
Mentari pagi telah bersinar dengan cerah, Sinar hangatnya menerpa gadis cantik yang duduk di balkon kamar. Sarah termenung menatap keindahan pemandangan. Hatinya sedang gelisah semalaman ia tak dapat terlelap, terus memikirkan tawaran Arsen untuk menikah dengannya. Ancaman pemuda itu terus terngiang di kepala membuat Sarah bimbang di antara dua pilihan. Apakah ia akan menolak ataukah menerima. Jika menolak itu berarti kerja keras Bian selama empat tahun akan berakhir sia-sia dengan mudahnya hancur di tangan kekuasaan Arsen, namun jika menerima itu berarti ia akan hidup bersama dengan pemuda yang ia benci dan tak akan bisa dicintainya. Menikah dengan Arsen pun tak mudah statusnya dengan Arsen sangat jauh berbeda. Pemuda itu bagaikan bintang yang selalu bersinar dan begitu banyak orang yang menginginkannya.
"Ibu apa yang harus aku lakukan? Semuanya berantakan, aku tidak bisa bersama dengan Bian." Sesal Sarah memikirkan nasibnya yang bahkan harus menikah dengan saudara tirinya.
"Ibu aku tidak bisa melihat Arsen menghancurkan kerja keras Bian. Dia pasti telah bersusah payah meraih posisinya sekarang dan lagi pula aku sudah tak pantas lagi bersamanya." Sarah terus memikirkan, keputusan apa yang akan diambil mengenai masa depannya, apakah dia harus menanggung beban pernikahan dan menyelamatkan usaha Bian selama ini.
Arsen melangkahkan kaki dengan wajah penuh penasaran, menuju ke kamar Sarah, hendak mendengar jawaban apa yang akan gadis ini berikan padanya, sama seperti Sarah. Ia juga tak dapat memejamkan mata akan keputusan yang akan menentukan masa depannya. Hati Arsen resah menantikan keputusan mengenai takdir cintanya. Akankah gadis itu menerima pinangannya atau malah menolaknya.
Arsen memutar pandangannya saat berada di kamar Sarah mencari keberadaan gadis yang telah mengisi hatinya sekian lama, hingga sorot matanya menangkap sosok bayangan gadis yang duduk di balkon.
"Kamu di sini!" sapa Arsen duduk di kursi kosong depan Sarah dengan meja sebagai pemisah.
Sarah memasang wajah datar melihat pemuda ini muncul di hadapannya di saat pagi hari, tahu perihal Arsen menemuinya sepagi ini.
"Bagaimana dengan keputusanmu apa kau setuju menikah denganku? "tanya Arsen dengan wajah penasaran.
Sarah mendengus, "Kita tidak mungkin menikah, lihat siapa dirimu dan siapa aku. Kau Tuan terhormat sedangkan aku. Kau tahu kan siapa aku? Sama seperti yang sering kau katakan padaku dulu, bahwa aku hanya anak haram, anak tiri yang tidak diakui. Kehormatan keluargamu akan tercemar jika menikah dengan gadis sepertiku dan ingat mamamu sangat membenciku tolong pikirkan itu semua itu." Sarah mengingatkan Arsen kembali mencoba membujuk agar pemuda itu mengubah niatnya.
Arsen terdiam sejenak berpikir semua orang menentang hubungannya dengan Sarah dengan alasan sama yaitu status mereka yang jauh berbeda, bahkan Erina menyiapkan jodoh untuk Sarah karena perbedaan status dengannya. Dan Wisnu juga menasihati masalah status mereka. Apa sejauh itu jaraknya bersama Sarah hingga selalu alasan itu yang terus terucap saat ingin bersama dengan gadis yang ia cintai
Cukup lama terdiam, berpikir hingga akhirnya Arsen menarik napas dalam mengambil keputusan yang sulit baginya. "Jika karena memang statusku membuat kita jauh berbeda dan kau tidak bisa menerimaku aku, aku akan melepaskan semuanya. Kita akan pergi dari rumah ini, jika kita telah menikah nanti, kita mulai hidup baru di mana tak ada perbedaan di antara kita," ucap Arsen mantap meyakinkan gadis yang ada di hadapannya.
Sarah tersentak dengan keputusan Arsen, menatap wajah pemuda itu lekat menilai kesungguhan dari raut wajah itu dan tampak jika Arsen serius. Sarah lalu mendengus menatap remeh dengan niat Arsen yang akan meninggalkan segalanya demi dirinya.
"Tidak segampang itu kau melepaskan semuanya, kau akan hidup sederhana dan kau tidak akan mungkin bisa, dari kecil kau telah dilimpahi dengan kemewahan kau tidak akan bisa hidup sederhana," jelas Sarah dengan senyum remeh.
"Aku pasti bisa menjalani semuanya yang penting aku selalu bersamamu. Aku hanya ingin bersamamu Ra," kekeh Arsen tak peduli jika wanita ini telah muak.
