
Mentari pagi telah bersinar setiap insan siap menyambut hari dengan penuh semangat. Di kamar seorang pemuda tampan berdiri di depan cermin mentap pantulan dirinya yang penuh dengan pesona. Sempurna itulah kata tepat menggambarkan penampilannya saat ini. Senyum terus tertanam di wajah Arsen, hari ini dia akan meninggalkan rumah mamanya dan menuju ke rumah Hutama, di mana tempat pujaan hatinya berada.
Selama satu minggu Arsen akan berada di rumah Hutama itu berarti, selama itu dia bisa berdekatan dengan Sarah. Selama ini ia hanya memperhatikan dari jarak jauh saat mereka telah berada di kampus.
Arsen turun ke lantai bawah dengan wajah ceria dan hati yang berbunga sambil bersiul riang.
“Pagi ma,” sapa Arsen saat telah berada di meja makan tempat dimana keberadaan mamanya. Pemuda itu kemudian mendekat kemudian mengecup lembut pipi wanita yang telah melahirkannya.
“Pagi sayang,” balas Wina ikut tersenyum melihat wajah berseri putranya. “Tumben kamu ceria banget sayang, memangnya ada apa? Padahal ini kan hari terakhir kamu bersama mama. Selama seminggu kamu akan tinggal sama papa kamu.” Tatapan Wina berubah heran atas perubahan sifat putranya.
“Ngak ada apa-apa ma,” kilah Arsen mendaratkan tubuhnya duduk di kursi.
“Ar, sekarang mama liat kamu senang banget tinggal sama ibu tirimu,” cibir Wina menatap tajam. “Kamu sudah sayang dan perhatian ya, ke ibu tirumu itu,” tuduh Wina tertunduk lesu.
“Ma ....” Arsen meraih tangan ibunya memegangnya.
“Kemarin kamu menginap dua hari di sana, saat giliran kamu tinggal sama mama,” ucap Wina matanya mulai berkaca-kaca rasa takut atas kebencian Arsen yang akan memudar pada ibu tirinya. Sebab melihat gelagat aneh putranya. Jika dulu Arsen selalu tak bersemangat bila ke rumah papanya, berbeda dengan saat ini Arsen dengan suka rela datang walau bukan waktunya.
“Ma, kemarin Ar, ada urusan penting di rumah papa,” alibi Arsen bangun dari kursi merangkul bahu mamanya menenangkan wanita yang raut wajah bersedih. Ia mengerti ketakutan mamanya.
“Ingat Ar, wanita itu yang telah mengahancurkan kebahagian keluarga kita. Jangan beri hati padanya dan jangan peduli, apalagi merasa kasian. Teruslah membencinya dan mengingatkan posisinya sebagai wanita penghancur tumah tangga.” Wina menamkan kebencian pada putranya sama seperti yang selalu ia lakukan.
__ADS_1
“Mama takut Ar. kamu juga akan meninggalkan mama sama seperti papa kamu,” jelas Wina meneteskan air mata atas kekhawatirannya selama ini. Sebab jika Asen telah berpaling ia akan sendiri tanpa ada dukungan lagi.
Arsen menarik napas panjang menangkup wajah Wina mengusap air mata dengan ibu jarinya. “Ar akan terus sayang sama mama, aku ngak akan ninggalin mama.”
“Benar kamu ngak akan ninggalin mama?” tanya Wina.
Arsen mengangguk perlahan pada mamanya mencoba menarik sudut bibirnya memaksakan senyuman. Keceriaan pemuda ini berubah saat mendapatkan doktrin dari Wina untuk membenci ibu tirinya. Pesan yang telah ia dengar selama tiga tahun.
“Maafkan Ar ma. Aku telah mengecewakan mama, aku telah jatuh cinta pada putrinya,” batin Arsen merasa bersalah pada mamanya, ia seperti sedang menghianati ibu kandungnya sendiri.
“Ar ke kampus dulu ma,” pamit Arsen.
“Ngak ma, Ar langsung ke kampus saja.” Arsen mencium kening ibunya lalu berajak pergi menginggalkan mamanya dengan perasaan bersalah.
Arsen mengendarai mobil sport mewahnya dengan kecepatan sedang memikiran peringatan ibunya.
