
Matahari telah naik bias sinarnya masuk melalui celah jendela, menyilaukan mata seorang gadis cantik yang terlelap di ranjang dengan tubuh polos hanya tertutupi selimut. Sarah menggeliat perlahan mengumpulkan separuh nyawanya, tubuhnya terasa remuk redam setelah menjalankan malam keduanya. Mata indah gadis ini pun mulai mengerjap. Dalam keadaan berbaring miring manik mata Sarah telah terbuka sempurna memandang sebelah ranjang yang kosong, memorinya berputar akan malam perpisahannya dengan Arsen.
Air mata Sarah jatuh deras saat ia terbangun, hanya keheningan yang menyambut paginya. Ia sudah tidak mendapati pemuda berwajah tampan yang tersenyum lembut dan selalu menyambut pagi harinya dengan ucapan selamat pagi bunda.
Sarah semakin terisak meremmas selimut yang menempel di dada menatap ruang kosong di sebelah ranjang, tempat Arsen selama ini tidur di sampingnya. Tangannya bergetar terulur mengusap bantal yang biasa suaminya kenakan, hatinya sesak. Arsen benar-benar telah pergi meninggalkannya. Perasaan kosong, sunyi, sedih, berbaur menjadi satu. Tidak ada lagi sosok suami yang selalu perhatian padanya menemani menjalani hari bersama.
“Kita sungguh telah berpisah. Kau benar-benar telah meninggalkan aku,” lirih Sarah mengeraskan isakanya, sungguh ia tidak rela berpisah dari suami yang sangat menyayanginya itu.
Sarah meraih bantal Arsen memeluknya erat, mengendus bau tubuh yang tersisa dari bantal suaminya, hanya itu yang bisa sedikit menenangkan hatinya dikala perpisahan itu sangat menyakitkan.
***
Sudah tiga hari Sarah dan Arsen berpisah jauh. Sarah hanya mengurung diri di kamar. Dia tidak ingin melakukan apa-pun selain merenung, mengingat kenangan bersama dengan Arsen. Ia sangat merindukan kehangatan cinta suaminya, bagaimana pemuda itu memanjakannya, selalu menunjukkan cinta dan perhatiannya. Air matanya kembali menetes jika mengingat apa yang Arsen lakukan untuknya dan saat kerinduan itu menyesakkan hanya bantal bekas Arsen yang menyisahkan aroma tubuhnya menjadi penenang.
Di luar rumah kontrakan dua perempuan terlihat sedang grasak-grusuk di depan pintu rumah Sarah, mencoba mencari tahu tentang keadaan gadis yang telah di tinggalkan oleh suaminya itu.
Rena sedang mengintip dari jendela kaca, mencoba mencari tahu keadaan Sarah. Mereka sangat menghawatirkan keadaan Sarah yang mengurung diri rumah.
“Gimana Mi?” tanya Nikita yang berdiri di belakang Rena menatap lekat sang pemilik rumah ini mengintip.
“Ngak kelihatan,” ucap Rena lalu terlihat mengendus, mencoba mencium sesuatu. “Tapi kayaknya, dia masih hidup! Aku enggak nyium bau bangkai,” jelas Rena grasak-grusuk, cemas jika gadis patah hati itu depresi lalu memilih bunuh diri.
“Huss, Mami,” geram Nikita mendengar ucapan Rena.
“Bagaimana kalau kita buka paksa saja Mi pintunya, mami punya kunci cadangan kan?” tanya Nikita memasang wajah cemas, perpisahan Sarah dan Arsen juga membuatnya ikut sedih apalagi Sarah meminta berpisah karena tidak mau Nikita dan Rena mendapatkan masalah.
“Ia kita buka paksa saja. Aku punya kunci cadangan.”
Rena lalu berbalik hendak melangkah menuju rumah mengambil kunci cadangan, namun langkah kakinya terhenti saat melihat seorang pemuda tampan menjinjing tas berjalan ke arah mereka.
“Niki ada cowok ganteng!” kata Rena terpukau menatap wajah pemuda yang datang.
Manik mata Nikita pun mengarah pada pemuda tampan yang di maksud Rena.
“Dia!” Nikita tidak melanjutkan ucapannya.
“Dia siapa Nik? Kau kenal dia?” sambar Rena bertanya tak sabar.
Nikita hanya terdiam ia menanti pemuda itu mendekat ke arah mereka.
“Hai,” sapa pemuda itu pada dua perempuan yang berdiri mematung.
“Kamu temannya Ara kan?” Nikita mengenali pemuda itu, dia adalah pemuda yang berkelahi dengan Arsen saat di pesta pernikahan.
“Aku ingin menemui Ara. Dia adakan?” tanya Bian tersenyum pada Rena dan Nikita seraya menjinjing sebuah tas.
“Dia ada di dalam sudah tiga hari tidak keluar,” celetuk Rena dengan gaya menggodanya, seperti biasa tidak tahan jika melihat pemuda tampan.
