
Arsen telah berada di rumah, tubuhnya menggigil kedinginan setelah terjebak hujan berjam-jam bersama Nikita. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum menjemput Sarah di minimarket. Arsen berbaring di sofa sambil membaca berita tentang pencarian dirinya, pemuda ini menarik nafas panjang memikirkan mamanya telah mengambil tindakan untuk mencarinya.
Arsen sangat takut jika perempuan yang melahirkannya itu akan menemukannya. Mamanya pasti murka jika mengetahui ia telah menikah dengan anak musuhnya, jika itu terjadi mamanya pasti akan berusaha memisahkan mereka. Dan Sarah pasti dengan mudah akan membiarkannya pergi, kembali bersama keluarganya.
Kepala Arsen terasa berat memikirkan tindakan yang akan mamanya lakukan pada kehidupan percintanya, hingga akhirnya tak terasa ia terlelap.
Tak beberapa lama terlelap Arsen tersentak teringat jika ia harus menjemput istrinya di minimarket. Arsen menatap jam di ponselnya menarik nafas lega ternyata ia belum terlambat. Ia lalu mencuci muka bersiap menjemput Sarah.
Demi menjemput istri tercinta Arsen tak menghiraukan kondisi tubuhnya yang lemah, kepalanya terasa sangat pusing serta badannya terasa menggigil.
Arsen telah sampai di tempat Sarah bekerja, berjalan masuk mendekati meja kasir tempat istrinya menjalankan tugas.
“Ar,” sapa Sarah saat melihat Arsen berdiri di hadapannya bak pelanggan yang hendak membayar. Melemparkan senyuman lagi-lagi suaminya menunjukkan perhatian dengan menjemputnya.
“Aku mau menjemput bundaku,” goda Arsen tersenyum lembut membuat wajah Sarah merona mendengar panggilan bunda dari suaminya setelah insiden salah ucapnya sekarang Arsen selalu memanggilnya dengan sebutan bunda.
“Baik tunggu sebentar ... kami tutup dulu.” Gadis ini kemudian meninggal meja kasir, sudah saatnya ia pulang karena jam kerjanya telah selesai.
Minimarket telah tutup Sarah dan Arsen bergegas pulang, mereka telah berada di tempat parkiran motor. Sarah merasa ada yang aneh melihat suaminya yang sangat lemah.
Gadis ini kemudian menatap dengan tatapan menyelidik memperhatikan raut wajah Arsen. “Kenapa wajahmu pucat kamu sakit?" tanya Sarah seketika memasang wajah khawatir.
“Kepalaku hanya sedikit pusing,” ucap Arsen lemah seperti sudah tak ada tulang dalam dirinya.
Sarah mengulurkan sebelah tangannya, mendaratkan punggung tangannya di kening mengecek suhu tubuh suaminya.
“Kamu demam, badan kamu panas banget. Kenapa menjemputku jika kamu sedang sakit.” Sarah menghawatirkan keadaan anak emas itu, takut terjadi sesuatu.
Sarah tak membiarkannya untuk mengendarai motor, dia yang akan membonceng Arsen.
“Sini biar aku saja yang bawa motor.” Sarah menaiki motor lebih dulu mengulurkan tangannya meminta kunci motor.
Tanpa kata-kata Arsen memberikan kunci pada Sarah kemudian naik duduk di belakang istrinya, ia juga merasa sudah tidak bisa mengendarai motor badannya terasa lemah dan kepalanya terasa sangat berat.
Sarah melajukan kendaraannya meninggalkan minimarket. Hening tercipta, terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga tangan Arsen terulur melingkar di pinggang Sarah, menyenderkan kepalanya di punggung, memeluk tubuh gadis yang di cintainya ini seolah tak ingin berpisah.
Sarah merasa tak nyaman jantungnya kembali berdetak kencang saat suaminya memeluk erat, dia mulai tidak bisa fokus akibat rasa gugup yang seketika melanda. “Ar ....” protes Sarah menggeliat agar pelukan itu terlepas.
“Bertahanlah denganku. Jangan lepaskan aku, jangan biarkan aku pergi, berjuanglah bersamaku, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu,” rancau Arsen dengan kepala bersandar di tubuh Sarah serta mata tertutup seperti sedang mengigau namun semakin mengeratkan pelukannya.
Sarah menarik sudut bibirnya terharu dengan kata-kata Arsen. “Begitu berharganya kah aku bagimu, hingga kau sangat takut kehilanganku, mengapa kau bisa mencintaiku sebesar ini tuan Arsen,” batin Sarah terharu ia sudah bisa merasakan cinta yang besar pemuda ini untuknya.
