
Hari telah menjelang siang, saat ini Sarah dan Arsen menghabiskan waktu mereka berdua di rumah, setelah beberapa hari sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ini adalah waktu mereka berduaan.
Sarah sedang berada di dapur meracik menu makan siang untuk mereka, sedangkan Arsen berada di ruang luar, duduk di sofa menunggu istri tercinta menghidangkan makan siang, seraya menekuri laptop, mengecek pekerjaan mengenai pemotretan.
Tok … tok … tok ….
Arsen fokus menatap laptopnya, hingga sebuah ketuk membuat pandangan teralihkan ke arah pintu. Ia pun menarik napas berat, bisa menebak siapa yang berada di luar dan mengetuk pintu rumah. Itu pasti salah satu wanita genit yang selalu mengganggu dan merepotkannya, meminta bantuan sesuka hati tanpa rasa malu. Tebakan Arsen hanya memilih antara dua pilihan tamu tak di undangnya yaitu si pemilik rumah atau Nikita yang datang.
Arsen pun berdiri dan beranjak membuka pintu saat telah terbuka seperti biasa pemuda tampan ini memasang wajah datar, memutar bola mata malas, tak bersemangat melihat dua tamu tak diundang berdiri di hadapannya.
“Halo ganteng,” sapa perempuan ini dengan gaya centil sama seperti biasa jika dengan Arsen.
“Emmm, Ada apa?” tanya Arsen dengan Ketus, melipat tangan di dada, pada si pemilik rumah beserta putranya yang bernama Ale.
“Mami mau nitip Ale,” jelas Rena si pemilik rumah kemudian mendorong tubuh mungil putranya ke hadapan Arsen.
“Apa!” Arsen tersentak mendengar permintaan tolong tetangga yang selalu merepotkan. “Nggak bisa,” tolak Arsen dengan cepat.
“Iya Tolong jagain sebentar aja,” pinta Rena dengan tatapan memohon dan bersikap manja.
Sarah telah selesai dengan masakannya, kemudian keluar memegang piring membawa menu makan siang yang akan di hidangkan di ruang depan, di tempat Arsen duduk.
“Siapa Ar?” tanya Sarah ikut bergabung dengan mereka, gadis cantik ini kemudian tersenyum lembut pada si pemilik rumah.
“Mami ada-apa Mi?” sapa Sarah.
“Ini mau nitip Ale. Aku lagi mau nagih kreditan daster orang, bentar saja, cuma dekat sini,” jelas Rena.
“Dia sudah besar bukan bayi lagi kenapa harus kami jaga,” protes Arsen merasa anak-anak hanya akan membuatnya susah dan repot.
“Ar,” tegur Sarah melototkan mata atas sikap jutek Arsen.
“Ganteng, ini itu lagi musim anak main layangan, mami takut nanti Ale pergi, ikut ngejar layangan jauh-jauh sama temannya terus nyasar,” jelas Rena dengan panjang lebar.
Arsen mengalihkan pandangannya pada Sarah, memberikan sorot mata yang menyiratkan jangan menerima permintaan tolong tetangga menyebalkan itu.
“ Ra, dia pikir ini tempat penitipan anak,” kekeh Arsen masih tak mau menerima anak lelaki itu. Ini adalah waktunya berduaan dengan Sarah dia tidak ingin ada pengganggu.
“Terima kasih kalian memang tetangga yang terbaik,” ucap Rena belum mendapatkan jawaban ya dari pemilik rumah, lalu cepat menerobos masuk melalui tubuh tinggi Arsen, membawa Ale ke dalam rumah ikut bersamanya. Dengan senyum mengembang dan tak tahu malu membuat Arsen terbelalak mendengar ucapannya dan tingkah seenaknya Rena.
“Hei, kami belum setuju!” bentak Arsen berdecak kesal menatap tajam pada tetangga tak tahu diri itu, namun tak diindahkan oleh Rena.
“Ale baik-baik di sini ya,” Pesan Rena lalu mengecup pipi Putra kesayangannya.
“Nggak apa-apa Mi tinggal aja, Ale ... sayang sama Kak Ara ya!” Sarah berjongkok mengusap puncak kepala anak lelaki itu.
“Pergi dulu ya. ingat jangan nakal.” Rena berjalan melenggang keluar dengan santai tak menghiraukan wajah Arsen yang kesal dengan tingkahnya. Rena telah berjalan beberapa langkah kemudian berbalik badan melihat mereka.
