CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
ulang tahun Arsen


__ADS_3

Di gedung yang tinggi tempat di mana seorang wanita yang untuk sekalian kalinya bertanya tentang keadaan putranya. “Bagaimana apa ada kabar dari keberadaan Putraku?” tanya Wina dengan wajah penasaran duduk di kursi kebesarannya.


“Belum Bu Wina, mereka masih mencarinya,” jelas lelaki itu tertunduk siap menerima amarah dari seorang ibu yang kehilangan anaknya.


“Bodoh! Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan kalian belum mendapatkannya,” bentak Wina tatapannya penuh dengan amarah, niatnya untuk merayakan ulang tahun bersama Arsen pupus sudah.


“Keluar ....” usir Wina sudah tak ingin lagi mendengar kabar mengecewakan dari asistennya.


Lelaki itu pun meninggalkan Wina dengan amarahnya.


“Arsen kamu dimana sayang. Apa kamu baik-baik saja sekarang. Hari ini ulang tahun kamu nak. Selamat ulang tahu Ar,” batin Wina meneteskan air mata kesedihan akan putranya yang menghilang entah ke mana.


***


Sore menyambut suasana di dalam rumah kontrakan Arsen sangat riuh dengan tiga perempuan yang tengah sibuk mempersiapkan pesta kecil untuk perayaan ulang tahun si tuan jutek, kesayangan mereka. Dari tadi mereka telah membagi tugas, Nikita dan Rena mendapat tugas untuk mendekorasi rumah sedangkan Sarah mempersiapkan kue ulang tahun untuk Arsen.


Mereka melakukan tugas mereka masing-masing dengan semangat. Sarah telah selesai membuat kue ulang tahun untuk suaminya. Dia pun bergegas keluar membawa kue hasil mahakaryanya itu, sekaligus melihat bagaimana dengan tugas tetangganya. Mata Sarah terbelalak saat melihat hasil dekorasi Nikita dan Rena.


“Hei ini yang ulang tahun Ar atau Ale,” protes Sarah kedua tangannya membawa kue ulang tahun, sambil melihat dekorasi ruangan dipenuhi balon dan pita seperti perayaan ulang tahun anak kecil.


Nikita mendengus mendengar Sarah. "Ara ini keren tahu,” ucap Nikita menatap bangga hasil mahakarya.


“Iya udah bagus banget kok,” tambah Rena yang kali ini kompak dengan Nikita.


“Baiklah, semua sudah selesai tinggal menunggunya pulang,” ucap Sarah antusias kemudian meletakkan kue ulang tahun di meja.


Hari ini adalah hari ulang tahun Tuan Arsen momen pertambahan usia yang selalu diadakan secara mewah dan megah oleh keluarga besarnya. Tahun ini tuan Arsen tidak akan mendapatkan pesta mewah dan kado mahal seperti biasanya, dia hanya akan di dampingi oleh orang yang di cintainya dan tetangga pengganggu untuk merayakan hari spesialnya.


Semua telah siap, tinggal menunggu ke datang Arsen dari tempat kerjanya, demi mempersiapkan kejutan ulang tahun ini, Sarah dan Nikita memilih absen dari pekerjaannya, untuk mempersiapkan bersama-sama, bahkan Ale pun turut meniup balon untuk menghias rumah.


Tak beberapa lama kemudian suara motor berhenti di depan rumah, mereka telah tahu itu pasti Arsen, mereka mulai bersiaga berkumpul di depan pintu untuk mengejutkan Arsen.


Arsen baru saja pulang, setelah menjalani pekerjaannya sebagai seorang fotografer. Ia mengeryitkan dahinya, melihat suasana rumah kontrakan yang sepi, namun kemudian tetap berjalan, hingga meraih handle pintu lalu mendorongnya. Pemuda tampan ini tersentak saat mendengar teriakan nyaring tepat saat ia masuk ke dalam rumah.


"Surprise … Selamat ulang tahun,” teriak mereka kompak mengagetkan Arsen.


Sejenak Arsen membatu akibat terkejut, jantung serasa akan jatuh akibat teriakan mereka.


“Kalian,” ucap Arsen memegelus dadanya, melihat tetangga menyebalkan berkumpul di hadapannya.


Pemuda ini berdiri mematung bola matanya berputar, menatap sekeliling isi rumah yang dihias dengan pita dan Balon. Arsen menarik dua sudut bibirnya, perasaannya diliputi oleh keharuan akan orang yang perhatian padanya dan berkumpul untuk ulang tahunnya.


“Kenapa diam saja ganteng, lagi ulang tahun juga.” Rena membuyarkan lamunan Arsen.

__ADS_1


“Ayo duduk.” Sarah mengarahkan tubuh Arsen untuk duduk di depan meja yang di atasnya telah terletak kue ulang tahun spesial buatan Sarah, mereka pun ikut duduk dengan posisi mengelilingi meja.


