CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
mencari mereka


__ADS_3

Di sebuah bangunan tinggi tepat di ruang kerja sebuah perusahaan. Seorang perempuan duduk di kursi kebesarannya, membaca lembar demi lembar kertas laporan perusahaan.


“Kenapa bisa begini!” bentak perempuan itu pada seorang lelaki yang berdiri di depan meja kerjanya, melemparkan laporan itu dengan kasar.


Lelaki itu cicit mendengar ledakan amarah dari Wina Raditya, saat memberi laporan tentang perkembangan perusahaan.


“Semenjak tuan Arsen tidak menangani perusahaan ini, banyak proyek berantakan dan lepas,” ungkap lelaki yang sebagai tangan kanan Wina.


Wina menahan amarah mengepalkan tangannya. “Arsen di mana kamu!” geram Wina putus asa hingga saat ini belum juga menemukan putra kesayangannya.


“Maaf Bu, Saya lancang tapi perusahaan ini memang goyah semenjak di tinggal oleh pak Arsen ditambah lagi berita desas-desus Ceo menghilang juga memperburuk semuanya.”


“Bagaimana dengan orang yang di tugaskan mencari putraku,” tanya Wina bersandar di sandaran kursi memijat pelipisnya, kepalanya terasa sangat berat memikirkan keberadaan Arsen.


“Mereka belum mendapatkan informasi apa-pun,” jawabnya tertunduk.


Wina bangun dari duduknya mendekat ke arah pemuda yang memberi laporan itu.


“Apa kau hanya menugaskan orang-orang bodoh! Kenapa mencari Arsen saja mereka tidak bisa!” bentak Wina tatapan penuh amarah akan laporan yang tak memuaskan dari lelaki itu.


“Semua itu adalah orang yang terbaik dan terhandal Bu,” jelasnya penuh keyakinan. “Menurut mereka sangat sulit mendapatkan informasi keberadaan pak Arsen. Jejaknya sangat sulit di lacak,” ungkapnya.


“Kenapa bisa seperti itu!”


“Menurut mereka, ada orang hebat dan berkuasa di balik kehilangan pak Arsen. Selalu mengganggu dan menggagalkan pencarian mereka.”


Mata Wina menatap penuh amarah mengingat jika orang yang berkuasa yang di maksud mereka pasti adalah papanya Arsen, hanya dia yang bisa melakukan semua itu.


“Wisnu ... Ini pasti ulah Wisnu, dia yang telah menyembunyikan Arsen,” geram Wina mengertakan giginya.


“Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan dariku, aku yakin pasti ada rahasia besar yang kalian tutupi dariku,” Batinnya terdiam memikirkan apa yang telah dilakukan Ayah dan anak itu padanya.


“Tambah orang-orang untuk mencarinya. Aku tidak mau tahu, cari putraku sampai dapat! Aku ingin sebelum ulang tahunnya, kau sudah harus menemukannya!” terang Wina.


“Baiklah, kami akan memerintahkan untuk meningkatkan pencarian.” Pemuda itu pamit.


*****


Beralih dari Wina yang sedang mencari serta menghawatirkan keadaan putra kesayangan. Di tempat berbeda, di rumah mewah pemuda ini juga sibuk mendengarkan informasi dari orang-orang yang sedang ia tugaskan untuk mencari gadis yang sangat ia cintai.


Bian sedang berada di ruang santai keluarga duduk berdua dengan asisten kepercayaannya yang juga sahabat bernama Mike. Sama dengan Wina, ia juga mendengar laporan keberadaan orang yang sangat ia rindukan. Berbeda dengan suasana Wina yang mencekam dan penuh amarah, Bian masih bisa mengendalikan dirinya bersikap santai walau pun hatinya sebenarnya sangat resah memikirkan kabar Sarah, apa ia baik-baik saja sekarang.


Bian sedang menikmati ice Cream, makanan kesukaannya, yang selalu membuatnya teringat dengan Sarah, makanan manis dan dingin yang memiliki banyak kenangan indah bersama gadis pujaan hati.