“Apa yang terjadi pada?” tanya Bian memasang wajah cemas mendengar Sarah tidak pernah keluar rumah.
Nikita lalu mengetuk pintu rumah kontrakan untuk Bian.
__ADS_1
Tok ... Tok ....
“Ara buka pintunya ada yang ingin menemuimu!” panggil Nikita tiada henti mengetuk pintu berharap Sarah keluar.
Cukup lama Nikita berusaha hingga Bian ikut memanggil mantan kekasihnya itu.
“Ara ini aku Bian, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu!” panggil Bian.
“Bian,” gumam Sarah dari dalam kamar..
Mendengar suara Bian, membuat Sarah tersentak dari lamunannya. Dia lalu melepaskan bantal yang dipeluknya kemudian beranjak untuk bertemu mantan kekasihnya itu.
Sarah membuka pintu, pandangannya tertuju pada tiga orang yang sedang menatapnya lekat.
“Ara!” Kompak mereka bertiga melihat wajah Sarah yang terlihat sembab dan matanya yang bengkak serta pupil mata yang mengecil terlihat jelas jika gadis ini terus menangis.
“Ara kamu ngak apa-apa?” tanya Nikita akhirnya melihat Sarah lagi.
“Aku baik-baik saja,” jawab Sarah dengan suara serak.
“Ara aku ingin bicara hal penting denganmu,” jelas Bian.
Mendengar ucapan Bian, dua perempuan itu memutuskan pergi meninggalkan mereka bicara
“Kami pergi dulu,” pamit mereka menjauh.
Kini tinggal Sarah dan Bian, gadis cantik ia menatap heran pada Bian mengapa pemuda ini mendatanginya. Apa diakan memaksanya untuk kembali lagi padanya pikir Sarah.
“Masuk Bian.” Sarah menggeser tubuhnya mempersilahkan Bian masuk ke dalam rumah.
“Ada apa denganmu? Kau menangis?” Bian memasang wajah sedih melihat Sarah terlihat kacau.
“Apa mama Arsen menemuimu?” tanya Bian karena ulah asistennyalah yang membuat memberitahu keberadaan mereka seharusnya Sarah dan Arsen masih bahagia sekarang.
“Emm.” Sarah mengangguk kepala perlahan membenarkan ucapan Bian.
“Jadi dia meninggalkanmu? Ia kembali bersama mamanya?” cecar Bian.
Pemuda ini sudah bisa menebak jika Wina akan membawa kembali putranya. Ia tahu hubungan Wina dan ibu Sarah mereka tidak akur, karena itu mama Arsen tidak akan pernah merima Sarah sebagai menantunya.
“Maafkan aku Ra, Mike asistenku yang memberitahu tentang keberadaan kalian,” ucap Bian dengan perasaan bersalah.
“Nggak apa-apa Ian, cepat atau lambat kami memang harus berpisah,” ucap Sarah dengan suara bergetar menahan tangis mengalihkan wajahnya tidak ingin Bian melihatnya rapuh air mata selalu saja ingin keluar jika membahas Arsen.
“Ada apa kau menemuiku?” tanya Sarah mengalihkan pembicaraan tentang keadaan Bian.
Bian akhirnya tersadar akan niatnya untuk menemui Sarah karena ada sesuatu penting yang ingin ia katakan.
“Aku kemari untuk ini.” Bian meletakkan tas yang ia bawa membukanya lalu menyodorkan beberapa berkas ke arah Sarah membuat perempuan ini menjadi bingung menatap pemberian dari pemuda itu.
“Apa ini Ian?” tanya Sarah tak menyambutnya, belum mengerti apa yang Bian berikan padanya.
__ADS_1
“semua ini adalah milikmu yang dipinjamkan oleh mendiang ibumu dulu, sebelum aku pergi mengejar kesuksesan. Aku berjanji pada ibumu akan mengembalikan semuanya padamu, termasuk semua yang aku dapatkan selama ini. Semua asetku akan aku rubah atas namamu,” jelas Bian memberikan semua yang telah ia dapatkan selama empat tahun terakhir, hasil kerja keras mengembangkan peninggalan Erina untuk Sarah.
“Terimalah. Masih banyak lagi aset lain yang telah aku peroleh berkat ibu dan perusahaan Bie group juga akan menjadi milikku,” tutur Bian menyerahkan semua yang ia miliki hasil dari modal yang di berikan ibu Sarah. Bian telah memiliki segalanya namun bukan itu yang ia inginkan dia hanya ingin cinta Sarah, mati-matian ia mengejar kesuksesan hanya menjadi layak membahagiakan Sarah.
Sarah membatu mendengar ucapan Bian yang akan memberikan semua hasil jerih payahnya kepadanya bahkan perusahaan yang sedang ia pegang dan telah Bian kembangkan.
“Ian.” Sarah belum menguasai kagetnya.
