
Sarah dan Arsen telah pergi meninggalkan kota tempat yang selama ini mereka naungi, menuju sebuah tempat kota kecil yang menjadi saksi bagaimana Sarah kecil ini tumbuh. Ini adalah awal dalam hubungan mereka menjadi sepasang suami-istri. Demi cinta Arsen rela meninggalkan segala kemewahan dan kekuasaannya. Demi hidup bersama orang yang ia cintai, serta rela meninggalkan keluarganya hanya untuk mengikis perbedaan jarak status dengan Sarah. Bahkan ia hanya membawa beberapa lembar pakaian dan sedikit uang. Pemuda ini benar-benar serius dengan tekadnya meninggalkan segalanya dan memulai semuanya dari bawah.
Arsen dan Sarah telah berada di kota tujuan Sarah, awal kehidupan mereka sebagai pasangan suami-istri. Saat ini mereka telah menumpangi sebuah mobil menuju tempat, di mana masa kecil Sarah. Di dalam mobil keheningan masih menguasai suasana, Sarah hanya terdiam masih memendam amarah pada Arsen. Hati dan perasaannya belum menerima jika tuan jutek yang menghancurkan mimpinya telah menjadi suaminya. Rasanya ia ingin berteriak bahkan mencabik-cabik tubuh pemuda yang menikahi dengan cara licik.
Arsen menatap ke arah luar kaca mobil memperhatikan seluk-beluk jalanan kecil yang mobil lalui.
"kita ke mana Ra?" tanya Arsen memecah keheningan melihat wajah Sarah yang dari tadi terlihat murung.
Sarah hanya terdiam tak menjawab hingga Arsen mencoba menggenggam tangan istrinya yang ada di pangkuan, namun secepat kilat gadis cantik ini menepis tangan Arsen.
“Ke rumah kontrakan tempat aku dan ibuku tinggal dulu," Ketus Sarah dengan wajah datar tak ingin pemuda yang telah menjadi suaminya itu menyentuhnya.
Mendapat penolakan dari Sarah membuat Arsen kecewa namun ia hanya bisa diam, mengerti mengapa gadis ini sangat membencinya, karena dia juga merasa pantas menerima kemarahan dari Sarah.
Arsen menarik nafas kasar memperhatikan jalan yang mereka tempuh, alis pemuda ini mengernyit melihat jalan kecil yang dilalui berbelok-belok serta menuju ke sebuah perkampungan, hingga saat mobil telat terhenti, mereka telah sampai di tujuan Arsen masih bersyukur ternyata ia tak tinggal di tempat terpencil.
Tanpa kata-kata Sarah meninggalkan Arsen yang masih tercengang melihat tempat barunya dari dalam mobil, hanya rumah-rumah kecil yang sederhana, tak ada rumah bertingkat-bertingkat sama seperti tempat mereka dulu. Arsen turun dari mobil, terus memperhatikan sekeliling hingga saat suara mobil pergi membuat lamunan buyar. Arsen melihat bahwa barang-barang mereka telah berada di hadapan Sarah.
Sarah melangkah sambil menarik koper kopernya, mendekat ke arah sebuah rumah. Kembali meninggalkan Arsen yang masih menatap heran pada tempat yang sekarang ia berpijak. Langkah Sarah terhenti di rumah berpintu tiga. Air matanya jatuh seketika mengenang kenangan bersama ibunya, sewaktu mereka mengalami kehidupan begitu sulit. Walau pun hidup dengan kekurangan namun ia merasakan kedamaian saat hidup berdua dengan ibunya. Dulu kehidupan mereka sangat sulit, ibunya berjuang untuk menghidupinya serta memberikan pendidikan yang terbaik untuknya walaupun hanya bisa tinggal di kontrakan kecil tapi kehangatan cinta ibu rasakan oleh Sarah, Namun setelah pernikahan Erina, dan mereka masuk ke rumah Hutama semua berubah, ibunya hidup serba berkecukupan dan lebih menyayangi Arsen dari pada dirinya.
Cukup lama Sarah menatap rumah itu, hingga suara pintu terbuka terdengar dari arah rumah yang terletak paling ujung. Sarah menarik sudut bibirnya melihat seorang gadis berjalan keluar dari rumah dan mendekat perlahan ke arahnya. Gadis cantik dengan rambut lurus, panjang pirang tergerai, memakai baju tanpa lengan serta celana begitu pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, terlihat sangat seksi. Gadis itu sedang menatap tajam pada Sarah. Sorot matanya menyelidik memperhatikan detil tubuh Sarah dari atas hingga ke bawah.
"Ara! Sarah! Sarah Aulia Wardani kan? kamu Sarah kan? teman kecil aku?" ucapnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, memegang kedua bahu Sarah.
“Iya Ta, ini aku Sarah teman kecil Kamu." Sarah mengiyakan pertanyaan sahabatnya hingga sebuah teriakan kebahagiaan terdengar dari gadis ini.
"Aaaaaahhhhhh," teriak heboh membahana gadis ini berbaur langsung memeluk tubuh Sarah dengan erat.