Setelah beberapa saat mereka telah sampai di depan rumah.
“Ar kita sudah sampai.” Sarah membangunkan Arsen yang tertidur di belakangnya.
Arsen membuka matanya perlahan melihat sekeliling kemudian tubuhnya bergetar kedinginan akibat angin malam. “Dingin Bunda,” keluh Arsen turun dari motor memeluk manja tubuh Sarah seperti anak kecil untuk mendapatkan kehangatan.
“Ayo masuk.” Sarah memapah Arsen.
__ADS_1
“Kenapa seperti ini,” tanya Sarah saat sudah berada di dalam rumah membungkus tubuh menggigil Arsen dengan selimut.
“Aku tadi kehujanan di jalan,” jelas Arsen.
“Kok bisa kamu hujan-hujanan. Kamu jadi masuk anginkan.”
Sarah menyodorkan satu tablet obat kepada Arsen.“Ini minum obat dulu.” Arsen pun memasukkan obat ke mulutnya, menerima gelas berisi air putih yang di berikan dari Sarah kemudian menenggaknya. Kembali menarik selimut menutupi tubuh menggigilnya.
“Buka bajumu,” perintah Sarah.
Mata Arsen terbelalak mendengar ucapan Sarah yang menyuruh membuka baju. Ia pun menelan salivanya dengan susah payah pikiran kotor telah memenuhi kepalanya. “Kamu mau apa!” panik Arsen semakin menutup tubuhnya dengan selimut.
“Cepat buka bajumu!” paksa Sarah.
“Apa kali ini dia yang akan memperkosaku, di saat aku lemah tak berdaya,” batin Arsen. “Kamu minta jatah nafkahmu.”
“Jangan sembarangan bicara, kau sedang masuk angin, aku akan mengerok punggungmu, biar kamu cepat sembuh,” jelas Sarah telah memegang uang koin
“Apa itu?” tanya sang mantan Ceo yang tak pernah merasakan sensasi berobat dengan uang logam tersebut. Yang selalu ia rasakan berobat dengan dokter terbaik.
“Sudah jangan banyak tanya. Buka bajumu.”
Dengan ragu-ragu Arsen mulai membuka bajunya, memperlihatkan punggung putih mulusnya pada Sarah.
Sejenak Sarah mengalihkan pandangannya dari punggung Arsen namun demi kesembuhan anak berharga pewaris perusahaan ia terpaksa melakukannya. Sarah mulai melakukan aksinya, di punggung pemuda itu.
“Tahan saja, ini akan menghemat uang. Kita tidak perlu untuk ke dokter,” jelas Sarah menggosok dengan uang logam.
“Demi menghemat uang ke dokter, kau akan mengupas kulit punggungku!” ocehnya meringis, menggeliat-geliatkan tubuhnya. “Sudah hentikan, perih,” teriak Arsen kesakitan tak terbiasa dengan terapi yang di berikan istrinya.
“Jangan banyak bergerak biar kau cepat sembuh.” Sarah terus melakukan hingga selesai.
Sarah telah selesai dengan pekerjaannya, kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri meninggalkan Arsen yang memasang wajah tertekuk.
Arsen berbalik melihat punggungnya dengan susah payah, memperhatikan garis-garis merah hasil maha karya istrinya, ia mendengus.
“Sudah pakai shampo hijab, sabun mandi susu kambing, sekarang kerokan pula, lama-lama ketampananku bisa hilang,” keluh Arsen tak bersemangat, menarik napas berat kemudian berbaring di sofa.
Sarah telah selesai dari kamar mandi, memperhatikan Arsen yang berbaring di sofa kecil tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Gadis ini menjadi iba melihatnya, apalagi kondisi Arsen yang sedang sakit pasti tak nyaman tidur seperti itu. orang tuanya pasti sedih melihat putra kesayangannya mendapatkan kehidupan seperti ini.
Sarah masuk ke dalam kamar menyiapkan tempat tidur untuk Arsen agar bisa tidur dengan nyaman, ia mengatur kasur kecil di samping ranjang sebagai tempat tidur untuk Arsen. Mereka akan tidur di kamar bersama, Sarah yakin Arsen tak akan melakukan apa-pun padanya. Setelah selesai mengatur ia keluar dan memanggil suaminya itu.
Sarah menghampiri suaminya yang berbaring di sofa.
“Ar ....” panggilnya.
“Ya,” jawab Arsen dengan mata tertutup.
“Tidurlah di kamar, di sofa pasti membuatmu tidak nyaman.”
