
Hari ini adalah moment pertambahan usia bagi Arsen Raditya Hutama. Seperti biasa acaranya diakan dengan megah dan hanya di hadiri oleh orang kelas atas. Media pun turut datang untuk meliput jalannya pesta, apalagi mereka masih sangat penasaran ingin tahu tentang kehidupan percintaan Nikita dan Arsen.
Suasana pesta telah di penuhi oleh tamu undangan yang hadir. Arsen bersama Wina menjamu tamunya dengan senyum penuh keramahan, walau sebenarnya hatinya sedih karena tidak bisa merayakan dengan perempuan yang ia cintai.
Keriuhan terdengar saat seorang perempuan cantik masuk ke dalam ruangan berjalan dengan anggun, blitz kamera menyorot kecantikannya. Arsen menatap jengah dan tersenyum palsu melihat pacar bohongannya datang mendekat padanya.
Nikita telah berada di depan Arsen dan Wina, kemudian menyodorkan tangan tangannya pada pemuda yang telah di anggap kakaknya. “Selamat ulang tahun tahun Ar,” ucap Nikita dengan tulus.
“Makasih Nik.” Arsen menjabat tangan Nikita.
“Hai ibu mertua,” sapa Nikita dengan nada mengalun manja seakan ingin memancing kemarahan perempuan yang telah memasang wajah masam akan kehadirannya.
Wina melengos membuang pandangannya, kali ini ia sedang tidak ingin meladeni artis gila ini dan memilih pergi. Ia tidak ingin kejadian heboh di acara Gerald terulang di acara putranya.
Nikita menarik senyum puas penuh dengan kemenangan musuhnya telah pergi tanpa ia harus bersusah payah melakukan serangan.
“Mana Mami dan Ale?” tanya Arsen melihat Nikita hanya datang sendiri.
“Tidak tahu, katanya tadi sudah di jalan,” jelas Nikita mengarahkan pandangannya pada pintu masuk menunggu Rena.
Garis bibir Nikita tertarik, jantung Nikita berdetak kencang melihat pemuda yang saat ini menjadi incaran hatinya datang dengan seorang wanita. Namun wajahnya seketika berubah tak bersemangat, saat melihat wajah wanita yang menggandeng lengan pemuda itu. Niatnya untuk dekat dengan Bian di pesta ini kandas karena kehadiran ibu Odah yang juga ikut menemani putranya.
Bian melangkah menggandeng ibunya memasang wajah tak bersemangat saat perempuan paruh baya ini memaksa untuk ikut bersamanya, hanya untuk menjaga agar ia tidak dekat dengan Nikita artis yang sangat ia benci.
“Ayo Bu,” ajak Bian untuk mendekat pada Arsen hendak memberikan selamat serta kado dari Ara langsung pada Arsen namun langkah ibu Odah terhenti ia tidak ingin mendekat dengan Nikita yang juga ada di sana.
“Bian di sana ada Nikita. Di sini saja tunggu tuh perempuan pergi dari sana. Biar kalian gak dekat,” tahan ibu Odah membuat Bian mendengus memutar bola mata malas.
“Awas saja kalau kamu temui dia. Kamu harus di sini sama ibu,” tekan perempuan yang pikirannya ini telah di racuni oleh sinetron di tv.
“Ia.” Pasrah Bian mengikuti keinginan ibunya. Bian dan Nikita hanya bisa saling pandang dari kejauhan melempar senyuman.
“Liat Ian, dia lagi senyum melihat ke arah kita. Pasti di dalam hatinya lagi bicara, pakai suara hati kaya di tv. Dia bilang, Akan kuracuni Ibu, akan kukuras hartamu hahaha,” oceh ibu Odah memicingkan mata dengan senyum menyeringai sama dengan adegan sinis di tv.
Bian melayangkan tatapan tajam pada ibunya yang selalu memiliki pikiran buruk pada Nikita. “Ibu, udah deh. Ada-ada aja ngak mungkin dia seperti itu.”