"Ya ampun Ara Kamu apa kabar? Aku sangat merindukanmu. Aku mencari selama ini, kamu ke mana saja?" cecar gadis ini dengan pertanyaan bertubi-tubi semakin mempererat pelukannya. "ibu kamu mana Ra" tambah gadis ini.
"Ibu aku udah nggak ada," jawab Sarah dengan suara bergetar dan air mata tertahan. Mendengar ucapan Sarah gadis ini melepaskan pelukannya.
"Maaf Ra, aku nggak tahu kalau ibu kamu udah nggak ada, habis kita enggak pernah tukaran kabar," ucapnya dengan rasa bersalah memegang pundak Sarah. "Berarti kita sama, ibuku juga sudah nggak ada."Gadis ini tertunduk sedih di hadapan Sarah.
“Maafkan aku juga nggak tahu tentang ibu kamu yang sudah nggak ada."
__ADS_1
Gadis seksi ini kembali tersenyum "Nggak apa-apa Ra, Aku senang banget ketemu kamu lagi. Ya ampun Ra, sekian lama kita ngak bertemu kamu tambah cantik saja. kamu pakai Skin Care apa Ra?" Gadis ini berdecak kagum kembali berbincang heboh, melihat Sarah sambil mengelus-ngelus pipi mulus temannya. Sarah hanya tersenyum melihat tingkat temannya yang dari dulu ia kenal sebagai gadis yang ceria.
Arsen yang berada dia antara dua wanita itu hanya terdiri mematung, tercengang serta menatap aneh melihat tingkah gadis heboh yang menyambut kedatangan mereka. Ia berpikir baru kali ini ia melihat makhluk ceria, heboh, yang tidak pernah ditemui.
"Gadis ini berisik sekali, gadis yang aneh," batin Arsen.
Keceriaan teman Sarah ini terhenti saat melihat pemuda tinggi dan sangat tampan berdiri menjulang tepat di belakang Sarah.
"Siapa Ra?" tanya gadis ini terus menatap kagum pada Arsen.
Sarah berbalik menatap Arsen, ragu memperkenal Pemuda ini, sebagai suaminya. kemudian bergeser berdiri sejajar di samping suaminya.
"Dia … Dia …." Suara Sarah seakan tercekat ia tak mampu menyebut Arsen suaminya. "Dia …. suamiku," ucap Sarah dengan pelan dan ragu-ragu tersenyum pelik.
Mendengar kata suamiku dari Sarah membuat hati Arsen berbunga. Pemuda ini tersenyum karena Sarah memperkenalkannya sebagai suami, rasanya sangat bahagia.
Suami! Kamu sudah nikah?" tanya gadis ini memastikan dan diangguki oleh Sarah dengan pelan.
"Ahhhh! Ara kamu udah nikah! Selamat ya," teriak gadis ini kembali memeluk Sarah erat sangat bahagia.
“Ini manusia bukan? Seumur hidup aku ngak pernah liat yang ganteng gini secara langsung, wajahnya seperti artis di tv.” puji Nikita menatap kagum pada Arsen.
Arsen tersenyum miring melihat gadis heboh yang terus bicara tanpa henti, menatap dengan tatapan aneh. Banyak orang berdecak kagum padanya tapi tak ada seheboh gadis ini yang menatapnya seolah bukan makhluk dari bumi.
“Hai ... Namaku Nikita,” gadis ini mengulur tangannya ke hadapan Arsen dengan menampilkan senyuman menawan.
“Nikita,” sela Sarah mengernyitkan alis merasa aneh dengan pengakuan temannya. “Bukannya namamu Puspita,” protes Sarah mendengar teman lamanya telah berganti nama.
Gadis ini membulatkan matanya mendengar Sarah menyebut nama kecilnya, tersenyum pelik ke arah Arsen. Menggaruk kepalanya yang tak gatal menjadi salah tingkah.
“Emmmm. Ara sayang, itu dulu sekarang aku sudah berganti nama menjadi Nikita milly, sekarang aku penyanyi dan tak lama lagi menjadi artis terkenal, jadi jangan pernah lagi menyebut namaku asliku,” bisik Nikita pelan membuat Sarah tersenyum lucu padanya.
“Nikita,” ulang gadis yang bernama Nikita ini kembali mengulurkan tangannya memperlihatkan senyum lebarnya.
Arsen memasang wajah datar melihat gadis yang menurutnya aneh, namun demi Sarah. Dengan pelan ragu-ragu Ia terpaksa mengulur tangannya. “Ar ....” suara Arsen tercekat ia hampir saja menyebutkan nama, ia diam sejenak berpikir lalu menyebut sebuah nama. “Ar ... Arsya,” sebut Arsen memberikan mana samaran untuk menutupi identitas aslinya, lalu dengan cepat menarik tangannya menatap Sarah.
“Namanya Arsya, Ara nama yang bagus,” puji Nikita.
__ADS_1
“Panggilan saja Ar,” sahut Sarah.
