CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
identitas Arsen


__ADS_3

Wina telah meninggalkan rumah kontrakan membawa amarah tinggi menggebu, akibat pengakuan cinta Sarah pada Arsen dan semakin murka saat Sarah bertekad tidak akan berpisah dengan putra kesayangannya. Selain dengan penolakan dia juga pergi dengan kehinaan karena pemilik rumah telah mengusirnya dan membela Sarah.


Mereka bertiga berdiri menatap arah perempuan itu pergi.


“Kamu ngak apa-apa?” tanya Nikita saat bayangan Wina sudah tidak terlihat.


“Aku ngak apa-apa. Makasih kalian sudah nolongin aku,” ucap Sarah mengusap darah di ujung bibirnya dengan ibu jari.


“Tapi muka kamu merah pasti sangat sakit, bibir kamu juga berdarah. Dasar tidak waras dia seperti orang kesurupan saja,” umpat Nikita lalu mengarahkan tubuh Sarah untuk duduk di bangku panjang di depan rumah.


Rena menatap wajah Sarah lekat sedang duduk di kursi, merasa miris dengan apa yang telah gadis ini alami.


“Dasar perempuan gila. Untung dia cepat pergi kalau ngak sudah aku selepet sandal,” oceh Rena masih memegang sebelah sandalnya lalu menjatuhkannya ke lantai memasang kembali di kaki.


“Ara dia siapa sih?” tanya Rena yang tidak menyaksikan perdebatan itu dari awal.


“Mamanya Ar,” ulang Rena menatap bingung jika itu mama dari suaminya itu berarti wanita itu adalah ibu mertuanya.


Nikita menarik napas pelan melipat tangan di dada. Menatap dengan tatapan penuh penghakiman.


“Ara jadi selama ini kamu kawin lari ya dengan Ar!” terang gadis ini yang telah tahu masalah yang terjadi.


“Hus Niki,” protes Rena merasa tak enak hati mendengar ucapan Nikita.


Sarah menghela napas kemudian mengangguk mengiyakan. “Emm,” dehemnya.


Jawaban Sarah membuat Rena tercengang tidak menyangka jika gadis penghuni rumah kontrakannya ini menikah tanpa restu.


“Seperti yang kau dengar mamanya tidak setuju Ar menikah denganku,” ungkap Sarah menurutnya semua telah terbongkar tidak ada gunanya lagi di menyembunyikan ini semua.


“Kenapa?” tanya Rena penasaran.


“Karena kau miskin!” tebak Nikita.


“Ia.” Sarah menganggukan kepala sebenarnya bukan hanya mengenai kemiskinan tapi mengenai sakit hati Wina pada ibunya.


“Dasar wanita gila harta. Sombong banget!” umpat Rena.


“Dia nyuruh kamu meninggalkan anaknya. Karena menurutnya kamu tidak pantas untuk Ar dan kamu tidak mau berpisah dengannya,” sambung Nikita lalu duduk di samping Sarah.


“Ia jangan mau Ra. di suruh pisah sama dia. Walau dia mengancammu. Jangan takut, kami akan berpihak padamu. Sandalku ini akan menyelepetnya jika ia kembali lagi dan menyuruhmu berpisah dengan si ganteng,” ucap Rena dengan semangat berapi-api mendukung kisah percintaan si miskin dan si kaya.


“Ia Ra, kamu tenang saja kamu ngak perlu takut.” Nikita juga memberi semangat.


“Maaf kalian telah masuk dalam masalah kami,” ucap Sarah tertunduk, ia yakin yang di perbuat mereka tadi pada Wina pasti akan membuatnya marah dan mungkin melakukan sesuatu pada mereka juga.


“Ngak apa-apa Ra.” Nikita merangkul tubuh Sarah.


“Wina Raditya memangnya siapa yang takut padanya. Siapa pun dia kami tidak akan takut padanya,” kata Rena mengulang nama yang di sebut Wina.