Arsen duduk di depan kuenya menatap dengan tatapan kagum. Ia merasa sangat bahagia merayakan pertambahan usia dengan mereka yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Walau pun sangat menyebalkan.


Melihat pemuda ini hanya diam saja membuat Sarah mengira jika suaminya, tak suka dengan kejutan yang ia siapkan. “Ar kamu kenapa kamu nggak suka ya?” tanya Sarah yang melihat dari tadi Arsen hanya diam tanpa kata.


“Enggak aku suka banget dengan kejutan ini. Aku kira kamu ngak ingat dengan ulang tahunku.” Arsen terharu dengan apa yang telah dilakukan Sarah untuknya, ingin rasanya ia memeluknya saking senangnya akan perlakuan manis istrinya.


“Sudah berdoa dulu.” Sarah menyalahkan lilin lalu menyuruh Arsen meminta akan harapannya.


Arsen kemudian menutup matanya mengucapkan doa dan harapan di pertambahan usianya dan hanya satu doa yang selalu terpanjat ia ingin selalu bersama orang yang sangat ia cintai tidak akan berpisah untuk selamanya.


“Aku hanya ingin hidup bahagia selamanya bersama Sarah hingga maut memisahkan,” batin Arsen.


Tak beberapa lama setelah berdoa Arsen membuka matanya lalu meniup lilin di atas kue.


“Hore ....” tepuk tangan keras dari tetangga pengganggu terutama anak kecil yang berada di tengah mereka Ale.


Rena menatap Arsen dengan tatapan menggoda. “Ganteng berdoa apa sih? Minta punya anak ya,” celetuk mami Rena membuat wajah Sarah seketika memanas dan Arsen pun tersipu malu salah tingkah dibuatnya.


“Iya Mi, mereka itu udah cocok banget punya anak,” tambah Nikita.


“Ia. Aku mau punya anak yang banyak,” ujar Arsen membalas ucapan mereka.


Arsen dan Sarah saling pandang wajah mereka memerah, mencoba membaca raut wajah masing-masing, mendengar candaan anak dalam rumah tangga mereka, hingga tatapan menghanyutkan itu terhenti.


“Ale mau makan kue ulang tahunnya.” Sarah kemudian memotong kue itu lalu membaginya, mereka mencicipi kue ulang tahun buatan Sarah.


Rena mendekat ke arah Arsen untuk memberi ucapan selamat. Seperti biasa ia akan bertingkah genit jika berdekatan dengan pemuda ini.


“Selamat ulang tahun yah ganteng, semoga sehat selalu dan sukses terus. Maaf mami ngak ngasih kado, uang kreditan daster lagi mandek, orang lagi pada malas bayar,” ucap Rena diiringi dengan doa yang tulus.


Nikita pun ikut mendekat. “Selamat ulang tahun Ar, semoga panjang umur dan semua doamu terkabul. Sorry juga, aku juga ngak ngasih kamu kado. Honor manggung belum cair,” ucap Nikita sambil tersenyum nyengir.


Arsen mendengus memutar bola mata mendengar alasan lucu mereka yang tidak memberi kado, lalu tersenyum lembut pada tetangga menyebalkan yang selalu menyusahkannya. Terharu mereka ikut andil dalam perayaan ulang tahunnya, membuat pertambahan usianya kali terasa sangat spesial.


“Terima kasih atas semua doa kalian,” ucap Arsen dengan tulus hatinya terasa menghangat dengan perlakuan tetangganya.


“Sama-sama ganteng.” Kompak dua wanita menyebalkan itu lalu mereka saling pandang, menaik turunkan alisnya mereka tersenyum penuh arti melihat tuan jutek bersikap manis padanya.


“Karena kamu ulang tahun, traktirannya dong,” ucap Rena santai kembali menjadi tetangga yang menyebalkan.


“Ia kita akan malam di luar, di tempat yang mahal,” timpal Nikita

__ADS_1


Arsen membulatkan matanya ternyata mereka masih sangat menyebalkan. “Kalian ini memang ngak bisa dikasih hati, baru saja aku terharu dengan doa kalian. Ternyata kalian cuma ngarap traktiran,” sembur Arsen berdecak kesal, tak lama kembali tersenyum pada tetangganya. “Baiklah karena hatiku lagi senang, ayo kita pergi.” Arsen menyetujui permintaan tetangganya


“Hore ....” kompak mereka lompat-lompat mendengar kata traktiran.


“Kami akan pulang, ganti baju dulu.” Nikita berjalan ke arah pintu keluar.


“Ayo Ale kita pulang ganti baju yang keren, kita mau makan-makan gratis!” panggil Rena dengan semangat mengajak anaknya untuk pulang.


