
Erina berada di kamar berbaring di tempat tidur memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Wajahnya terlihat pucat bulir keringat dingin menempel di keningnya.
“Ya Tuhan terus seperti ini, kenapa perutku sangat sakit, rasanya melilit,” keluh Erina menggeliat di atas kasur meremmas perutnya. “Aduh sangat sakit,” rintih Erina.
Tok ... Tok
Suara ketukan di pintu kamar membuat Erina menghentikan rintihannya, kemudian bersikap biasa tak mau orang tahu tentang kesakitan yang dia rasakan, tak mau membuat semua orang menjadi cemas dengan keadaannya.
“Ada apa?” tanya Erina menegakkan tubuhnya untuk duduk.
“Maaf nyonya, ada nyonya Wina di bawa,” jelas pelayan tertunduk.
“Mau apa dia kemari?” Alis Erina mengernyit mendengar musuhnya datang ke tempatnya.
“Dia ingin menjemput tuan Arsen, yang telah dua hari tidak pulang nyonya, dan susah di hubungi. Karena sekarang giliran tuan Arsen untuk tinggal bersama dengan nyonya Wina.”
“Baiklah aku akan menemuinya.”
Pelayan memberi hormat kemudian belalu meningalkan kamar Erina.
Erina menarik napas berat mengapa saat ia sedang tak berdaya menahan sakit musuhnya malah datang berkunjung. Setelah Arsen memindahkan kamar Sarah, pemuda ini sudah tidak pernah pulang ke rumah mama Wina dan selalu mendekat dengan Sarah. Seolah Sarah adalah teman barunya di rumah Hutama yang membuatnya betah tinggal berlama.
Ada apa dengan anak itu, biasanya dia tidak akan betah dan muak tinggal di rumah ini walau sedetik pun, Arsen akan bergegas meninggalkan rumah ini, jika waktunya telah habis sedetik pun ia tak akan tinggal di rumah ini. Sekarang ia bahkan telah dua hari di rumah ini. Dan sikapnya berubah baik pada Sarah, dia juga terus bersama dengan Sarah selama dua hari ini. Apa dia telah menerima Sarah sebagai saudaranya. Gumam Erina lalu tersadar jika rumahnya sedang kedatangan musuh.
Erina beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaian. Ia akan mengenakan pakaian terbaik untuk bertemu dengan musuhnya.
“Aku harus menampilkan yang terbaik. Akut tidak boleh kalah darinya Jangan sampai dia menghinaku.” Erina duduk di meja rias menghias wajah pucatnya mengenakan make up yang tebal serta memakai perhiasan terbaiknya.
Setelah beberapa saat Erian telah siap dengan penampilan terbaiknya. Beranjak keluar dari kamar menemui mantan istri suaminya.
Erina menatap sinis pada seseorang yang sedang duduk di kursi tamu, lalu melangkah mendekati rivalnya, kemudian duduk berhadapan dengan meja sebagai sekat pemisah.
“Mau apa kemari?” tanya Erina dengan ketus.
Wina melipat tangan di dada memutar bola mata jengah karena harus bertemu dengan musuhnya.
“Kau jangan besar kepala dulu. Aku kemari mengajak Arsen pulang. Ini gilirannya tinggal bersamaku,” ketus Wina.
Erina beroria. “O ... memang hubangan kami akhir-akhir ini membaik,” ucap Erina memicingkan mata dengan nada mengalun manja memancing emosi musuhnya.
“Itu tidak mungkin, dia tak akan mungkin akrab dengan orang yang telah mengahancurkan rumah tangga orang tuanya,” tapik Wina menyembunyikan rasa kesalnya.
“Buktinya dia sudah tak ingat pulang padamu dan memilih di rumah ini.” Erina menyeringai.
Tatapan kilat penuh amarah terlihat dari wajah dua musuh abadi ini, namun mencoba untuk tetap tenang dan menahan diri sebab ini adalah kediaman Hutama.
Ibu Odah datang mendekat pada mereka sambil membawa nampan lalu menyuguhkan dua cangkir teh di hadapan masing-masing wanita itu.
“Silahkan nyonya di minum.” Ibu Odah mempersilahkan.