Nikita masih menatap kagum pada pemuda yang ada di hadapannya hingga sesaat alisnya berkerut. “Ra, tapi wajahnya seperti tidak asing, kayaknya seperti sering terlihat di tv, siapa ya?” Nikita memasang wajah menyelidik, menegaskan pandangannya.
“Hei kamu salah liat!” ketus Arsen mengalihkan pandangannya saat Nikita terus menatap wajahnya merasa tak nyaman, Arsen menyembunyikan wajahnya dengan tertunduk tak mau Nikita mengenalinya sebagai tuan Arsen yang menjadi pemegang perusahaan yang sering di liput media karena prestasinya serta beberapa orang yang sering memakai namanya untuk menjadi populer di dunia pertelevisian.
“Sudah Ta, dia hanya lelaki biasa, ngak mungkinkan aku menikah dengan orang terkenal,” selah Sarah ikut menyembunyikan identitas Arsen.
“Panggil aku Nikita. Ra, atau panggil Niki, aku ini calon artis,” protes gadis ini mendengar teman kecilnya masih memanggil nama aslinya.
Arsen hanya mendengus tersenyum miring memutar bola mata malas mendengar gadis percaya diri didepannya yang terus mengoceh tiada henti.
“Ia baiklah, Nikita. Ngomong-ngomong, Sudah lama sekali dan kamu masih tinggal di rumah sewa ini? Aku kira kamu sudah lama pindah ternyata kamu masih betah di sini,” tanya Sarah.
“Ya begitulah Ra, aku sangat menyukai rumah sewa ini karena sini banyak kenangan ibuku, Ya ... walaupun rasanya terkadang aku juga ingin pergi. Karena pemilik rumah sangat menyebalkan, dan harga sewa yang mahal untuk rumah kontrkan kecil seperti ini,” oceh Nikita dengan kesal mengingat pemilik rumah.
“Aku ingin tahu apa di sini masih ada tempat untuk aku sewa?” tanya Sarah.
“Ada Ra,” sambar Nikita cepat. “Kebetulan petakan yang di tengah kosong, itukan bekas kamu dan ibu kamu tinggal dulu,” jelas Nikita bersemangat mendengar temannya akan kembali tinggal bersama dengannya.
“Benarkah?” tanya Sarah antusias.
“Ia, kamu ingatkan pemilik rumah yang galak dulu, ia sudah meninggal lalu, rumah ini di ambil alih oleh adiknya. Terus petakan di tengah ini sudah lama kosong ngak ada yang mau sewa habis selain sangat mahal, pemilik rumah juga genit banget, suka gangguin suami orang,” ucap Nikita panjang lebar. “Aku saja jika rumah ini tak banyak kenangan mengenai ibuku, sudah lama aku pindah ke kontrakan yang lebih bagus,” kata Nikita wajahnya berubah sedih.
“Ia, kau benar aku juga kembali ke rumah ini karena untuk mengingat kenangan bersama ibuku.” Sarah kembali terkenang kehidupan sulit dulu bersama ibunya.
“Kontrakan ini agak sedikit mahal, karena isinya sudah lumayan lengkap, jadi kamu ngak perlu membeli barang-barang lagi,” jelas Nikita.
“Ngak masalah dengan harganya Ta, asalkan aku bisa tinggal di tempat ini lagi.” Sarah ingin mendapatkan kembali rumah kenangan masa kecilnya.
“Ayo ikut aku sebaiknya kalian menunggu di tempatku, biar aku yang menyelesaikan sewa kontrakannya, jangan sampai suami itu bertemu dengan si pemilik rumah, bakalan habis di godain, ia itu single parent punya anak satu yang ganjen banget,” ajak Nikita berjalan ke arah tempat tinggalnya dan di ekori oleh Sarah dan Arsen.
Langkah Nikita terhenti kemudian berbalik menghadap pada Sarah dan Arsen yang mengekorinya. “Hati-hati Ra suami kamu ini sangat tampan, kamu tahu kan ibu-ibu di sini mereka pasti akan menggodanya, kau ngak mau kan suami kamu ini di keroyok ibu-ibu sekampung,” jelas Nikita memperingatkan tersenyum penuh arti pada Arsen.
Mendengar ucapan Nikita membuat Arsen menelan salivanya dengan susah membayangkan berhadapan dengan ibu-ibu aneh dari lingkungan ini, sekarang ia akan belajar bersosialisasi. Melihat satu Nikita saja ia sudah merasa akan gila apa lagi dia akan di goda ibu-ibu sekampung. Inilah yang di peringatkan oleh Wisnu jika Arsen tak akan nyaman jika bertemu dengan orang yang berbeda dan berbaur dengannya. Pemuda ini tak akan bisa hidup bersosialisasi apalagi dengan sikapnya yang dingin dan jutek.
Sarah dan Arsen telah menemukan tempat tinggal untuk memulai menjalani kehidupan rumah tangga mereka. di sinilah akan menjadi awal mulai perjalanan mereka sebagai suami istri, dapatkah Arsen masuk dalam dunia Sarah yang hidup dalam kesederhanaan.
__ADS_1