“Aku akan kembali ke kehidupan lamaku bersama ibu. Aku hanya ingin membuka bengkel kecil, menjadi Bian yang berandalan dimata ibuku,” jelas Bian menarik garis bibirnya, itu adalah mimpinya sejak dulu hidup sederhana seraya menjalankan hobi otomotifnya namun ia meninggalkan identitasnya demi Sarah.
Mengejar banyak uang agar ia bisa membahagiakan pujaan hatinya dan tidak di pandang hina lagi sebagai anak pelayan, namun ia malah kehilangan orang yang menjadi tujuan hidupnya itu.
“Bian aku tidak bisa menerima ini!” tolak Sarah ia merasa tidak berhak atas kerja keras Bian.
“Tidak Ra. Ini semua milikmu yang aku kembangkan. Lagi pula aku tidak membutuhkan semua ini. Aku mengejar semua ini hanya untuk bersamamu. Ini semua tidak penting lagi untukku,” jelas pemuda ini merasa sangat kecewa karena kerja kerasnya sia-sia perempuan yang ia perjuangkan tidak dapat ia miliki, ia memang bukan tipe pemuda yang menganggukan materi semua demi cinta.
“Ian. Aku juga tidak bisa menerima ini. Ini adalah kerja kerasmu.”
“Hanya kau yang aku inginkan selama ini Ra. Ini semua tidak penting bagiku.” Bian meraih tangan Sarah betapa besar perjuangannya untuk bersama dengan Sarah.
“Maaf aku telah mengecewakanmu.” Sarah tertunduk merasa bersalah karena telah menghancurkan harapan terbesar Bian untuk menikah dengannya.
“Apa aku sudah tidak bisa memiliki hatimu kembali? Kau dan Arsen telah berpisah kembalilah padaku, terimalah aku.” Bian mencoba untuk yang terakhir kalinya apa-pun keadaan Sarah ia akan terima.
“Maaf. Hatiku hanya untuknya. Kita hanya menjadi saudara. Carilah penggantiku.”
Dada Bian terasa sesak gadis yang di cintainya lagi-lagi menolak bersama, membuatnya tersadar jika ia sudah tidak ada di hati Sarah lagi, cintanya sepenuhnya hanya pada Arsen pemuda jutek yang telah meninggalkannya.
“Hari ini aku akan kembali ke tempat asal kita dulu dan meninggalkan kota ini bersama ibu,” jelas Bian.
“Kau bisa mengambil semua ini untuk kembali bersama Arsen Ra.” jelas Bian mencoba tegar dan kuat, mendukung kebahagiaan Sarah walau sangat sulit melihat Sarah bersama dengan Arsen namun ia belajar berlapang dada demi kebahagiaan orang yang ia sayang.
“Bukan karena materi aku tidak bisa bersama Arsen. Tapi karena, mamanya sangat membenci ibuku. Walau aku memiliki dunia ini, dia tetap tidak akan menerimaku,” tutur Sarah akan hubungannya dengan Wina.
“Ian aku tidak mau menerima semua ini. Ini adalah milikmu, jika kau memang harus pergi bawa semua ini bersamamu. Aku tidak menginginkannya. Kau harus hidup bersama ibu dengan kehormatan agar tidak ada orang yang akan menghina dan merendahkanmu hanya karena kau kekurangan,” pinta Sarah telah merasakan bagaimana orang memang hanya dari materi dan merendahkannya
“Ra.”
Sarah memegang tangan Bian memasang wajah memelas. “Aku mohon. Aku hanya ingin hidup tenang dengan kesederhanaan.”
“Tapi Ra ini semua milik ibumu.” Bian juga ingin hidup sama seperti yang Sarah jalankan kesederhanaan namun membahagiakan.
“Aku mohon Ian, jangan tambah bebanku dengan ini. Lagi pula aku memberikannya pada kakak dan ibuku,” jelas Sarah menarik sudut bibirnya baginya Bian dan ibu Odah adalah keluarga.
Bian mendekat ke arah Sarah mengelus puncak kepala Sarah dengan sayang.
“Baiklah, Aku akan menjalankannya semua untukmu. Tapi kau tidak boleh sungkan meminta bantun padaku. Apa-pun akan aku lakukan demi dirimu Ra.” Bian tidak bisa menolak permintaan Sarah dari sejak dulu apa-pun katakan gadis di cintainya ini selalu ia turuti.
“Terima kasih Bian,” ucap Sarah tersenyum tulus.
“Aku pergi dulu. Aku sudah terlambat.” Bian berjalan keluar dari rumah kontrakan Sarah.
__ADS_1
Sarah menatap kepergian Bian dengan rasa bersalah, ia telah menghempaskan impian tinggi pemuda baik yang selalu mendampinginya untuk menjalani hari sulit. Pemuda yang telah berjuang sekuat tenaga memperjuangkan cinta namun mimpi itu terhempas akan takdir yang tidak merestui mereka. Cinta Sarah hanya untuk suaminya seorang.
Sarah berdiri sendiri menjalani hidupnya tidak ada Bian dan tidak ada Arsen dua pemuda baik yang begitu mencintainya.