
Rena menghampiri Nikita dan Sarah yang masih duduk di depan rumah hendak menyampaikan berita mengejutkan yang ia dapatkan dari ibu-ibu di lingkungan tempat mereka.
“Ada apa mi?” tanya Nikita menatap cemas dengan apa yang terjadi pada si pemilik rumah yang membungkukan badan dengan napas tersengal.
“Aku tadi ngerumpi di tukang sayur, ada berita penting,” ucap Rena masih mencoba menghirup napas yang banyak.
“Ada berita penting apa?” tanya Sarah penasaran.
“Ini berita penting membuat orang di kampung kita menjadi resah,” jelas Rena singkat.
“Resah bagaimana Mi?” tanya Nikita yang semakin penasaran menatap lekat pada Rena.
“Kata ibu-ibu rumpi di tempat penjual sayur tadi, mereka telah di datangi oleh preman dan di paksa untuk menjual tanah dan rumah mereka,” jelas Rena.
“Apa!” Kompak Nikita dan Sarah terbelalak seakan tidak percaya.
“Ia mereka di paksa menjual aset mereka, karena katanya ada pengusaha yang akan membeli semua tanah yang ada di kampung ini.”
“Lalu,” sambar Nikita tidak sabar menunggu cerita dari Rena.
“Tentu saja mereka menolak tidak setuju. Tapi kalau tidak setuju dan melawan mereka akan mendapatkan ancaman dari preman itu mereka akan melakukan kekerasan,” terang Rena.
Sarah berdiri mematung menatap kosong, tubuhnya bergetar hebat mendengar ucapan Rena. Ia tahu ini pasti ulah Wina lagi, ia akhirnya melihat betapa mengerikan dan berkuasanya perempuan itu. Demi memisahkannya dengan putra kesayangannya, ia bahkan ingin memiliki seluruh lingkungan di tempatnya tinggal. Walau Sarah tidak tahu apa rencana Wina di balik memiliki semua tanah dan rumah warga.
“Kenapa jadi seperti ini,” gumam Nikita juga tidak kalah terkejutnya dengan kabar Rena
“Ini pasti ulah dari mama Ar lagi. Gila bagaimana dia bisa berbuat seperti itu. Dia benar-benar bisa melakukan apa-pun.” Rena berdecak kesal.
“Dia memang perempuan yang sangat mengerikan. Bisa-bisanya ia mau membeli dan memiliki tanah sebanyak ini demi agar Ara dan Ar berpisah. Aku rasa Mama Ar akan menggunakan orang di tempat ini untuk menekan Ara agar pergi meninggalkannya, benar-benar perempuan licik, sangat mengerikan,” batin Nikita kemudian menatap Sarah yang hanya diam memasang wajah sedih, ia tahu gadis itu pasti sangat merasa bersalah dan menyalahkannya.
Nikita mendekat ke arah Sarah lalu merangkul bahunya, akan membuat sahabatnya itu tenang dan tidak berpikir untuk berpisah dengan suaminya.
“Kamu jangan cemas Ra, kamu jangan menyerah. Kalian harus mempertahankan cinta dan rumah tangga kalian. Jangan tinggalkan dia, dia sangat mencintaimu,” tutur Nikita memberi pengertian pada Sarah ia sangat mendukung cinta si tuan jutek, Nikita sangat tahu isi hati pemuda itu yang akan melakukan apa pun demi cintanya pada Sarah. Dia sudah memastikan Arsen akan sangat hancur jika Sarah meninggalkannya.
__ADS_1
“Jangan di pikirkan lagi. Ayo kita masuk,” ucap Nikita mengiring badan Sarah untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Ia aku juga harus masak untuk Ale.” Rena melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah begitu pun dengan Nikita dan Sarah berjalan masuk ke rumah masing-masing.
Sarah duduk di ruang tengah, termenung memikirkan apa yang telah di buat mama Arsen pada orang yang berada di sekitarnya.
“Aku tidak menyangka akan seperti ini. aku kira dia hanya akan menyakitiku. Tapi kenapa ia membawa orang yang tidak bersalah dalam masalah ini. Jika aku bertahan maka begitu banyak orang yang akan tersakiti. Apa yang harus aku lakukan,” gumam Sarah mengusap wajahnya merasa putus asa ia tidak tahu apa ia akan bertahan dengan suaminya.
Sarah terus termenung hingga suara kaca pecah terdengar dari luar rumah. Ia pun tersentak kaget.
Buk ....
Saat akan bangun dari duduknya untuk melihat keluar rumah, seketika suara teriakan dari luar terdengar menusuk gendang telinganya. Perempuan ini pun melangkah cepat membuka pintu. Seketika ia tercengang dengan apa yang ia lihat.