“Oh iya. Ale juga belum makan. Sekalian dia ikut makan ya sama kalian. Oke aku pergi dulu.” Si pemilik rumah tak tahu diri ini pun pergi.
Arsen melayangkan tinju ke arah Rena yang telah berjalan sanking kesalnya.
“Menyebalkan banget sih mereka. Seenaknya saja, udah nitip di jagain, nyuruh kasi makan lagi,” keluh pemuda tampan ini berdecak kesal, kemudian kembali duduk.
__ADS_1
Sarah mengarahkan Ale duduk di sofa, berhadapan dengan berdampingan dengan Arsen yang kembali menggunakan laptopnya.
“Ale tunggu di sini dulu ya sama kakak Ar. Kak Ara siapin dulu makanan untuk kalian,” kata Sarah kemudian masuk mengambil makanan yang ia masak tadi.
“Ia kak Ara, Ale lapar,” balas anak kecil yang polos ini.
“Ibu dan anak sama saja merepotkannya, seenaknya saja,” bisik Arsen.
Tak beberapa lama Sarah keluar membawa piring lalu duduk di hadapan Arsen dan Ale, mulai menyajikan hidangan.
“Ale sayang. Ayo kita makan,” ajak Sarah mengangkat piring untuk Ale, membuat Arsen sedikit cemburu akan perhatian istrinya pada anak kecil.
“Anak orang di panggil sayang, sama aku ngak pernah,” gumam Arsen.
“Makasih kak, Biar Ale ambil sendiri.” Anak lelaki ini kemudian menerima piring dari Sarah tak mau merepotkan.
“Anak pintar,” puji Sarah.
“Ar ... Apa yang kau lihat ayo makan,” ajak gadis ini yang melihat suaminya dari tadi hanya memasang wajah masam.
Dengan semangat anak lelaki itu mulai mengisi piringnya dengan nasi putih.
Mata Arsen terbelalak melihat Ale yang memenuhi piringnya tak menyangka selera makan anak kecil ini.
“ Ya ampun kecil-kecil makannya banyak juga,” cibir Arsen.
“Ar, biarkan saja namanya juga anak-anak yang masa pertumbuhan,” protes Sarah pada ucapan suaminya.
“Iya kak, kata mama biar cepat besar,” ucap Ale santai dan wajah polos anak kecil.
Arsen menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya. “Gila … itu nasi apa gunung, tinggi banget. Bisa didaki tuh kayanya."
Sarah mencoba menghentikan ocehan Arsen yang tiada henti mengenai titipan anak tetangganya.
“Ar sudahlah. Kita juga nanti akan punya anak, Anggap saja dia anak kita dan kita sedang latihan untuk menjadi orang tua,” jelas Sarah sambil menambah lauk pada piring Ale tak menyadari jika ucapannya telah membuat suaminya dipenuh dengan kebahagiaan.
“Kami akan punya anak,” batin Arsen hatinya terasa di penuhi dengan bunga membayankan jika kelak ia akan memiliki anak dengan Sarah.
Sarah merasa heran saat ia sudah tak mendengar pemuda itu mengoceh lagi, kemudian mengarakan pandangannya pada Arsen. sejenak ia tak mengerti mengapa Arsen tersenyum lebar kepada kemudian menutup mulutnya setelah menyadari jika ia telah mengucapkan akan memiliki anak dengan Arsen.
“Ya tuhan apa yang telah aku ucapkan, aku baru mengatakan kami akan memiliki anak, aku akan punya anak bersamanya” batin Sarah mengutuki kebodohannya.
“Eeeemmm, aku ke dapur dulu,” ucap Sarah kemudian berdiri merasa sangat malu kenapa kata-kata itu bisa terucap dari mulutnya.
“Mau ke mana Ra?” tanya Arsen tersenyum menarik tangan Sarah agar tak pergi kemudian berdiri.
Arsen berada di depan Sarah yang berdiri kemudian ia mengulurkan tangannya merangkul pinggang gadis di cintainya itu hingga mendekat, tubuh mereka pun menempel.
“Ar.” Sarah mengalihkan pandangannya saat wajah Arsen tepat di hadapannya, merasakan deru napas dari pemuda ini.
“Kau ingin kita punya anak,” goda Arsen berbisik di telinga gadis ini, membuat wajah Sarah seketika memanas merona, entah mengapa jantung Sarah berdetak kencang berdekatan dengan Arsen.
“Ar ....” Sarah mencoba melepaskan diri, tubuhnya sudah terasa lemas akibat kerja extra jantungnya, namun Arsen tak melepaskannya.
