
Hari telah menjelang sore, angin berhembus dengan kencang. Langit memperlihatkan awan gelap memberi pertanda jika tetesan air tak akan lama lagi jatuh turun membasahi bumi.
Arsen sedang berada di tempat kerja, seperti biasa memotret di sebuah acara pernikahan. Suasana yang tadi ramai dengan tamu undangan mulai berkurang. Sang mempelai pun telah pergi meninggalkan tempat acara, itu berarti tugas Arsen telah selesai. pemuda ini pun memutuskan untuk bergegas pulang apalagi melihat kondisi alam yang akan turun hujan
Arsen merapikan seluruh peralatan memotret hendak pergi namun sebelum ia pulang meninggalkan tempat ia akan pamit pada tetangga menyebalkannya sekaligus menjadi rekan kerja yaitu Nikita.
Arsen berjalan menghampiri gadis cantik, berpakaian seksi itu yang berada di samping panggung masih menjalankan tugas menghibur tamu penonton.
“Niki aku pulang duluan,” pamit Arsen pada teman kerjanya itu.
Nikita kemudian bangun dari duduknya mendekat pada pemuda yang selalu memakai masker penutup wajah untuk menutupi wajah gantengnya. Itu pikir Nikita, tak tahu jika Arsen sedang menyembunyikan identitasnya.
“Cepat banget Ar,”
“Cuaca lagi mendung, enggak lama lagi, hujan aku mau pulang ngangkat cucian,” terang Arsen terlihat menghawatirkan pakaian yang masih terjemur di luar rumah.
“Kan ada bunda tercinta,” ucap Nikita yang tahu Arsen memanggil Sarah dengan sebutan bunda.
“Bundaku lagi Shift siang, dia nggak ada di rumah,” jawab Arsen dengan bangga.
“Oh Ya baiklah, kamu pulang dulan saja, nanti bundamu ngambek cuciannya basah, ngak ada yang angkatin.” ledek Nikita pada Arsen yang terlihat seperti suami yang tunduk pada istrinya. “Aku pulangnya nanti saja, aku masih mau di sini, lumayan di sini banyak orang kaya dan sawerannya gede. Oke ... Sekarang Giliran aku nyanyi. Aku naik panggung dulu.” Nikita kemudian bergegas pergi menuju panggung.
Suara merdu dari lantunan lagu yang dinyanyikan Nikita terdengar tanda jika gadis ini telah menghibur penonton. Arsen telah bersiap pergi menenteng peralatan memotretnya namun langkahnya terhenti saat tak mendengar lagi lantunan lagu yang baru beberapa bait di nyanyikan oleh Nikita terhenti, membuat perhatiannya teralihkan pada panggung tempat gadis itu bernyanyi.
Arsen tercengang tangannya mengepal erat melihat pemandangan yang ada di depan matanya Nikita sedang diganggu oleh beberapa lelaki hidung belang. Dengan langkah cepat Arsen berlari membantu tetangga menyebalkannya itu.
“Lepaskan dia,” bentak Arsen tatapan matanya berubah mengerikan melihat lelaki di sekeliling Nikita.
Gadis ketakutan ini pun berlari ke belakang Arsen mencari perlindungan di balik punggung. “Ar mereka menggangguku,” ungkapnya dengan tubuh bergetar.
“Hei dia ini hanya perempuan murahan. Kenapa kau membelanya,” ucap salah satu dari mereka.
Mendengar kata laki-laki itu membuat Arsen menjadi murka mereka telah menghina teman kerjanya sebagai wanita murahan.
Arsen sudah tak dapat menahan amarahnya kemudian melayangkan kepalan tangan ke wajah salah satu lelaki itu.
Brak … bruk perkelahian tak dapat di hindari lagi. Arsen mulai menghajar orang yang telah menghina Nikita satu-satu persatu. dengan kemampuan bela diri Arsen ia dapat mengalahkan lelaki hidung belang itu dengan mudah, seketika mereka telah tergeletak di lantai.
“Ingat ini baik-baik, dia adalah adikku jika ada yang mengganggunya, aku tidak akan segan-segan menghajarnya.” Ancam Arsen dengan emosi yang masih menggunung.
“Ayo pergi dari sini.” menarik tangan Nikita pergi meninggalkan tempat itu menuju tempat memarkirkan motornya.
