CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
Pertengkaran


__ADS_3

Sarah sedagg berada di dapur, menyantap makan siang seorang diri. Beberapa hari telah berlalu, setelah insiden pemukulan yang di lakukan oleh Arsen, kondisinya mulai berangsur membaik. Luka yang yang berada di kepalanya pun mulai berangsur pulih namun perban masih menempel di puncak kepala gadis cantik ini.


Sesosok perempuan berjalan anggun menghampiri Sarah yang asyik menyuap makanan ke mulut menikmati santap siangnya. Dia adalah ibu kandungnya Erina.


"Ara anteri ibu, ya!" sapanya kemudian duduk dikursi kosong di samping Sarah.


"Kemana bu?" tanya Sarah menghentikan suapannya beralih menatap wajah ibunya.


"Ngak lama lagikan Arsen ulang tahun jadi ibu harus mempersiapkan semua keperluan untuk pesta di rumah ini. Kita belanja lalu ke butik langganan ambil gaun pesanan ibu. Ibu mau pakai di ulang tahun Arsen," ucap Erina dengan antusias.


"Kok ara bu! sama yang lain saja. Kepala Ara masih sering pusing," protes gadis cantik ini mencoba menolak permintaan ibunya.


"Ibu lebih suka belanja sama kamu," terang Erina menatap penuh harap pada putrinya.


Sarah menghembuskan napas berat tak bisa menolak permintaan dari perempuan yang telah melahirkannya ini. Walaupun ia sama sekali tak rela harus terlibat  dalam persiapan pesta ulang tahun saudara tiri yang  menurutnya sangat menyebalkan itu.


"Ia, Ara anterin ibu. Ara siap-siap dulu." Sarah bangun dari duduknya dengan wajah tak bersemangat menyeret langkah kaki, kembali merasakan kekecewaan, luka di kepalanya belum pulih sepenuhnya namun ibunya lebih memperhatikan pesta ulang tahun anak tirinya itu dari pada keadaannya.


****


Telah berjam-jam Sarah menemani ibunya berkeliling menyiapkan keperluan untuk acara besar yang akan di gelar di kediaman Hutama. Sekarang tujuan terakhir mereka menuju butik langgan Erina, tempat perancang desainer kondang. Bagi Erina ia harus tampil total dalam acara ulang tahun anak tirinya itu, karena di sana ia akan bertemu dengan sang rival abadi yaitu mantan istri suaminya yang tak lain ibu kandung dari Arsen. Hingga saat ini kedua wanita itu masih menyimpan dendam dan amarah di hati masing-masing hingga selalu bersaing untuk  menjadi yang terbaik.


Di tempat yang sama, di butik yang terkenal dengan rancangan terbaik ini, Arsen dan juga mamanya berada. Arsen sedang menemani mamanya memilih gaun yang akan dipakai di acara pesta pertambahan usia putra kesayangannya, yang akan berlangsung minggu depan. Arsen duduk di sofa tunggal memasang wajah jengah memperhatikan perempuan yang telah melahirkannya ini menyusuri gaun-gaun indah yang terpajang.


"Ma,udah ya! Ayo kita pulang. Ar bosan, ini sudah dua jam lebih kita di tempat ini," keluh pemuda tampan ini tentang hal yang paling menyebalkan di lakukan yaitu menemani dan menunggu perempuan belanja.


"Sebentar lagi dong sayang. Mama kan harus tampil sempurna  di acara ulang tahun kamu nanti," jelas Wina sambil menatap gaun yang ada di tangannya. "Bagaimana cantik ngak?" tanya Wina mencocokkan ke tubuhnya.


"Eemm." Mengangguk lemah tak bersemangat. "Sudah bayar saja gaun itu lalu kita pulang."


"Sabar dong sayang, mama belum mau pulang, bentar lagi ya! Mama belum puas jalan sama kamu. Kamu kan sudah seminggu tinggal sama mama, besok kamu harus pergi lagi ninggalin mama. Besok giliran kamu tinggal sama papa dan ibu tiri kamu." Wina memasang wajah sedih seakan tak rela berpisah untuk selama seminggu dengan putranya namun apa daya perjanjian mereka tentang hak asuh harus di patuhi. Seperti itu seminggu bersama Wina dan seminggu bersama Wisnu.


Arsen menghela napas pasrah, memperlihatkan senyum terpaksa  pada mamanya, sambil memikirkan memang besok ia akan kembali tinggal dengan keluarga papanya. Apa salahnya jika ia menghabiskan waktu dengan perempuan yang tidak akan lihat selama seminggu.


"Mama coba ini dulu." Wina berlalu meninggalkan putranya Arsen yang kembali menatap ponselnya untuk membunuh kejenuhan karena menunggu.


