CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
pelukan


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat Arsen dan Sarah menjalani rumah tangga dengan damai sejak insiden Arsen menciumnya, gadis cantik ini sudah tidak pernah menyuruhnya untuk pergi lagi bersama orang tua, membuat Arsen semakin merasa nyaman menjalani kehidupan rumah tangganya. Walau pun ia belum mendapatkan hati gadis yang ia cintai, namun menjadi teman dekat dan sudah tak mendapatkan perempuan itu mengacuhkannya sudah membuatnya senang.


Arsen menjalani rumah tangga dengan prinsip bekerja sama. Ia tak pernah membebankan semua pekerjaan rumah pada istrinya. Walau itu merupakan tugas seorang istri, tapi mereka membaginya. Seperti saat pasangan ini melalui hari dengan mengurus rumah, Sarah sedang membersihkan rumah sedangkan Arsen baru saja selesai mencuci pakaian, membantu meringankan tugas istrinya. Setiap hari ia selalu belajar keterampilan mengurus rumah.


Arsen tinggal mengerjakan langkah terakhir dalam mencuci pakaian yaitu menjemurnya, pemuda tampan ini berjalan ke belakang rumah membawa ember berisi pakaian yang telah dia cuci.


“Sudah Ar?” tanya Sarah berjalan mendekat ke arah Arsen kemudian berdiri di samping pemuda yang meletakkan ember ke bawah siap menjemur.


“Biar aku saja,” sosor Sarah maju kemudian meraih di ember pakaian siap menggantungnya.


“Nggak usah Ra biar aku,” tolak Arsen tak mau menerima bantuan dari istrinya bersikeras untuk mengerjakan sendiri.


“Udah kamu masuk saja biar aku yang jemur. Kamu kan sudah nyuci giliran aku yang menjemur," kekeh Sarah tak tega melihat Arsen mengerjakan pekerjaan rumah.


“Tapi Ra,” protes Arsen.


“Udah masuk sana biar aku yang selesaikan.”


“Baiklah aku masuk.” Arsen mengalah dan memilih untuk masuk membiarkan Sarah menyelesaikan sisa pekerjaannya.


Sarah selalu saja iba melihat Arsen mengerjakan pekerjaan rumah namun pemuda itu selalu bersikeras untuk melakukannya, terkadang dia merasa sedih Arsen mengerjakan pekerjaan yang tak pernah ia lakukan demi berusaha menyenangkan dan meringankan bebannya.


Semakin hari Sarah pun mulai melupakan kesalahan Arsen, mulai menerima pemuda ini sebagai teman. Toh sebenarnya hubungannya dengan Arsen selama empat tahun terakhir sangat baik, saat berpisah dengan Bian, pemuda ini yang selalu mendampingi. Arsen sangat perhatian padanya dan ia melihat ketulusan dan kebaikan dari pemuda itu, hanya satu kesalahan yang membuatnya terlihat buruk yaitu mengambil mahkota kebanggaannya sebagai seorang gadis yang menjaga kesucian.


Arsen duduk di sofa bersandar nyaman setelah menyelesaikan misi membantu istri tercinta mencuci pakaian. Sebisa mungkin dia akan selalu membantu dan tak menjadi beban bagi Sarah.


Sayur … Sayur ....Suara teriakan dari luar terdengar hingga ke dalam rumah membuat pemuda ini menegakkan tubuhnya. Arsen sudah mulai paham dengan lingkungan, jika pagi hari maka tukang sayur akan singgah di depan rumah. Di sanalah banyak ibu-ibu berkumpul untuk membicarakan sesuatu tak jelas, bergosip tentang kehidupan orang lain.


“Ra, ada tukang sayur,” teriak heboh Nikita dari balik pintu rumah membuat Arsen memutar bola mata malas sangat anti dengan wanita genit itu.


Arsen berdiri beranjak menemui Sarah yang menjemur di belakang rumah, pasti tak mendengar teriakan Nikita.


“Ra, ada penjual sayur tuh di depan.” Arsen memberikan informasi menatap Sarah yang lagi memeras pakaian.


“Kamu aja yang keluar, aku lagi tanggung nih,” pinta Sarah sibuk menggantung pakaian yang basah.


“Aku Ra." ulang pemuda ini seakan tak percaya dengan tugas yang baru di berikan oleh istrinya. "Disana kan banyak ada ibu-ibu.” Pemuda ini bergidik.


perempuan cantik ini mengalihkan pandangannya pada Arsen. “Bentar aja bilang beli ayam terus sayur kangkung,  tolonglah Ar,” pinta Sarah dengan tatapan memohon.


“ Ra ….”


“Sudah cepat nanti keburu pergi. Aku tanggung banget ini, tinggal dikit lagi.” Sarah mengantung pakaian basah.


Arsen menghela napas berat. “Baiklah,” ucap Arsen dengan pasrah berjalan tertunduk keluar dengan langkah berat kembali menjalani tantangan pertama untuk berhadapan dengan para ibu-ibu heboh.