“Bi Odah, lama tak berjumpa,” sapa Wina tersenyum lembut pada pelayan Hutama yang setia.
“Apa kabarnya nyonya?” tanya Ibu Odah basa-basi seolah bernostalgia dengan mantan nyonya.
__ADS_1
“Kabarku baik Bi Odah. Bagaimana kabarmu? Apa nyonya barumu memperlakukanmu dengan baik,” sindir Wina matanya melirik ke arah Erina mulai kembali saling menyerang.
“Tentu saja kabar Ibu Odah baik. Dia sangat sangat betah dengan nyonya barunya. Ia kan Bi Odah, ” sambar Erina menatap tajam pada perempuan yang ada di depannya.
“Bi Odah ini pelayan yang sangat setia. Dulu aku sering memberikannya bonus karena pekerjaannya yang baik. Terima kasih karena telah merawat putraku dan menjaga Arsen saat tinggal di rumah ini,” tutur Wina dengan nada lembut namun pandangan sinis ia berikan pada musuhnya siap saling menyerang. “Sebagai ucapan terima kasihku. Dan sudah lama aku tidak memberikan memberi kan bi Odah hadiah,” ucap Wina kemudian merogoh tasnya mengeluarkan dompet lalu menarik beberapa lembar uang.
“Ini ibu Odah, ambilah. Ini ucapan terima kasihku karena telah merawah putraku. Aku kan nyonya yang bermurah hati.” Wina menyodorkan beberapa lembar uang pada Bi Odah yang berdiri di samping di antara mereka. Wina merasa bangga dengan pencitraannya sebagai nyonya yang tidak pelit.
Melihat uang yang disodorkan padanya. Senyuman penuh arti terselubung terpancar dari wajah bi Odah. Ia tahu dua wanita ini adalah musuh yang selalu saling bersaing, hanya dengan menggunakan sedikit rencana licik ia akan mengerjai dua nyonya besar itu.
Baguslah ini yang aku tunggu, dua nyonya besar yang sama sombonnya dan sering membuatku pusing dengan banyak perintahnya, sekarang giliranku mengerjai mereka, akan ku habisi uang kalian. Akan kukuras harta kalian. Batin ibu Odah yang hidupnya terinspirasi dengan sinetron. Ia memicingkan mata dan menyeringai berkata dalam hati mendramatis seperti layaknya bintang sinetron yang ia sering tonton.
Ibu Odah memulai rencana mengerjai dua perempuan itu. Ia mendekat ke arah Wina kemudian meraih lembaran uang yang disodorkan padanya.
“Terima kasih nyonya, atas kemuran hati nyonya. Anda memang dari dulu selalu bermurah hati,” puji ibu Odah pada Wina, hingga senyum penuh kemenangan terpamer di hadapan Erina.
Erina menatap jengah pada Wina yang seakan mengejeknya, seolah membuktikan jika Wina lebih baik dari darinya. Apalagi sikap Wina sedang berada di atas angin, merasa menang. Ia akan membalas tidak akan kalah dari musuhnya.
Kurang ajar, dia ingin mengatakan kalau aku ini pelit dan tak peduli dengan pelayan. Aku ngak boleh kalah aku harus lebih baik darinya. Tapi saat ini aku tidak memegang uang tunai semua ada di kamar. Apa boleh buat Dengan terpaksa demi harga diri, aku harus mengorbankan gelang mahal kesayanganku, batin Erina lalu mulai membalas Wina.
“Ia, ibu Odah, kau sudah sangat bekerja keras, terima kasih banyak. Kemarin aku mencarimu ke mana-mana, tapi Ibu Odah tidak ada. Aku kan ingin menemuimu dan memberikan hadiah untukmu. Ini terimalah gelang dari Paris ini untukmu.” Erina melepaskan gelang yang ada di tangannya kemudian memberikannya pada bi Odah, ekor matanya melirik ke arah Wina. Lalu tersenyum menang karena telah memberi hadiah yang lebih besar dari punya Wina.
Mencariku! Dasar pendusta. Kau tak pernah mencarikku, memangnya aku kemana? Aku hanya terus berada di dapur tapi lumayan dapat gelang mahal. batin ibu Odah tersenyum miring, melihat kepura-puraan dua wanita yang saling bersaing.
