CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
Kesedihan Ara


__ADS_3

Sarah bergegas bangun dari duduk nyamannya, berdiri di hadapan Gerald yang sorot matanya menyiratkan seribu pertanyaan. Tubuh Sarah bergetar ketakutan, akan rahasia yang selama ini di sembunyikan dari dunia. Semua akan terungkap tak bisa dia tutupi lagi dan saat ini sudah sangat terlambat untuk lari, mau pun menghindar dari Gerald, sebab pemuda ini telah berdiri menjulang di hadapan Sarah. Hari ini Gerald akan tahu jika ia adalah anak tiri dari keluarga Hutama, saudara tiri tuan Arsen.


Bian dan ibu Odah yang tadi berdebat seketika membatu mengenali sahabat Tuannya yang berada di dapur ini lalu kompak berdiri.


“Ibu ini semua gara-gara Ibu, karena berteriak heboh menonton tadi. Dia pasti kemari karena mendengar teriakan ibu,” tuduh Bian berbisik pelan di samping ibunya yang sejak tadi memperingatkan ibunya agar jangan berteriak.


“Mana ibu tahu Ian, kalau suara ibu kekencengan.” Ibu Odah membela diri sekaligus tertunduk menyesali serta dapat merasakan kecemasan Sarah yang rahasianya akan terbongkar karena dirinya.


“Sarah kau di sini juga?” tanya Gerald penasaran matanya menyelidik.


“Gerald ... aku ... aku ....” Suara Sarah tercekat bingung apa yang harus ia katakan.


“Kamu kenapa ada di sini? Kamu ngak mungkin datang sebagai tamu kan!” cecar Gerald dengan tatapan menilai, melihat pakaian Sarah yang hanya mengenakan baju rumahan tak mengenakan gaun pesta sama seperti tamu undangan lainnya.


“Aku ... aku ....” Dengan terbata Sarah mengarahkan pandangannya pada Bian dan ibu Odah. Sorot matanya menyiratkan jika ia sedang meminta bantuan. Namun ibu dan anak yang hanya terdiam.


Erina melangkahkan kaki ke dapur. “Bi Odah tolong ....” Erina terkejut saat melihat Gerald berdiri menjulang di hadapan Sarah. Sama seperti Sarah ia juga ketakutan rahasia yang ia miliki tentang anak bawaan terbongkar.


“Gerald kenapa kamu ada di sini?” tanya Erina maju mendekat memaksakan senyuman mencoba bersikap biasa.


“Aku tadi jalan-jalan mengitari rumah ini. Cari angin, sekaligus sudah lama aku ngak melihat keadaan di rumah ini, lalu aku mendengar ada suara perempuan yang berteriak dari tempat ini,” Ungkap Gerald yang terundang datang ke dapur setelah mendengar teriakan heboh ibu Odah menonton sinetron.


“Ooo ... kalau begitu pergilah, kembali ke pesta Arsen pasti telah menunggumu.” Erina hendak membuat Gerald pergi. Ia mendorong punggung pemuda itu perlahan agar meninggalkan dapur.


“Sebentar ibu. Gadis ini adalah teman sekampusku. Aku ingin bertanya apa yang ia lakukan di sini?” Gerald tak bergeming. Ia tak akan pergi sebelum rasa penasarannya terjawab. Tak akan melepaskan kesempatan ini dengan ini dengan begitu mudah. Dia sudah mencari tahu identitas Sarah dari dulu, tak kan pergi jika belum mendapatkan keterangan dari Sarah.


“Aku disini karena ....”


 “Dia anak pelayan di rumah ini!” sambar Erina menjawab pertanyaan Gerald dengan jawaban menyakitkan hati bagi Sarah.


Bak di sambar petir Sarah mendengar pengakuan ibu kandungnya tentang siapa dirinya. Hatinya pilu Erina lebih memilih rahasianya terjaga dan rela tak mengakuinya.


Mendengar kebohongan ucapan Erina yang menyakiti Sarah, ibu Odah dan Bian kompak mendekati Sarah. Mereka tahu hati gadis ini pasti hancur mendengar pengakuan ibunya. Terlihat jelas di raut wajah Sarah yang seketika tertunduk mencoba menahan linagan air mata yang terasa telah siap menerobos untuk turun.


“Tuan Gerald dia putriku,” ucap Ibu Odah dengan mantap merangkul bahu Sarah penuh kebanggan mengakui Sarah sebagai putrinya.

__ADS_1


“Dia adikku.” Bian pun meraih tangan Sarah memberi kekuatan.


Gerald mematung memikirkan semuanya, jika Sarah anak ibu Odah berarti Arsen selama ini telah berbohong. Sahabatnya pasti tahu semua tentang Sarah, pantas saja Arsen selalu menyuruhnya untuk menjauhi Sarah itu fikirnya.


“Sarah kau anak pelayan di rumah Arsen,” tanya Gerald seakan tak percaya akan kenyataan itu dan berharap gadis ini tak mengiyakan pertanyaannya.


Sarah mengangkat kepala menatap Gerald dengan senyum dipaksakan. “Ia, aku anak ibu Odah,” ucap Sarah merangkul perempuan yang ada di sampingnya, dengan tatapan tajam menatap ibunya.


Gerald diam membatu bibirnya keluh, mendengar pengakuan Sarah.


