CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
kencan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Arsen, awal dari hubungannya bersama dengan gadis pujaan hatinya. Ia akan berkencan untuk pertama kalinya. Ini adalah pengalaman pertama Arsen berkencan dengan seorang wanita dalam hidupnya. Rasa sakit yang ia rasakan semalam telah hilang akibat semangat kencan yang berkobar di dalam hatinya.


Matahari telah naik mereka telah bersiap untuk pergi. Bayangan indah jalan-jalan berdua selalu terbayang di otak pemuda yang sedang di landa jatuh cinta ini.


Arsen telah rapi menampilkan penampilan terbaiknya untuk kencan pertama. Sarah berdiri dihadapan Arsen menatap kagum pada pemuda yang ketampanannya semakin bersinar karena aura bahagia.


"Ayo Ra," ajak Arsen yang telah menunggu dari tadi kemudian berjalan dengan langkah semangat membuka pintu rumah. Sarah pun ikut berjalan mengekori suami tampannya dari belakang.


Mereka telah berada di dekat motor yang terparkir di depan rumah saat akan naik suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka lalu kompak menatap ke arah sumber suara.


Arsen menarik napas berat melihat seorang gadis cantik yang masih mengenakan baju tidur keluar dari rumah. Membuat semangat Arsen seketika hilang melihatnya. Dia adalah tetangga genit, gadis pengganggu yaitu Nikita. Arsen sudah bisa menebak ini pasti tak akan berlalu dengan mudah dan akan membuatnya menjadi kesal.


"Hai," sapa Nikita tersenyum ceria mendekat ke arah pasangan yang akan kencan itu.


"Hai Nikita," balas Sarah


"Kalian mau ke mana?" tanya Nikita dengan tatapan menyelidik melihat penampilan pasangan ini lebih rapi dari biasanya.


"Jalan-jalan," kata Sarah.


"Kencan," sambar Arsen dengan cepat memasang wajah tertekuk melihat gadis pengganggu yang ada dihadapannya.


"Kencan." ulang Nikita. "Kencan di mana?" tanya Nikita penasaran.


"Ke mall aja," jawab Sarah.


"Itu agak jauh dari sini, kalian akan kesana," jelas Nikita mengenai arah tempat kencan mereka.


"Ia, di sini cuma ada pasar," kata Sarah.


Arsen melipat tangan di dada berdiri memasang wajah masam menunggu Sarah selesai meladeni tetangga pengganggunya.


"Oh ya Ra, kebetulan banget supermarket di mall itu lagi ada promo minyak goreng 2 liter, tolong kamu belikan ya!" ujar Nikita dengan santai, tak menghiraukan wajah Arsen, yang rahangnya sudah hampir jatuh akibat tercengang mendengar kencan pertamanya akan dihiasi oleh titipan minyak goreng dari tetangga pengganggunya.


"Nggak boleh," tolak Arsen dengan cepat emosinya mulai naik.


"Hei! Kami ini akan kencan dan kau dengan tidak tahu dirinya malah nitip minyak goreng promo!" hardik Arsen melihat tingkat tak tahu malu dari tetangga gilanya.


"Ar!" protes Sarah yang melihat emosi suaminya kembali meledak-ledak.


"Kenapa bukan kau saja yang pergi! Beli di Alfa didi sana. Kenapa malah menyusahkan kami, " geram Arsen seakan tanduknya akan keluar.


"Kan sekalian, lagi pula aku lagi nggak enak badan habis kehujanan kemarin."


"Kau ...." geram Arsen maju ingin mencekik leher Nikita yang memasang wajah santai tidak menunjukkan beban sedikit pun, jika ia telah merepotkan orang lain.


"Ar!" protes Sarah menahan tubuh Arsen, kemudian menatap Nikita. "Baiklah kami akan belikan nanti," jelas Sarah tak mau terjadi perdebatan lagi antara suami dan sahabatnya memilih menuruti permintaan Nikita.


"Di sana buah-buahan juga murah Ra. Akhir-akhir ini daya tahan tubuhku lagi melemah, aku lagi butuh banyak vitamin C tolong belikan aku jeruk juga ya, 2 kilo," celetuk Nikita.