Manik mata Bian fokus menatap Mike sambil merasakan lelehan ice cream di mulut.


“Bagaimana Bos? Apa besok Anda akan berangkat lagi ke kota tempat Rumah Hutama, tempat Sarah tinggal,” tanya Mike.


Bian masih tinggal di kota tempat ia memulai semua bisnisnya dari aset pinjaman dari Erina. Kota yang telah menjadi saksi perjuangan Bian menjadi orang yang sukses, setelah mengelola modal pinjaman dari Erian ibu Sarah. Disinilah ia akan membawa Sarah untuk tinggal nanti kelak mereka menikah.


“Bagaimana Mike apa ada kabar dari mereka?” tanya Bian terus menyendok ice creamnya.


“Belum ada! Bahkan semua pelayan keluarga Hutama bungkam tak ada yang mau memberikan keterangan sedikit pun, mereka hanya bilang Sarah sudah meninggalkan rumah itu sejak lama,” jelas Mike yang lebih memilih menyesap secangkir kopi dari pada mengikuti sang bos dengan makanan manisnya.


Mendengar ucapan Mike membuat Bian semakin menyendok makanan manis itu ke mulutnya. Mike hanya diam menatap tingkah bosnya yang seperti anak kecil, namun ia tahu jika suasana hatinya pasti sedang buruk saat ini.


Bian berdiri berjalan meraih telepon rumah menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Bibi ... Bibi tolong bawakan aku ice cream lagi.” Panggil Bian kepada pelayan rumah di telepon.


“Berhentilah kau sudah terlalu banyak makan ice cream, kau bisa sakit perut.” Mike memperingat namun Bian hanya diam tak menghiraukan peringatan Mike.


“Kenapa semua pelayan di rumah Hutama diam?” tanya Bian kembali membahas Sarah.


“Sepertinya ada rahasia yang mereka tahu, dari rumah itu. Tapi mereka semua hanya diam. Kami sudah menawarkan uang yang banyak pada pelayan mereka, agar memberitahu ke mana perginya Sarah namun mereka semua menolak menjawab,” jelas Mike.


“Apa karena Arsen ... Jangan-jangan dia yang telah mengusir Sarahku, dia sangat membenci Sarah,” geram Bian yang tahu hubungan saudara tiri ini, tidak baik, selalu bermusuhan dan Arsen sangat membenci Sarah.


“Mungkin saja, tapi tuan Arsen juga tak ....” Suara Mike terhenti saat mendengar teriakan heboh dari arah yang dekat dengan mereka.


“Lari ada mobil lewat! Ya elah, malah diam di tengah jalan, teriak kencang lagi, nutup muka, bukannya lari, cepat menghindar!” teriak ibu Odah gemas, yang dari tadi duduk tak jauh dari mereka, namun fokus menatap benda persegi yang ada di hadapanya. Menonton sebuah adegan yang di mana ada seseorang yang berjalan di sebuah jalan dan saat itu menyadari ada sebuah kendaraan lewat.


Suara keras ibu Odah telah membuat pembicaraan mengenai pencari Sarah terganggu. Bian memutar bola mata malas melihat ke arah ibunya.


“Ibu berisik sekali sih! Bisa ngak jangan teriak nontonnya, Bian ini lagi pusing cari di mana calon mantu ibu,” protes Bian menatap pada ibunya.


Ibu Odah tersenyum pelik ke arah putranya melihat wajah tampannya tak bersemangat. “Ia maaf, ibu ngak akan teriak lagi, nih ibu ganti chanelnya,” ucap Ibu Odah kemudian meraih remot tv mengarahkannya ke Tv, mengganti siaran Tv.


Pelayan datang membawa cup besar ice cream untuk Bian. Pemuda tampan itu pun kembali menikmati dinginnya makanan itu. Bian kembali pada pembicaraannya dengan Mike membahas tentang Sarah.


“Di mana lagi kita akan mencari Sarah? Jika kita tak memiliki petunjuk sama sekali,” lanjut Bian kembali membahas Sarah seraya menyendok ice cream ke mulut.