Setelah beberapa saat ibunya belum juga kembali. Arsen memutar pandangannya melihat keadaan sekeliling, dahinya berkerut saat bola matanya bertemu dengan orang yang sangat ia kenali. Sesosok wanita cantik berjalan celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar hingga tak sadar berjalan melalui Arsen.


Senyum menyeringai terbit dari wajah tampan pemuda ini, setidaknya ia punya mainan di tempat yang membosankan ini. Ia bisa menghina perempuan itu, membuatnya marah dan bertengkar untuk menghilangkan rasa bosan.


"Hei anak tiri! apa yang kamu lakukan di tempat ini!" tegur  Arsen dengan ketus. Sarah tersentak saat ada suara y lelaki seakan mengenalinya yang berada di tempat ini. Sarah mengalihkan pandangan pada suara yang telah akrab di telinga. Sarah mendengus memutar bola mata jengah saat melihat saudara tirinya juga berada di tempat yang sama dengannya.


"Anak tiri untuk apa kamu kemari! Kepalamu sudah sembuh? Jadi sekarang kamu akan menghabiskan uang papa aku!" cibir  Arsen memancing amarah gadis ini. Dari pada duduk sendiri lebih naik bertengkar dengan saudara tirinya itu pikirnya.


Sarah menatap sinis tersenyum miring pada Arsen. "Jangan khawatir aku tidak butuh uang papamu itu. Aku kemari menemani ibuku," ketus Sarah kemudian hendak berlalu meninggalkan Arsen, sebelum emosinya meledak.


Arsen seketika bangun dari duduknya mendengar ucapan Sarah, wajahnya berubah panik.


"Hei anak tiri! Apa kamu bilang? Ibumu juga berada di tempat ini! mamaku juga ada di sini!"


"Ha!" Sarah tercengang raut wajahnya juga berubah ikut panik.

__ADS_1


Erina dan Wina adalah musuh bebuyutan, mereka tak bisa saling bertemu akibat dendam lama masalah cinta segitiga yang mereka jalani di masa lalu, jika bereka bertemu dua wanita itu pasti tak dapat untuk menahan diri untuk tidak saling menyerang. Seperti momen yang selalu terjadi apabila mereka bertemu. Mereka akan bertengkar heboh bahkan tak tahu tempat saling menyerang tak memperdulikan sekitar mereka. Dan dua saudara ini telah hafal dengan baik bagaimana jika kedua wanita ini bertemu.


"Anak tiri cepat bawa ibumu pergi dari sini, jangan sampai mereka bertemu dan membuat keributan," titah Arsen yang juga akan mencari mamanya.


Arsen dan Sarah berjalan beringan mencari ibu kandung mereka masing-masing. Raut cemas tercekat di wajah saudara tiri ini. Takut jika ke dua wanita itu bertemu dan membuat kekacauan.


Langkah Arsen dan Sarah terhenti saat melihat Erina dan Wina sama-sama keluar dari kamar pas hingga pertemuan itu tak bisa di cegah lagi.  Mata Wina dan Erina telah bertemu seketika kilatan amrah telah berkobar dalam diri mereka.


"Wah, kebetulan sekali bertemu dengan wanita penggoda di tempat ini!" cibir Wina mematik lebih dulu pertengkar itu. Menatap sinis pada perempuan yang ia anggap telah merusak rumah tangganya.


"Jaga mulut kamu! aku bukan wanita penggoda!" kilah Erina menujuk wajah Wina dengan emosi.


Wina tersenyum menyeringai. "Lalu sebutan apa untuk orang yang telah merebut suami orang!" bentak Wina tak bisa menahan amarahnya tak memperdulikan sekeliling.


"Tutup mulutmu itu! Aku ngak penah merebut mas Wisnu dari kamu. Justru kamulah yang yang masuk dalam hubungan kami dan merebutnya dariku!" sembur Erina tak mau kalah. Ia juga tersulut emosi. Perempuan yang ada di hadapannya ini selalu menuduh merebut suaminya padahal menurut Erina dia wanita yang lebih dulu bersama Wisnu.


Arsen dan Sarah mendekat melihat suasana mulai tak bisa di kendalikan kedua wanita ini tak akan pernah berhenti saling menyerang jika tidak ada yang melerai pertengkaran ini.


"Ma tenang, sudah malu ini tempat umum." Arsen menahan bahu mamanya agar wanita ini tetap berada di tempatnya. "Ma ingat ini tempat umum jangan bikin malu," bisik Arsen menatap sekeliling.


"Ibu cukup, ini tempat umum, malu di lihatin banyak orang." Sarah juga mencoba menahan tubuh ibunya.