"Hei kau ini!" Suara Arsen terhenti saat Sarah mencengkram lengannya tanda ia harus diam.


"Di sana timbangannya lebih pas enggak kayak di pasar. Kurang, dapatnya cuma dikit. Udah gitu disana promo lagi, jadi murah dan bisa dapat banyak," terang Nikita berbinar.


"Kalau mau murah dan dapat banyak. Kenapa kau tidak beli kuaci saja!" cibir Arsen dengan nada dan tatapan sinis kemudian melengos memalingkan pandangannya dari gadis menyebalkan ini.


"Bisa aja sih ganteng, masa aku beli kuaci," goda Nikita mengembangkan senyum lebar kepada Arsen. "Tolong ya Ra," pinta Nikita.


"Ia, nanti kami belikan," kata Sarah.


"Talangin dulu ya Ra, honor manggung belum cair, terima kasih kalian memang tetangga terbaik, ucap Nikita cepat kemudian berlari pergi meninggalkan pasangan itu sambil tertawa puas.


"Dia!" geram Arsen mengangkat kepala tangannya ke arah Nikita yang telah berlari.


Nikita telah pergi meninggalkan mereka, pasangan ini pun bersiap pergi meninggalkan rumah.


"Ayo Ra kita pergi," ajak Arsen hendak naik ke motor namun lagi-lagi terhenti saat melihat anak lelaki berusia 7 tahun berdiri di depan motornya.

__ADS_1


Arsen menghembuskan nafas kasar, frustasi akan kencan pertamanya, baru saja pengganggu pergi sekarang giliran anak si pemilik rumah yang menyebalkan itu muncul.


"Ale, kamu sendiri? Mami kamu mana sayang?" tanya Sarah berjongkok agar menyamai tinggi badan anak lelaki itu.


"Mami lagi keluar sebentar," ucap anak lelaki berwajah menggemaskan itu.


"Kak Ara mau jalan-jalan ya?" tanya Ale yang ternyata dari tadi telah berdiri menguping mendengar ocehan Nikita dengan mereka.


"Ia sayang," kata Sarah mengelus puncak kepala Ale dengan lembut dan sayang.


"Ale boleh ikut nggak?" tanya Ale wajah polosnya terlihat memohon.


Arsen kembali tercengang memikirkan kencannya yang akan gagal total hari ini jika anak kecil ini ikut bersama dengan mereka.


"Nggak boleh," ucap Arsen dengan cepat.


"Ale pingin jalan-jalan juga, Ale ikut ya?" rengek anak kecil ini mengiba membuat Sarah menjadi kasihan serta tak tega melihatnya.


"Ar kasihan, dia sendirian enggak ada yang jagain, bolehlah dia ikut dengan kita," pinta Sarah tak ingin Ale kesepian.


"Nggak bisa! Ara ini itu kencan pertama kita kenapa harus bawa anak kecil ini," protes Arsen memasang wajah malas.


"Kasihan Ar, dia juga ingin ikut jalan-jalan," bujuk Sarah meminta pada suaminya.


"Ale ikut ya," rengek anak ini memelas.


"Nggak bisa, kau tunggu saja mamiku datang," kekeh Arsen.


Anak kecil ini terdiam memasang wajah sedih setelah mendengar penolakan dari Arsen membuatnya menjadi tak tega.


"Ayah ... Ale ikut ya," Rengek anak kecil ini sekali lagi memanggil Arsen dengan sebutan ayah.


Mendengar kata ayah yang keluar dari mulut Ale membuat hati Arsen menghangat terasa sangat indah, ada keharuan dan perasaan bangga menyeruak dalam hatinya.


Arsen menghembuskan nafas kasar memutar bola mata malas." Ya baiklah kau boleh ikut," ucap Arsen kemudian naik ke motor memakai atribut berkendaraa helm dan tak lupa masker untuk menutupi wajahnya, agar tak di kenali. pasrah menerima anak ikut dalam kencan pertamanya.


"Ayo Ale," ajak Sarah membantu Ale naik ke atas motor.


Sarah dan Ale kompak melemparkan tersenyum kepada tuan jutek walau galak ia tetap tak tega meninggalkan anak itu sendirian.