“Terima kasih nyonya. Atas hadiah mahal Anda, saya tidak pernah menerima hadiah semahal ini,” ucap perempuan ini menekan kata mahal, untuk memancing emosi Wina. Erina tersenyum penuh kemenangan kali ini dialah yang menang.
“Bi Odah gelang itu ngak seberapa mahal banyak seperti itu. Ngak semahal hadiahku." Wina meraba pergelangan tangannya. "Ini untuk bi Odah jam tangan berlian. Ini baru sangat mahal.” Wina membuka jam yang berada di pergelangan tangannya kemudian menyodorkannya pada bu Odah.
* Aku ngak boleh kalah darinya, Aku akan merelakan jam bertabur berlianku pada bi Odah. Aaaaa ... jam mahalku, batin Wina menangis di dalam hati menyaksikan jam kesayangannya di sambut oleh bi Odah.*
Tatapan tajam terlihat dari dua wanita yang saling berhadapan bersaing mereka sekarang tak beradu mulut tapi megaduh barang terbaik yang mereka punya tanpa mereka sadari ada orang yang telah menjadi pemenang yang sebenarnya
“Ini untuk bi Odah,” Erin membuka kalung yang melingkar di lehernya kemudian menyodorkannya pada bi Odah.
Kalung mahalku raib untuk bi Odah, kalung terbaik yang harganya selangit, gumam Erina yang juga menagis dalam hati saat bi Odah menyambut kalung itu dengan senyum sumringah dan ucapan terima kasih yang terucap.
Wina menatap sinin pada Erina, pandangan mereka bertemu kemudian kompak saling membuang muka persaingan semakin memanas dan seru tak ada yang mau mengalah.
“Bi Odah itu ngak seberapa. Masih murah, kalungku ini yang paling mahal, coba liat kalungku ini lebih baguskan.” Wina membuka kalung yang melingkar dilehernya. Tersenyum sinis ke arah Erina. Kali ini mata Ibu Odah buka lagi berbinar lebih tepatnya berubah hijau melihat barang terbaik dari nyonya akan menjadi miliknya.
"Kalung bertabur berlian dan terbatas cuma berapa di dunia, aku berikan hanya untuk pelayan," batin Wina menangis.
Bu Odah terus mendapatkan hadiah mahal dari dua wanita yang bersaing ini hingga beberapa saat kemudian lemparan anting dari kedua wanita itu telah di terima Bi Odah, perhiasan di badan mereka telah habis berpindah di tangan bi Odah tak ada lagi benda mahal dan terbaik yang melekat di tubuh mereka.
Wina dan Erina kembali saling menatap tajam sambil meraba tubuh mereka, lalu tertunduk memperhatikkan badan yang tak terbungkus lagi dengan dengan perhiasan mewah dan tersadar jika mereka telah memberikan semua barang berharga mereka pada bu Odah.
“Emmm, Bi Odah. Mana Arsen tolong panggilkan?” Wina tersenyum pelik mengalihkan pembicaraan agar ajang pamer itu berhenti karena ia tidak punya apa-apa lagi.
“Ia, bi Odah, cepat panggil Arsen,” desak Erina agar perempuan penerima hadiah itu pergi dari tempat ini dan mereka berhenti memberi hadiah yang membuat hati mereka menangis.
“Apa yang kau tunggu! Cepat pergi dari sini, bi Odah kau mau membuatku bangkrut,” bisik Erina pelan di telinga bi Odah. Kemudian memaksa senyuman pada Wina.
Sayang sekali, aku harus pergi padahal mungkin tak lama lagi, aku pasti sudah dapat tanda tangan untuk kepemilikan rumah dan tanah dari dua nyonya sombong yang berpura-pura baik itu. Kalian memang pantas mendapatkannya, Cuma baik jika ada maunya. Batin ibu Odah.
__ADS_1
“Saya panggil tuan Arsen dulu.” Pamit bi Odah memeluk barang pemberian dua wanita itu. “Lumayan buat beli tv baru yang lebih gedean, trus modal Bian buat nikah dengan Sarah, Sarah sayang ibu membalas sakit hatimu. hahaha .... ” batin bu Odah dengan tawa kemenangan.
