
Sore hari Sarah dan Arsen baru saja sampai di rumah, setelah bekerja seharian. Arsen memarkirkan kendaraannya di depan rumah. Sarah turun dari motor terlebih dulu, mengarahkan pandangannya pada anak lelaki yang berdiri di depan rumah kontrakan bermain sendiri tanpa teman dan mencoba untuk menerbangkan sebuah layang-layang. Sarah pun menghampiri Ale anak si pemilik rumah.
“Ale kamu sendirian? Mami kamu mana?” tanya Sarah pada Ale yang sedang bersusah payah menaikkan layang-layangnya.
“Ada di dalam,” jawabnya singkat, merasa kesal pada layang-layang yang dari tadi tidak terbang ke udara.
Ale berbalik mengarahkan pandangannya pada Arsen menghentikan sejenak kegiatannya, lalu memegang layangan dan benang memasang wajah cerah berjalan ke arah Arsen yang sedang duduk bermain ponsel seraya menunggu istrinya untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama.
“Kak Ar main layang-layang yuk, bantu Ale terbangin,” pinta anak kecil ini berdiri di hadapan Arsen memasang wajah bak malaikat kecil yang memohon.
Arsen mengalihkan perhatiannya dari ponsel menatap ke arah Ale yang menyodorkan layangan dan benangnya.
“Nggak mau!” tolak Arsen cepat. Dia bukan tak ingin mengabulkan permintaan anak pemilik rumah, hanya saja seumur hidupnya ia tak pernah merasakan yang namanya bermain layang-layang. Sejak kecil ia hanya diberi mainan mahal oleh orang tuanya.
“Ayolah bantu Ale, kita kalahkan mereka,” Ale menunjuk ke arah langit memperlihatkan berbagai jenis layangan yang menghiasi angkasa.
“Nggak mau.” Arsen masih kekeh dengan pendiriannya.
“Ayolah bantu Ale terbangin layangannya ... Ayah ….” ucapnya dengan wajah sememelas mungkin, anak kecil ini sangat tahu kelemahan Arsen. Ia hanya akan memanggil pemuda itu dengan sebutan Ayah maka apa-pun yang diinginkan akan ia dapatkan dari tuan jutek ini.
Mendengar kata ayah yang terucap dari bibir mungil Ale, kembali membuat pemuda ini terharu dan merasa dan tak tega untuk menolak, walaupun ia juga tak tahu cara menerbangkannya.
Arsen dan Ale telah berada di depan rumah bekerja sama menerbangkan layang-layang beberapa kali mencoba mereka selalu gagal.
Sarah yang memperhatikan mereka dari jauh terkekeh pelan ia tahu jika Arsen tak pernah menyentuh layang-layang seumur hidupnya.
“Ale andai saja kamu tahu dia itu anak Ceo yang enggak pernah main layang-layang seperti masa kecil kita. Masa kecil tuan Arsen hanya di penuhi dengan mainan mahal dan canggih,” batin Sarah merasa lucu melihat pemuda itu bersusah payah.
“Udah Ale layangan kamu jelek nggak bisa terbang,” alibi Arsen yang mulai kesal, keringat telah bercucuran membasahi tubuhnya.
Sarah beranjak dari duduknya mendekat ke arah mereka berdua.
“Ale sayang ... Kak Ar itu nggak pernah bermain layang-layang. Dia nggak tahu cara menerbangkan layangan,” ungkapnya tersenyum remeh.
“Bunda,” protes Arsen memasang wajah cemberut. Rahasianya telah terbongkar. “Bukan karena itu. Memang layangannya saja yang jelek, nggak bisa terbang,” bantah Arsen tak mau harga dirinya jatuh di hadapan anak kecil ini.
“Memangnya benar kakak nggak pernah main layang-layang?” tanya Ale dengan tatapan tajam dan di balas oleh Arsen senyum pelik menggaruk tengkuk, tingkahnya itu sudah cukup menjelaskan bahwa pemuda ini mengakui jika benar ia tidak bisa bermain layangan.
“Sudah sini sama kak Ara aja.” Sarah mengambil benang dan layangan dari tangan Arsen
“Emang kamu bisa?” tanya Arsen menatap remeh.
“Iya gampang banget!”
