CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
untuk ketigannya


__ADS_3

Sebuah mobil mewah terhenti di sebuah gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Seorang pemuda tampan dengan dengan setelah jas pas di badan melekat di tubuhnya, berjalan dengan penuh keangkuhan masuk ke dalam gedung dan di sambut oleh pegawai yang memberi hormat. Orang Dari tadi menantikan kehadiran pemuda tampan itu ikut mengiringi langkahnya. Raut wajah dingin tercetak jelas di wajahnya, tidak ada sedikit pun senyuman yang ia perlihatkan walau banyak orang-orang yang menyambut kedatangannya dan menyapa. Pemuda yang terkenal jutek itu hanya berlalu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan.


“Selamat datang kembali pak,” sapa seorang pemuda, terlihat mengkomandoi beberapa orang, pemuda itu tersenyum ramah sambil membungkukkan badannya sekilas tanda hormat lalu mengikuti berjalan di belakang Arsen.


Arsen hanya berlalu terus melangkahkan kakinya, di ekori beberapa orang yang menyambutnya, sedangkan dia tidak menghiraukan sekitarnya, sama seperti yang biasa dia lakukan. Ia memang terkenal dengan sikapnya yang sombong dan tidak peduli pada orang sekitar, bagi Arsen mereka itu bak tidak terlihat.


Arsen masuk ke dalam ruang rapat, melihat semua orang telah datang memenuhi ruangan dan duduk di kursi yang terdapat meja panjang nan besar. Semua orang berdiri membungkuk memberi hormat melihat pemuda ini masuk. Arsen duduk di kursi utama siap memimpin rapat.


“Mulai rapatnya!” ucap Arsen dengan tatapan dingin memulai apa yang telah ia tinggalkan.


Arsen telah kembali ke kehidupannya semula, menjadi seorang Ceo yang memimpin perusahaan Central Dinamika. Berusaha kembali membuat perusahaan berjalan stabil. Dan mencoba melupakan cintanya yang begitu dalam pada Sarah.


*****


Rapat telah usai, Arsen telah selesai memimpin rapat. Bagi anggota rapat suasana begitu mencekam. Si tuan jutek ini baru saja memarahi semua anggota rapat menyalahkan akan kondisi perusahaan yang menurun saat ia meninggalkannya.


Arsen keluar ruangan dengan wajah masih di penuhi kekesalan ia meninggalkan tempat itu di ikuti oleh asisten yang setia mengekorinya dari belakang.


Arsen melangkah menuju ruangan kerjanya, tempatnya selama ini menjalankan perusahaan, saat telah di depan pintu ruangan, asistennya dengan sikap membuka pintu itu. Mata pemuda ini menyapu ruangan Ceo yang beberapa bulan ini ia tinggalkan demi cintanya. Arsen berjalan ke arah sofa lalu menghempaskan tubuhnya.


Dia menyandarkan badanya di sandaran sofa, ia menarik napas panjang, matanya terpejam seraya memijat pelipisnya, kepalanya terasa sangat berat dengan tugas perusahaan yang bertumpuk sedang menunggu.


“Selamat datang kembali pak,” sapa pemuda tampan yang seusia dengannya, sang asisten setia bernama Dion.


Arsen menegakkan tubuhnya menatap tajam pada pemuda yang berdiri di sampingnya dan sedang menatapnya juga.


“Ini semua perkerjaan yang harus Anda selesaikan,” sambung Dion tersenyum lembut menaik-naikan alisnya menggoda pada pemuda yang menatap seakan ingin menerkamnya.


“Bodoh! Kau memang tidak berguna! Kau tidak bisa menghandle ini semua!” hardik Arsen pada Dion yang sudah dia anggap seperti keluarga karena pengabdiaannya.


Pemuda ini hanya tersenyum mendengar ucapan Arsen, ia telah biasa dengan semua ucapan si tuan jutek namun baik hati.


“Anda jangan marah-marah.” Dion membela diri.


