
“Ma ... mama,” ucap Arsen dengan suara tercekat tubuhnya bergetar seketika, rasa takut kembali di hati, melihat perempuan yang melahirkannya berdiri di hadapannya, mimpi buruk yang ia takutkan selama ini telah terjadi. Mamanya telah menemukannya dan akan memisahkan dengan gadis yang ia cintai.
“Ma ....” lirih Arsen masih berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah tak bisa menutupi terkejutanya.
“Akhirnya mama menemukanmu sayang! Di sini kau rupanya.” Wina maju mendekap tubuh putra kesayangannya dengan perasaan haru melampiaskan kerinduan, cairan bening telah membasahi pipi putih.
“Bagaimana kabarmu?” Wina melepaskan pelukannya memegang bahu pemuda itu memperhatikan setiap inci tubuh putranya.
Wina menangkup wajah tampan putra kesayangan yang telah lama tak dilihat. “Mama sangat merindukanmu sayang. Kamu membuat mama cemas.”
Arsen hanya diam tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tidak ada rona bahagia setelah berjumpa kembali dengan wanita yang telah melahirkannya itu, walau sebenarnya ia juga sangat merindukan dekap kehangatan dari mamanya.
“Ma ayo masuk,” ajak Arsen matanya menatap pemandangan di luar rumah melihat banyak pemuda berpakaian senada berdiri tegak di depan rumah menjaga keamanan untuk Wina tidak ingin membuat heboh terlebih jika tetangga pengganggu melihat dan mengetahui jika ia Arsen anak orang kaya.
Wina menuruti keinginan Arsen, dia pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, manik matanya berputar melihat keadaan yang menjadi tempat tinggal putranya selama ini.
“Duduk Ma,” ujar Arsen melihat mamanya hanya berdiri memperhatikan ruangan kecil itu.
Wina lalu duduk di kursi di samping putranya menyilang kaki serta mendekap tangan di dadanya bertingkah sebagai nyonya yang sombong.
“Jadi selama ini kamu tinggal di tempat kumuh dan sempit ini,” cecarnya dengan nada remeh serta tatapan sinis pada Arsen.
“Ia Ma.” Arsen tertunduk lesu.
“Kamu akan ikut mama pulang kan?” kata Wina dengan nada tegas dan suara terdengar menahan amarah.
Arsen menatap mamanya dengan tatapan tajam, ia mulai mengambil sikap. “Ma. Ar ngak mau pulang. Ar bahagia tinggal di tempat ini,” jelas pemuda tampan ini menentang keinginan mamanya ia telah memutuskan tidak akan kembali ia hanya akan hidup bersama dengan Sarah istrinya.
“Bahagia ... kamu bahagia tinggal di rumah sempit dan sumpek ini. Kamar pelayan di rumah kita saja lebih besar dari tempatmu ini,” cecar Wina merendahkan kehidupan yang di jalani oleh putranya yang sejak kecil hidup dengan kemewahan kini hidup dengan kesederhanaan.
“Ma. Ar ngak akan ikut mama pulang,” tolak Arsen dengan tegas, keputusannya tidak akan berubah.
Wina bergegas bangun dari duduknya mendengar penolak Arsen untuk pulang bersamaannya, emosi yang ia tahan dalam dirinya mulai naik. Ia menarik napas panjang mengepalkan tangannya menatap tajam pada putranya, putus asa dengan penolakan Arsen.
“Kenapa kau tidak mau pulang bersama mama!” Suara Wina mulai meninggi membentak Arsen yang diam tertunduk tak menyahuti lagi perkataan mamanya.
__ADS_1
“Apa benar kau telah menikah dengan anak dari wanita murahan itu? Putri dari orang yang telah menghancurkan keluarga kita?” tanya Wina dengan nada kesal dari tadi ia mencoba menahan diri untuk tidak membahas pernikahan Arsen. Dia tidak percaya dengan berita yang di dengarnya jika putra kesayangannya telah menikah dengan anak musuhnya namun melihat Arsen yang menolak untuk pulang bersamanya semakin menjelaskan jika sesuatu telah terjadi pada putranya.
“Ma jangan memanggilnya seperti itu.” Arsen seketika berdiri tidak terima gadis ia cintai dihina meski itu dari ibu yang telah melahirkannya.