"Biarin Ra, ibu ngak terima dia bilang ibu Wanita penggoda."


"Lepasin Ar, biar ibu hajar pelakor ini." Berontak Wina.Ingin menerkan wanita yang selalu menjadi nomor satu di hati mantan suaminya bahkan setelah menikah belasan tahun ia tak bisa memiliki cinta dari lelaki yang telah memberinya seorang putra.


"Enak saja bilang aku pelakor! Kamu tuh yang salah ngak bisa mempertahankan mas Wisnu di sisi kamu. Jadi jangan salahkan aku jika mas Wisnu memilih bersamaku," balas Erina tak mau kalah dari lawannya semakin memancing emosi lawan.


Erina pun melayani dan membalas setiap hinaan dari Wina. Apa pun akan dia keluarkan agar bisa menang bersilat lidah melawan rivalnya ini.  "Kamu yang yang bodoh ngak bisa membuat mas Wisnu bertahan denganmu! Biasanya jika suami meninggalkan istrinya, itu berarti  goyangannya diranjang kurang panas! Kamu itu kurang hot makanya suami kamu berpaling," sembur wanita ini tersenyum remeh.


Arsen dan Sarah yang masih menahan tubuh ibunya masing-masing, kompak terbelalak membuka mulutnya lebar, mendengar ucapan Erina yang membahas masalah goyangan memuaskan suami. Ucapan menggelikan menjurus ke arah ranjang suami istri, yang telah mengotori pendengaran suci mereka. Dua perempuan anggun dan berkelas ini tiba-tiba berubah kehilangan akal dan pikirannya semua tertutupi oleh amarah.


"Kau!" berang Wina merasa sanggat tersinggung. "Dasar wanita murahan! Beraninya kamu berkata sepeti itu! Kamu ngak lihat ini goyanganku, goyang badai," tukas Wina tak terima kemudian meliuk-liukkan tubuhnya ala biduan dangdut sambil membusungkan dadanya menggoyang-goyangkannya, memamerkan keindahan lekuk tubuhnya. "Kamu saja yang terus menggoda mas Wisnu!" teriak Wina menujuk ke arah Erina tak peduli dengan sekitar.


Arsen tercengang rahangnya seakan ingin jatuh melihat ibunya menggoyangkan tubuhnya, memperlihatkan goyang badai andalannya. Sumpah demi apa pun pemuda ini sangat malu ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya ke dasar bumi yang paling dalam melihat tingkah ibunya yang berubah konyol hanya karena di liputi kemarahan. Ingin rasanya ia tak mengakui ibunya untuk saat ini.


"Goyang badai!" Erina tersenyum remeh menatap Wina. "Pantas saja mas Wisnu kabur! Kamu memang payah! Lihat nih goyangku! Goyangan itu seperti ini, namanya goyang cihuy!" ucap Erina tak mau kalah dia juga meliuk-liukkan pinggulnya membuat Sarah juga tercengang, membuka rahangnya lebar melihat tingkah gila ibunya. Arsen dan Sarah kemudian kompak menepuk jidat secara bersamaan. Melihat kelakuan absurd dua wanita ini yang malah memamerkan kemampuan masing-masing bergoyang di depan umum.


"Kenapa pertengkaran ini malah membahas goyangan di ranjang," batin Arsen tak habis Pikir.


"Sudah hentikan! Hei anak tiri suruh ibumu itu menutup mulutnya!" perintah Arsen seakan menyalahkan Erina atas semua keributan ini.


"Kau juga bawa ibumu pergi dari sini, ibumu telah menghina ibuku," serang Sarah membela perempuan yang telah melahirkannya.


"Apa kau bilang! Jelas-jelas ibumu yang salah, dia memang masuk dalam keluarga kami. Ibumu pantas mendapatkan hinaan itu." Arsen maju membela mamanya kali ini pemuda ini telah berdiri membelakangi perempuan yang telah melahirkannya ini.


"Kalian tidak berhak menghina ibuku." Sarah juga maju memasang badan membela dan melindungi ibunya hingga tanpa sadar merekalah yang mulai berdebat panas niat menghentikan pertengkaran kedua wanita itu berubah menjadi ajang saling dukung.


"Maju Ar." Wina mendorong tubuh putranya perlahan mencari dukungan, merasa ia berada di pihak paling benar dan mereka tak boleh mundur.


"Ayo Ra, jangan mau kalah." Erina juga ikut mendorong tubuh putrinya. Berlindung di belakangnya, hingga saat ini Arsen dan Sarahlah yang saling berhadapan.