“Tapi namanya seperti tak asing,” tutur Nikita matanya merotasi mengingat tentang nama itu.


“Dia orang yang sangat berkuasa,” tambah Sarah.


“Seberkuasa apa dia sampai begitu sombong sekali! Istri pejabat saja tidak seangkuh dia.” Rena melipat tangan di dada meremehkan ucapan Sarah lalu duduk di samping Nikita.


“Kalian pernah dengar dengan perusahaan Central Dinamika?” tanya Sarah tentang pengetahuan mereka.


“Central dinamika perusahaan besar itu,” jawab Nikita tidak asing dengan nama perusahaan itu.


“Ia, itu milik Wina Raditya. Orang yang baru saja kalian usir dari kontrakan ini,” jelas Sarah tentang status ibu mertuanya.

__ADS_1


“Apa!” Rena dan Nikita kompak terjengkit kaget berdiri dari duduknya lalu mengarahkan pandangannya pada Sarah.


“Ia. Aku ingat dia perempuan yang sukses menjalankan perusahaan.” Nikita menambahkan


Tubuh mereka seketika lemas mengetahui seorang Wina Raditya.


“Wina Raditya dia memiliki siaran bernama central tv. yang kalau di tv kita itu channel nomor 7,” rancau Rena menatap kosong dengan pelan dan tatapan sayu wajahnya berubah pias.


“Punya mall dimana-mana,” tambah Nikita wajahnya sama seperti Rena.


“Perumahan mewah.” Sebutnya lagi.


“Gila dia sangat kaya!” tukas Rena masih tak percaya rasanya ia ingin pingsan siapa setelah tahu siapa yang telah ia usir tadi.


“Jadi dia ibu Ar, jadi selama ini Ar anak orang kaya! Si jutek pemarah itu bukan orang biasa!” ucap Nikita sama seperti Rena ia juga tercengang tak menyangka.


“Ia dia bukan Arsya. Tapi nama sebenarnya namanya Arsen Raditya Hutama. Dia adalah Ceo dan menjadi pewaris semua itu,” ungkap Sarah tentang siapa sebenarnya si jutek yang selalu mereka goda.


“Hutama pemilik Angkasa Hutama,” ulang Nikita semakin tercengang rahangnya seakan sudah ingin jatuh mendengar penjelas Sarah siapa sebenarnya pemuda jutek itu.


Rena dan Nikita menjatuhkan tubuhnya duduk di samping Sarah rasanya mereka sudah tidak sanggup lagi mendengar nama orang besar yang menjadi suami Sarah.


“Yang juga punya siaran tv juga channel nomor 5,” ucap Rena.


“Hotel berbintang dimana-mana, memiliki tambang batu bara, minyak,” tambah Nikita menyebut yang ia ketahui yang dari televisi.


Rena kembali berdiri dengan wajah yang terlihat linglung. Menatap Sarah yang duduk diam lalu memegang bahu gadis itu.


“Dia mana rumahnya Ra? Kau tahu di mana ia tinggal sekarang? Cepat antar aku ke rumahnya?” tanya Rena menggocang-goncangkan tubuh Sarah.


“Mami masih mau marah sama dia? Belum puas Mi,” tanya Nikita menatap heran.


“Bukan aku harus minta maaf dan mencium tangannya! Gila dia orang yang sangat berkuasa. Dan aku tadi mengusirnya. Hampir saja aku menyelepetnya dengan sandal,” sesal pemilik rumah kontrakan ini dengan tindakannya pada Wina. Ia mengacak rambutnya putus asa.


“Pantas saja mamanya marah anaknya menikah dengan Ara. Orang seperti kita itu hanya melihat kita remahan rempeyek!” tukas Rena nadanya naik terdengar panik memukul bahu Sarah pelan seolah berbelot membela Wina.


“Huss mami,” protes Nikita.


