
Sarah masih mengurung diri di kamar keraguan Arsen padanya, tentang ia yang akan kembali pada Bian sungguh membuatnya terluka, padahal hatinya sedang diliputi ketakutan akan kehilangan pemuda itu. Sosok yang beberapa bulan terakhir menjadi suaminya. Kehadiran mama Arsen dalam hubungan rumah tangganya, akan menjadi duri yang akan memisahkan mereka cepat atau lambat. Sarah pun tidak tahu apa ia bisa bertahan dari rencana Wina yang pasti akan melakukan apa-pun agar mereka berpisah.
Arsen mengetuk pintu kamar berharap istrinya membuka pintu.
“Ara tolong keluar! Jangan marah. Aku minta maaf, aku salah,” akui pemuda tampan ini berdiri di depan kamar mencoba membujuk Sarah yang merajuk akan sikapnya telah menuduh gadis itu kembali pada mantan kekasihnya dan akan meninggalkannya.
Sarah yang berada di dalam hanya diam duduk di pinggir tempat tidur tidak menghiraukan, Arsen yang dari tadi membujuknya untuk keluar. Rasanya ia tidak sanggup untuk dekat dengan pemuda itu perasaan sedih terus memenuhi relung hati, air matanya seakan selalu ingin jatuh menetes jika melihat pemuda yang telah ia cintai.
Arsen menghembuskan napas kasar lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah saatnya ia pergi untuk menjalankan tugasnya sebagai fotografer di sebuah acara pernikahan. Ini adalah hari pertamanya kembali bekerja setelah beberapa waktu Bian mengacukan semua jadwal perkerjaannya. Rasanya Arsen tidak bisa pergi dengan tenang jika Sarah masih marah padanya namun ia harus bersikap profesional.
“Ara aku harus pergi. Aku akan terlambat,” jelas Arsen menatap putus asa dengan pintu yang masih tertutup rapat. Dengan langkah perlahan Arsen berjalan menjauh dari pintu kamar, gagal membujuk Sarah untuk keluar.
Beberapa saat kemudian suara deru motor yang menjauh terdengar dari kamar, Sarah sangat yakin jika pemuda yang ia hindari itu telah pergi meninggalkan rumah. Dengan perlahan Sarah membuka pintu kamar.
“Maafkan aku Ar. Aku bukannya mendiamkanmu, aku hanya mencoba menjalani kemungkinan terburuk kita akan terpisah, sungguh rasanya berat berpisah denganmu,” gumam Sarah menatap ke arah pintu rumah matanya mulai berkaca-kaca.
Sarah membuka pintu berjalan keluar rumah untuk menatap jelas arah kepergian Arsen. Hatinya terasa sesak telah mendiamkan suaminya.
Sarah berdiri menatap jauh ke depan hingga suara penuh keceriaan membuatnya tersentak.
“Pagi Ra,” sapa Nikita dengan semangat di telinga Sarah.
“Niki!” pekik Sarah lalu menatap lekat gadis ceria yang telah bersiap untuk menjalani hari pertamanya bekerja. “Kamu ngagetin aku aja. Kamu belum pergi? Ar baru saja pergi,” jelas Sarah.
“Ra kamu ngak ikut lagi? Ayo ikutlah nonton aku menyanyi,” ajak Nikita.
“Aku ngak bisa Ki,” terang Sarah menolak ajakan sahabatnya.
“Kenapa Ra?” tanya Nikita mengenyitkan alisnya kemudian matanya membulat mengingat kejadian Arsen berkelahi dengan pemuda yang memeluk Sarah. “Ar larang kamu ikut ya? Dia ngak mau kamu di godain lelaki lain,” cecar Nikita.
“Bukan begitu, aku lagi malas saja, lagi mager,” kilah Sarah.
“Oh begitu,” Nikita beroria menganggukan kepalanya kemudian kembali bertanya. “Ra cowok yang berkelahi dengan Ar di pesta itu siapa kamu? Mereka bertengkar memperebutkan kamu? Mantan kamu ya?” tanya gadis ini dengan gaya centil ikut menyaksikan pertengkaran Arsen dengan Bian saat di pesta pernikahan.