Anak tetangga menyebalkan itu pun ikut dalam kencan pertama mereka.


Mereka bertiga telah sampai ke tempat tujuan, setelah sampai Arsen memarkirkan kendaraanya lalu masuk ke dalam mall yang ada di kota itu. Kencan telah di mulai bayangan akan bergandengan tangan mesra dengan pujaan hati pupus saat sudah, saat anak tetangga hadir di antara mereka membuat tangan itu hanya memegangi tangan kecil milik Ale.


"Wah kak ramai sekali!" oceh Ale tersirat kebahagian di wajah polos anak itu melihat keadaan sekitar.


Arsen memasang wajah masam melihat Sarah lebih dekat dengan Ale dari pada dirinya.


"Ale senang," tanya gadis ini aura bahagia juga terpancar saat melihat anak ini bahagia, membuat Arsen menarik garis sudut bibirnya melihat senyum Ara.


"Ayo kita ke sana Kak." Ale menarik tangan mereka.


Hari ini bukan menjadi kencan pertama bagi Arsen dan Sarah tapi, hari membahagiakan bagi Ale.


Sarah mengajak Ale ke tempat arena permainan, di sana mereka bermain dengan riang, gembira di penuhi canda tawa, Arsen pun larut dalam perasaan senang yang tak pernah ia rasakan, mereka seperti sebuah keluarga bahagia.


Arsen duduk memperhatikan mereka bermain hingga getar ponsel di saku celana terasa.


dret..dret...


Arsen meraih ponsel di saku celanannya, menatap layar yang tertulis nama tetangga menyebalkan yaitu Nikita. dengan wajah malas ia menggeser ikon hijau kemudian menaruh di telinganya.


"Ada apa? Mau titip apa lagi!" tanya Arsen dengan ketus.


"Nggak nitip lagi. Aku cuma mau tanya. Kalian liat lihat Ale nggak dia hilang!" Nikita.


" Hilang ... dia ada, ikut bersama kami." Arsen.

__ADS_1


"Cepat bawa dia pulang maminya nangis-nangis, kirain anaknya di culik." Nikita.


"Hei Kami baru saja sampai dan kami ini sedang kencan!" Arsen


"Coba dengar ibunya menangis." Nikita mengarahkan ponsel ke arah Rena yang menangis.


"hiks..hiks...hiks Ale putraku.. kembalikan putra kesayanganku, hanya dia hartaku satu-satunya, kembalikan putraku." Ratapan menyedihkan terdengar dari Rena menangis bak sinetron di tv.


"Kau dengarkan." Nikita.


"Hei bilang padanya siapa juga yang mau menculik anak seperti itu. penculik juga nggak akan mau walau di tawari. nyusain, makannya banyak lagi, bikin bangkrut penculik," oceh Arsen.


"Cepat pulang ibunya udah kejang-kejang nih, mau pingsan di sini, mau anaknya kembali." Nikita.


"Ia baiklah. Kami pulang." Arsen menghembuskan napas berat mengutuki nasibnya kenapa ia bisa memiliki tetangga menyebalkan seperti mereka.


Arsen berjalan mendekat ke arah Sarah dan Ale lalu memanggilnya untuk pulang.


"Ayo pulang," Ajak Arsen.


"Kok pulang Ar, kita baru saja sampai," protes Sarah agak kecewa.


"Maminya Ale lagi nangis-nangis nyariin anak kesayangannya," jelas Arsen kemudian mengajak mereka untuk pulang.


Kencan pertama Arsen telah berakhir, dinyatakan gagal oleh gangguan tetangga menyebalkannya, mereka bergegas pulang untuk mengembalikan anak kecil yang telah telah ikut bersama mereka dan menjadi penghalang kemesaraan.


****


Arsen, Sarah dan Ale telah sampai di rumah kompak mengarahkan pandangan pada rumah Ale. Manik mata mereka mencari di mana keberadaan ibu yang tadi cemas meratapi nasib anaknya.


"Kalian lama sekali dari tadi maminya menangis," jelas Nikita menghampiri mereka.


"Ale!" teriak Rena membasuh air mata di pipi menghampiri putra yang membuatnya cemas dan menangis. Bak drama sinetron ia berlari ke arah putra tercintanya.