Sarah mulai memperlihatkan kemampuannya dalam menerbangkan layangan milik Ale, tak beberapa lama menunggu layangan itu telah berada di udara terbang tinggi di langit berjajar dengan layang-layang yang lain.
“Wah kak Ara hebat,” Puji Ale dengan mata berbinar mendongak menatap ke angkasa.
“Iya dong,” ucap Sarah Seraya kedua tangannya terampil menarik ulur benang dari layangan tersebut.
Arsen berdiri di samping Sarah menatap lekat wajah gadis yang ia cintai dengan penuh tatapan cinta dan kebanggaan, satu lagi kemampuan Sarah yang membuat Arsen Terpukau.
__ADS_1
“Dasar ternyata dia bisa juga menerbangkan layang-layang. Oh iya aku lupa dia kan robot Jepang yang serba bisa, karena semua kemampuannyalah yang membuatku tergila-gila padanya,” batin Arsen terus memandang wajah cantik istrinya.
“Kak Ara itu punya teman Ale, aduin dong Kak,” pinta Ale menunjuk ke arah langit.
“Benarkah Ale Mau diaduin dengan layangan itu?” tanya Sarah mendongak ke arah langit.
“ Iya Kak.”
“Oke,” Sarah semakin bersemangat bermain layangan bersama Ale, tak hentinya gadis ini mengembangkan senyuman sangat bahagia, ia merasa kembali ke dunia kecilnya, dunia indah yang hanya di isi oleh permainan dan tawa keceriaan.
Arsen hanya menikmati wajah Sarah tak sedikit pun ia melihat layangan di atas langit, tatapannya hanya tertuju pada senyum kebahagiaan istrinya yang membuatnya semakin terbius akan kecantikan wajah itu.
“Ye! Hebat Kak Ara menang,” Puji Ale atas keberhasilan Sarah. Jari telunjuk kecilnya pun kembali menunjuk ke arah langit. “Yang itu lagi Kak,” titah Ale.
“Oke beres,” Sarah semakin menarik benang layang-layangnya mengikuti perintah dari Ale.
Tak beberapa kemudian suara putus asa terdengar dari gadis cantik ini.
“Ya putus,” keluh Sarah mendongak ke arah langit.
“Kejar Kak!” seru Ale antusias siap berlari mengejar layangan mereka yang putus.
“Ayo kejar!” Sarah dan Ale telah siap mengambil ancang-ancang, kemudian kompak memperhatikan pemuda yang masih berdiri di samping tak tahu kode yang mereka berikan.
“Ayo kita kejar!” seru Sarah mengajak Arsen untuk berlari.
“Kejar apa?” tanyanya tak mengerti.
“Apa!” Pemuda mantan Ceo ini tercengang membayangkan akan mengejar layangan putus, hal yang tak pernah dia lakukan seumur hidupnya dan akan merusak reputasinya sebagai Ceo andai ada orang yang tahu.
“Nggak mau, itu sudah putus untuk apa dikejar bikin capek aja!” kata Arsen tegas.
“Di sinilah seninya bermain layang-layang di kejar beramai-ramai. Ayo cepat kejar!” Sarah mendorong tubuh pemuda itu agar bergerak berlari namun Arsen tak bergeming tetap diam di tempatnya.
“Itu lihat banyak anak-anak yang mengejar layangan Ale,” jelas Sarah menunjuk anak-anak yang ramai-ramai berlari lewat di depan rumah.
“Ngak mau!” tolak Arsen tegas kemudian merogoh saku celananya meraih selembar uang berwarna merah lalu memberikannya pada Ale yang berdiri di antara mereka.
“Ini uang untuk kamu, beli aja yang baru nggak usah dikejar.” ucap Arsen dengan Ketus.
“Eggak bisa begitu kejar! Ayo ….” paksa Sarah lalu berlari kecang sambil memandang ke langit.
“Ra buang-buang waktu,” protes Arsen.
Sarah kemudian berbalik menatap tajam pada suaminya membuat hanya bisa menarik nafas berat dan akan mengikuti apa perkataan Sarah.
“Ya baiklah, Ale kamu disini saja nanti mami mencarimu, sambil menangis-nangis.” pasrah Arsen kemudian berlari mengekori Sarah yang lebih dulu telah mengambil langkah seribu.
Pasangan ini terus berlari mengikuti arah layangan terbang semakin jauh dan semakin rendah. Arsen pun berlari mengejar Sarah.