“Ar!” bentak Sarah dengan ide gila Arsen. “Kenapa kau sangat bersikeras! Kau tidak akan bisa masuk dalam duniaku, kita berbeda!” suara Sarah meninggi.
“Kita menikah dan pergi dari sini atau kau ingin aku membuktikan ancamanku.” Arsen kembali mengancam Sarah.
Sarah terdiam sejenak kembali menimbang tawaran Arsen, jika ia menikah dengan Arsen itu berarti ia akan membawa pemuda ini pergi bersamanya dan tak akan memiliki apa pun lagi untuk mengancam Bian dan ia juga bisa menghindar pergi jauh dari Bian, karena saat ini Sarah sudah tak sanggup untuk berhadapan dengan Bian.
“Ibu maafkan aku, tidak bisa mengabulkan harapan terbesar ibu, setelah semua usaha yang ibu lakukan, ternyata aku tidak berjodoh dengan Bian. Takdirku berjodoh dengan tuan Jutek,” batin Sarah.
Sarah menarik napas panjang ia telah mengambil keputusan untuk Arsen.
“Baiklah aku bersedia menikah denganmu ... Dan setelah menikah kita akan pergi dari rumah ini,” ucap Sarah akhirnya mengambil keputusan untuk mengorbankan dirinya demi melindungi Bian.
Senyum mengembang terbit dari wajah Arsen mendengar keputusan yang telah dia ambil oleh Sarah. Dia sangat bahagia perempuan yang dicintai telah menyerah dan bersedia menikah dengannya.
“Benarkah Ra?” tanya Arsen kembali meyakinkan.
__ADS_1
“Eemmm,” dehem Sarah terasa sangat berat.
Arsen tersenyum memperlihatkan deretan gigi ratanya. “Terima kasih Ra, karena sudah memilihku.” Arsen hendak maju mendekat pada Sarah meluapkan kebahagiaannya namun dengan cepat gadis ini mundur menghindari Arsen.
“Jangan menyentuhku!” ketus Sarah.
“Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu,” ucap Arsen menatap wajah Sarah dengan penuh cinta.
“Sekarang ayo kita pergi menemui papa, meminta untuk menikahkan kita,” ajak Arsen berjalan lebih dulu sudah tak sabar untuk memberikan berita bahagia pada papanya.
***
Wisnu sedang berada di kamar duduk termenung memikirkan kejadian yang telah di alami oleh kedua anaknya. Merasa bersalah karena tak bisa menjaga Sarah dengan baik, dia gagal menjaga putri dari orang yang ia cintai. Hingga saat ini dia bahkan belum menemui Sarah atas perbuatan hina Arsen pada Sarah, kejadian itu membuatnya sangat malu untuk bertatap muka dengan putrinya.
“Pa!”
Lamunan Wisnu seketika pecah saat mendengar suara yang memanggilnya. Ia pun mengalihkan pandangan pada sumber suara. Menatap Arsen yang ada di hadapannya dengan Sarah berdiri di belakang.
“Sarah,” ucap Wisnu bergegas bangkit kemudian berdiri merangkul bahu Sarah mengarahkan agar gadis itu duduk.
Sarah pun duduk di samping Wisnu. “Ara maafkan papa. Papa gagal mendidik Arsen, tak seharusnya ia melakukan ini padamu,” jelas Wisnu dengan rasa bersalah yang begitu besar hingga rasanya tak sanggup untuk berhadapan dengan Sarah. Arsen yang duduk di antara mereka hanya diam ikut merasa bersalah.
“Papa ngak bisa menjaga kamu dengan baik,” sambung Wisnu mengelus puncak kepala Sarah dengan sayang.
“Ara, kau mau menikah dengan Arsen?” tanya Wisnu seolah tak percaya. “Kau tidak mencintainya sayang.”
Sarah hanya diam tertunduk meremmas tangannya ia juga tak tahu apa ia mengambil keputusan yang benar atau salah untuk hidupnya.
“Apa benar kau mau menikah dengannya, dia tidak memaksamu kan?” tanya Wisnu menyelidik merasa aneh dengan keputusan putrinya. Melemparkan tatapan tajam pada Arsen yang dari tadi hanya diam di antara mereka.
“Tidak Pa, ini sudah keputusan Ara,” jelas Sarah.
“Kau sudah pikirkan dengan baik sayang?” tanya Wisnu yang menatap Sarah dengan pelan dan ia melihat anggukan kepala dari Sarah.
“Apa pun keputusanmu papa akan terima, termasuk jika kamu mau menolak pernikahan ini.” Wisnu masih menatap tajam pada Arsen tentang keputusan Sarah.
“Ara menerima pernikahan ini Pa,” kata Sarah dengan perlahan serta suara bergetar menahan tangisan ia telah mengambil keputusan untuk menikah dengan tuan jutek.