__ADS_1
Mata Arsen seketika terbuka bersinar bak kilau senter di tengah kegelapan, tersenyum penuh arti pada Sarah.
“Jangan berpikir sembarangan, aku tidak hanya ingin kau tidur di sofa, lagi pula kau di tidur di bawah, tidak bersamaku, awas saja kau macam-macam padaku,” ucap Sarah dengan ketus.
“Aku tidak berbuat yang tidak-tidak padamu. Walau pun di lantai, di mana pun yang penting bersamamu.” Arsen lalu bangun berdiri dengan semangat mengikuti langkah Sarah masuk ke dalam kamar.
Pasangan ini telah berada di dalam kamar Sarah tidur di ranjang sedangkan Arsen tidur di bawah di samping.
Sarah tidur miring membelakangi suminya, sedangkan Arsen terlentang menatap langit-langit kamar.
“Ara ... Apa kamu masih marah padaku aku atas sikapku dulu,” ucap Arsen memecah kebisuan menanyakan kesalah terbesar yang pernah ia lakukan pada Sarah hingga impian, yang di rancang gadis ini hancur berantakan.
Sarah terdiam sejenak. “Semua telah terjadi, mau marah juga sudah tak ada gunanya.”
“Apa kau memaafkan kesalahanku itu,” tanyanya.
“Emmm.” Hanya deheman yang terdengar.
“Bisakah kamu memberikan aku kesempatan mengejarmu, melakukan hal yang membuatmu menyukaiku,” pinta Arsen akan membuat Sarah jatuh cinta padanya sebelum mamanya menemukan mereka, karena jika Sarah sudah mencintainya, setidaknya mereka akan berjuang bersama membuktikan cinta mereka pada mamanya, namun jika ia bertemu Wina saat gadis ini belum mencintainya, maka ia akan dengan senang hati mempersilahkan Arsen pergi bersama mamanya.
“Kita tidak bisa bersama Ar. Kita tidak bisa dekat,”
“Kenapa kau selalu menjauh dariku? Kau tidak pernah memberi aku kesempatan mendekatimu? Apa kau benar-benar tidak bisa mencintaiku? Kau tidak pernah menganggapku ada,” cecar Arsen dengan banyak pertanyaan tentang Sarah yang selalu menghindar dan memandangnya seolah tak ada.
“Aku tidak berani dekat denganmu. Aku takut jatuh cinta padamu, aku tidak punya apa-apa untukmu, aku hanya perempuan biasa. Mencintaimu butuh banyak keberanian. Aku takut membuatku akan menyesalinya,” jelas Sarah tentang perasaannya selama ini, ia tak menyangkal jika ia bisa saja jatuh cinta pada Arsen pemuda tampan dengan kesempurnaan dan dambaan banyak orang, apalagi Arsen selalu menunjukkan cinta dan perhatiannya, di saat hatinya rapuh, hanya pemuda ini yang selalu di sampingnya menjalani hari selama empat tahun terakhir.
Arsen menarik sudut bibirnya, mengembangkan senyuman mendengar ucapan dari gadis yang ia cintai, sangat senang ternyata ia punya kesempatan untuk mendapatkan hati Sarah.
“Berarti aku bisa memiliki hatimu. Aku akan mengejarmu. Jangan menjauh lagi, kita harus jalani ini seperti pasangan,” jelas Arsen bertambah semangat mengejar cinta Sarah.
“Ar, jangan bersikeras, kelak cepat atau lambat kita akan berpisah.”
“Aku akan memiliki hatimu sebelum mamaku menemukan kita, kita tidak bisa bersembunyi, cepat atau lambat mereka akan menemukan kita,” batin Arsen.
Arsen tak menghiraukan kata-kata Sarah. “Bunda seperti pasangan lain besok kita pergi kencan yuk.”
“Kencan!” suara gadis ini terdengar heran membalikkan badannya menatap Arsen.
“Ia kencan pertama kita, besok,” ucap Arsen menaik-naikkan alis menggoda istrinya.
“Tapi Ar ....”
“Tidurlah besok kita akan kencan.”
Suasana hening tak ada lagi obrolan, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Arsen telah berniat membuat Sarah jatuh cinta padanya sebelum Wina menemukannya. Akankah Sarah jatuh cinta pada Arsen dan bagaimana dengan Bian? Akankan Arsen bisa melindungi gadis yang ia cintai dari kebencian mamanya?Dan bagaimana kencan pertama mereka bersama besok sebagai pasangan.
Like, coment yang kencang penyemangat author...
__ADS_1