
Arsen telah salah perhitungan ia mengira jika tinggal bersama mamanya dan menjauh dari Sarah. Dia akan denganmu mudah melupakan gadis itu. Namun kenyataannya tak sesuai harapannya. Ia sama sekali tak bisa menghapus sosok Sarah dari pikirannya. Bayangan gadis itu terus menari-nari di ingatan Arsen membuat perasaan rindunya membumbung.
Telah tiga hari Arsen berkurung di dalam kamar, tak bersemangat menjalani hari, mencoba menahan diri agar tidak menemui Sarah. Gadis yang wajahnya telah menjadi candu, bahkan pemuda ini tak pergi ke kampus dan mematikan ponselnya, tak ingin di ganggu. Ia hanya terus termenung begitu mencoba kuat menekan perasaan rindunya. Arsen tidak tahu jika ada seseorang yang mencarinya meminta penjelasan tentang rahasia yang di sembunyikan.
Matahari telah naik sinar hangatnya masuk melalui celah jendela. Arsen menggeliat pelahan saat seorang yang berada dalam kamarnya, membuka tirai gorden membuat mata pemuda tampan ini menjadi silau akibat sinar mentari.
“Ar bangun sayang.” Wina berjalan ke arah ranjang Arsen membangunkan putranya yang telah tiga hari berkurung di dalam kamar. “Ar bangun! Kamu harus kuliah.” Wina menarik selimut yang menutupi badan Arsen, menggoyang-goyangkan tubuh putranya.
“Apaan sih ma, Ar lagi malas ke kampus.” Arsen kembali menarik selimutnya.
“Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu hanya mengurung diri di kamar. Kamu ada masalah? Cerita sama mama. Semenjak kamu bertengkar dengan saudara tirimu di butik kamu jadi pendiam,” Wina mulai tegas terhadap apa yang terjadi pada putranya. Sebagai seorang ibu pasti sangat tahu perubahan yang terjadi pada darah dagingnya.
Arsen membulatkan mata ketika mamanya mencari tahu rahasia yang ia sembunyikan, kemudian dengan cepat bangun dan bangkit duduk di tempat tidur. “Ar ngak apa-apa ma. Ar akan kuliah,” ucap Arsen segera beranjak dari tempat tidur menghindari interogasi ibunya.
Wina menatap punggung putranya yang berlari menuju kamar mandi. Ia memikirkan perubahan sikap Arsen yang tertutup dan pendiam.
***
Arsen telah berada di depan kampus menarik napas berat. Ia berada di tempat ini hanya untuk menghindari pertanyaan ibunya. Arsen berharap hari ini tak bertemu dengan Sarah. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri jika akan melupakan Sarah dan akan menghindarinya. Walaupun rasa penasaran menggelitik ingin tahu kabar serta rasa merindukan Sarah.
Arsen berjalan ke arah lapangan basket, seperti biasa ia akan menemui Gerald, sahabat yang telah beberapa hari tak ia temui. Saat telah berada di lapangan basket seperti biasa teriakan para gadis yang tergila-gila, mulai bersorak memanggil namanya. Gerald yang juga berada di lapangan basket mengalihkan pandangannya pada sang bintang yang baru saja datang.
Gerald mempercepat langkahnya saat melihat Arsen datang dan ketika pemuda itu telah berada di dekatnya, dengan cepat Gerald meraih kerah baju Arsen.
“Dari mana saja kau, sudah tiga hari aku mencoba menghubungimu!” bentak Gerald penuh dengan kekecewaan.
Buk ... satu pukulan mendarat di wajah tampan Arsen, membuat pemuda ini terhuyung. Suasana seketika menjadi riuh. Seluruh mata melihat pertengkaran dua sahabat ini.
“Kau gila ya! Kenapa memukulku!” murka Arsen memegangi pipi, tak tahu apa kesalahannya dan mengapa sahabatnya ini sangat marah padanya.
Arsen mengarahkan pandangannya pada seluruh yang berada di tempat itu kemudian menyuruh mereka pergi. “Pergi kalian dari sini,” teriak Arsen akan menyelesaikan urusannya bersama Gerald tanpa ada gangguan. Seluruh orang yang berhambur, bergegas pergi meninggal dua pemuda idola kampus ini.
