CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
menginap


__ADS_3

Usia Arsen tidak lama lagi menginjak 29 tahun, Tinggal beberapa bulan lagi, pemuda tampan nan jutek itu akan merayakan pertambahan usianya. Namun di usia yang matang dan telah menikah, tidak membuatnya berhenti untuk menjalani kehidupan berpindah-pindah demi menyenangkan hati orang tuanya. Ia saja masih menjadi perebutan Wina dan Wisnu, karena anak tunggal itulah ia masih menjalankan kehidupan seminggu bersama mamanya dan seminggu lagi bersama papanya.


Seperti pagi ini giliran Arsen tinggal bersama dengan Wisnu telah beberapa hari, mereka sedang berada di ruang makan sedang sarapan bersama. Suasana hening hanya dentingan sendok yang terdengar. Wisnu menatap wajah tampan putranya yang terlihat tidak bersemangat.


“Papa dengar kau bertengkar lagi dengan mamamu!?” tanya Wisnu memecah keheningan, Wisnu ini selalu mendapat informasi akurat dari Wina, karena mantan istrinya sendiri yang menyuruhnya membujuk Arsen.


Arsen menghembuskan napas kasar mengingat kembali kejadian kemarin bersama mamanya, ia mengalihkan pandangannya dari menu sarapannya menatap papanya.


“Dia selalu memaksaku untuk menikah. Aku tidak mau!” ucap pemuda tampan ini dengan nada malas.


“Kau harus punya pendamping Ar, sudah saatnya kami menimang cucu. Kamu putra kami satu-satunya. Kamu harapan kami,”  jelas Wisnu menatap putranya yang telah berpenampilan rapi siap untuk ke kantor, kali ia mendukung sikap mantan istrinya setelah melihat kehidupan Arsen yang selalu sendiri tanpa pendamping


“Pa, tolong jangan bahas pernikahan lagi.” Arsen memasang wajah masam tidak suka jika menyinggung masalah pernikahan membuat hatinya sakit terkenang akan hubungannya yang gagal. Ia merasa trauma menjalin hubungan.


“Ini sudah dua tahun Ar dan Papa yakin kamu belum melupakannya. Kembalilah padanya.” Wisnu menatap iba pada Arsen mengingatkan, ia tahu jika putranya masih sangat mencintai Sarah istrinya.


“Aku sudah tidak peduli dengannya. Jangan bahas dia lagi!” Arsen berdecak kesal tidak mamanya, papanya semua orang membahas pernikahan untuknya.


“Kembali padanya, dia tidak akan pernah menghargai cintaiku, semua telah kulakukan demi dirinya, dia akan tetap pergi, dia tidak tahu bagaimana menderitanya aku merindukannya dan saat ini aku telah terbiasa tanpanya,” batin Arsen dengan patah hati dan putus asa.


Suasana kembali hening Wisnu terdiam ia tidak akan memaksa keinginan Arsen, ia mengerti perasaan putranya yang sama sepertinya jika telah jatuh cinta akan sulit melupakan perempuan itu sama dengan perasaannya pada Erina bahkan walau ia telah tiada ia masih menyimpan perasaan pada istrinya.


Arsen menangkup sendok dan garpu di piring lalu menenggak minuman tanda ia telah selesai dengan sarapannya, ia hendak berangkat ke kantor.


“Ar pergi kantor dulu Pa,” pamit Arsen berdiri dari duduknya menyudahi pembicaraan tentang pernikahan.


“Hati-hati. Papa juga hari ini akan ke makam ibumu, ini adalah hari ulang tahunnya,” balas Wisnu dengan wajah sedih. Erina telah lama pergi meninggalkannya namun kesedihan itu masih terus tertancap di hatinya.


“Jangan sedih lagi,” ucap Arsen mengusap punggung papanya saat melihat wajah Wisnu yang selalu sedih jika mengenang mantan istrinya.


*****


Seorang gadis cantik melangkah perlahan menuju sebuah tempat yang tampak terlihat banyak gundukan dengan batu nisan berjejer rapi. Gadis dengan bunga di tangan ini menyusuri setiap makam, hingga langkahnya terhenti di sebuah makan, ia pun berjongkok, meletakkan bunga yang ia bawa.


“Ibu, ini Ara,” ucap gadis cantik ini dengan suara bergetar mengusap nisan makan menatap dengan senyuman lembut, namun mata-matanya tampak berkaca-kaca.


“Maaf Bu Ara baru kemari, setelah beberapa tahun,” lirihnya dengan air mata siap menetes, semenjak ia menikah ia tidak pernah lagi ke makan ibunya.


“Maaf, Ara bukan ngak berbakti. Tapi, sebenarnya Ara malu datang ke sini.” Sarah tertunduk bahunya terlihat bergetar menahan tangis.