Sarah menarik sudut bibirnya. “Sekali-kali itu anak sultan di kasih makan kangkung,” batinnya.


Pemuda ini membuka sedikit pintu mengamati arah kerumunan yang ternyata ada dua wanita genit di sana sangat ia kenal,

__ADS_1


“Aduh ada pemilik rumah sama Niki lagi, lebih baik aku tunggu mereka pergi, batin Arsen mengamati pergerakan itu.


Tak lama setelah menunggu si pemilik rumah dan Nikita pergi ia pun keluar.


Arsen telah berada di luar rumah sorot matanya menatap gerobak sayur di kelilingi oleh beberapa perempuan. Pemuda tampan ini menarik nafas panjang, ini pasti bukan hal yang mudah, ini merupakan pengalaman pertamanya. Ia pun mendekat berharap mereka bukan perempuan yang mirip dengan Nikita dan pemilik rumah.


Arsen telah berada di samping gerobak berhadapan dengan penjual sayur  yang masih sibuk melayani pembeli.


“Emm ….” Arsen berdehem agar perhatian penjual sayur teralihkan padanya.


Perempuan penjual itu pun berbalik.


“Beli ap ….” Penjual itu tak melanjutkan kata-katanya tercengang melihat wajah tampan Arsen.


“Ya tuhan, ganteng banget!” Perempuan itu menutup mulutnya berdecak kagum melihat pemuda tampan berdiri di hadapannya. Ibu-ibu lain pun tak kalah terpukaunya melihat Arsen.


“Ah ….  Sial Kenapa aku tidak menggunakan masker tadi, aku lupa banget menutup wajahku,” gumam Arsen yang mulai menyadari jika penjual dan semua orang di sini, akan sama saja dengan dua wanita heboh itu Nikita dan pemilik rumah.


Selama ini Arsen selalu mengenakan masker saat keluar rumah, untuk menutupi wajah tampannya yang mencolok dan tak ingin di kenali sebagai tuan Arsen dan kali ini dia mengutuki dirinya lupa memakai masker.


“Beli ayam dan sayur kangkung,” ucap Arsen cepat langsung menyodorkan uang serta mengalihkan wajah agar penjual itu tak memperhatikannya terus.


“Ayam ya," ucapnya masih terpukau menikmati wajah tampan yang ada dihadapannya, tak lagi menghiraukan ibu-ibu yang telah datang lebih dulu.


Penjual ini melemparkan senyum paling manisnya, berucap dengan manja. “Ayam ya ... yang dada atau paha?” tanya penjual perempuan bertingkah genit mengulur waktu untuk menggoda Arsen.


Arsen meringis, kemudian bergidik ngeri melihat tingkah penjual sayur yang bertanya sambil membusungkan dadanya.


“Paha,” ucap Arsen cepat saat melihat penjual itu semakin membusungkan dadanya.


“Paha ya …  paha atas atau paha bawah?” tanya dengan tingkah manja, kembali memberi pilihan membuat Arsen semakin bingung harus memilih apa.


“Pertanyaan apa lagi ini, kenapa hanya membeli ayam sangat sulit seperti ini,” batin Arsen berpikir keras seperti ia akan mengikuti ujian sekolah. Melihat ibu-ibu yang menatapnya tanpa berkedip. 


“Paha bawah.” Arsen memilih dengan asal, ingin cepat terbebas dari ibu-ibu ini.


“Paha yang kiri atau paha kanan?” Kembali memberi pertanyaan.


"Paha kiri atau paha kanan." Pemuda tampan kembali berpikir keras sejenak hingga. "Ah ... sial aku di kerjain tukang sayur genit ini, " batin Arsen ia mulai sadar akan pertanyaan konyol itu, kali ini menjadi murka dan mengerti jika ia telah di kerjai oleh penjual ini.


“Hei ... memang ada bedannya paha ayam yang kiri atau yang kanan!” berang Arsen penjual sayur ini telah membangkitkan sikap jutek yang lama terpendam. “Cepat beri aku apa saja!” murka Arsen.


“Ih galak banget sih ganteng, jangan marah-marah dong,” sahut penjual.


“Ia tunggu sebentar.” Perempuan penjual itu kemudian mulai membungkus pesanan Arsen.


“Ini saya kasih bonus bayam, soalnya aku ngak akan bisa melupakan bayam-bayam dirimu,” gurau penjual sayur itu membuat Arsen mendengus memutar bola mata malas.


Sarah datang menghampiri suaminya yang telah lama pergi tak kunjung kembali. Padahal hanya membeli ayam dan sayur.

__ADS_1


“Kenapa lama Ar?” tanya Sarah ikut bergabung dengan mereka setelah pekerjaannya selesai.


“Ngak apa-apa, Ayo!” ajak Arsen memasang wajah kesal berjalan lebih dulu, dan di ikuti oleh Sarah, belum jauh mereka melangkah suara bisik-bisik dari ibu.