Misi mengejar layangan pun tak terasa membawa mereka telah berlari jauh hingga menuju jalan raya besar. Arsen menghentikan langkah kaki, menatap kendaraan-kendaraan di hadapan. Istrinya telah Jauh di seberang sana, Sarah masih berlari menatap ke arah langit tak memperhatikan jalan yang ia tujuh.
__ADS_1
“Ini gila! Aku ini CEO pewaris 2 perusahaan besar. Masa aku ngejar layangan putus,” batin Arsen seakan tak percaya dengan tingkah konyol yang sedang ia lakukan.
****
Bian dalam perjalanan, berada di mobil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi menatap kaca mobil yang terawang melihat pemandangan yang mereka lalui.
“Bos kita pulang ya, ini sudah sore. Besok lagi kita lanjut pencariannya, lagi pula banyak orang suruh kita yang mencarinya di tempat ini,” ucap Mike sambil menyetir mobil dan telah seharian menemani sang bos mencari cintanya.
“Apa dari mereka belum ada yang memberitahu tanda-tanda keberadaan Sarah di tempat ini?” tanya Bian dengan tak bersemangat.
“Belum ada bos.”
Bian menarik nafas berat hari ini perjuangannya mencari pujaan hati belum membuahkan hasil sedikit pun.
“Baiklah kita pulang. Ibu juga pasti sudah menungguku di rumah,” kata Bian pelan.
“Ara di mana pun kamu, aku pasti akan menemukanmu,” batin Bian menatap ke arah luar jendela kaca mobil.
Bian terbelalak ketika manik matanya menangkap sesosok pemuda yang menghiasi kehidupannya empat tahun yang lalu.
“Arsen,” ucap Bian menegakkan tubuhnya saat melihat pemuda tampan yang wajahnya sudah tak asing berdiri di seberang jalan.
“Apa bos?” tanya Mike mengintip bosnya yang duduk di belakang dari kaca spion mobil.
“Cepat berhenti!” titah Bian matanya masih mengarah ke arah pemuda yang berdiri di jalan sambil mendongak menatap langit.
“Ada apa Bos?” tanya Mike tak mengerti kemudian menginjak rem hingga mobil itu berhenti mendadak.
Bian menurunkan kaca mobilnya. “Mike Coba lihat laki-laki itu dia seperti Arsen Raditya Hutama,” jelas Bian.
Mike menatap ke arah yang ditunjuk Bian, ia hanya melihat laki-laki sedang mendongak menatap langit kemudian berlari Pergi hilang di balik kendaraan lain.
“Tidak mungkin bos, menurut berita Tuan Arsen sedang mengurus bisnis Angkasa Utama yang berada di luar negeri,” sangkal Mike tentang informasi yang ia ketahui.
“Aku lupa! Jika dia sedang di luar negeri.” Alis Bian berkerut berpikir dengan apa yang ia liat tak sesuai dengan kenyataan.
“Itu tidak mungkin Tuan Arsen, untuk apa dia di sini, itu hanya mirip bos,”
“Tapi aku tidak mungkin salah lihat,” ujar Bian, yakin akan penglihatannya.
"Aku yakin aku tidak salah lihat, itu Arsen, tapi untuk apa dia di tempat ini, apa dia ada hubungannya dengan kepergian Sarah,” batin Bian menatap tempat di mana tadi Arsen berdiri.
“Mike cari tahu juga informasi tentang Arsen! Apa benar Arsen ke luar negeri mengurus perusahaan Hutama, karena menurutku ini sangat janggal. Angkasa Hutama belum mengumunkan pengangkatan Arsen sebagai Ceo, mengapa Arsen sudah harus mengurus bisnis Hutama, sedangkan perusahaan yang ia pimpin milik mamanya sedang goyah karena dia tidak ada,” perintah Bian merasa curiga.
“Baik bos saya akan mencari tahu juga mengenai Tuan Arsen.”
Bian memijat pelipisnya merasa sangat pusing dengan misteri hilangnya Sarah.
“Mike, aku ingin makan ice cream,” kata Bian saat suasana hatinya buruk ia akan melampiaskan dengan memakan makanan manis itu.
“Baiklah bos, saya akan belikan.”
__ADS_1
Mike kembali menjalankan laju mobilnya, di perjalanan Bian hanya diam memikirkan Arsen musuh dari orang yang ia cintai.