“Anda sudah tahu semuanya, jadi silahkan keluar dan nikmati pestanya. Arsen pasti mencari Anda,” sela Erina menuntun langkah Gerald yang masih memasang raut terkejut dengan fakta ia dengar hingga tak bisa berkata-kata. Rasa kecewa yang di rasakan saat mengetahui gadis yang ia suka hanya anak pelayan membuat harapannya bersama Sarah tinggal angan-angan.


Erina berhasil membuat Gerald pergi meninggalkan dapur meninggalkan tiga orang yang masih berdiri mematung. Saat bayang mereka telah tak terlihat ibu Odah lalu berhambur memeluk Sarah.


“Sabar sayang!” ucap ibu Odah. Memeluk Sarah dengan sayang mengelus rambut panjangnya, iba dengan nasib malang Sarah yang tidak di akui oleh ibunya.


“Dia tidak mengakuiku,” tangis Sarah yang sedari telah bersusah keras membendung air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya.


“Sabar Ra.” Bian mendekat ikut mengelus punggung Sarah memberi ketenangan.


“Ibuku tega. Apa aku seburuk itu, hingga ia malu mengakuiku. Rasanya sangat sakit Ibu,” ratap Sarah, baju bi Odah telah basah dengan air mata. Hatinya sangat hancur. Ia bisa terima saat ibunya menyembunyikan identitasnya, tapi mendengar orang yang melahirkannya sendiri tak mengakuinya, rasanya sangat sakit dan hancur.


“Jangan menangis lagi,” bujuk Bian.


Sarah melepaskan pelukannya kemudian menghapus air matanya dengan punggung tangan, memaksakan senyumannya.


“Ibu, Ara lelah. Aku ke kamar dulu, aku ingin tidur,” pamit Sarah berlalu meninggalkan Bian dan ibu Odah.


“Ara!” panggil Bian.


“Aku ingin sendiri Ian. Aku ingin menagis yang banyak. Satu menit yang kau beri akan ngak cukup,” jelas Sarah.


Sarah telah meninggalkan dapur menuju kamar, di sana ia akan menagis, luka hatinya sudah tak bisa di sembuhkan oleh Bian.


Ibu dan anak ini kembali duduk di tempatnya. Terdiam memikirkan nasib Sarah yang malang.

__ADS_1


“Bu, tolong dong, rubah kebiasan ibu nonton sinetron. Ibu terlalu berlebihan nontonnya. Jangan teriak seperti itu lagi kalau nonton tv! Ibu liatkan karena ibu calon mantu ibu jadi sedih.” Bian kembali menasehati ibunya.


“Ia maaf Bian, habis ibu gemes liatnya.” Bu Odah tertunduk merasa bersalah.


“Ya sudah jangan nonton lagi!”


“Ngak bisa Ian! Ibu penasaran, Ia sudah dapat istrinya belum. Lagian sayang Ian, kalau ibu ketinggalan ceritanya. Ntar ibu ngak bisa ikut nimrung di tukang sayur langganan ibu, kalau ngak tahu ceritanya! Kamu kan tahu ibu-ibu lagi pada bahas sinetron ini.”


Bian berdecak kesal menepuk dahinya melihat tingkah ibu yang ternyata tak mengidahkan nasehatnya. Pikiran ibunya telah di racuni oleh tontonan di tv.


***


Sarah berada di dalam kamarnya berbaring miring membiarkan air matanya terus lolos dengan mudah. Agar hatinya menjadi tenang, rasa kecewa pada ibu yang telah melahirkannya tak bisa ia abaikan sungguh sangat sakit.


Erina masuk ke dalam kamar Sarah melihat keadaan putrinya. Perempuan ini melihat Sarah berbaring memunggunginya.


“Ara, maafin ibu. Ibu ngak bermaksud tak mengakui kamu,” jelas Erina mendekat, duduk di pinggir tempat tidur.


Sarah hanya diam tak menghiraukan ibunya. Ia masih kecewa.


“Ra, ibu mengatakan kamu anak pelayan agar Gerald tidak mencari tahu tentang kamu Ra, ini untuk kebaikan kamu Ra.” Erina mengelus rambut putrinya, menyadari kesalahannya.


Sarah masih diam hanya air mata yang terus terurai. Isakan pilu terdengar.


“Ra, kamu tahu Gerald memiliki kuasa, jika ia mencari tahu tentang kamu maka ....” Suara Erina tercekat tak mampu melanjutkan kata.


“Maka statusku sebagai anak haram akan terbongkar,” sambar Sarah bangun dari berbaring penuh amarah.


“Ara,” bentak Erina.


“Memang itu kenyataannya. Aku telalu hina untuk dunia tahu, hingga ibu tidak mengakuiku sebagai anak,” berang Sarah.


“Sarah tolong kamu mengertin keluarga Hutama. Keluarga yang sangat terpandang. Ibu ngak mau kamu akan ikut terlibat dalam masalah,” jelas Erina.


“Setidaknya mereka akan mencari tahu tentang pertanyaan yang tak bisa bisa ibu jawab. Pertanyaan siapa ayah kandungku!” geram Sarah.

__ADS_1


“Sarah hentikkan!” murka Erina mendengar ucapan putrinya. “Kamu sudah keterlaluan, berapa kali ibu bilang jangan pernah bahas ayahmu.” Erina menatap tajam pada Sarah dengan emosi yang meluap karena Sarah membahas perihal yang sangat ia benci.


Erina beranjak meninggalkan Sarah perasaan penuh amarah dan mata yang berkaca-kaca kesedihan tampak di wajahnya. Sedangkan Sarah menghempaskan tubuhnya di kasur berbaring, kembali menggenangi bantalnya dengan air mata.


__ADS_2