“Dia kaya banget. Melebihi pejabat. Dia sangat berkuasa dia, bisa melakukan apa-pun.” raut wajah cemas tercetak nyata di wajah Rena membenarkan Wina yang murka putranya menikah dengan gadis biasa.


“Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan.” Rena mengcengkeram tangannya berjalan mondar-mandir.


“Mami hentikan. Aku tidak memikirkan mama Ar, tapi aku memikirkan!” ucap Nikita Ragu.


“Apa yang kau pikirkan?” sambar Rena menghentikan langkahnya menatap Nikita.


“Mami aku tidak sedang memikirkan itu. Tapi, yang aku pikirkan selama ini kita membuat anaknya kesal. Ar ternyata Ceo perusahaan!” panik Nikita mulai putus asa memikirkan daftar dosa yang telah ia lakukan pada Arsen serta selalu menggodanya.


“Kita selalu menggodanya, membuatnya kesal.” Nikita menyebut kebiasaannya saat bersama Arsen.


“Ia kau benar.” Rena kembali duduk lemas di samping Nikita.


“Aku selalu menggodanya membuatnya kesal bahkan aku nitip minyak goreng promo di kencannya,” ungkap Nikita menutup wajahnya merasa sangat malu.


“Kau lumayan, aku bahkan menyuruhnya mengangkat karung daster daganganku,” tambah Rena.


“Kita selalu membuatnya kesal dengan traktiran kita.” Kompak mereka menatap tajam pada Sarah.


“Ini semua gara-gara kau Nik. Kau ini tidak pernah menonton tv ya! Kau terlalu banyak dangdutan, masa kau tidak tahu siapa Ar!” hardik Rena memukul bahu Nikita menyalahkan ketidaktahuaan Nikita tentang Arsen.


Nikita mendengus tidak terima di salahkan oleh Rena .“Mami itu yang kebanyakan ngitung cicilan daster jadi ngak pernah nonton tv, masa ngak pernah liat Ar di tv, padahal ia sering sekali dia bahas anak pengusaha,” balas Nikita. Arsen sering muncul menjadi pemberitaan di media namun mereka tidak begitu menyimak.

__ADS_1


“Jadi karena itu dia selalu memakai masker untuk menyembunyikan wajahnya, bodohnya aku tidak mengenalinya, seharusnya aku bisa peka sedikit, mana ada orang biasa seganteng dan sebening dia,” gumam Nikita.


“Ara kenapa kau bisa kenal dan menikah dengan orang sangat kaya itu?” tanya Rena


Nikita dan Rena menatap tajam pada Sarah seakan menghakimi gadis ini. Lalu dua gadis genit ini kompak saling bersitatap mengingat perlakuan sarah pada Arsen suaminya.


Rena tercengang lalu menunjuk Sarah membuat Nikita angkat bicara.


“Ara kau lebih gila jadi selama ini yang mencuci pakaian, mengangkat jemuranmu, mencuci piringmu, Ceo besar. Bisa-bisanya kau membuatnya seperti itu. Kau membuat anak Ceo itu mengerjakan pekerjaan rumah.” Nikita memukul dengan keras bahu Sarah menyesali sikap gadis ini yang tak menghargai Arsen sang Ceo. Ia tahu Arsen selalu membantu Sarah mengerjakan pekerjaan rumah, terutama selalu memikirkan jemuran di tempat kerja.


“Auuuuww sakit,” keluh Sarah mengelus bahunya yang di pukuli oleh gadis genit.


“Kalau emaknya tahu kau, memperlakukan anaknya seperti itu dia tidak akan mengampunimu!” hardik Nikita kembali memukul bahu Sarah tidak menyangka sikap Sarah pada Arsen.


“Tapi hebat kamu Ra bisa membuat dia takluk dan tunduk padamu. Dia sangat mencintaimu hingga rela melakukan apa-pun bahkan rela meninggalkan semua demi kamu,” puji Nikita merasa bangga dengan kemampuan Sarah menggait cinta Arsen si jutek yang kaya raya.