“Dasar makan gratis saja cepat banget,” oceh Arsen melihat tingkah dua perempuan yang selalu sukses membuatnya kesal.


Tetangga pengganggu itu telah pergi meninggalkan rumah untuk bersiap jalan-jalan bersama Arsen dan Sarah.


Sarah duduk di samping Arsen sampai saat ini ia belum mengucapkan selamat pada suaminya. “Ar selamat ulang tahun, maaf jika aku hanya bisa menyiapkan kejutan sederhana seperti ini, tidak seperti di rumahmu.” Sarah tertunduk sedih sungguh sangat miris melihat perbandingan yang sangat kontras dengan perayaan yang biasa dia dapatkan Arsen. Bahkan sebulan sebelum perayaan ulang tahunnya, pelayan sudah sibuk mempersiapkan.


Arsen meraih tangan Sarah menggenggamnya, seraya menatap dengan tatapan lembut. “Ara kamu tahu, aku tidak pernah peduli dengan ulang tahunku, bagiku itu semua hanya perayaan bisnis yang di hadiri oleh orang asing bagiku, tapi hari ini adalah ulang tahun terbaik untukku. Aku sangat bahagia merayakan ulang tahunku bersamamu dan mereka. walau pun menyebalkan mereka sudah aku anggap sebagai keluarga,” jelas Arsen mengenai perasaan senang akan perayaan ulang tahun sederhana.


“Ara terima kasih atas segalanya, menikah denganmu adalah berkah bagiku, kebahagiaan ini tidak pernah aku rasakan, semua keinginanku telah aku dapatkan, kau di sini bersamaku. Aku hidup dengan pekerjaan yang aku suka, merasakan kehangatan keluarga bersama tetangga penganggu, dan membuat kehidupanku berarti dengan menjaga kalian berempat, hanya satu yang belum aku punya ....” ucap Arsen panjang lebar kemudian menggantung ucapannya membuat Sarah menjadi penasaran.


“Apa Ar?” tanya Sarah dengan memasang wajah penasaran menatap wajah tampan Arsen yang tersenyum menawan padanya.


“Anak ....” ucapnya menggoda Sarah, seraya mengerlingkan mata, teringat dengan ocehan dua wanita itu.


Wajah Sarah seketika menjadi panas lalu memerah karena mendengar ucapan suaminya, jantungnya kembali berdebar tak karuan. Sarah kemudian berdiri berniat untuk meninggalkan Arsen agar rasa gugupnya menghilang namun dengan cepat Arsen menangkap tangan istrinya, lalu menariknya, hingga Sarah kembali duduk di sampingnya. Tidak melepas cekalan tangannya di lengah Sarah agar tidak pergi lagi .


“Ar, kita akan jalan-jalan dengan mereka, aku mau siap-siap dulu,” alibi Sarah agar bisa menghindari suaminya, mengibaskan tangannya agar cekalan tangan Arsen terlepas.


“Ara mana kado ulang tahunku?” tanya Arsen dengan senyum menggoda, masih memegang tangan Sarah.


“Kado,” ucap Sarah mengernyitkan alisnya. Ia juga tak menyiapkan kado untuk Arsen.


"Ia, kado untukku."


“Aku ngak punya kado untukmu. Aku tidak tahu, apa yang harus kuberikan padamu, kau terbiasa menerima kado mahal, sedangkan aku tidak punya uang untuk membelikanmu kado yang mahal,” ucap Sarah tertunduk merasa bersalah karena tak bisa menyiapkan kado terbaik untuk Arsen.


“Aku tidak butuh yang mahal darimu, kado yang aku minta ini tidak memakai uang sepeser pun,” jelas Arsen menatap lembut wajah istrinya.


“Apa itu?” tanya Sarah menarik garis senyumnya, lega mendengar kado yang diinginkan Arsen, tak akan mengeluarkan uang sepeser pun hingga tabungannya menjadi aman.


Arsen mendekatkan wajahnya, ke arah telinga Sarah lalu membisikan kata lembut di telinga gadis yang ia cintai itu. “Aku ingin dirimu,” bisik Arsen lembut hingga deru napasnya terasa di menggelitik membuat tubuh Sarah meremang.


Sarah seketika mendongak menatap Arsen. “Maksud kamu?” tanya pelan Sarah tak mengerti maksud ucapan suaminya.


Arsen kembali mendekatkan wajahnya di telinga Sarah kembali berbisik.

__ADS_1


“Bisakah aku meminta kado ulang tahun darimu, yaitu meminta hakku sebagai suamimu.”


Tubuh Sarah seketika membeku karena ucapan Arsen, detak jantungnya semakin menggila, dengan susah payah ia menelan salivanya mendengar permintaan seorang suami pada istrinya.


__ADS_2