"Kenapa ini sangat rumit, Mama pasti ngak setuju jika aku bersamanya. Tapi aku tak bisa mengabaikan hatiku. Perasaanku ini tumbuh begitu saja dan tidak bisa aku kendalikan. Maafkan aku Ma. Aku telah menghianati kepercayaan mama. Aku telah membuat kesalahan besar, aku mencintai anak musuhmu, anak yang telah dari perpuan yang menghancurkan keluarga kita, kebencianku yang besar menjadi boomerang, telah berbalik menjadi cinta, aku tidak bisa mundur, dia cinta pertamaku dan aku akan mengejarnya,” gumam Arsen.
*****
Matahari telah naik Arsen bergegas pulang setelah mata kuliahnya telah selesai. Ia telah tak sabar untuk bertemu dengan Sarah, membayangkan berdekat dengan Sarah saja sudah membuat hatinya berbunga. Arsen tak menghiraukan nasehat dan pesan kebencian ibu kandungnya.
__ADS_1
Arsen telah mengendarai mobilnya meninggalkan parkiran. Belum beberapa saat memacu, pandangan Arsen tertuju pada sosok gadis cantik yang berdiri di samping gerbang kampus. Sudut bibir Arsen tertarik, cepat menepikan mobilnya kemudian turun hendak menghampiri dan mengajak Sarah untuk pulang bersamanya dengan begitu ia bisa dekat dengan sang pujaan hati.
Arsen melangkah mendekat menuju ke arah gadis itu, namun tinggal beberapa langkah lagi. Kaki Arsen terhenti saat melihat sebuah motor sport berhenti di depan Sarah. Arsen mengenali pemuda itu dengan baik siapa orang yang mengendarai kendaran itu.
“Bian,” sapa Sarah tersenyum lembut.
“Udah lama nunggu ya. Maaf tadi lagi nemenin ibu belanja,” tanya Bian mematikan mesin motornya dan di balas dengan geleng kepala dari gadis itu. Sarah kemudian mendekat pada Bian.
“Kasian banget sayang aku, sampe keringatan gini nunggunya,” ucap Bian dengan lembut lalu mengusap keringat yang bercucuran di dahi Sarah dengan lengan bajunya. Setelah itu berganti mengelus puncak kepala Sarah, membuat wajah Sarah merah merona menerima perhatian Bian.
“Ngak apa-apa Ian. Aku akan selalu menunggu kamu sampai kapan pun,” ucap Sarah tertunduk malu menyembunyikan wajah yang merona mencoba romantis. Wajah Bian pun tak kalah sama panasnya lalu mengalihkan pandangannya menyembunyikan rasa senang akan ucapan Sarah.
Entah kenapa setelah melangkah menuju jenjang pacaran mereka jadi terlihat bodoh dan canggung satu sama lain. Begitu indah dan dunia terasa hanya milik mereka. Tak menyadari ada pemuda yang berdiri penuh amarah menatap tajam, dengan pandangan di penuhi kabut kecemburuan dan mendengar semua percakapan mereka. Dua insan ini hanya terlena dengan dunia mereka.
“Beruntung banget. Aku punya pacar kamu. Pengertian banget,” puji Bian mengenakan helm untuk Sarah kemudian mencubit gemas hidung gadis yang baru sehari jadi pacarnya.
“Ayo naik, kita jalan-jalan. Hari ini kencan pertama kita,” ajak Bian bersiap dengan motornya. Sarah lalu naik, Bian meraih tangan Sarah lalu mengarahkan untuk melingkar di pinggang pemuda ini. Sejenak keduanya terdiam, wajah mereka sama memerahnya tersipu malu menahan gejolak dan jantung yang berdebar tak karuan.
Sarah dan Bian pergi meninggalkan tempat itu dengan berbonceng, memeluk mesra pemuda yang menjadi pacarnya, meninggalkan Arsen yang masih berdiri mematung.
Tangan Arsen terkepal dengat erat, rahanganya mengeras. Emosinya naik saat melihat gadis yang ia suka berboncengan dan memeluk pinggang laki-laki lain. Amarahnya semakin menjadi saat mendengar kata sayang dan pacar yang Bian ucapkan pada Sarah. Itu berarti gadis itu telah menjadi milik orang lain. Rasa tak rela menyelimuti relung hati, dadanya terasa sesak untuk merasakan yang namanya patah hati ia bahkan belum memulai menunjukkan cintanya.
__ADS_1