“Aku tidak mengerti kenapa aku punya asisten bodoh sepertimu! Kepergianku adalah kesempatanmu untuk menunjukkan kemampuanmu!” maki Arsen pada pada pemuda yang telah lama mengabdi menjadi asistennya.


“Aku lebih suka menjadi asisten Anda pak,” ungkap Dion usianya sama dengan Arsen membuat tidak ada jarak pemisah mereka.


“Kemana kau selama kau? Mamamu hampir gila mencarimu,” tanya Dion sebagai teman Arsen menyampingkan urusan kantor.


“Itu bukan urusanmu,” ketus Arsen mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan pertanyaan asistennya yang membuatnya kembali terkenang dengan rumah tangga yang ia bina beberapa bulan bersama Sarah, walau singkat namun sangat membahagiakan dan memberikan luka perpisahan begitu menyakitkan yang coba ia sembuhkan sekarang.


“Apa yang sedang kau lakukan bunda,” batin Arsen yang selama ini melalui harinya bersama Sarah, sekuat apa-pun ia mencoba berhenti namun bayangan Sarah tidak pernah lepas di ingatannya. Pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang di lakukan istrinya itu terus terniang, bagaimana gadis itu menjalani hari tanpanya. Apa istrinya itu juga merindukannya sama seperti yang ia rasakan sekarang.


Suasana hening sejenak, Arsen kemudian teringat akan hal pertama yang akan ia lakukan saat kembali meraih kekuasaannya sebagai Ceo perusahaan besar.

__ADS_1


Arsen mengarahkan pandangannya pada Dion yang masih setia berdiri di hadapan menanti perintah dari Arsen.


“Aku punya tugas penting untukmu.” Pemuda ini memasang wajah serius.


“Apa?” tanya Dion dengan posisi siap mendengarkan.


Arsen mengeluarkan  beberapa lembar foto dari saku jasnya yang di kenakan, memang telah dia persiapkan sebelum ia pergi ke kantor.


“Siapkan orang untuk ke kota S. Di sana ada rumah kontrakan tiga petak. Di rumah itu di tinggali tiga perempuan dan satu anak kecil. Aku ingin kau mengirim orang untuk menjaga mereka,” titah Arsen menyodorkan selembar foto pada Asistennya itu.


“Menjaga mereka?” alis Dion berkerut menatap gambar rumah 3 pintu yang di berikan bosnya, serta mendengar perintah Arsen yang menurutnya aneh.


“Ia, kirim sepuluh pengawal terbaik untuk menjaga seluruh penghuni rumah itu dan mengawasi rumah kontrakan itu,” jelas Arsen menghawatirkan keadaan tiga perempuan yang dulu ia selalu ia jaga sekarang ia sudah tidak bisa menjaganya lagi, ia tidak yakin mereka bisa menjaga diri dari orang yang jahat dan selalu merendahkan mereka.


“Sepuluh pengawal! Apa ini tidak berlebihan untuk menjaga rumah kecil seperti ini apa lagi hanya di huni tiga orang perempuan dan satu anak kecil,” protes Dion yang menurutnya berlebihan.


“Baiklah tujuh orang saja."


“Ar tujuh orang,”


“Jangan protes lagi! Awasi saja dari jauh jangan sampai ketahuan!” titah Arsen.


“Mereka itu sangat ceroboh dan tidak bisa menjaga diri, aku tidak mau mereka terluka. Apalagi mereka suka sekali di rendahkan, hina oleh orang-orang dan hanya bisa menangis,” batin Arsen yang selalu melindungi mereka, ia tidak segan-segan menghajar dan memarahi orang yang selalu merendahkan tiga perempuan yang mengelilinginya. Rena sang pemilik rumah yang selalu di rendahkan karena dia janda dengan satu anak, Nikita pun sama, orang memandangnya remeh karena ia seorang biduan dan Sarah terkenal dengan anak perempuan penggoda, jika begitu mereka hanya diam meluapkannya dengan tangisan dan Arsen tidak mau itu terjadi karena itu ia mengutus pengawal untuk menjaga mereka semua.


“Cepat jalankan!” perintah Arsen tidak mau di bantah lagi.