“Sangat sulit mendapatkan informasi tentangnya, seperti semua tertutup dan sepertinya ada yang menutupi keberadaannya,” jelas Mike. “Tapi sepertinya Sarah sudah tak ada di kota itu,” tambahnya.


“Kau benar, kita sudah tidak perlu memusatkan pencarian di sana, kita akan menyuruh orang memusatkan mencari di tempat lain,” jelas Bian.


“Baiklah. Tempat mana dulu yang akan kita kunjungi?” tanya Mike.


Bian terdiam memikirkan kota apa yang akan dia pilih lebih dulu. Hingga suara teriakan kembali membuyarkan lamunannya.


Bian kembali mengarahkan pandangannya pada ibu yang telah merusak konsentrasi dan dari tadi menjadi pengganggu.


“Ibu ... Bian bilang jangan berisik nontonnya.” tegur Bian mulai kehilangan kesabaran dengan tingkah ibunya yang dari dulu selalu berlebihan saat menonton benda persegi itu.


Ibu Odah kembali tersenyum pelik pada putranya. “Ia Ian, ibu lupa, habis ibu kesal dimana-mana sinetron kalau kecelakaan pasti kepalanya yang di perban, padahal tadi Cuma keserempet harusnya tangannya,” jelas ibu Odah.


“Sudah jangan matikan saja tvnya, terus ibu pergi tidur sana.”


“Ibu belum ngantuk Ian, ibu janji ngak akan berisik lagi.” ibu Odah membekap mulutnya dengan tangan.


Mike hanya menarik sudut bibirnya, tersenyum lucu melihat hubungan ibu dan anak ini, melihat expresi berlebihan ibu ini.


Bian dan Mike kembali pada perbincangan mereka.


“Mungkinkah Sarah ada di kota ini bos,” terang Mike.


“Di kota ini!” Alis Bian bertaut mendengar ucapan Mike, jika mendengar selama ini ia berada di kota yang sama dengan Sarah.


“Sarah lahir di sini dan masa kecilnya di kota ini, mungkin saja dia ada disini,”


Bian terdiam memikirkan ucapan Mike, Sarah memang berasal dari kota ini. Kota tempat di mana semua aset yang dikelola oleh Bian, pemberian dari Erina semua dari tempat ini. Di tempat inilah ia berada selama empat tahun mengembangkan aset-aset Erina hingga berkembang menjadi sekarang dan telah membuatnya meraih kesuksesan.


“Kau benar juga, dari semua tempat hanya tempat ini yang bisa menjadi tujuan Sarah,” jelas Bian kembali bersemangat. “Mulai besok kita akan mencarinya.” Bian telah mengambil keputusan.


“Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu,” pamit Mike kemudian berdiri meninggalkan Bian.

__ADS_1


Setelah kepergian Mike, Bian kemudian berjalan ke arah ibunya yang masih duduk menatap layar persegi yang ada di hadapannya. Bian duduk berdampingan dengan ibunya itu.


“Bagaimana Ian, belum nemu titik terang keberadaan calon mantu ibu,” tanya ibu Odah mengarahkan pandangannya pada putra tampannya.


Bian menarik napas berat tertunduk sedih akan pertanyaan ibunya.


“Bu, Bian sudah berusaha semaksimal mungkin Bu, tapi calon mantu  belum ada tanda-tanda ketemu,” ucap Bian pelan.


“Omongan kamu Ian, kaya ucapan dokter putus asa di sinetron tv, bikin sebel saja,” oceh Ibu Odah menatap sinis.


“Ibu ....”


“Kamu jangan putus asa Ian, calon mantu ibu pasti ketemu nanti.” Ibu Odah memberikan ketenangan hati pada putranya yang sangat merindukan kehadiran cintanya.


Bian menyandarkan kepalanya di pundak ibu yang melahirkannya bermanja. “Aku sangat merindukannya bu, kenapa dia tiba-tiba menghilang. Aku menyesal meninggalkannya, seharusnya aku berhenti mengejar kesuksesan saat ibunya meninggal dulu dan mendampinginya, sekarang ia sendiri. Mungkin saja Arsen telah mengusirnya,” jelas Bian masih mengaitkan kepergian cintanya karena ulah orang yang sering menindas mereka dulu.