“Jadi benar?” geram Wina bertanya memastikan.
“Ia benar. Aku telah menikah dengan Sarah. Aku sangat mencintainya dan aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan terus bersamanya,” jelas Arsen dengan mantap dan penuh keyakinan di hadapan mamanya mengakui perasaannya walau ia tahu mamanya pasti murka namun ia tidak bisa menyembunyikan rahasia ini.
Tubuh Wina seketika lemas mendengar pengakuan dari putranya, dengan susah payah ia tidak mempercayai kabar yang di dengar namun setelah terucap langsung dari mulut Arsen dunia seolah runtuh, jantungnya serasa berhenti berdetak. Putranya telah menikah dengan anak dari orang yang paling ia benci.
Plak ... satu tamparan mendarat pipi mulus itu tanda luapan kekecewaan dari Wina atas tindakan putra kesayangannya.
“Arsen!” teriak Wina histeris mendekat ke arah pemuda yang berdiri di hadapannya lalu mencengkeram baju kaos yang di kenakan dengan kedua tangannya. “Teganya kau menghianati Mama. Mengapa kau menikah dengannya. dia dan mamanya telah membuat keluarga kita hancur!” ucap Wina terisak meluapkan kekecewaannya.
“Mama semua sudah terjadi.” Arsen membawa tubuhnya mamanya dalam dekapannya merengkuh tubuh itu agar tenang.
“Mama ngak terima kamu menikah dengan dia.” Berontak Wina dalam pelukan Arsen tidak ingin Arsen menyentuhnya ia sangat marah dan kecewa.
Sarah telah berada di depan rumah kontrakannya, setelah menemui Bian untuk menghentikan semua rencana buruk dari mantan kekasihnya itu dan untuk memutuskan hubungan dengannya. Alis gadis ini mengernyit, bola matanya berputar berjalan memperhatikan sekitar, menatap heran pada mobil yang berjajar, terparkir di luar pekarangan rumah serta banyak orang berpakaian hitam berdiri di depan lingkungan rumah kontrakan membuatnya menatap bingung dengan apa yang terjadi.
Sarah lalu mempercepat langkahnya ingin bertanya pada Arsen apa yang telah terjadi namun saat hendak memegang handle pintu langkah kakinya terhenti saat mendengar dari dalam rumah ada suara seorang perempuan yang menangis histeris. Ia pun memutuskan tidak masuk berdiri di depan pintu, otaknya mulai mencerna siapa suara wanita yang berada di dalam.
“Ar ... Di mana akal pikiranmu? Kau tahu mama sangat membencinya! Dari semua perempuan yang terbaik mendekatimu, kenapa harus gadis itu yang kau nikahi,” murka Wina memukul-mukul dada Arsen yang mendekapnya dengan kepala tangannya masih histeris.
“Ma aku sangat mencintainya,” jelas Arsen mempererat pelukannya.
Wina menepis tangan putranya melepaskan pelukan itu kemudian mengusap air mata di pipi menatap dengan tatapan dingin.
“Tinggalkan dia! Sampai kapan pun mama tidak akan pernah setuju kau menikah dengannya,” berang Wina menatap tajam pada Arsen sudah tidak ada kelembutan yang ia tampakkan.
“Aku tidak akan meninggalkannya. Dia telah menjadi istriku!” jelas Arsen mantap tidak peduli dengan air mata orang yang telah melahirkannya.
“Arsen buka matamu! Dia anak yang telah menghancurkan keluarga kita!” murka Wina suaranya semakin meninggi.
“Bukan seperti itu! tetapi kenyataannya ibunya adalah wanita yang sangat di cintai oleh papa sampai kapan pun. Begitu pun juga denganku dia juga tidak akan terganti sampai kapan pun!” ungkap Arsen tentang perasaannya dan papanya.
__ADS_1
Plak .... Satu tamparan lagi mendarat di wajah Arsen.
Sarah yang hanya mendengar suara tamparan dari luar hanya membekap mulutnya dengan tangan kembali Arsen membelanya dan melawan mamanya demi dirinya.
“Lihatlah demi gadis itu kau melawan ibu yang telah melahirkanmu!” bentak Wina.