"Ale kamu dari mana saja!" bentak Rena mengeluarkan amarahnya, kemudian membuka sandal jepit yang ia pakai mengarahkan pada Ale


Ale yang telah mengerti kelakuan maminya berlari ke arah mereka bertiga


"Ale jangan lari! Kenapa pergi nggak pamit sama orang tua! kirain kamu di culik, sini mami akan kasih kamu pelajaran," kejar Rena berteriak kencang.


"Ampun Mi," teriak Ale menghindari marah ibunya.


"Dia benar-benar gila ... tadi dia menangis hampir ngin pingsan, karena anaknya tidak ada. Sekali ada ia malah menyelepetnya dengan sandal," Batin Arsen.


Mendengar dan melihat sikap Rena membuat darah Arsen seakan mendidih melihat kelakuan mereka semua yang telah merusak hari kecannya.


"Berhenti Kalian semua!" bentak Arsen suaranya meninggi membuat mereka semua terdiam, wajah Arsen telah memerah menahan amarah.


"Hei kalian semua gila! Bisa tidak kalian tidak menggangu kami, Kalian mengacaukan kencanku!" murka Arsen sangat kesal membentak semua orang yang ada di hadapannya. Sarah hanya diam tak berani menghentikan amarah Arsen.


Arsen menatap tajam ke arah Nikita seakan ingin menelannya bulat-bulat. " Kau Nikita, saat aku akan pergi kencan! Kau dengan tidak tahu dirinya menitip minyak goreng promo padaku!" geram Arsen mengarahkan jari telunjuknya ke arah Nikita.


"Ale kau ikut di kencanku, mengganguku, menjadi orang ketiga. bahkan aku di kira penculik karenamu." Arsen menunjuk ke arah anak kecil itu.


"Dan kau... Aku baru sampai di mall yang jaraknya jauh, demi kecemasanmu aku buru-buru pulang, karena kau menangis khawatir sebab anakmu tidak ada. Demi kau ... aku membatalkan kencanku! mengantar anakmu pulang dan saat anakmu telah berada di depan matamu, kau malah menyelepetnya sandal," ujar Arsen amarahnya sudah sampai di ubun-ubun, memarahi semua pengganggu yang merusak kencan pertamanya dan menjadi pengganggu dalam hidupnya bersama Sarah


"Kalian semua gila dan menyebalkan," bentak Arsen kemudian masuk ke dalam rumah, meninggal mereka yang terdiam. Sarah terdiam mematung melihat amarah Arsen merasa aneh kenapa suaminya itu tiba-tiba melampiaskan amarahnya. Sarah merasa aneh dengan sikap tuan jutek itu, seperti sedang ada yang telah membuat hatinya resah.


Arsen duduk di sofa menarik napasnya berat niatnya untuk membuat gadis yang ia cintai membalas perasaannya selalu gagal dengan kehadiran tetangganya. Kencan pertama yang indah tak ia dapatkan.


Arsen merogoh saku celananya, meraih ponsel kemudian kembali membaca artikel yang tadi telah membuat hatinya tak tenang dan melampiaskan keresahan hatinya dengan marah kepada dua wanita itu. Saat ia menerima telpon dari Nikita tak sengaja ia membaca berita.


Kehilangan CEO penerus perusahaan membuat central dinamika grup mengalami kegoncangan.


Perusahaan mama sedang bermasalah dan goyang saat ini, itu karena tidak ada aku sebagai pemimpin. Mama pasti mencariku dengan berbagai macam cara, agar bisa mendapatkanku. Secepatnya ia akan menemukan dan akan memaksaku untuk pulang bersamanya, aku tidak ingin berpisah dari Sarah, jika aku pulang, dia harus ikut bersamaku. Aku harus bagaimana? Bagaimana aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku dan ikut bersamaku nanti. Jika kami tidak punya waktu berduaan. Sedangkan waktu yang aku punya sangat terbatas," batin Arsen putus asa, takut jika ia harus berpisah dari wanita yang ia cintai.


Yaelah tuan jutek udah ganteng mau kencan malah dapat titipan minyak goreng promo apa ngak kesal.

__ADS_1


__ADS_2