
Pagi menjelang matahari telah naik, perasaan Sarah pun sudah mulai membaik, hatinya terasa tenang setelah menumpahkan tangisannya. Ia pun tak mengerti mengapa ia merasa sangat nyaman menangis di pelukan Arsen. Padahal selama ini hanya Bian yang bisa membuatnya tenang ada apa dengan hatinya.
Sarah dan Arsen telah bersiap berangkat ke tempat kerja masing-masing. gadis ini keluar dari kamar dengan menggunakan seragam minimarket lalu berjalan ke arah rak sepatu, meraih sepasang sepatu kemudian duduk di sebelah Arsen yang menunggunya.
“Kamu udah nggak apa-apa Ra? Lebih baik kamu di rumah aja,” kata Arsen menatap cemas wajah istrinya yang terlihat sembab.
“Aku sudah lebih baik sekarang. Ayo kita berangkat.” Sarah berjalan keluar mendahului Arsen.
Pasang ini telah berada di luar rumah Arsen menutup pintu lalu menguncinya.
“Selamat pagi,” ucap Nikita heboh di pintu rumahnya, juga telah bersiap untuk menjalani hari bekerja di tempat yang sama dengan Arsen yaitu tempat acara pernikahan.
“Pagi Ta kamu juga udah mau pergi?” tanya Sarah mengembangkan senyuman melihat teman kecilnya.
Arsen memasang wajah datar melihat semangat pagi partner kerja hebohnya tersenyum lebar padanya.
“Iya. Selama ada Ar ganteng, aku jadi lebih bersemangat lagi,” ucap Nikita menggebu.
“Oh iya aku lupa. Ale sudah berangkat dari tadi bersama maminya jadi dia nggak numpang lagi,” jelas Nikita membuat Arsen menarik sudut bibirnya senang mendengar si pengganggu tak akan ikut dengannya hari ini.
“Kok udah berangkat?” tanya Sarah menyayangkan kepergian anak kecil itu.
“Ia, habis kena sp3 sama gurunya soalnya lambat mulu, mentang-mentang maminya dekat sama pak saptam sekolah, jadi ngelunjak. Dia kata sekolah punyanya,” oceh Nikita panjang lebar tentang si pemilik rumah.
“Surat Panggilan orang tua kali Ta bukan, bukan sp3, kaya karyawan aja,” ralat Sarah melihat ke heboan Nikita menjelaskan.
“Salah ya.” Nikita terkekeh, sedang Arsen mendengus memutar mata malas mendengar ocehan Nikita bak petasan.
“Kalau sekarang aku yang jadi pengganti Ale boleh ngak? Duduk di tengah, di antara kalian,” goda Nikita dengan tingkah manja ia sangat suka melihat wajah ketus Arsen yang menurutnya menggemaskan dan semakin tampan saja.
“Nggak,” tolak Arsen dengan ketus melihat Nikita yang kembali menggodanya di pagi hari.
Mereka bertiga berkumpul siap naik kendaraan masing-masing namun Arsen menghentikan niatnya saat melihat kerumunan di penjual sayur kemarin.
“Tunggu dulu Ra.” Arsen berjalan akan pergi menuju kerumunan.
__ADS_1
“Mau ke mana Ar?” tanya Sarah menatap heran pada pemuda yang tiba-tiba berjalan meninggalkannya, arah tatapan gadis ini mengarah pada kerumunan dan mulai mengerti, jika suaminya itu pasti akan memberi pelajar pada orang yang telah membuatnya bersedih.
“Ar jangan,” cegah Sarah menarik lengan suaminya yang telah memasang wajah dingin.
“Aku hanya ingin memberikan mereka peringatan.” Langkahnya masih tertahan.
Nikita yang telah duduk di motornya, kembali turun menatap aneh pada pasangan itu ingin mengetahui apa yang terjadi, apa lagi wajah tampan Arsen terlihat penuh amarah.
“Kenapa Ra?” tanya Nikita menghampiri mereka.
“Ngak apa-apa, hanya saja kemarin mereka bergosip yang tidak-tidak tentang ibuku,” jelas Sarah masih menahan langkah Arsen.
“Oh ... Gitu. Mereka itu memang biang rumpi, kepo dengan urusan orang. aku dan Rena saja sering di gosipin, sebagai wanita genit yang suka godain suami mereka, padahal suaminya yang genit. Dia bilang kami pelakor.” Lapor Nikita membuat emosi Arsen semakin tersulut.
“Kalau suaminya tadi ganteng kaya Ar mah, baru tuh kami mau jadi pelakor,” canda Nikita seperti biasa mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Arsen agar kemarahan Arsen terhenti namun ternyata tidak pemuda ini melepaskan cekalan tangan Sarah lalu berjalan maju.
“Ar ....” panggilan istrinya tak di idahkan oleh pemuda ini.
“Sudah Ra, biarkan saja. Sekali-kali mereka itu harus di beri pelajaran biar mulutnya ngak ember lagi.”
Arsen telah berada di kerumunan membuat ibu-ibu mulai grasak-grusuk karena melihatnya. Menatap dengan kagum.
Sarah mendekat ke arah mereka. “sudah Ar, jangan bikin keributan,” bujuk gadis ini agar pemuda ini berhenti membelanya.
“Biar aku akan memberi mereka pelajaran.” Arsen tak menghentikan aksinya mengintimidasi ibu-ibu penggosip.
Tatapan tajam terus ia berikan pada ibu-ibu. “Cepat minta maaf pada istriku.” Suara Arsen semakin meninggi membuat mereka kemudian mendekat ke arah Sarah.
“Ara maaf kan kami,” ucap kompak ibu-ibu itu secara bersama.
“Ia, ngak apa-apa. Tolong jangan cerita tentang ibuku, dia sudah tenang di sana,” ucap Sarah dengan suara bergetar.