“Oh jadi itu suami Ara, ganteng banget ya, padahal Ara itu kan. Anak yang ibunya janda, namanya Erina yang selalu di goda oleh suami- suami orang di sini, dulu mereka juga tinggal di kontrakan ini, dia itu bukan janda tapi ngak pernah nikah, bisa juga dia punya suami ganteng seperti itu,” bisik kumpulan ibu.


Sarah yang mendengar nama masa lalu ibunya di bahas oleh ibu merasa sangat sedih, air matanya menetes di pipi, kemudian berlari dengan cepat masuk mendahului Arsen yang jalan lebih dulu.


“Ara ....” panggil Arsen saat melihat gadis itu berlari masuk sambil menutup mulutnya dan terdengar terisak, kemudian dengan cepat menyusul.


“Ara kenapa kamu menangis?” tanya Arsen bingung kenapa istrinya tiba-tiba bersedih setelah bertemu dengan kumpulan ibu-ibu di penjual sayur.


Sarah masuk ke dalam kamar hendak menutup pintu namun di cegah oleh Arsen.


“Pergi Ar, aku mau sendiri,” usir Sarah berdiri di belakang pintu kamar memaksa menutup pintu.


Arsen mencoba menerobos masuk tidak akan tenang sebelum mengetahui apa yang terjadi, mendorong pintu dengan keras hingga membuat pintu terbuka, Sarah yang kalah tenaga ini juga terdorong ke belakang, terjatuh duduk di lantai.


“Ara ... maaf,” ucap Arsen panik bergegas menolong Sarah yang terduduk di lantai.


Sarah duduk tertunduk menyembunyikan wajahnya air matanya semakin deras menetes.


“Ara kamu kenapa?” tanya Arsen menghawatirkan keadaan wanita yang di cintainya, berjongkok memegang bahunya, mencoba menatap wajah Sarah yang berlinang air mata.


“Ibuku ....” lirihnya.


“Ada apa dengan ibumu,” tanya Arsen tak mengerti kenapa gadis ini tiba-tiba membahas ibunya.


“Ibuku ... bahkan ia sudah tiada pun orang masih menghinanya, sejak dulu ia terus mendapatkan hinaan, perempuan yang tidak baik. Aku bisa tahan jika aku di hina tapi aku tak tahan jika ada orang yang berkata yang tidak-tidak tentang ibuku,” jelas Sarah terisak sangat sedih mendengar orang membicarakan mendiang ibunya.


Tangan Arsen terkepal, emosinya naik mendengar perihal apa yang di dengarnya oleh Sarah jika, ibu-ibu tengah menjelek-jelekkan tentang ibu Sarah.


“Jadi mereka bicara tidak-tidak tentang ibumu,” murka Arsen kemudian berdiri hendak keluar mendatangi kumpulan ibu-ibu yang telah membuat gadis yang ia cintai bersedih.


“Ar jangan,” cegah Sarah memegang tangan suaminya. “Jangan cari keributan, aku mohon,” pinta Sarah menarik tangan Arsen hingga kembali terduduk.


“Ra ....”


“Aku mohon.”


Arsen membawa tubuh gadis ini ke dalam pelukannya, menenangkannya. “Ibumu perempuan yang hebat dan kuat,” ucap Arsen membuat gadis ini semakin terisak di dalam pelukan Arsen.


“Sudah jangan menangis lagi, aku sangat berterima kasih pada ibumu karena telah melahirkan anak baik, cantik yang sangat aku cintai.” Arsen melepas pelukannya lalu menangkup wajah Sarah menghapus air matanya.


“Ar ... kau lihat kan aku selalu mendapatkan omongan dan cibiran dari orang-orang, begitu juga yang akan kau dapatkan jika terus bersamaku,” jelas Sarah.


Arsen kembali membenamkan tubuh Sarah di dadanya. “Aku tidak peduli dengan omongan orang, aku hanya peduli tentang dirimu. Senyumanmu, kebahagiaanmu, hanya itu yang aku pedulikan, aku tidak suka jika ada orang yang menyakitimu, aku akan selalu melindungimu,” terang Arsen panjang lebar menenangkan Sarah.


Sarah semakin terisak hatinya terasa menghangat mendengar ucapan Arsen, kemudian tanpa sadar tangannya terulur melingkar di pinggang suaminya membalas pelukan Arsen, merengkuh tubuh suaminya erat.

__ADS_1


Deg ... Arsen menarik sudut bibirnya, kemudian mendaratkan kecupan berkali-kali di puncak kepala wanita yang ia di dambakan sekian lama, untuk pertama kalinya wanita di cintai ini membalas sentuhan yang di berikan. Jantung Arsen seakan ingin lompat keluar saking bahagianya, debaran cinta yang selalu ia rasa saat bersama orang yang ia cintai semakin menggila saat Sarah membalas pelukannya.


__ADS_2