__ADS_1


"Ibumu memang pantas di mendapatkan hinaan dan julukan perebut suami orang, karena itu memang kenyataannya," serang Arsen.


"Tutup mulutmu! Atau aku akan menghajarmu," ancam Sarah tak terima.


"Wah, berani-beraninya kau mengancam putraku! Hei, wanita murah! Liatlah anak harammu itu, dia berani ingin menghajar putraku," timpal Wina berdiri di belakang putranya. Menatap hina pada Erina.


Wajah sarah berubah pias, kesedihan tampak tercetak dengan jelas di wajahnya saat Wina menyinggung masalah statusnya sebagai anak yang tidak tahu siapa ayahnya.


"Kurang ajar kau! Akan kurobek mulutmu itu, karena mengatakan putriku anak haram," geram Erina hendak maju untuk menyerang musuh yang ada di hadapannya namun tubuh Sarah menghalanginya.


"Maju Ar, hajar dia." wina terus mendorong tubuh putranya mendekat agar menghadapi ibu dan saudara tirinya.


"Untung dia perempuan ma, kalau ngak .... "


"Kalau ngak apa? Memang kenapa kalau aku perempuan," potong Sarah emosinya meluap setelah mendengar ia di sebut sebagai anak haram dan menantang saudara tirinya.


"Kalau ngak udah aku cekik lehermu itu, hingga kau kehabisan napas," ucap Arsen mengangkat kedua tangannya mempraktekan gaya mencekik leher.


"Ayo lakukan kau fikir aku takut padamu," tantang Sarah, tubuhnya juga semakin terdorong oleh perempuan yang ada di belakangnya agar maju melakukan perlawanan dan tak tinggal diam saja.


"Belagu banget ini anak tiri! Rasanya aku benar-benar ingin mencekikmu." Arsen menggantung kedua tangannya telapak tangan yang sedikit terkatup seperti sangat gemas ingin mencekik leher saudara tirinya. Tangannya dari tadi mengarah pada Sarah.


" Sudah Ar, hajar saja." Wina mendorong tubuh putranya untuk maju semakin mendekat.


"Jangan mau kita di hina Ra, kali ini kita ngak boleh mengalah." Erina juga mendorong tubuh putrinya dengan keras hingga jarak tubuh kedua saudara tiri ini sangat dekat, karena dorongan kedua perempuan ini. Hingga tanpa sadar dan tak bisa di hindari lagi tangan Arsen yang tadi masih menggantung mempraktekkan cekikannya, tak sengaja tangan itu mendarat tepat berada di dua gundukkan bukit kembar Sarah.


Deg...


Hening seketika, tak ada lagi suara perdebatan. Perhatian terpusat pada tangan Arsen yang menggantung di bukit kembar Sarah. Erina dan Wina membatu dengan mulut terbuka tak percaya dengan kejadian yang baru ia lihat.


Arsenpun terbelalak seakan matanya ingin jatuh keluar dari tempatnya, Ia menelan salivanya dengan susah payah ketika melihat kedua telapak tangannya, tepat berada dia atas dada saudara tirinya. sumpah demi apa pun ini pertama kalinya ia menyentuh dada seorang wanita dan sialnya lagi perempuan itu saudara tirinya, jantungnya berdetak dengan kencang wajahnya berubah pucat. Sedangkan wanita yang ada di hadapannya ini juga tak kalah terkejutnya wajahnya telah berubah memerah bak kepiting rebus.


"Aaaaaaa!" jerit Sarah frustrasi melihat tangan Arsen berada di dadanya memegang bukit kembarnya. Mendengar teriakan Sarah pemuda ini seketika tersadar lalu dengan cepat ia menarik tangannya kembali.


PLAK


"Aduh," keluh Arsen memegangi pipinya yang terasa panas.


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi putih mulus pemuda ini, akibat tidak sengaja karena telah menyentuh hal berharga dari seorang perempuan.


"Anak tiri kamu menamparku," bentak Arsen terkejut dengan apa yang baru ia terima sambil mengusap pipinya.


"Kurang ajar, lelaki br*ngsek. Kupatahkan tanganmu!" murka gadis ini mengepalkan tangannya.


Perkelahian kini dia ambil alih oleh kedua anak mereka. Arsen dan Sarah siap saling menyerang perihal insiden tak terduga tersebut. Sekarang giliran Wina dan Erina yang akan menyaksikan pertengkaran mereka. Sarah tak akan tinggal diam dengan apa yang ia terima dan Arsen juga tak terima dengan tamparan yang dilayangkan oleh saudara tirinya baginya ia tak sengaja memegang dada saudara tirinya itu.


.


.


.

__ADS_1


Like,Coment, Vote .......


__ADS_2