Sarah hanya tersenyum kaku mendengar ocehan Nikita sungguh ia juga tidak menyangka  jika ia di cintai oleh pemuda sehebat Arsen.


“Sudah jangan bahas siapa Ar lagi. Aku minta bantuan pada kalian. Tolong jangan beritahu Arsen tentang ini semua. Ia pasti cemas,” pinta Sarah dengan wajah memohon.


“Ara tanpa di beritahu juga dia akan tahu.” Nikita menangkup wajah Sarah yang luka terdapat bekas tamparan.


“Aku akan mengurusnya, jadi tolong kalian lupakan kejadian tadi.”


“Ar pasti marah banget kamu di perlakukan seperti, kamu tahukan dia itu ngak bisa lihat kamu di sakiti. Tukang sayur saja dia marahi apalagi mamanya,” terang Nikita yang sangat tahu besar cinta Arsen pada Sarah.


“Karena itu, aku tidak ingin dia bertengkar dengan mamanya.”


Rena dan Nikita saling bersitatap lalu mengangguk mengiyakan keinginan Sarah.


“Baiklah jika itu maumu. Tapi aku rasa Ar pasti akan tahu.”


Perbincangan mereka terus berlanjut hingga Nikita mulai tersadar.


“Ya ampun aku lupa! Aku harus bekerja. Hari ini kan hari pertama aku menyanyi lagi.” Nikita menepuk jidat karena melupakan tugasnya, karena menolong Sarah dari beringasnya Wina.


“Ia Nik. Ini sudah siang kamu sudah terlambat,” imbuh Rena.


“Ia kamu pergilah maaf karena menolongku, kau jadi terlambat,” ucap Sarah merasa bersalah.


“Ngak apa-apa. Baiklah aku harus pergi sekarang,” pamit Nikita menepuk bahu Sarah kemudian melangkah pergi.


Nikita berjalan ke arah motor bersiap untuk pergi namun langkahnya terhenti ketika mendengar dering telpon. Ia pun meraih ponselnya yang berada di dalam tas. Menatap sekilas layar persegi itu seraya mengernyitkan dahinya membaca nama yang tertera.


Nikita menempelkan ponselnya di telinga mulai mendengar suara yang ada di seberang sana. Nikita menatap ke arah Sarah seraya menyimak pesan yang tersampaikan padanya. Rena dan Sarah memperhatikan sikap Nikita yang berubah.


Nikita menghela napas panjang, raut wajahnya tercetak jelas jika ia sedang menerima kabar yang tidak baik. “Baiklah aku mengerti.” Nikita lalu memutus sambungan.


“Ada apa Nik?” tanya Rena dengan wajah penasaran.


“Aku tidak menyanyi hari ini, katanya sudah ada yang menggantikan aku,” jelas Nikita memaksakan senyuman hatinya resah sekaligus bertanya-tanya apa ini ulah mama Arsen karena tadi ia telah membela Sarah.


“Jadi bagaimana?” tanya Rena.


“Niki,” ucap Sarah prihatin dengan nasib Nikita ia tahu ini pasti bukan sebuah kebetulan mama Arsen pasti sudah bertindak.


“Ngak apa-apa. Besok lagi.” Nikita memaksakan senyuman tidak ingin Sarah menjadi merasa bersalah padanya. Sarah juga pasti menebak jika mama Ar yang telah membuatnya seperti ini.


“Ayo sudah kita masuk.” Nikita berjalan menuju rumah kontrakannya dengan langkah yang berat.


Ketiga perempuan itu pun berhambur masuk ke dalam rumah masing-masing dengan langkah gontai, mereka tahu jika Wina telah beraksi namun mencoba menutupi kegelisahan dan tetap tenang.

__ADS_1


Sarah akan mencari cara untuk menghindari Arsen agar suaminya itu tidak tahu apa yang terjadi padanya, karena jika tahu Arsen pasti akan marah pada perempuan yang telah melahirkannya itu.


__ADS_2