__ADS_1
“Kita akan punya anak secepatnya jika kau mau, kita tidak perlu latihan,” ucap Arsen lembut membuat Sarah tersentak mendengar ucapan Arsen lalu menatap suaminya, tatapan mereka pun bertemu. Sejenak mereka terbius akan tatapan dalam itu, Arsen kemudian mendaratkan kecupan di pipi Sarah membuat pipi putih mulus ini semakin memerah merona bak tomat.
Kemesraan mereka terhenti ketika suara anak kecil mengganggu.
“Kak! Ale boleh tambah nasi ngak?” tanya anak lelaki mengganggu mereka.
“Lepaskan Ar,”
Arsen melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Sarah, kemudian mendekat pada.
“Ale mau nambah ya,” ucap Sarah salah tingkah.
Arsen mendekat pada Ale. “Makan yang banyak, Ale kakak lagi belajar jadi orang tua, jadi mulai hari ini kamu panggil kak Ar, ayah ya dan kak Ara panggil bunda,” pinta Arsen sikapnya telah menghangat pada anak lelaki yang menjadi calon latihan menjadi orang tua.
“Ar ngapain ngajari anak kecil yang tidak-tidak,” protes Sarah.
“Katanya latihan jadi orang tua. Ia kan bunda,” goda Arsen mengerlingkan mata pada Sarah.
“Ia ayah,” sahut Ale membuat pemuda ini tersenyum penuh kebanggaan.
Sarah hanya bisa diam tertunduk malu menghadapi latihannya menjadi orang tua. Serta nama panggilan bunda yang baru di sandangnya. Akibat ucapan tak sengajanya dan bisa-bisanya jantungnya juga berdetak kencang seiring dengan panggilan baru yang di sematkan Arsen padanya.
****
Di tempat lain meninggalkan kebahagiaan Arsen serta hubungannya dengan Sarah yang mulai berkembang.
Di ruangan sebuah kantor suasananya di penuhi ketegangan antara Wisnu dan sang mantan istri Wina yang mempertanyakan keberadaan Arsen.
“Wisnu di mana Arsen sekarang?” tanya Wina yang entah sudah ke berapa kalinya. Tatapannya di penuh amarah.
Wisnu menarik napas panjang. “Aku sudah bilang padamu, jika menyuruhnya menjalankan bisnisku di luar negeri,” terang Wisnu sudah sangat lelah menghadapi Wina yang terus bertanya keberadaan putra kesayangannya.
“Negara apa? Bisnismu tersebar di mana-mana dan kenapa aku tidak bisa menghubunginya? Tidak lama lagi hari ulang tahunnya, aku akan menemuinya,” geram Wina yang mendapatkan keterangan sedikit pun dari mantan suami.
“Kau tidak boleh tahu, ini rahasia perusahaanku.”
Prak ... Wina menggeprak meja kerja Wisnu, emosinya tidak dapat ia tahan lagi.
“Bohong, kau menyembunyikan putraku! Di mana dia!” murka Wina suaranya meninggi.
“Sudahlah kau tenang saja dia juga putraku, aku tidak mungkin membuatnya kesulitan,”
“Baiklah jika kau tidak mau memberi tahuku di mana dia aku akan mencarinya sendiri. Aku pasti akan menemukannya.”
“Kau hanya akan membuang-buang waktumu, biarkan putra kita di sana dia bukan anak kecil lagi,” terang Wisnu yang akan melakukan apa-pun agar Wina tak dapat menemukan Arsen.
“Aku pasti akan menemukannya.” Wina kemudian beranjak keluar meninggalkan Wisnu.
Wina keluar dari ruangan mantan suami dengan amarah. Ia tahu benar jika ada rahasia besar yang telah di sembunyikan Wisnu tentang putranya. Ia tak akan tenang jika ia belum tahu bagaimana kabar putra kesayangannya.
Wina meraih ponsel dari tasnya lalu menghubungi seseorang.
“Kerahkan semua orang terbaik dan terhebat, cari di mana keberadaan putraku Arsen Raditya Hutama,” titah Wina dengan nada tegas.
__ADS_1
Mama Arsen telah mengambil tindakan mencari putra kesayangan, dapat ia menemukannya. Dapatkah papa Arsen menutupi terus keberadaan putra mereka. Di saat Arsen telah mulai perlahan mengetuk pintu hati Sarah, akankah mamanya menjadi penghalang hubungan cinta mereka.