CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
rumah baru


__ADS_3

Pagi telah menyambut pasangan mesra ini turun menapaki tangga dengan tangan saling bertaut untuk menikmati sarapan pagi bersama papanya, senyuman terus tertanam di wajah ke duanya.


“Pagi Pa,” sapa Arsen menatap papanya yang telah duduk seraya membaca beberapa berkas menunggu mereka untuk sarapan bersama.


“Pagi.” Wisnu menutup berkasnya menatap wajah berseri-seri menantu dan putranya yang duduk berhadapan dengannya.


“Ara, Papa sangat senang mendengar kamu hamil. Ngak lama lagi papa akan jadi opa. Papa sudah ngak sabar main dengan cucuku nanti,” ucap Wisnu dengan raut wajah senang akan kabar kehamilan Sarah.


“Ia pa.” Sarah menyunggingkan senyuman.


Arsen menatap wajah Wisnu akan ada sesuatu yang harus ia sampaikan pada papanya itu perihal masa depan rumah tangganya bersama Sarah.


“Papa ada yang ingin Ar katakan,” jelas Arsen.


Alis Wisnu mengerut dalam melihat expresi serius putranya. “Pa, Ar sudah memutuskan untuk pindah ke rumah baru yang Ar sudah siapkan buat Sarah,” ucap Arsen pelan ia tahu ucapannya bisa membuat papanya sedih.


“Pindah Ar? Untuk apa? Di sini saja temani papa.” Wisnu memasang raut wajah sedih putranya sudah tidak akan menemaninya di rumah ini.


Arsen telah menduga papanya pasti tidak akan membiarkannya pergi.


“Ar ingin menjalankan rumah tangga kami selayaknya pasangan lain, sekarang Ar sudah menjadi kepala keluarga dan harus bertanggung jawab akan keluarga kecil Arsen,” tutur Arsen.


Wisnu terdiam sejenak mendengar jawaban Arsen. Ia menarik napas berat akan keputusan putranya. “Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Papa akan selalu mendukungmu.” Wisnu merasa sudah tidak berhak lagi mengatur kehidupan putranya.


“Terima kasih atas dukungan yang selalu papa berikan pada kami.”


“Kamu tenang saja, jalani kehidupan rumah tangga kalian dengan bahagia, papa pastikan mamamu sudah tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi,” imbuh Wisnu.


Arsen tertunduk sedih dengan keadaan mamanya sungguh ia tidak ingin menghiasi hubungannya dengan konflik bersama perempuan yang telah melahirkannya itu, namun apa daya ia juga tidak bisa melepaskan cintanya.


“Soal mamamu berikan dia waktu, dia pasti akan mengerti. Kamu tahu kan dia sangat menyayangimu dan tidak bisa berpisah lama denganmu. Dia pasti akan menemuimu.” Wisnu mencoba menghibur perasaan Arsen yang merasa bersalah.


“Ia pa. Semoga mama bisa sadar kalau kebahagiaan Ar adalah bersama Sarah.” Arsen menggenggam tangan Sarah erat.


“Pa Kami akan pindah hari ini.” Arsen mengalihkan topik pembicaraan membahas mamanya hanya membuatnya menjadi sedih.


“Baiklah. Tapi, ingat sering-seringlah berkunjung kemari,” pinta Wisnu.


“Pasti Pa.” Kompak Sarah dan Arsen.


Mereka bertiga pun menikmati sarapan sambil mengobrol.


****


Sarah dan Arsen baru saja turun dari mobil yang terhenti di depan rumah baru mereka, hunian yang akan menjadi tempat tinggal pasangan ini.

__ADS_1


Sarah tertegun menatap kagum pada rumah yang telah di persiapkan untuk hunian mereka, sebuah rumah yang begitu megah yang besarnya hampir sama dengan kediaman Wisnu.


“Selamat datang tuan dan nyonya,” sapa beberapa pelayan rumah bersamaan menyambut mereka, Sarah masih memutarkan pandangannya terus menatap rumah berwarna putih itu.


“Tolong bawa masuk barang-barang kami yang ada di mobil,” titah Arsen pada pelayannya.


Pelayan itu bergeges membuka pintu mobil mengambil koper pakaian mereka lalu menarik tuasnya masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Arsen tersenyum menatap wajah Sarah yang masih terpukau lalu mengiring tubuh istrinya masuk lebih dalam lagi melihat isi rumah.


“Ayo masuk lihat dalam rumah kita.”


Pasangan ini melangkah bersama masuk ke dalam rumah.


“Bunda sayang, ini adalah rumah baru kita, kamu suka?” Arsen yang berjalan lebih dulu, merentangkan tangannya lebar menunjukkan hunian mereka.


“Ar rumahnya besar sekali hanya untuk kita,” ucap Sarah pandangannya masih berputar menatap isi rumah.


Arsen mendekat pada Sarah menangkup wajah cantik itu. “Ia sayang karena ini akan menjadi rumah masa depan kita, di sinilah anak-anak kita akan tumbuh besar. Di rumah ini,” tuturnya dengan senyuman tertanam.


“Apa ini tidak berlebihan?”


“Tidak bundaku, aku akan memberikan yang terbaik untukmu dan anak kita,” ucap Arsen mengelus perut Sarah gemas, seperti inilah perempuan yang ia cinta sangat sederhana namun Arsen ingin yang terbaik untuk rumah tangganya. “Ayo aku tunjukan kamar kita.” Pemuda tampan ini menarik tangan istrinya untuk ikut bersamanya.