“Ia, Ian dia selalu bilang begitu di tv.” Bian rasanya ingin gila di buat oleh perempuan penggila sinetron ini, ia harus menyampaikan kado Sarah pada Arsen namun ia tertahan akan ancaman ibunya.
Bian dan ibu Odah masih duduk menikmati suasana pesta, sungguh pemuda ini tidak dapat berbuat apa dengan kehadiran ibunya. Yang dari tadi mengoceh tak jelas mengamati suasana pesta.
“Ian, coba liat di sana ada pasangan ngak serasi banget, perempuannya cantik banget sedangkan cowoknya biasa saja. Ini kalo ngak matre berarti dia punya banyak hutang tuh,” ucap ibu Odah ala pengamat sinetron ini.
Membuat Bian semakin mendengus mendengar ocehan ibunya.
“Ian yang itu kebalikannya lakinya ganteng pasangannya yang jelek, pasti nanti selingkuh,” jelas Ibu Odah.
Bian bangun dari duduknya sudah tidak tahan dengan pengamatan ibunya rasanya tanduknya ingin keluar. “Ayo kita pulang dari pada ibu bawel banget ngomentari semua keadaan orang,” ajak Bian.
“Ya lebih baik kita pulang saja. Ibu juga udah tambah kesal liat Nikita dari tadi liatin kamu terus.” Perempuan paruh baya ini juga berdiri dia juga sebenarnya tidak nyaman berada di tempat ini.
“Kita pamit dulu sama Arsen. Aku juga harus memberikan sesuatu titipan Ara.”
Bian dan ibunya melangkah mendekat pada Arsen yang sibuk menjamu tamu dan Nikita sudah tidak berada di samping Arsen.
“Bian! Ibu Odah,” sapa Arsen dengan senyum mengembang melihat mereka terutama ibu Odah pelayan yang sudah di anggap Arsen sebagai ibu sendiri.
“Selamat ulang tahun Ar.”
“Makasih Ian sudah datang.” Arsen memeluk bekas rivalnya. Hubungan Arsen dan Bian telah membaik dua tahun lalu semenjak Bian memutuskan telah merelakan Sarah, begitu juga dengan Arsen semenjak tahu Sarah tidak kembali bersama Bian, mereka berdamai dan saling mendukung dalam bisnis.
“Selamat ulang tahun tuan Ar. Semoga sehat selalu dan kebahagiaan selalu menyertaimu,” ucap ibu Odah hingga saat ini masih memanggil Arsen dengan sebutan seperti dulu.
“Makasih ibu Odah atas doanya,” balas Arsen beralih memeluk perempuan itu sekilas.
__ADS_1
“Kami harus pulang Ar,” jelas Bian menatap Arsen yang masih menggenggam tangan ibunya.
“Pulang? Kenapa begitu cepat? Acara ini belum berakhir, papaku saja belum datang.”Arsen tidak rela.
“Ia kenapa kalian mau pulang?” timpal Wina yang saat itu juga datang dan ikut bersama mereka.
“Nyonya,” sapa ibu Odah.
“Apa kabar Bi Odah?”
“Baik. Bagaimana kabar nyonya?” tanya ibu Odah.
Bian menarik napas lega akhirnya ia terbebas dari ibunya yang sedang asyik mengobrol dengan mantan majikannya itu pasti membutuhkan waktu yang lama.
Bian menatap dua perempuan yang telah masuk ke dalam dunia rumpi. Ia pun semakin mendekat pada Arsen. “Ar ada yang ingin aku sampaikan padamu,” bisik Bian.
“Ada apa?” tanya Arsen penasaran menatap Bian.
Bian lalu membawa Arsen untuk sedikit menjauh dari Wina ia tahu jika kado Sarah tidak boleh diketahui oleh Wina, karena Sarah dan Arsen masih menjalin hubungan diam-diam.
“Ini tentang Ara. Kemarin dia datang ke rumahku,” tutur Bian pelan.
“Ara.” Raut wajah Arsen menjadi sedih istrinya tidak ada di pertambahan usianya padahal seharusnya saat ini ia di dampingi oleh orang ia cintai. Miris ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Sarah.