__ADS_1
Pemuda ini naik ke motornya. “Cepat naik! Kau pulang bersamaku!” titah Arsen dengan nada dingin dan terburu-buru.
Nikita masih diam mematung belum naik ke motor. “Terima kasih Ar, kamu udah nolongin aku,” ucap Nikita dengan tulus dan serius tak ada candaan maupun godaan ia lakukan seperti biasa untuk Arsen.
“Ayo cepat naik!” perintah Arsen dengan nada dingin. Tak peduli dengan ucapan terima kasih yang tulus dari gadis ini, membuat Nikita terdiam ia merasa tak enak hati karena telah merepotkan pemuda ini.
“Maaf Ar, aku merepotkanmu,” ucap Nikita dengan penyesalan.
“Jangan banyak bicara! Cepat naik enggak lama lagi hujan aku harus mengangkat jemuran Bundaku!” Arsen ternyata masih mengkhawatirkan jemurannya.
Nikita menarik napas lega ternyata hanya masalah jemuran. Ia pun naik duduk di motor. Arsen lalu melaju kencang dengan motornya ia ingin cepat sampai di rumah, sebelum hujan turun, Nikita yang duduk di belakang hanya terdiam seraya memegang erat jaket Arsen takut terjatuh karena pemuda ini melaju seperti pembalap.
Beberapa lama kemudian tetesan air pun tumpah dari langit hujan turun mengguyur dengan deras. Arsen tetap memacu kendaraannya.
“Hujan deras kita neduh dulu. Nanti kita sakit,” usul Nikita yang melihat kenekatan Arsen menerobos hujan lebat.
“Enggak jemuranku bisa bertambah basah kan, sayang banget, kasian bunda,” jelas Arsen dari tadi masih mengkhawatirkan tentang jemurannya.
“Ar. berhenti dulu hujan semakin deras, kita harus berteduh,” pinta Nikita yang duduk di belakang, penglihatnya pun mulai berkurang akibat air hujan mengenai, takut terjadi sesuatu pada mereka.
“Hei Nikita kau ini bukan Mermaid! yang terkena air, berubah menjadi putri duyung,” ketus Arsen masih fokus melaju.
“Ah ... baiklah,” Arsen menjadi tak tega mendengar keluhan gadis ini kemudian menyerah, menepikan kendaraannya di depan sebuah ruko yang tertutup mereka pun kemudian turun berteduh menunggu hingga hujan berhenti.
Mereka telah berdiri di depan ruko memperhatikan tetes demi tetes air yang turun ke bumi.
“Ar dingin,” keluh Nikita menggigil kedinginan.
Arsen mendengus memasang sikap juteknya kemudian membuka jaket yang ia kenakan.
“Pakai ini,”Arsen menempelkan jaketnya pada tubuh Nikita, biar bagaimana pun ia tak tega melihat gadis ini kedinginan.
“Makanya kalau pakai baju itu yang tertutup, kuntilanak aja berpakaian lebih sopan darimu,” sembur Arsen mengeluarkan sikap juteknya pada Nikita.
“Ih masa aku dibanding-bandingkan sama kuntilanak,” protes Nikita.
“Ar bisa ngak sih kalau ngomong itu di takar kadar level kepedasaanya, langsung ke hati tahu, coba aja omongan kamu itu bisa di Skip kaya iklan you tube,” oceh Nikita tentang tuan jutek yang selalu bicara terus terang dan menyakitkan, tapi bagaimanapun ia tahu jika pemuda ini sangat baik dan perhatian hanya saja tak punya penggendalian diri.
Arsen mendengus. “ hah... Jemuran bundaku jadi basah semua,” keluhan putus asa dari sang mantan CEO ini terdengar lucu dari tadi menghawatirkan jemuran istrinya berdiri mematung melihat rintik hujan.
“Sebenarnya kau ini ayah atau bunda sih di rumah tanggamu? dari tadi pikiranmu jemuran mulu, kau mengerjakan perkerjaan rumah, seperti seorang ibu-ibu.” ucap Nikita melihat Arsen yang sangat perhatian pada istrinya.
__ADS_1
“Aku heran berapa sih hutang ibu Ara, sampai anak gadisnya bisa nikah sama kamu?” ledek Nikita membuat Arsen menjadi di kesal mendengarnya.
“Hei kau pikir aku ini Datu Maringgi yang menikahi anak gadis orang karena hutang,” berang pemuda ini melipat tangan di dada.