“Astaga api!” teriak Sarah yang melihat teras rumah kontrakan mereka telah berkobar api yang menyalah belum membesar dan akan menyambar rumah itu jika tidak di padamkan secepatnya. Sarah melihat Rena hanya menangis histeris menatap api yang ada di rumahnya karena panik tubuh si pemilik rumah itu bagai terkunci.
Sarah kembali masuk ke dalam rumah meraih handuk lalu membasahinya, tidak lupa ia juga membawa seember air. Setelah itu ia keluar hendak mematikan api yang belum membesar itu.
“Ya ampun ada api!” teriak Nikita baru keluar dari ambang pintu kontrakannya lalu mendekat ke arah Rena yang hanya berdiri di depan api yang sedang menyalah telah membakar kursi panjang tempat mereka duduk, Nikita lalu menariknya menjauh membiarkan Sarah yang mencoba memadamkan api.
“Rumahku,” raung Rena.
Sarah menutup api itu dengan handuk basah lalu mengguyurnya dengan air yang ia bawa.
“Mami tenang.” Nikita memeluk tubuh Rena yang bergetar ketakutan. Arah tatapan mereka melihat upaya Sarah yang sedang memadamkan api
“Rumahku hartaku,” Rena terus meraung di dalam pelukan Nikita.
Upaya Sarah membuahkan hasil api itu telah padam untung saja si jago merah itu cepat diketahui dan tidak sempat membesar.
“Mami sudah tenanglah api sudah mati.” Nikita terus memeluk Rena.
“Bagaimana aku bisa tenang ini rumahku hartaku satu-satunya. Aku ini janda anak satu, ke mana aku dan anakku jika rumahku terbakar! Kami akan tinggal di mana?” murka Rena dengan air mata berlinang sudah tidak peduli dengan apa yang telah ia katakan. Ia sangat takut kehilangan rumahnya. “Ini pasti gara-gara Wanita itu, dia sangat jahat. Aku tidak bersalah mengapa aku harus menanggungnya!” berang Rena mengeluarkan isi hatinya sambil terisak
__ADS_1
“Mami sudah.” Nikita mengalihkan pandangannya pada Sarah yang tertunduk sedih.
“Dia tidak akan berhenti meneror kita. Hari ini ia gagal membakar rumahku bagaimana dengan besok. Apalagi rencananya,” raung Rena putus asa dengan apa yang sedang menimpanya.
“Mami hentikan!” bentak Nikita sudah tidak tahu lagi bagaimana ia menghentikan ocehan pemilik rumah yang sangat menyakitkan untuk Sarah.
“Ara. Tidak apa-apa. Jangan dengarkan dia.” Nikita mencoba menghibur Sarah ucapan Rena sungguh telah melukai hati gadis yang sedang berusaha memperjuangkan cinta ini
Nikita lagi-lagi memberikan kekuatan untuk Sarah agar berjuang namun Sarah hanya diam mengepalkan tangannya ia juga merasa bersalah dan menyalahkan dirinya akan semua yang telah terjadi.
Sarah masih berdiri menatap iba Rena yang menangis di pelukan Nikita hingga suara getar ponsel terdengar dari saku celananya. Ia pun meraihnya menatap layar sekilas lalu menempelkannya di telinga. Sarah memasang wajah dingin mendengar suara dari seberang sana
“Kau lihat semuanya kan? Aku bisa berbuat lebih dari itu.” Wina.
“Aku ingin bertemu Anda.” Sarah
Panggilan itu terputus Sarah mencengkram ponselnya kuat, amarah telah merasuk dalam dirinya lalu dengan tatapan dingin ia melangkahkan kaki akan meninggalkan rumah kontrakan mereka.
“Ara kamu mau ke mana?” tanya Nikita lalu melepaskan pelukan Rena. Ia bisa menebak panggilan itu pasti dari mama pemuda yang ia cintai.
“Aku harus pergi Nik. Aku tidak boleh tinggal diam.”
“Jangan Ra! itu tidak perlu.” Nikita menarik lengan Sarah mencegah untuknya pergi menemui wanita mengerikan itu.
“Aku harus menghentikannya.” Sarah memaksa melepaskan cekalan tangan Nikita.
Nikita menarik napas panjang akhirnya mengalah. “Baiklah aku ikut, aku akan menemanimu.”
“Ngak perlu Nik aku bisa sendiri,” tolaknya.
“Kau tidak bisa pergi sendiri, dia itu jahat bagaimana jika dia melakukan sesuatu padamu. Pokoknya aku harus ikut denganmu. Kau tidak boleh pergi sendiri,” kekeh Nikita.
“Baiklah. Mami tetap di sini aku akan pergi bersama Ara.
__ADS_1
Sarah dan Nikita akan pergi menemui Wina kali ini Sarah akan bicara pada perempuan itu.