“Ia menitipkan sesuatu untukmu,” jelas Bian lalu merogoh kantung jas yang ia kenakan mengeluarkan kotak kado kecil titipan dari Sarah untuk suaminya.
“Katanya kado ulang tahun untukmu.” Bian menyerahkannya secara sembunyi-sembunyi seraya matanya mengarah pada ibu dan mama Arsen.
Dua sudut bibir Arsen tertarik mendengar cintanya memberikannya kado walau dengan cara hanya melalui perantara. “Kado untukku.” Arsen meraih kado itu memasukkan ke dalam kantung jasnya ikut menyembunyikan pemberian Sarah.
“Ia. Kata Ara isi kadonya sangat spesial,” jelas Bian mengingat pesan Sarah yang mengatakan walau kadonya kecil namun akan sangat spesial.
“Spesial.” Arsen sangat antusias sekaligus penasaran dengan apa yang ada pada kado istrinya.
“Tetaplah di sini, aku dengar kau dekat dengan Nikita,” goda Arsen menatap wajah Bian.
“Begitulah.” Bian mengendikan bahunya menatap ibunya.
“Aku akan panggilkan untukmu.”
“Jangan Ar,” tolak Bian menatap Arsen ia tahu begitu Nikita mendekat ia pasti akan di seret pulang oleh ibunya.
“Niki,” panggil Arsen melambaikan tangannya pada Nikita dan melangkah mendekat pada Arsen dan Bian dengan senyuman.
Wina dan ibu Odah yang juga mendengar seketika menghentikan obrolan mereka.
“Aku pulang dulu Ar,” pamit Bian melangkah pergi mendekat pada ibunya yang mulai menatapnya tajam akan kehadiran Nikita. Anak berandalan ini dari dulu tidak berkutik menghadapi ibunya.
“Terima kasih Ian,” ucap Arsen dan di balas anggukan dari Bian.
Nikita menghampiri Arsen dengan wajah cemberut melihat Bian yang pergi saat ia berjalan mendekat.
“Nik dia kenapa? Katanya kalian dekat?” tanya Arsen juga heran pada sikap Bian.
“Ada ibunya, ibunya ngak suka aku dekat sama Bian, katanya aku artis yang jahat,” jelas Nikita.
“Hahahaha,” Arsen terkekeh geli merasa puas akhirnya Nikita bertemu dengan lawan yang sesuai membuatnya tidak berkutik yaitu ibu Odah.
“Aku tahu Bian sangat sayang sama ibunya. Ibunya adalah segalanya jadi jangan mimpi dekat dengannya jika kau tidak bisa mendapatkan hati ibunya,” ejek pemuda tampan ini.
Nikita menarik napas berat sungguh sangat sulit untuk mendapatkan hati ibu Odah.
“Maaf Mami terlambat,” ucap ibu dan anak yang baru saja sampai.
__ADS_1
“Mami kenapa baru datang,” tanya Arsen.
“Mami nyasar,” jelas Rena yang tidak tahu seluk beluk kota ini dengan heboh.
“Ko bisa nyasar Mi, Mami sih aku bilang aku jemput, ngak mau,” sela Nikita menatap Rena dan Ale.
“Ia. Aku sudah cari alamatnya dengan benar, mami sampai pusing nyari lewat go*ole translet ngak ada,” ucap Rena dengan heboh tentang pengetahuannya
“Pantas saja.”Arsen mendengus memutar bola mata jengah lagi-lagi perempuan ini Salah.
“Go*gel Maps Mi. Pantas aja ngak ada,” ralat Nikita dengan wajah sama jengahnya dengan Arsen.
“Salah ya pantas saja ngak ada, kita salah Ale,” ucap Rena dengan cengiran kuda atas kesalahannya.
“Dasar, pantas saja nyasar.”
Nikita dan Rena mulai berdebat Arsen hanya menggeleng kepala melihat dua tetangga ini kembali saling beradu namun Arsen merasa ulang tahunnya akan selalu spesial jika ada mereka dan andai Sarah juga ada di sini bersamanya maka lengkaplah segalanya.