“Keterlaluan kamu Ar, mengapa kamu ngak bilang dari dulu, kalau Sarah itu tinggal di rumahmu!” hardik Gerald mengeluarkan kekesalan yang menjadi alasan kemarahannya.
Saat di pesta ulang tahun Gerald tak sempat bertanya tentang Sarah pada Arsen. Ia memutuskan untuk pulang dengan hati penuh tanda tanya, karena Arsen sedang mengobrol dengan calon jodoh pilihan ibunya. Namun saat ini Gerald ingin tahu segalanya..
“Kau ....” wajah Arsen berubah panik, Gerald pasti telah tahu jika Sarah adalah adalah saudara tirinya.
“Ia. Aku bertemu Sarah di dapur rumahmu, saat pesta ulang tahunmu,” cecar Gerald.
Arsen terdiam memikirkan tentang rahasia yang tak bisa di tutupi lagi, kali ini hendak mengakui pada Gerald jika Sarah adalah saudara tirinya.
“Jangan diam saja! Dan pura-pura tidak tahu Ar. Dia anak pelayan di rumahmu kan!” Gerald masih dengan emosi yang meluap-luap.
“Apa! Anak pelayan!” suara Arsen ikut meninggi ketika mendengar kebenaran yang diketahui Gerald.
“Ia, dia anak ibu Odah kan!” Gerald tersenyum sinis melihat wajah Arsen yang kebimbangan mendengar tentang Sarah anak pelayan.
__ADS_1
“Pantas saja kau selalu melarangku untuk mengejarnya ternyata kau tahu dia anak pelayan, lalu bagaimana perasaanku. Aku sudah sangat mencintainya. Andai dari dulu aku tahu ia anak pelayan. Aku tak akan membiarkan rasa ini ada. Kami tidak mungkin bersama, keluargaku pasti tidak akan setuju,” lirih Gerald terlihat putus asa menarik rambutnya menyesali perasaannya. Pemuda ini tak punya keberanian untuk menantang dunia demi Sarah ia lebih memilih mundur menerima perjodohan pilihan orang tua.
“Siapa yang mengatakkan dia anak pelayan!” bentak Arsen seketika raut wajahnya memerah.
“Ibu tirimu.”
“Ibu tiriku yang mengatakkan dia anak pelayan!” Arsen mengepalkan tangannya amarahnya naik saat mendengar perempuan itu tak mengakui putrinya.
“Sarah juga mengiyakan jika dia anak pelayan. Aku ingin bertanya dengan jelas padanya di kampus tapi dia juga tidak pernah datang.
"Kasian sekali dia. Dia pasti sangat sedih saat ini ibunya tak mengakuinya.Sama sedihnya saat dulu ibunya tak memperhatikannya saat dia sakit .Anak tiri itu pasti menangis lagi. Batin Arsen.
Arsen memutar badannya hendak meninggalkan tempat ini, kemudian pergi menemui Sarah. Telah lupa dengan tekad yang akan melupakan Sarah. Ia ingin melihat keadaan gadis yang bersedih itu.
“Ar! Kamu mau kemana?” Menatap heran pada Arsen yang tiba-tiba pergi belum memberikan penjelasan padanya.
“Aku harus pulang.” Arsen bergegas pergi berlalu meninggalkan Gerald yang masih mematung.
Aku harus bertemu dengannya, anak tiri itu pasti sedang sedih sekarang, karena ibunya mengatakan dia anak pelayan. Ibunya memang keterlaluan, ngak punya hati. Batin Arsen.
***
Arsen menggendari mobil dengan cepat menuju kediaman Hutama. Setibanya di sana ia bergegas berjalan masuk menuju dapur tempat dimana kamar saudara tirinya berada.
Seluruh pelayan tekejut dengan kehadiran Arsen yang belum saatnya berada di kediaman Hutama, terlebih lagi menginjakkan dapur untuk bertemu dengan saudara tiri yang tak ia akui.
Sarah sedang berada di ruang makan pelayan, tempat favorinya yang berada di dapur. Gadis ini sedang menikmati cemilan manis untuk mengembalikan keceriaannya.