Sarah hanya tersenyum pelik ke arah Nikita akan pertanyaannya tentang Bian.
“Ganteng juga Ra! Hebat kamu bisa di perebutkan dua lelaki ganteng,” puji Nikita dengan bangga. “Kenali dong Ra sama dia, namanya siapa?” candanya seraya menubrukan bahunya di bahu Sarah.
Sarah menarik sudut bibirnya mendengar ocehan Nikita, serta melihat tingkahnya yang semakin centil menggodanya.
“Ayo Ra namanya siapa?” desaknya menggoyang-goyangkan lengan Sarah.
“Namanya ....” Sarah menggantung ucapannya saat mendengar ada suara mobil terhenti di depan rumah kontrakan mereka. Dua gadis yang asyik mengobrol ini pun kompak menatap ke arah kendaraan yang terhenti tersebut.
Sarah terpaku tubuhnya seketika bergetar ketakutan saat melihat sesosok wanita anggun turun dari mobil dan berjalan dengan penuh keangkuhan mendekat ke arahnya. Sedangkan Nikita yang berada di sampingnya menatap heran, seraya terpukau dengan wanita yang semakin mengikis jarak dengan mereka.
“Itu siapa ya Ra? Aku tidak pernah melihat dia di tempat ini. Dia mau apa kemari? Kenalan si mami kali. Kayanya orang kaya! Hebat juga mami punya kenalan,” oceh Nikita bertanya-tanya. Tidak ada terlintas sedikit pun jika wanita itu hendak menemui Sarah.
Sarah hanya terdiam tidak menghiraukan ocehan sahabatnya, matanya fokus menatap yang telah berada di hadapannya.
“Dasar wanita murahan kau!” berang Wina.
__ADS_1
Plak ...
Satu tamparan keras mendarat di pipi putih mulus Sarah membuat wajahnya berpaling lalu memerah merasakan rasa panas yang menjalar. Nikita yang berada di antara mereka membulatkan mata, membekap mulutnya dengan kedua tangan tak percaya dengan pemandangan yang ia lihat. Wanita asing itu menampar Sarah.
“Hei Bu! Apa yang kau lakukan padanya! Kenapa kau menamparnya!” hardik Nikita tidak terima pada Wina melihat Sarah mendapatkan perlakuan tak mengenakan. Nikita hendak maju namun di Sarah menahan tubuhnya.
“Niki pergilah ini urusanku, aku akan bicara padanya,” ucap Sarah menatap dengan tatapan penuh permohonan pada Nikita.
“Baiklah jika dia menyakitmu lagi, aku tidak akan tinggal diam.” Nikita melangkah mundur beberapa langkah membiarkan Sarah menyelesaikan masalahnya.
Wina berdiri di hadapan Sarah, sorot matanya menyiratkan kemarahan.
“Kau ... Berani-beraninya kau menikah dengan putraku!” hardik Wina mengeretakan giginya, menunjuk Sarah dengan jari. “Kau tahu siapa dirimu! Kau hanya gadis rendahan! Kau tidak pantas bersama dengan putraku!” hina Wina suaranya meninggi tidak peduli dengan Nikita yang juga masih berada di antara mereka.
Sarah hanya diam tertunduk menerima semua luapan amarah dari mama Arsen yang mengerikan. Ia sudah tahu ini pasti akan terjadi padanya. Wina pasti akan murka saat tahu anak kesayangannya menikah dengan anak musuhnya.
“Kau pasti merayunya kan! Kau pasti melakukan segala cara untuk menggodanya,” tuduh Wina berteriak.
“Hentikan nyonya! Aku tidak pernah menggoda Arsen,” ungkap Sarah membela diri.