“Sudah Ia, kamu pikir ibu tidak merindukan dia. Kita pasti akan menemukan dia.” Ibu Odah tahu sampai Bian bertemu dengan Sarah maka pemuda itu tak akan berhenti bersedih.


“Ara kamu di mana sayang! Aku sangat mencemaskan keadaanmu, aku selalu mendoakan semoga kamu baik-baik saja di sana, aku rasanya ingin gila, aku sangat merindukanmu,” batin Bian.


****


Malam telah larut Sarah dan Arsen telah berada di dalam kamar siap untuk menuju alam mimpi. Sarah berbaring di ranjang. Di bawah samping ranjang ada Arsen berbaring di lantai mengistirahatkan tubuhnya setelah melalui hari yang berat, mulai kencan yang gagal hingga memarahi tentangganya. Bola mata pasangan ini masing-masing menerawang langit-langit kamar, belum ingin terlelap.


Arsen membolak-balikan badannya mencari posisi ternyaman untuk terlelap setelah membaca berita tentang perusahaan mamanya, hatinya tak tenang.


Tring ...  sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Arsen yang ia simpan di bawah bantal.


Pemuda tampan ini pun meraih ponselnya membaca pesan yang tak ada nama pengirimannya.


Ar hati-hati mamamu telah bertindak. Ia mencarimu dan mengerahkan banyak orang suruhannya untuk mencarimu. Selalu waspada, tutup wajahmu, jangan sampai orang mengenalimu.


Arsen menarik napas berat memikirkan tak lama lagi perlariannya akan terhenti, ia tahu pesan itu pasti dikirim oleh papanya. Pemuda ini menyimpan kembali ponselnya kemudian membalikkan tubuhnya.


“Tak lama lagi mereka pasti menemukannku dan mereka akan coba memisahkanku dengan Sarah. Aku ingin selalu bersamamu Ra, selalu seperti ini, aku sangat bahagia dengan kehidupanku sekarang,” batin Arsen.


“Ara!” panggil Arsen.


“Emmmm,” dehem Sarah.


“Bolehkah aku memegang tanganmu,” pinta Arsen.


Sarah mengalihkan wajahnya ke arah Arsen melihat tatapan penuh harap itu pada suaminya, lalu membalikkan badannya pada Arsen. “Ada apa Ar? Dari tadi aku melihatmu aneh, kamu lagi menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Sarah melihat Arsen tak tenang.


“Tidak ada.” Bohong Arsen.


“Kalau tidak ada, kenapa kau marah sekali tadi pada mereka?” tanya Sarah membahas kemarahan Arsen pada tetangganya tadi siang saat kencan pertamanya gagal. Ia merasa bukan kencan gagal yang membuat suaminya kesal tapi ada hal lain.


“Tidak ada, Cepat ulur tanganmu padaku. Aku ingin tidur sambil menggenggamnya, siapa tahu dengan pegangan tangan kita bisa kencan dalam mimpi,” canda Arsen mengulur sebelah tangannya, meminta tangan Sarah. Perasaannya sangat gelisah, ia sangat takut terpisah dari istrinya.


Sarah tersenyum lucu mendengar permintaan Arsen yang akan kencan dalam mimpi.


“Baiklah.” Sarah kemudian mengulur tangannya ke bawah dan di genggam oleh Arsen.


Sarah pun terlelap sambil memegang tangan Arsen, sedangkan Arsen hanya menatap wajah istrinya yang terlihat tenang sangat tidur, berharap ia terus menatap wajah itu selamanya.


Wina dan Bian akan terus melakukan pencarian pada pasangan ini siapakah dari mereka yang akan menemukan mereka terlebih dulu? Bian atau Wina.

__ADS_1


kangen  juga sama ibu dan anak ini Odah dan Bian. Bian aku padamu .....


__ADS_2