Erina dan Wina menatap sedih kepergian punggung bu Odah yang telah membawa barang berharga mereka. Dua wanita ini kompak mengatupkan mulut mereka rapat, seperti ingin menangis ketika barang terbaiknya mereka telah di bawah ibu Odah dengan semangat tatapan tak rela terpancar di keduanya saat perhiasan mereka telah berganti kepemilikan akibat persaingan menjadi yang terbaik.
"Barang mahalku, itu yang terbaik, hu ...hu ...." batin Wina menangis.
"Perhiasan terbaikku, berlian mahalku, di beli di luar negeri lagi, aaaa ... " batin Erina menjerit.
****
Arsen telah berada di kediaman Hutama selama dua hari, merasakan hati yang senang dan damai, menjadi teman sebelah kamar dengan Sarah, pemuda ini hingga terlupa, jika ini bukanlah gilirannya tinggal di rumah Hutama. Ia telah menemukan cara menenangkan perasannya yaitu dengan terus dekat dan melihat Sarah. Ia ingin terus bersama dengan gadis itu. walau mencuri pandang hanya untuk melihatnya.
Tok ... tok ...
Suara ketukkan di pintu membuat Arsen keluar dari kamarnya dan melihat perempuan yang telah melayaninya sejak lama berdiri di depan pintu.
“Ada apa Bu Odah?” tanya Arsen.
“Nyonya Wina ada di bawah dan menyuruh Anda pulang bersamannya,” jelas Bu Odah tersenyum lembut kemudian meniggalkan Arsen setelah tugas pemanggilanya selesai.
“Ya ampun aku lupa. Ini giliranku tinggal bersama mama. Aku akan pulang.” Arsen menepuk jidatnya kemudian bergegas hendak turun ke bawah, menemui mamanya. Namun langkahnya terhenti sebelum ia pergi ia akan melihat wajah Sarah lagi.
Arsen berjalan ke arah kamar yang ada di samping, lalu mengetuknya. Tak beberapa lama Sarah keluar dari kamar berdiri di hadapan Arsen.
“Ada apa?” tanya Sarah dengan malas.
“Aku akan pulang ke rumah mamaku. Beri aku nomor ponselmu,” perintah Asen kemudian menyodorkan handponnya di hadapan Sarah. “Cepet masukkan nomormu di,” desak Arsen.
"Untuk apa nomorku?"
"Sudah jangan bertanya."
Sarah mengernyitkan dahi menatap heran saat musuhnya ini meminta nomor ponselnya dan tak melakukan protes. Sarah pun meraih ponsel itu, jarinya mulai mengetik angka di layar ponsel.
Arsen meniggalkan Sarah dengan senyum terus tertanam, wajahnya ceria karena telah mendapatkan nomor ponsel gadis yang ia suka. Ia memeluk ponselnya dengan sayang seperti barang yang sangat berharga. Yang akan menjadi obat pengobat rindu saat ia merindukan Sarah di rumah mama Wina.
****
.
.
.
.
Like, Coment, Vote ....Tekan favorit
Tekan favorit agar kalian mendapat notif cerita jodohku tuan jutek yang up datenya ngak teratur ini.
Hai pecinta cerita JODOHKU TUAN JUTEK mohon maaf jika up date saya yang berantakan dan tidak teratur, karena kesibukan saya bekerja di dunia nyata. Agar dunia halu saya berimbang dengan dunia nyata dan pekerjaan saya juga terselesaikan. Jadi untuk update cerita saya memilih seperti ini Borongan sebisa saya entah berapa bab, tapi di usahakan 5 bab sekali update. Doakan Semoga saya bisa up date 2 kali seminggu seperti puasa sunah senin dan kamis. Karena saya lebih nyaman menulis dengan cara seperti ini. Mohon pengertiannya.
Terus ikuti tuan Arsen mengejar cinta Sarah. Dan Sarah yang menunggu pengakuan cinta Bian. Jangan lupa juga cerita lucu persaingan antara Erina dan Wina jika telah bertemu. dan keseruan Ibu Odah yang heboh jika telah menonton sinetron kesukaanya. Bagaimana cerita selanjutnya ...
__ADS_1
Jangan lupa di tunggu ya. Jadikan ini favorit