“Tidak menggoda! Dasar penipu. Kau telah membuatnya tergila-gila padamu. Kau bahkan mempengaruhi untuk hidup bersamamu! Kau dan ibumu itu sama saja! Perempuan murahan, penggoda!” hardik Wina menghina Sarah dengan perkataan yang sangat menyakitkan hati.
“Hentikan nyonya, saya terima jika Anda menghina saya. Tapi, saya tidak akan terima Anda menghina ibu saya.” Sarah menatap Wina dengan tatapan dingin tangannya terkepal mendengar hina tentang mendiang ibunya, juga terbawa-bawa dalam amarah Wina.
“Kau dan ibumu memang wanita murahan! Dulu suamiku sekarang putraku!” bentak Wina rasanya ia ingin menerkam gadis yang telah menjadi menantunya ini. Pengalaman pahit kembali terulang pada percintaan putranya dia menikahi gadis dari anak musuhnya.
“Nyonya aku tidak serendah itu.” Sarah berusaha mencoba membela diri.
“Aku ingin kau bercerai dengan putraku. Tinggalkan dia. Arsen tidak pantas bersama perempuan rendahan sepertimu!” paksa Wina dengan membentak hanya hina yang terus terucap dari bibirnya.
Nikita yang mendengar perdebatan sahabatnya mulai mengerti mengapa wanita ini menyerang Sarah.
“Ibu Ar marah Sarah menikah dengan Ar. Jadi mereka menikah tanpa restu,” batin Nikita hanya bisa menonton perdebatan itu tak bisa ikut campur dalam masalah mereka.
Sarah mencoba tenang menghadapi Wina walau pun tubuhnya bergetar ketakutan melihat betapa mengerikannya wanita ini di saat marah.
“Saya tidak akan bercerai dengannya. Saya tidak akan meninggalkannya,” ucap Sarah dengan mantap, ia akan berusaha bertahan demi cinta Arsen padanya. Arsen selalu menyuruhnya bertahan dan ia akan melakukannya.
“Berani-beraninya yang berkata seperti itu.” Wina mengayunkan tangannya ke pipi Sarah.
Plak
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Sarah membuat gadis ini kembali memegangi pipinya yang terasa panas. Nikita yang geram hendak maju menolong Sarah namun tatapan mata gadis itu dan menggelengkan kepalanya pelan membuat niatnya terhenti.
“Lihat dirimu! Kau hanya gadis yang tidak punya apa-apa, kau tidak sebanding dengan Arsen yang memiliki segalanya. Dasar perempuan rendahan,” hardik Wina.
“Aku menang wanita rendahan, murahan apa-pun itu,” suara Sarah tercekat mengakui sungguh sangat menyakitkan hati, dia seolah sudah tidak memiliki harga diri hanya untuk tetap bersama dengan Arsen. Sarah menarik napas panjang.
“Tapi maaf nyonya Aku sangat mencintai putra Anda dan saya tidak akan melepaskannya,” ungkap Sarah tentang perasaannya pada ibu yang telah melahirkan Arsen membuat Wina semakin meledak mendengar pengakuan cinta gadis yang sangat ia benci untuk putranya.
“Kau memang tidak tahu diri!” Wina mengibaskan sebelah tangannya.
__ADS_1
Plak
Wina kembali menampar Sarah untuk yang ke tiga kalinya dengan sangat keras dan kali ini sudut bibir gadis itu telah robek di sertai darah segar membasahi. Wina sangat murka saat ucapannya di abaikan oleh gadis ini. Wina mulai maju menyerang Sarah menjambak rambut panjang itu dengan keras.
“Kau harus meninggalkan Arsen. Aku tidak akan pernah menerimamu sebagai istri Arsen.”
Nikita yang melihat dari tadi pertengkaran mereka mulai maju. Membela Sarah tidak terima sahabatnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari tadi ia sudah mencoba menahan diri kali ini tidak lagi.
“Hei kau perempuan gila hentikan lepaskan Ara!” teriak Nikita menarik tangan Wina yang mencegkeram rambut Sarah.