“Ada lagi,” sambar Arsen kemudian mendengus menarik sudut bibirnya menatap sejenak foto perempuan cantik yang ada di genggamannya.


“Dasar menyebalkan, pengganggu,” gumam Arsen tersenyum lalu kembali menyodorkan satu foto ke pada Dion.


“Aku ingin kau menjadikan gadis di foto ini penyanyi terkenal,” ujar Arsen memberikan foto gadis genit yang menjadi teman kerjanya selama menjalani menikah dengan Sarah.


Dion menatap heran gambar gadis cantik dengan senyum mengembang, berpakaian seksi.


“Namanya Nikita Milly aku ingin buat ia menjadi gadis populer dan terkenal!” tegas Arsen.


“Ar.” Dion semakin tidak mengerti.


“Gunakan namaku untuk mengangkat popularitasnya, buat desas-desus pada media jika aku sedang dekat dengannya,” Arsen menatap Dion yang masih menandang foto Nikita lekat.


“Sebarkan foto ini,” tambah Arsen memperlihatkan satu buah gambar lagi untuk Dion membuat pemuda ini terbelalak.


“Ar kau dan perempuan ini? Kau menyukai perempuan ini?” tanya Dion melihat gambar Nikita melingkarkan tangannya di pinggang Arsen tersenyum ceria dan Arsen merangkul bahu Nikita terlihat mesra walau wajah Arsen itu tidak tersenyum saat berfoto dengan gadis genit yang selalu membuatnya kesal.


“Tidak,” sangkal Arsen dengan cepat membuat Dion menarik napas lega.

__ADS_1


“Ar, bukannya kau tidak suka jika kau di liput media, kau juga akan di kerja media jika membuat sensasi seperti ini,” jelas Dion masih tercengang menatap gambar kemesraan Arsen dan Nikita. Pemud ini rela melakukan hal yang paling tidak di sukai demi gadis dalam foto ini.


“Tidak apa-apa yang penting namanya naik dan cepat terkenal.” Arsen rela demi impian gadis menyebalkan yang telah banyak membantunya dulu hingga membuka jalannya sebagai fotograper walau hanya singkat, kali ini akan mewujudkan impian gadis itu menjadi penyanyi terkenal sesuai impian Nikita yang selalu ia ungkapkan pada Arsen.


“Itu sudah pasti gadis ini akan booming dengan sensasi sebagai pacarmu. Siapa yang tidak akan terkenal jika bersamamu. Setelah ini dia pasti di cari oleh seluruh media,” jelas asisten ini.


“Inikan yang kau inginkan kan Niki? terkenal karena mendompleng popularitas orang terkenal! Tetangga penganggu akan mewujudkan mimpimu selama ini, hingga orang yang merendahkanmu akan menyesal,” batin Arsen tersenyum teringat impian gadis yang selalu membuatnya kesal namun ia menjaganya bak adik sendiri. Untung saja setiap pulang kerja Nikita akan selalu merengek menyuruhnya Arsen untuk mengambil gambarnya dan hanya satu kata ajaibnya yaitu ayah. Kata yang membuat Arsen ibarat singa buas akan tidak berdaya dengan satu kata ajaib Ayah dan akan menuruti permintaan mereka.


“Ini yang aku mau, dia terkenal karena sensasi. Lagi pula dia memiliki kemampuan bernyanyi yang bagus, aku hanya sebagai batu loncatan saja, biar namanya cepat di kenal, aku yakin ia pasti mampu bertahan,” jelas Arsen melipat tangan di dada mengakui kemampuan patner kerjanya itu, tahu bagaimana kemampuan Nikita.


Arsen kembali pada foto yang ada di tangannya menatap gambar selanjutnya.


“Dan dia Rena pemilik rumah, beri dia tempat yang besar untuk dia pakai memulai menjalankan bisnis pakaiannya. Buat usahanya berkembang menjadi yang terbesar dan terbaik di sana,” titah Arsen yang juga akan membantu kehidupan Rena si pemilik rumah, tetangga yang sering menyuruhnya mengangkat karung daster dagangannya.