Sarah menatap malas pada pemuda yang ada di hadapannya. Arsen pasti menemuinya untuk mengerjai dan menyuruhnya untuk mengikuti semua perintahnya, sama seperti kejadian beberapa hari lalu saat Arsen menindasnya seperti pelayan dan mendorongnya ke kolam renang.
“Ada apa lagi? Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Dan bahkan jika aku harus mati. Aku tidak akan mau di tindas lagi olehmu, aku tidak akan menuruti perintahmu.” jelas Sarah membuang pandangannya.
“Ikut aku!” Arsen memasang wajah dingin melangkahkan kakinya menuju kamar Sarah.
Sarah lalu bergegas berdiri saat melihat Arsen berjalan cepat menuju kamarnya. Perasaannya mengatakkan jika tuan angkuh ini akan mengerjainya lagi.
“Mau apa kau di kamarku.” Sarah merentangkan tangannya di hadapan Arsen, mencegahnya untuk masuk ke dalam.
“Minggir aku mau masuk!” Arsen menerobos tubuh Sarah yang menghalanginya. Mendorong pintu kamar dengan kuat. saat menerobos untuk masuk. Setelah berada di dalam Arsen lalu berjalan ke arah lemari, meraih koper yang ada di atas lemari kecil itu, kemudian membuka koper dan berganti membuka pintu lemari, mengacak-acak isi lemari seperti sedang mencari sesuatu.
“Hei tuan angkuh mau apa kau!” Wajah Sarah menjadi panik saat melihat Arsen memasukkan bajunya ke dalam koper.
“Diamlah ... kau habis bertemu dengan Gerald di rumah ini kan?” ketus Arsen tangannya masih sibuk memasukkan baju Sarah.
Sarah menelan salivanya dengan susah payah, kini ia tahu alasan Arsen melakukkan itu. Ia menebak Arsen pasti marah karena rahasia yang selama ini mereka jaga tentang tinggal bersama di kediaman Hutama telah terbongkar. Arsen pasti sangat marah padanya.
“Aku ... tidak tahu kenapa saat itu dia tiba-tiba berada di dapur, tapi aku tidak bilang kalau kita saudara. Aku mengaku sebagai anak pelayan padanya,” cicit Sarah sedikit ketakutan mengungkapkan alasannya.
__ADS_1
“Kenapa kau mengatakkan seperti itu!” Wajah Arsen semakin marah membuat Sarah semakin bergetar, apalagi kali ini Arsen telah mengemas barangnya itu berarti ia akan di usir.
“Ia. Aku tidak bisa menghindarinya. Aku salah tapi, rahasiamu tentang kita saudara tidak terbongkar. Kau tak seharusnya mengusirku,” pinta Sarah tertunduk merasa bersalah ia telah melakukan kesalahan cukup fatal sadar jika Arsen malu memiliki saudara sepertinya.
Arsen telah selesai memasukkan baju Sarah kemudian menarik koper keluar kamar.
“Aku tidak akan keluar dari sini!” Sarah mencoba mengambil koper dari tangan Arsen. Ia akan bertahan tak akan keluar dari kamar.
“Ikut aku, jangan membantahku.” Arsen menarik tangan Sarah sebelah tangannya lagi menarik koper.
Seluruh mata pelayan lagi-lagi tertuju pada Arsen yang menyeret Sarah untuk ikut bersamanya. Sama dengan pemikiran Sarah pelayan juga mengira jika gadis ini telah di usir dari rumah Hutama.
“Aku tidak akan keluar dari rumah ini tanpa ibuku, bahkan jika kau mengusirku, aku tidak akan pergi dari rumah ini.” Sarah berontak mencoba melepaskan cekalan tangan Arsen. Langkahnya terus mengikuti Arsen tak tahu arah hingga akhirnya mulai putus asa.
“Lepaskan tanganku! Aku akan menuruti semua keinginanmu, kau bisa melakukan apa pun padaku tapi aku mohon jangan mengusirku,” lirih Sarah tertunduk matanya mulai berkaca-kaca tak ingin pisah dari ibunya. Langkahnya pasrah mengikuti Arsen.
“Masuk!” titah Arsen menyuruh Sarah masuk ke dalam sebuah kamar.
