimu itu, papa pergi dulu ya,” tambah Wisnu mengembangkan senyuman berhasil mengerjai Arsen lalu bergegas pergi meninggalkan Arsen yang tersudut oleh tatapan mematikan istrinya.
“Papa ngak seperti itu!” teriak Arsen menatap punggung Wisnu yang telah pergi tanpa bertanggung jawab akan informasi yang ia berikan.
Arsen mengarahkan pandangannya pada Sarah yang memasang wajah seakan ingin menerkamnya. Dengan susah payah Arsen menelan salivanya, ia merasa seperti seorang suami yang tertangkap basah sedang berselingkuh.
“Kau dan Niki,” ucap Sarah dengan tangan bersidekap membuang pandangannya berpura-pura marah, ia tahu sampai kapan pun cinta Arsen hanya untuknya.
“Ngak Bun, bukan seperti itu kejadiannya, aku tidak menciumnya. Tapi dia yang memajukan pipinya di bibirku, hingga terlihat aku yang menciumnya, karena itulah aku kabur dari pesta Gerald dan Dion salah mengantarkan aku,” jelas Arsen
Sarah masih mengalihkan pandangannya. Arsen meraih tangan Sarah.
“Tadinya aku akan memarahinya jika bertemu dengannya, sekarang aku malah ingin berterima kasih padanya karena dia kita bertemu dan bisa kembali seperti ini.”
“Bun percaya padaku, aku ngak mungkin suka sama tetangga pengganggu kita itu. Cinta Ayah hanya untuk bunda seorang,” jelas Arsen menatap wajah Sarah membuat pipi Sarah kembali merona.
“Aku percaya padamu Ar.” perempuan ini mengembangkan senyuman menatap Arsen yang menarik napas lega.
__ADS_1
“Syukurlah. Jangan pernah ragukan cintaku padamu bunda.” Arsen menangkup wajah Sarah menatap manik mata itu dalam.
“Tidak akan pernah dan cinta bunda juga hanya untuk ayah,” ucap Sarah membuat hati Arsen berbunga-bunga tanpa kata ia lalu menyambar bibir ranum Sarah melummat bibir itu lembut hingga tidak lama berubah menjadi ciuman panas, itu semua mereka lakukan di ruang makan dan di tonton pelayan yang tertunduk malu masih berada di sekitar mereka. Wisnu yang melihat dari kejauhan tercengang seraya menggelengkan kepala melihat pasangan yang tidak tahu tempat ini.