“Karena Ara hanya datang sendiri. Ara tidak bersama dengan Bian, laki-laki pilihan ibu siapkan dulu. Aku tidak menikah dengannya Bu.” Setetes air mata itu akhirnya jatuh membasahi makam Sarah merasa tidak menjadi anak tidak berguna karena tidak menikah dengan pemuda amanat ibunya.


“Maaf Bu ... aku anak yang tidak berbakti, aku malah menikah dengan Arsen, anak tirimu. Ibu pasti kecewa kan padaku,” ungkap Sarah berbicara seolah ibunya mendengar semua keluh kesahnya, cairan bening terus membasahi pipinya.


“Tapi, seperti yang ibu liat, walau telah menikah aku tetap datang kemari sendirian, aku tidak membawanya karena kami telah berpisah. Ia bu nasibku memang buruk, aku tetap sendiri tidak ada Bian atau Arsen di sampingku. Aku sendirian Bu, kenapa ibu meninggalkanku sendirian,” ungkap Sarah merasakan hati yang sesak tidak ada kebahagiaan dalam hidupnya.


Sarah terus menangis mengeluarkan isi hatinya menceritakan semua kejadian dalam hidupnya selama dua tahun ini, bagaimana ia jatuh bangun melupakan perasaannya pada suaminya.


Sarah menghapus air mata yang membasahi pipinya, ia hendak meninggalkan tempat itu.


“Ibu Ara pulang dulu. Ara akan sering-sering datang ke sini,” Sarah berdiri sekali menatap makan ibunya.

__ADS_1


“Ara kamu di sini sayang!”


Suara laki-laki itu terdengar jelas di telinga Sarah, membuat gadis cantik ini berbalik, ia tertegun melihat pria paruh baya itu berdiri di belakangnya.


“Papa,” sapa Sarah menampilkan senyumannya, sorot matanya tersirat jika ia sangat merindukan laki-laki yang sudah dia anggap sebagai orang tuannya.


Sarah berhambur masuk ke dalam pelukan Wisnu. Ia sangat merindukan kehangatan ini.


“Bagaimana kabarmu sayang?” tanya Wisnu memeluk serta mengusap rambut putri dari orang yang ia cintai.


“Ara merindukan Pa.” Sarah kembali tidak bisa membendung laju air matanya seolah mengungkap apa yang telah ia lalui.


“Kamu telah kembali,”


Pelukan itu terlepas, Wisnu lalu memegang tangan Sarah mengarahkan pandangannya pada makam di mana tempat Erina terbaring untuk selamanya.


“Sayang, di sini ada putri kita, dia telah kembali,” ujar Wisnu selama ini ia membiarkan Sarah untuk pergi mencari kebahagiaannya.


“Maaf aku gagal menjaganya untukmu, tapi kali ini aku akan menjaganya dengan baik. Aku bertanggung jawab dengan kebahagiaannya.”


“Ara kamu ikut papa pulangnya,” pinta Wisnu menangkup wajah Sarah melayangkan tatapan memohon pada perempuan cantik ini.


“Pa. Ara ngak bisa,” tolak Sarah jika pulang ke rumah Hutama itu berarti mungkin di sana juga ada pemuda yang dicintainya. Ia takut bertemu dengan Arsen, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan suaminya itu


“Kenapa Ra, kamu putriku, kamu harus pulang sama papa,” paksa Wisnu menarik tangan Sarah untuk meninggalkan makam.


Sarah terdiam tidak melanjutkan langkahnya sungguh ia belum siap bertemu dengan Arsen, walau pun ia sangat merindukannya pemuda jutek itu.


Wisnu menghela napas, mengerti apa maksud perempuan ini dan mengapa ia tidak ingin ikut bersamanya. Sarah pasti sedang menghindari putranya si tuan jutek.


“Ia, ini gilirannya bersama Papa, kau tidak ingin dia tahu kedatanganmu,” jelas Wisnu mengiyakan.


Mendengar Arsen berada di rumah papa tirinya, Sarah semakin menarik tangannya yang di cengkeram oleh Wisnu.


“Baiklah jika kamu tidak ingin bertemu Arsen, papa bisa atur supaya kamu tidak bertemu dengannya. Yang penting kamu pulang bersama papa dulu. Papa sangat ingin mendengar cerita kamu selama ini,” pinta Wisnu akan menghabiskan waktunya bersama Sarah. Ia mengerti bagaimana perasaan Sarah ia pasti belum siap bertemu dengan Arsen.


“Pa.” Sarah masih menolak dan enggan untuk ikut bersama Wisnu


“Lagi pula waktunya bersama dengan papa tinggal dua hari. Dia akan kembali ke rumah mamanya, ayolah sayang papa merindukanmu, temani papa ya,” jelas Wisnu memasang wajah memohon.


“Arsen sedang di kantor, dia akan pulang malam, kalian tidak akan bertemu.”


Sarah akhirnya mengiyakan untuk ikut bersama dengan Wisnu apalagi laki-laki itu telah menjamin dia tidak akan bertemu dengan Arsen.