“Baiklah jika itu keinginan kamu, papa akan menikahkanmu dengan Arsen.” Wisnu terpaksa mengiyakan keinginan Sarah. Tatapan mata masih tertuju pada Arsen yang terlihat tersenyum bahagia mendengar Sarah tak mengubah keputusannya
“Ara pergi dulu,” pamit Sarah bangun dari duduknya sudah tak sanggup berada di antara mereka.
Saat bayang Sarah yang telah menghilang meninggalkan kamar Arsen dan Wisnu melanjutkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Kamu akan menikah dengannya? Bagaimana dengan mamamu? Ia pasti tak setuju?” tanya Wisnu akan rencana Arsen yang tetap akan menikah dengan Sarah.
“Tolong papa rahasiakan darinya, aku tidak mau mama menjadi penganggu dalam pernikahanku kelak dengan Sarah,” pinta Arsen.
“Rahasiakan?” Alis Wisnu mengernyit mendengar rencana putranya.
“Ia. Karena setelah kami menikah, aku akan pergi dari rumah ini. Ar ingin hidup berdua dengan Sarah,” jelas Arsen membuat Wisnu semakin tak mengerti arah pikiran putranya.
“Kenapa harus pergi?” tanya Wisnu.
“Aku ingin masuk dalam dunia Sarah, papa tahu aku dan dia berbeda status, aku ingin itu hilang. Aku ingin hidup tenang bersamanya. Dia mau menikah denganku jika aku ikut bersamanya”
Wisnu akhirnya mengerti kenapa Sarah bisa mau menikah dengan Arsen.“Lalu apa yang akan Papa katakan pada mamamu, kau Ceo di perusahaan mamamu?” tanya Wisnu.
“Tolong papa merahasiakan semua ini, jika mama mencariku, katakan saja jika papa menugaskan aku menangani proyek papa di luar negeri,” pinta Arsen merengek seperti anak kecil.
“Ar sampai kapan papa bisa merahasiakan semua ini. Kamu tahu mamamu bukan orang sembarangan dia punya juga kekuasan, relasi yang kuat untuk mencarimu sampai kemana pun. Ar mamamu sangat menyangangimu.” Wisnu memperingatkan rencana Arsen.
“Kumohon papa,” mohon Arsen.
Wisnu membuang napas kasar melihat keras kepala putra yang akan melakukan apa pun demi cintanya.
“Pergi dari rumah ini bersama Sarah itu berarti kamu akan meninggalkan semua kemewahan serta jabatan kamu sebagai Ceo dan hidup sederhana dengan Sarah,” jelas Wisnu.
“Ia Pa,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
“Apa kamu bisa hidup sederhana serba kekurangan tanpa fasilitas mewah yang sering kamu dapatkan setiap hari? Ingat Ar kamu nggak pernah merasakan hidup susah.” Wisnu kembali mengingatkan tentang keputusan Arsen.
“Aku akan menjalani semuanya demi Sarah,” akunya dengan mantap.
“Pikirankan semua dengan baik, di saat pergi kau benar-benar akan hidup mandiri, kau tidak akan bisa menjalaninya, selama ini kau selalu di layani oleh pelayan apa kau bisa mengurus dirimu tanpa bantuan pelayan,” tutur Wisnu.
“Saat kau pergi, kau akan bertemu dengan banyak orang yang tidak akan memandangmu dari kekuasaan, apa kau bisa bergaul normal dengan orang asing bagimu, apalagi kau memiliki emosi yang buruk tidak bisa menahan diri, kau tidak bisa berteman dengan siapa pun,” jelas Wisnu yang sangat tahu karakter putranya sulit bergaul serta bergelar tuan jutek karena tak bisa menahan emosinya. Hingga saat ini, bahkan Wisnu hanya tahu Arsen hanya memiliki satu teman yaitu sahabatnya dari kecil yaitu Gerald.
“Ar akan berusaha. Tolong papa dukung keputasanku. Aku akan belajar semuanya,” jelas Arsen.
Wisnu menghembuskan napas kasar tak bisa mengubah keputusan putranya, untuk tetap ikut pergi bersama Sarah menjalani hidup sederhana dan meninggalkan semuanya.
“Baiklah apa-pun keputusanmu papa akan mendukungmu, papa akan terus mendukungmu.” Wisnu memberikan restunya pada putra kesayangannya walau terasa sangat berat.
“Terima kasih Pa,” tutur Arsen sangat bahagia akhirnya semua telah ia dapatkan persetujuan Sarah dan restu papanya, hanya tinggal menikah maka wanita yang ia cintai akan menjadi miliknya selamanya.
Sarah dan Arsen akhirnya akan menikah, demi cintanya, Arsen rela melepaskan semua, ikut pergi bersama Sarah menjalani hidup berdua tanpa ada akan membedakan status mereka.
__ADS_1