“Ia, Ra maaf, kami ngak akan bahas ibu kamu lagi,” jelas sang penjual sayur mewakili.
“Mulai hari ini, jangan berkumpul di sini lagi atau aku akan menghancurkan jualanmu,” ancam Arsen pada sang penjual, akhirnya mereka melihat betapa mengerikan pemuda ganteng ini terutama Nikita yang ikut bergabung di sana berdiri di samping Sarah dan suka menggoda Arsen.
__ADS_1
“Ar sudah Ayo kita pergi.” Sarah menarik tangan Arsen pergi namun baru beberapa langkah ia berbalik.
“Ingat jangan bergosip lagi tentang istriku, maupun tentang Nikita dan Rena, jika aku mendengarnya lagi, aku akan memberi pelajaran pada kalian,” ancam Arsen memberi perlindungan pada 3 wanita yang sekarang selalu berada di sekelilingnya, walau pun dua wanita itu menyebalkan dan selalu menggodanya namun Arsen merasa harus melindungi mereka.
“Ar kau idolaku, kau yang terbaik,” puji Nikita kegirangan mendengar namanya masuk dalam perlindungan Arsen.
“Ar sudah. Kasihan mereka.” Sarah merasa tak enak hati pada ibu-ibu itu karena telah menerima kemarahan dari suaminya.
“Biarkan saja mereka. Pantas saja yang naik haji itu tukang bubur bukan tukang sayur. Tukang sayur Cuma biang gosip,” umpat si tuan jutek bermulut pedas.
Mereka bertiga pun berjalan pergi menjauh, langkah panjang pemuda itu membuatnya berjalan di depan. Meninggalkan dua wanita yang berjalan di belakangnya.
“Suami kamu hebat Ra, Biarpun kalau ngomong rasanya kaya pakai karet merah,” ucap Nikita antusias menatap kagum, pada Arsen sangat senang telah menuntaskan ke dongkolannya pada penjual sayur.
Sarah hanya diam terlihat sedih karena Arsen telah memarahi ibu-ibu di tempat mereka. hanya Nikita yang membenarkan perbuatan Arsen.
“Sudah Ra jangan sedih. Gila suami kamu Ra, kalau cabe naik, kamu ngak perlu khawatir, soalnya omongan suami kamu aja sudah cukup pedas sampai ke hati. Ibu-ibu tadi pasti jera,” oceh Nikita mengagumi sikap tuan jutek.
“Beruntung banget sih Ra, punya suami seperti dia walaupun jutek minta ampun dan omongannya pedas tapi, dia terlihat sangat mencintaimu, bahkan rela memarahi ibu-ibu di sini demi kamu. Belum ada tuh suaminya kaya begitu di sini, membela harga diri istrinya. Kayanya dia akan rela melakukan apa-pun demi kebahagiaan kamu, ngak mau ada orang yang menyakiti kamu. Aku jadi iri dan ingin pengen punya suami sempurna seperti dia. Jutek ngak apa-apa deh.” Gadis ini terus memuji Arsen di dekat Sarah.
Sarah masih terdiam berjalan perlahan mendengar ucapan Nikita, memuji Arsen. Gadis ini tanpa sadar menarik sudut bibirnya menatap punggung Arsen, tersentuh akan cinta Arsen yang besar padanya. Hatinya terasa berdesir dan tersentuh.
Mereka telah berada di motor. “Ayo naik Ra,” kata Arsen.
Sarah pun naik ke motor duduk di belakang suaminya terus menatap punggung pemuda itu. Memutar kembali memori hubungannya bersama sejak awal, mulai pertengkaran yang selalu menghiasi hingga perubahan sikap Arsen yang baik padanya, perhatian dan kasih sayang yang tulus. Ada keharuan menyeruak menghinggapi hatinya, ternyata benar pemuda ini memiliki cinta yang sangat besar untuknya. Bahkan rela melakukan apa-pun demi dirinya.
“Dia suamiku,” batin Sarah telah mengakui Arsen dengan bangga di dalam hati.
Arsen mengendarai motor hening tak ada kata-kata yang keluar. Pemuda ini melepaskan satu tangannya dari stang motor kemudian meraih tangan Sarah menaruhnya di pinggannya.
“Pegangan Ra, nanti jatuh,” ucap Arsen menarik sudut bibirnya, mencoba bermesraan dengan gadis yang membuat jantungnya berdetak tak karuan. Tangan kiri Arsen memegang sebelah tangan Sarah di pinggannya menahan agar Sarah tak menarik tangannya.
Sarah menarik sudut bibirnya mendapatkan perlakuan manis dari Arsen, kemudian tanpa perintah ia melingkarkan ke dua tangannya di pinggang suaminya. Arsen tertunduk melihat pinggangnya telah melingkar tangan dari wanita yang sangat ia cintainya. Keduanya terdiam menyembunyikan wajah yang merah merona dan tersipu malu, sedangkan Arsen sudah tak bisa fokus rasanya ia tak bisa bernapas saking senangnya.
__ADS_1
Sarah terhanyut oleh perasaannya, melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, namun tak beberapa lama ia mulai tersadar kemudian dengan cepat melepaskannya. Membuat Arsen yang tadi berbunga menjadi memasang wajah pias.
“Tidak, Dia tuan Arsen. Cepat atau lambat ia akan pergi dan kembali pada dunianya. Kami tak akan bisa bersama, aku tidak pantas bersama mereka, baik Bian atau pun Arsen. Aku tidak boleh membuka hatiku pada siapa pun, aku akan menutup hatiku rapat-rapat,” batin Sarah yang akan menutup hatinya pada semua lelaki masih trauma dengan mimpi indah bersama Bian yang telah hancur.