*****


Sarah dan Wisnu telah sampai di rumah mewah Wisnu, mata gadis ini merotasi menyapu pemandang rumah yang masih saja sama seperti dulu. Wisnu kemudian mengiring Sarah menuju tempat ruang santai di sana mereka akan membicarakan banyak hal.


Mereka telah duduk berdua, mata Sarah masih menyorot keadaan sekitarnya.


“Selama ini bagaimana kehidupanmu?” tanya Wisnu menyesap teh hangat yang di sungguhkan pelayan memulai percakapan santai itu.

__ADS_1


“Baik Pa,” jawab Sarah pelan.


“Apa kamu bahagia?” tanya Wisnu menaruh cangkirnya ke meja kemudian menatap Sarah yang terdiam, ia menunggu jawaban.


“Ar bahagia Pa,” ucapnya pelan menundukkan kepalanya.


“Jangan bohong sayang,” sangkalnya ia bisa melihat jika anak tirinya ini memiliki hidup kurang lebih sama seperti Arsen, di ucapan mengatakan bahagia namun di dalam hati merasakan kehampaan.


Wisnu meraih tangan Sarah. “Kembalilah pada Arsen, dia sangat merindukanmu,” pinta Wisnu dengan nada lembut untuk kehidupan mereka. “Papa akan selalu mendukungmu.”


“Pa, Mamanya tidak akan pernah setuju kami bersama,” jelas Sarah.


“Kali ini Papa akan berdiri di belakangmu. Dulu papa hanya diam kalian terpisah, sekarang tidak lagi, melihat tidak ada yang bahagia di antara kalian setelah perpisahan ini.


“Terima kasih atas dukungan papa. Tapi, kami tidak bisa bersama lagi. Biarlah kami hanya menjadi saudara, Arsen adalah kakak Ara,” ucap Sarah dengan hati miris tersenyum pelik.


Wisnu tersenyum mengusap puncak kepala putri tirinya itu dengan sayang, ia menghormati apa-pun keputusan Sarah.


“Kamu adalah anak dari perempuan yang papa cintai, istriku Erina. Aku akan selalu mendukung untuk kebahagiaanmu. Apa-pun keinginanmu.”


“Tapi sekarang papa lebih ingin kau menjadi anak menantu Hutama dari pada anak tiri, karena kebahagiaan Arsen hanya padamu, yang ia butuhkan istrinya sangat menyakitkan baginya jika kamu hanya menjadi adiknya,” jelas Wisnu penuh pengharapan.


Sarah tertegun ia juga tidak bisa berkata apa-pun dengan apa yang di inginkan Wisnu.


“Tinggallah lebih lama lagi di sini, temani papa.” Wisnu mengalihkan pembicaraan.


“Ara harus kembali Pa, banyak yang harus Ara kerjakan,” tolaknya ia takut jika ia tinggal maka ia akan bertemu dengan Arsen.


“Kapan kau akan kembali?” tanya Wisnu.


“Besok setelah menonton film pertama sahabatku Nikita aku ingin bertemu dengannya,” jelas Sarah alasannya kembali ke kota ini selain memperingati kelahiran ibunya juga karena ingin menyaksikan karya sahabatnya yang telah sukses sekaligus bertemu dengan gadis centil itu.


“Oh, gadis yang sering di katakan media pacar Arsen.” Wisnu tahu tentang Nikita dari cerita Arsen yang mengatakan jika ia hanya membantu gadis itu.


Sarah mengangguk perlahan ia tidak menyangka jika Nikita telah berhasil mendapatkan popularitas berkat nama suaminya


“Kenapa kamu cepat sekali mau kembali, kamu tahu semenjak Arsen memegang perusahaan, papa kesepian tidak memiliki pekerjaan lagi. Temanin papa, tinggallah seminggu lagi, sampai Arsen kembali dari rumah mamanya,” pinta Wisnu penuh harap ingin menghabiskan waktu bersama Sarah.


Sarah terdiam sejenak melihat laki-laki ini tinggal di rumah besar ini sendirian membuatnya menjadi iba, lagi pula di rumah ini tidak ada pemuda yang sedang ia hindari, jadi biarlah ia di sini lebih lama lagi bersama laki-laki yang di cintai ibunya.


“Arsen masih dua hari berada di rumah ini, itu berarti aku akan tinggal satu atap bersamanya selama dua hari, bagaimana jika ketahuan, tapi papa pasti kesepian tidak memiliki teman ngobrol,” batin Sarah menimbang permintaan wisnu


“Baiklah Ara akan tinggal seminggu lagi bersama Papa.” Sarah menarik sudut bibirnya mengiyakan.


“Semoga aku tidak bertemu dengannya, hingga aku kembali,” batin Sarah menghembuskan napas pelan.


Sarah akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah papa tirinya lebih lama lagi, besok ia akan merencanakan untuk bertemu dengan sahabatnya yang tidak pernah ia temui selama dua tahun yaitu sang artis besar Nikita Milly.


 


 

__ADS_1


__ADS_2