Dan kini mereka telah berada di dalam kamar mereka.


“Suka.” Sarah kembali berdecak kagum dengan kemewahan kamar mereka yang sangat luas.


Arsen beralih memeluk tubuh istrinya dari belakang. “Aku sangat bahagia, Akhirnya kita punya rumah dan kehidupan sendiri, kita tidak akan berpisah lagi atau sembunyi-sembunyi lagi,” terang Arsen mengecup pipi Sarah dengan kelembutan.


“Ia ayah aku juga sangat bahagia.” Sarah menarik sudut bibir.


“Bunda ayo kita coba ranjang baru kita.” Pemuda ini menarik tangan istrinya, menggiringnya duduk di pinggir tempat tidur. Arsen mendorong bahu Sarah untuk berbaring.


“Ya ampun Ayah,” protes Sarah saat Arsen mulai mendekat padanya membuat tubuh semakin terdorong ke belakang untuk berbaring, pertanda jika Arsen akan menyerangnya lagi namun Sarah masih mencoba bertahan.


“Bunda bawakan daster yang dari mami, pakai dong bun yang warna orange jeruk itu, aku ngak sabar ingin melihatnya. Pasti bunda sangat cantik memakainya,” pinta Arsen yang memegang bahu Sarah menatap dengan tatapan mulai berkabut gairah.


“Jadi gemes pengen meres kamu,” ujar Arsen mencubit gemas pipi putih mulus istrinya.


“Ya ampun ayah memang aku ini jeruk mau di peras,” protes Sarah mengerucutkan bibirnya.


“Gemas sih.” Arsen memajukan wajahnya hendak menyambar bibir ranum yang sedang mengerucut itu namun dengan cepat Sarah menghindar mengalihkan wajahnya.


“Kenapa bun?” tanya Arsen tidak mengerti dengan penolakan Sarah.

__ADS_1


“Ayah semalam kan sudah tiga kali. Mulai hari ini harus di batasi,” ujar Sarah menatap gemas wajah tampan Arsen yang tiba-tiba berubah cemas akan penjelasannya.


“Kenapa?” tanyanya lagi.


Sarah meraih tangan Arsen untuk mengingatkan jika ada makhluk kecil dalam perutnya. “Karena ada anak kita, kata dokter ngak boleh terlalu sering, di awal kehamilan sangat rawan,” jelas Sarah.


“Masa sih bun? Kamu periksa di dokter mana sayang? Pasti yang periksa kamu dokter yang sudah tuakan? yang masih pakai ilmu lama.” Jelasnya menarik kesimpulan sendiri, tuan jutek ini mana bisa menahan gairahnya.


“Memang ilmu kehamilan berubah-ubah? Ada yang baru?” tanya Sarah balik.


“Ia dong bunda, ini itu sudah tahun berapa? Zaman dan ilmu pengobatan sudah canggih, pasti banyak obat untuk menguatkan kandungan. Itu dokter harus belajar lagi di luar negeri untuk memperbarui ilmunya,” jelas Arsen dengan penuh keyakinan.


“Oh begitu.” Sarah beroria mengangguk seolah membenarkan keterangan suaminya. “Berarti tempat aku periksa ngak bagus ya ayah,” ucap Sarah tersenyum jahil.


“Ia bunda, kita ganti dokter saja. yang paling bagus.”


“Sayang banget Ar padahal aku periksa di rumah sakit central medika loh,” jelas Sarah semakin mengembangkan senyumannya.


Mata Arsen membulat rahangnya seakan ingin jatuh mendengar tempat pemeriksaan Sarah. “Apa? Rumah sakit naungan perusahaanku, rumah sakit terbaik dan tercanggih," sebut Arsen.


“Bagaimana dokternya harus belajar lagi ngak?” tanya Sarah dengan nada mengejek suami mesumnya.


“Bunda itu dokter terbaik,” ucap Arsen tak bersemangat duduk di samping Sarah lalu menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.


“Makanya sayang di tahan dulu ya demi anak kita.” Sarah mengusap pipi Arsen.


“Tapi bunda hitungan kita tanggung 89 kurang satu lagi 90 kita genapi dulu deh 90,” alibi Arsen belum kehabisan ide.


“Ngak bisa ayah semalam saja sudah tiga kali.”


“Ngak nambah-nambah dong, padahal pernikahan kita ngak lama lagi tahun ketiga, kapan seratusnya kalau gitu. Bunda Aku mana kuat menahannya,” keluh pemuda tampan ini terdengar putus asa.


“Sabar ayah sayang, perasaan dulu waktu kita baru nikah kamu tahan tidak menyentuhku, kenapa sekarang ngak bisa.”


Arsen menegakkan tubuhnya dari pundak Sarah menatap wajah istrinya lekat.


“Tahan dari mana bun? Kamu ngak liat aku selalu keramas tengah malam,” protes Arsen terus terang tentang yang ia alami dulu.


“Benarkah?”


“Bunda kan ngak peka dengan perasaanku.” Arsen berdecak kesal lalu kembali menempelkan kepalanya di pundak Sarah.


“Ia maaf. Jangan cemberut lagi. Senyum ayah.” Sarah menangkup wajah Arsen manik mata mereka bertemu menatap penuh damba membuat Arsen menjadi gemas lalu menempelkan bibirnya di bibir ranum Sarah, mengecupnya lembut menyalurkan rasa cintanya.


Rumah baru merupakan awal yang baru untuk membina cinta yang lebih kuat lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2