Sarah mendongak lalu mengernyitkan dahi, mulai melihat keadaan sekitar. Ia bukan berada di pintu keluar namun berada di depan pintu kamar utama yang ada di rumah ini kamar yang bersampingan dengan milik Arsen.
“Tunggu dulu ini buka pintu keluar, ini depan pintu kamar. Apa hukumanku terkurung di kamar ini. Atau harus membersihkan kamar ini. Batin Sarah
“Untuk apa aku masuk?” tanya Sarah heran memastikan hukumannya.
“Mulai hari ini kau akan tidur di tempat ini. Kamar ini milikmu. Jangan tidur di kamar pelayan lagi,” jelas Arsen melepaskan koper Sarah. Ia memberikan hak Sarah sebagai anak di rumah Hutama dan tak mau Sarah dia anggap anak pelayan karena tidur di kamar pelayan. Akan mengakhiri tidakadilan pada gadis ini
“Tidur di kamar ini? Aku tidak bisa,” tolak Sarah merasakan ada niat terselubung dari musuhnya.
“Kau tidak boleh menolak, jika kau menolak aku akan memberi pelajaran untukmu! Sekarang masuklah!” titah Arsen.
Sarah dan Arsen masih berada di depan pintu kamar baru milik Sarah. Erina mendatangi dua saudara itu setelah mendengar laporan drama pengusiran dari pelayan, tentang Arsen yang tiba-tiba datang lalu menarik Sarah dan kopernya ke suatu tempat mengira jika putrinya telah di usir.
“Ada apa ini?” tanya Erina menatap bingung.
Arsen mendengus menatap jengah pada Erina. “Mulai hari ini dia akan menempati kamar ini tidur di samping kamarku,” jelas Arsen menatap tajam pada Erina.
“Masuk! Ingat kau haru tidur di tempat ini. Jika kau kembali tidur di kamar pelayan aku akan benar-benar mengusirmu,” titah Arsen tak mau di bantah lagi.
Sarah menatap wajah ibunya meminta persetujuan dan Erina pun mengangguk perlahan mengiyakan. Sarah kemudian menuruti perintah Arsen. Ia menarik kopernya lalu masuk ke dalam kamar meninggalkan Arsen dan Erina di luar.
“Ibu macam apa kau? Hatimu terbuat dari apa! Teganya kau tidak megakuinya sebagai anak kandungmu. Kau mengatakan dia anak pelayan di depan Gerald!” hardik Arsen. "Mulai hari ini dia akan mendapatkan semua fasilitas dan kemewahan di rumah ini, sama seperti aku daparkan. "Jadi jangan menyuruhnya tidur di dapur lagi." Arsen berlalu meninggalkan Erina yang tertunduk. Wajah Erina berubah pias saat mengetahui ternyata pengakuannya itu yang membuat Arsen sangat marah.
Erina mentap kepergian Arsen dengan begitu banyak pertanyaan mengapa saat ini Arsen begitu perhatian pada Sarah. Tuan jutek ini bahkan telah memindahkan tempat Sarah dari kamar yang telah tiga tahun di naungi putrinya. Apa Arsen telah menerima Sarah sebagai saudara, itu pikirnya.
***
Arsen menghempaskan tubuh di ranjang kingsize miliknya berbaring telentang mentap langit-langit kamar. Ia menarik napas dalam memikirkan apa yang telah di perbuat pada saudara tirinya.
__ADS_1
Ternyata aku tidak bisa mengabaikannya, aku tak bisa melupakannya. Semakin kucoba melupakannya hatiku semakin tersiksa. Tak bertemu dan menghindarinya membuatku sangat merindukanya. Dia terus memenuhi pikirannku. Apa yang harus kulakukan dengan perasaanku ini. Melihatnya tadi entah mengapa hatiku sangat bahagia terasa tenang sekali jika bersamanya." Arsen menatap tangan yang ia pakai menarik tangan Sarah tadi. "Apa aku harus mengejarnya dan menjadikan milikku, agar hatiku tenang dan bahagia?” rancau Arsen mulai memikirkan cintanya pada Sarah hanya dua pilihan melupakannya atau mengejarnya. Namun hatinya cenderung menyuruhnya untuk mengerja dan memperjuangkan cinta pertamanya.
Like,coment, vote .....