“Kalau di lihat sepertinya hanya kamu yang menunjukkan cintamu sedangkan arah hanya bersikap biasa saja padamu, seperti tidak mencintaimu,” ungkapnya terus terang.
Hati Arsen terenyuh mendengar ucapan Nikita ternyata orang bisa melihat jika gadis yang ia cintai tak mencintainya. “Memangnya sangat terlihat ya,” batin arsen.
“Ar Kenapa kau tidak menjadikan aku pelakor dalam hubungan kalian biar jadi bumbu di rumah tangga kalian,” canda Nikita kembali menggoda Arsen.
“Pelakor kepalamu, Ara nggak bakalan percaya aku tergoda pelakor seperti kamu,” Arsen mendorong jidat Nikita dengan telunjuk karena selalu menggodanya.
“Aduh,” keluh Nikita.
Obrolan terjadi di antara keduanya sambil menunggu hujan reda.
“Bisa nggak sih kamu berhenti aja jadi biduan, lihat pekerjaanmu itu sangat beresiko, orang-orang memandangmu rendah sebagai wanita murahan,” terang Arsen yang mulai mengenal Nikita lebih jauh setelah bekerja bersama, ia melihatnya sebagai gadis yang baik, periang, polos walaupun centil dan terkadang menyebalkan.
“Ngak bisa, aku sangat suka menyanyi. Aku berharap nanti aku bisa menjadi artis yang muncul di tv. Biar aku bisa membungkam orang-orang yang telah menghina dan merendahkan aku. Aku ingin terkenal,” ungkap Nikita impian yang selama ini ia inginkan dengan menggebu dan semangat berapi-api.
“Artis.” Arsen melipat tangan di dada, mengendikkan bahunya menatap remeh impian gadis ini. Ia pun dulu memiliki kehidupan bak artis sebagai pewaris dua perusahaan segala urusan hidupnya membuat orang penasaran.
“Ar kenapa kamu ngak jadi artis saja? Kamu ini kan ganteng, pasti akan gampang bagimu untuk terkenal.”
“Aku tidak mau, aku tidak suka.”
“Ayolah Ar. Setelah kau terkenal aku akan pansos padamu, lalu kita bikin sensasi, kita tidur bareng, terus aku terkenal, jadi aku akan juga di kejar media,” oceh Nikita. Arsen kembali mendorong jidat gadis ini dengan telunjuknya.
“Aduh sakit,” keluh Nikita mengusap keningnya.
“Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau bisa terkenal dan menjadi penyanyi tanpa mencari sensasi, kemampuan menyanyimu itu sangat bagus hanya saja nasibmu yang belum beruntung,” puji si tuan jutek dengan wajah datar.
“Benarkah.” Nikita sangat bersemangat mendengar pujian dari Arsen.
Hujan masih terus mengguyur dengan deras sudah beberapa jam mereka berdiri mengobrol banyak tentang kehidupan tiga wanita yang ternyata sangat rapuh dan butuh perlindungan, selalu di pandang remeh dari Nikita. Arsen si tuan jutek dengan Nikita si gadis genit yang akhirnya bisa bicara layaknya sebagai seorang teman.
Lelah mengobrol dan mendengar ocehan Nikita, Arsen meraih ponsel di tasnya, kemudian mulai menggeser layarnya. Wajah Arsen seketika memucat tubuhnya bergetar ketika membaca sebuah berita berisikan jika desas-desus anak pewaris Angkasa Hutama menghilang.
“Mama telah tahu aku tidak di luar negeri, mama pasti menyuruh orang untuk mencariku sekarang,” batin Arsen mencengkeram ponselnya erat tidak bisa membayangkan jika ia harus di pisahkan dengan wanita yang ia cintai.
“Andai saja Ara mencintaiku dan mau berjuang bersamaku, ini pasti tak sesulit ini, tapi aku tidak akan pergi meninggalkan kalian semua. Aku sudah sangat bahagia hidup seperti ini, memiliki kalian semua di sisiku, sebagai keluarga itu sudah cukup. walau pun terkadang menyebalkan,” Arsen menatap ke arah Nikita gadis yang selalu menggodanya. Ia sekarang memiliki tugas menjaga 3 wanita rapuh yang ada di sampingnya. Melindungi dari orang-orang yang suka menghina dan merendahkan mereka.
__ADS_1