Arsen akan melakukan yang terbaik untuk tetangga yang telah membuat harinya menjadi berwarna, jatuh bangun bersama selama menjalani pernikahan bersama Sarah.


“Baik Ar, aku akan melakukan semua perintahmu. Ini semua mudah bagiku, aku akan mengurusnya,” Dion mengiyakan semua perintah Arsen baginya itu hanya tugas mudah yang di berikan oleh sang bos.


Arsen sejenak mematung menatap lekat foto yang terakhir yang berada di genggamannya, wajahnya berubah sedih menatap gambar itu hatinya bergetar seakan rindunya yang menanggung bisa sedikit terobati menatap wajah yang tersenyum itu.


“Ini ...” suara Arsen tercekat rasanya ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, tangannya yang akan menyerahkan gambar Sarah menjadi terhenti kembali  menatap foto istrinya, ia sungguh sangat merindukan wajah ini dadanya terasa sesak beberapa hari tidak melihat Sarah. “Ini Sarah.” Arsen menyerahkan gambar terakhir di tangannya dengan tidak rela.


Arsen mengalihkan wajahnya saat menyerahkan gambar Sarah pada Dion. “Dulu dia pernah menjual perhiasan tapi entah di mana. Aku juga tidak tahu. Aku juga tidak tahu berapa banyak dan seperti apa perhiasan itu, tapi aku ingin mendapatkannya, tanyakan tentang Sarah yang menjual perhiasan itu. Carilah di semua toko perhiasan di sana jika memang sudah laku tanya pada siapa mereka menjualnya telusuri semua,” jelas Arsen.


“Apa!” Dion tersentak kaget mendengar perintah Arsen yang menurutnya mustahil. “Ar semua toko! Bahkan kau tidak tahu perhiaasan apa?” asisten ini masih tidak percaya.


“Eeemm.” Arsen berdehem ia bertekad akan mendapatkan kembali perhiasan ibu Sarah yang telah di jual Sarah untuk membelikan sebuah kamera untuknya. Itu adalah benda kesayangan istrinya.


"Aku akan mendapatkan kembali mendapatkan kenang-kenangan ibumu terakhir bunda, aku tahu itu sangat penting untukmu" batin Arsen


“Aku tidak mau tahu dapatkan perhiasan itu untukku,” ucap Arsen dengan tegas.


“Itu sama saja mencari jarum di tumpukan jerami,” gerutu Dion kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Arsen, ia pun memaksakan senyuman. “Baiklah aku akan mendapatkan perhiasan itu untukmu,” ujar Dion pelan dengan wajah tak bersemangat kembali menatap gambar Sarah memperhatikan wajah cantik itu.


“Hei jangan liat foto itu lama-lama! Nanti kau suka padanya!” ketus Arsen bersikap jutek tidak suka asistennya melihat gambar istrinya lebih lama.


“Ia pelit banget sih, cantik Ar,” puji Dion lalu mengalihkan pandangannya saat Arsen melototkan mata padanya seakan ingin menerkamnya.


“Siapa mereka?” tanya Dion yang tidak tahu ke mana Arsen menghilang.


“Aku bilang kau tidak perlu tahu dan cukup kerjakan apa yang aku perintah.”


“Aku hanya heran kenapa kau peduli dengan mereka. Kau tidak pernah peduli dengan orang lain.” Pemuda ini menatap heran pada bos ia sangat tahu kebiasaan Arsen tidak pernah peduli pada orang.


“Gadis ini pasti spesial untukmu, hingga kau mau membantunya,” goda Dion.

__ADS_1


Arsen hanya diam tidak menanggapi lagi ucapan Dion. Tiga perempuan itu spesial bagi Arsen, membuat hidupnya berharga karena pernah menjaga perempuan rapuh itu. Kali ini ia akan membuat kehidupan mereka semua membaik.


Hai readears pencinta ayah Ar dan bunda Ara. author lagi sibuk jadi maaf jika upnya berantakan.


__ADS_2