“Kau jangan ikut campur!” bentak Wina tak menghentikan Aksinya.
“Mak lampir lepaskan dia!” Nikita berusaha menahan tubuh Wina namun perempuan ini semakin beringas menyerang Sarah membuatnya menjadi putus asa.
“Pergi jangan menghentikanku!”
“Dasar gila!” umpat Nikita.
Suara pertengkaran Nikita dan Wina mulai membuat Rena yang berada di dalam rumah merasa terusik hingga penasaran dengan apa yang terjadi. Matanya membulat melihat Sarah yang tidak berdaya dalam cengkeraman Wina dan Nikita juga tidak bisa menghentikannya.
Rena bergegas berlari ke arah mereka hendak membantu Sarah.
“Hei ada apa ini?” Rena telah mendekat.
“Mi! Tolong Mi ini ada mak lampir jahat!” Nikita masih menahan tangan Wina
“Lepaskan!” Rena masuk di antara Sarah lalu mendorong tubuh Wina menjauh.
Pergumulan itu terhenti. Nikita menarik tubuh Sarah mendekat padanya.
“Ara kamu ngak apa-apa?” tanya Nikita khawatir apalagi melihat wajah Sarah merah dan berdarah di sudut bibirnya serta rambutnya acak-acakan akibat menerima kemarahan dari mama Arsen.
“Aku ngak apa,” jawab Sarah pelan dengan napas terengah-engah.
“Kalian tidak usah ikut campur! Aku harus menghajar gadis tidak tahu diri ini!” hardik Wina menatap tajam pada Sarah tubuhnya menerobos ingin kembali menyerang Sarah.
Rena maju menutupi tubuh Sarah dan Nikita. “Kau telah membuat keributan di rumahku dan menyerang penghuni kontrakanku!” bentak Rena menaruh dua tangannya pinggang memasang badan untuk Sarah.
“Pergi kau dari sini!” usir Rena mengarahkan telunjuknya ke arah jalan.
“Kau berani mengusirku! Kau tidak tahu siapa aku!” Wina menyeringai menatap tajam pada Rena.
“Aku tidak peduli siapa dirimu. Cepat pergi dari rumahku.” Rena meninggikan suaranya lalu mengangkat sebelah kakinya, membuka sandal yang ia kenakan dan mengarahkannya pada Wina. “Pergi dari sini atau kau mau aku menyelepetmu dengan sandalku,” ancam si janda pemilik rumah mengeluarkan kekesalan akan memukul Wina sama seperti yang sering ia lakukan pada Ale.
Para pengawal datang hendak menolong nyonya mereka berdiri di belakang Wina menunggu perintah dari ibu bos.
“Kalian akan menyesal karena telah mengusirku! Dan membelanya,” berang Wina mengepalkan tangannya tidak terima perempuan ini mengarahkan sandal padanya serta mengusirnya.
“Kenapa aku harus menyesal mengusirmu, ini rumahku. Menang siapa kau istri pak lurah? Istri pak camat. Bahkan jika kau istri pak gubernur, aku tidak takut! Pergi kau dari sini!” usir Rena masih mengarahkan sandal jepitnya di tubuh Wina.
“Ia pergi kau, dasar perempuan gila,” timpal Nikita dari belakang badan Rena.
__ADS_1
“Aku pastikan kalian akan menyesal. Kita lihat saja nanti aku akan membuat perhitungan dengan kalian. Kalian semua akan menangis karena telah menghina dan mengusir seorang Wina Raditya,” ucap Wina dengan keangkuhan lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan raut wajah kesal diiringi dengan pengawalnya.
Sarah menarik napas lega melihat kepergian Wina untuk sementara dia aman. Tapi, tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Wanita itu sangat berkuasa dan tidak akan tinggal diam saja melihatnya bahagia bersama dengan Arsen, namun dia juga tidak akan menyerah, dia akan bertahan bersama dengan Arsen. Cinta Arsen yang besar untuknya membuat dia juga ingin berjuang bersama Arsen.