“Ingat kau adalah pewaris kau memiliki segalanya! Kau hanya membuat keluarga kita di hina dan malu jika kau bersamanya dia hanya anak tiri papamu dan hanya anak haram pula, ibunya tidak lebih dari perempuan murahan!” berang Wina.
“Ma! Jaga ucapan mama. Aku tidak suka mama menghina istriku.” Suara Arsen meninggi membela harga diri istrinya.
“Memang seperti itu dia harus ingat posisinya jika ia hanya gadis rendahan,” ucap Wina dengan nada menghina.
Sarah mendekap mulutnya dengan sebelah tangan tidak ingin isakkannya terdengar. Air matanya seketika tumpah mendengar dia dan ibunya mendapatkan penghinaan dari mama Arsen. Mengungkit masalah statusnya, Kata wanita rendahan dan murahan adalah ucapan yang sangat menyakitkan bak pisau menghunus hati. Dia mendekap dada yang sesak, ucapan Wina membuat ia benar-benar merasa hina untuk bersanding dengan Arsen sang pewaris. Sampai kapan mamanya tidak akan menyetujui hubungan mereka.
“Ma hentikan! Karena aku tidak akan peduli, walau semua orang menghujatku aku akan bersamanya. Dia istriku dan Aku tidak akan meninggalkannya.” Arsen membela mati-matian gadis yang ia cintai walau harus melawan mamanya sendiri ia akan berjuang demi Sarah.
“Ceraikan dia. Kau harus pulang bersama mama!” titah Wina tidak ingin di bantah.
“Aku tidak akan kembali bersama mama. Dan aku tidak akan menceraikannya sampai kapan pun!” kekeh Arsen emosi mendengar ia harus menceraikan Sarah.
“Perusahaan mama sedang bermasalah kau harus pulang, kembali menjalankannya,” jelas Wina tentang kondisi perusahaan yang goyah setelah di tinggal oleh Arsen setidaknya alasan itu bisa membuat Arsen untuk pulang.
“Tidak aku tidak akan kembali. Aku bahagia hidup bersama dengan istriku,” tolak Arsen.
“Ar. Kau jangan gila kau lebih mempertahankan anak wanita murah itu dari pada nasib perusahaan kita.” Wina semakin putus asa melihat penolakan Arsen harus dengan apa lagi ia memberikan pengertian pada putranya yang keras kepala ini. Ia melihat cinta putranya sangat kuat untuk istrinya.
“Ia," ucapnya singkat.
“Lihat keadaanmu sekarang? Sangat menyedihkan. Kau pasti pasti mengerjakan semuanya sendiri. Hidupmu sangat menderita tinggal di tempat ini. serba kekurangan. Kau adalah penerus perusahaan sejak kecil kau tidak pernah menderita dan kekurangan.” Hina Wina menatap dengan tatapan sinis merendahkan Sarah.
“Anak wanita murahan itu. Dia hanya akan memberikanmu penderitaan,” bentak Wina rasanya ia ingin meledak."
“Ma. Aku akan sangat marah jika kau mengatakan istriku wanita murahan!” balas Arsen tak kalah berangnya membela istrinya. Ia akan terus bertahan dengan cintanya.
“Ada banyak gadis yang lebih baik dari dia yang bisa kau nikahi. Ceraikan dan tinggalkan dia. Ikutlah pulang bersama mama. mama akan mencarikan gadis terbaik untukmu. Siapa pun pilihanmu mama akan setuju asal jangan anak dari musuh mama,” tawar Wina.
__ADS_1
“Mamamu benar Ar. Aku tidak akan bisa membuatmu bahagia. Kau hanya akan menderita hidup bersama denganku,” batin Sarah
Sarah yang masih berdiri mematung terus membekap mulutnya agar suara tangisannya tak terdengar oleh ibu dan anak ini. Hingga ia memutuskan untuk menjauh sejenak dari tempat itu kakinya sudah tidak kuat untuk berpijak. Ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit mendengar hinaan yang terucap dari kata-kata mama Arsen. Dadanya terasa sesak, air matanya terus menetes membuatnya tersadar jika ia memang tidak bisa bersama dengan pemuda itu, walau apa-pun yang di lakukan Arsen untuk bersamanya, semua upaya itu akan sia-sia. Ia memang tidak akan pantas berdamping dengan Arsen.