Arsen meraba saku jasnya mengingat hadiah dari Sarah. Rasa penasaran menggelitik hatinya akan hadiah apa yang Sarah akan berikan padanya. Hatinya berbunga jika mengingat kado itu hingga terus bertanya-tanya.
“Kira-kira apa yang Ara berikan padaku, apa kadonya Jam tangan,” tebak Arsen di dalam hati sesuai dengan besar kotak yang ada di kantungnya sedikit berpikir lagi mengelus sakunya.
“Dompet.”
“kacamata,” tebak Arsen semakin penasaran.
“Ahgg ... memangnya kenapa kalau barang itu, aku kan punya banyak, tapi kenapa dari bundaku aku jadi penasaran ingin tahu seperti apa,” batin Arsen masih menebak jika kado orang yang ia cintai sebuah barang sederhana namun sangat terasa spesial karena itu dari orang yang ia cintai.
“Aku bisa mati penasaran jika tidak membukanya,” batin Arsen padahal ia tidak boleh ketahuan jika menerima kado dari Sarah.
Arsen mulai menatap sekeliling melihat mamanya yang menjamu kolega bisnisnya. Arsen berlindung memanfaatkan tubuh Nikita dan Rena yang masih berdebat di hadapannya. Arsen merogoh kantung jasnya akan membuka kado dari istrinya saat ini juga.
Arsen menarik sudut bibirnya menatap kado mungil dari istrinya, pelan-pelan ia membukanya. Alis Arsen berkerut menatap isi di dalam tidak sesuai dengan tebakannya hanya beberapa lembar kertas. Tanpa khawatir lagi dan diiringin ocehan Nikita dan Rena, ia membuka kertas itu lalu membacanya.
Manik mata Arsen menatap lekat mencari inti dari tulisan di kertas yang sulit ia pahami. “Sarah Alia Wardani positif hamil,” baca Arsen kesimpulan itu dengan pelan hanya itu yang ia tangkap dalam kertas itu belum mengerti sepenuhnya.
Butuh beberapa detik Arsen akhirnya mencerna isinya, ia diam tertegun sejenak lalu kembali membaca dengan benar, kedua tangan yang memegang kertas putih itu mulai bergetar.
“Ha ... mil ... Ara ... hamil,” batin Arsen dengan mata berkaca-kaca masih menatap kertas putih itu dengan keharuan, telah lama ia menantikan ini. Ia akan memiliki keluarga kecil, sungguh kado yang sangat spesial untuk pertambahan usianya.
“Ara sedang mengandung sekarang. Dia mengandung anakku.” Arsen mendekap kertas itu dengan sayang bak sangat berharga, pemuda ini lalu kembali mengambil isi kotak foto usg anak mereka.
“Bunda terima kasih atas kado yang sangat membahagiakan ini. Ini benar-benar menjadi kado spesial untukku, aku akan menjadi ayah,” batin Arsen rasanya ia ingin berteriak setetes air mata haru turun membasahi pipinya, menatap bukit kehamilan itu.
“Hari ini adalah kesempatan terbaik untuk mengakuimu di hadapan semuanya. Aku sudah memiliki cintamu sekarang buah hati bersamamu. Kita tidak akan berpisah karena kita akan membangun keluarga kecil kita. Aku tidak akan menyembunyikanmu lagi.”
Arsen meraih saku celananya menelepon seseorang.
“Dion kumpulan wartawan. Aku akan menyampaikan sesuatu,” titah Arsen dari sambungan telepon
“Tenang sayang ayah akan memberitahukan semua orang tentang cerita pernikahan ayah dan bunda dan tentangmu keluarga kita, setelah ini ayah akan menemuimu dan bundamu,” batin Arsen masih menatap foto usg, ia akan mengatakan semua tentang rahasia yang selama ia simpan jika Arsen Raditya Hutama telah menikah, dan ia sudah tidak peduli lagi dengan mamanya. Sekarang ia adalah kepala keluarga yang akan memutuskan sendiri kebahagiaan keluarganya.
__ADS_1
maaf jika upnya semakin berantakan ....