
Arsen telah berada di kediaman Hutama, amarah masih menyelimuti hati pemuda ini setelah apa yang ia liat tadi. Arsen berada di kamar melampiaskan kemarahannya, membuang tas yang ia kenakan dengan kasar ke lantai. Bantal dan guling yang berada di atas kasur tak luput dari lemparan pemuda ini.
"Anak pelayan itu, beraninya dia mendekati si anak tiri, menyebalkan sekali dia. Pacar ... si anak tiri itu buta! Kenapa anak pelayan di jadikan pacar. Apa hebatnya dia. Aku lebih baik dari anak pelayan itu aku tampan dan memiliki segalanya, aku jauh di banding dengannya," Batin Arsen mengacak tempat tidurnya.
****
Di rumah yang sama namun di tempat berbeda Erina berada di balkon kamar duduk menyandarkan punggungnya. Air matanya mengalir deras menatap selembar kertas putih yang mengantung di genggamannya. Di atas meja terletak beberapa laporan. Air mata terus menggenang teringat saat pagi tadi ia pergi menuju sebuah rumah sakit besar untuk mengecek kondisi keadaannya yang menurun akhir-akhir ini.
Flash back on
“Maaf nyonya Hutama, kanker Anda telah menyebar dan telah memasuki stadium akhir,” jelas dokter membaca hasil cek kesehatan Erina.
Erina tercengang mendengar hasil kesehatannya dengan sekuat tenaga ia berusaha kuat walau air mata Erina mulai membendung mendengar ucapan dokter, mata wanita ini terlihat berkaca-kaca.
“Jadi upaya yang saya lakukan selama ini, sia-sia Dokter.” Erina tertunduk sedih merasakan kekecewaan.
“Maaf nyonya.”
Erina meraup wajahnya dengan putus asa, tubuhnya bergetar hebat. Napasnya terasa sesak. Ia lemas membayangkan yang akan terjadi padanya, stadium akhir berarti waktu yang ia punya tidak akan lama lagi.
“Berapa lama waktu saya dokter? Apa saya sudah tidak punya waktu lagi, walau hanya untuk satu tahun,” tanya Erina dengan suara bergetar.
“Maaf nyonya saya tidak bisa memastikan. Teruslah berusaha nyonya jangan menyerah,” saran dokter.
Erina menginggalkan ruangan dokter dengan air mata yang sudah tak bisa ditahan ia menangis saat berjalan keluar rumah sakit.
Flas back off.
__ADS_1
Di sinilah Erina di balkon kamar merenungi takdir dengan waktu hidup yang tak lama lagi. Perempuan ini kembali terkenang masa lalunya. Demi kesembuhan ini dan agar kehidupan putrinya tercukupi sepenuhnya, serta bisa mendampingi putrinya tumbuh besar. Erina rela menyandang sebutan sebagai wanita perusak rumah tangga orang dan kembali pada Wisnu sang mantan yang kaya raya dan memiliki segalanya. Ia memanfaatkannya agar bisa membiayai kesembuhannya yang membutuhkan biaya besar. Namun setelah upaya yang ia lakukan semua sia-sia. Ia tetap tak bisa mendapatkan kesembuhan dan mendampingi putrinya berjuang menghadapi hinaan anak haram yang di sematkan pada putrinya.
Erina duduk dengan kepala tertunduk menyembunyikan wajah di antara lutut dan dada. Menangisi ketidakberdayaannya untuk melindungi dan menjaga putri tercintanya lagi.
“Mungkin ini karma untukku, karena aku telah hadir di kehidupan mereka dan menghancurkan kebahagiaan hati anak orang lain yang membutuhkan kasih sayang. Aku terlalu egois semua yang kujalani sia-sia. Setelah aku pergi siapa yang akan menjaga putriku? Apa dia akan kuat bertahan dari kerasnya hidup ini. Sarah maafkan ibu. Ibu sangat menyayangimu. Ambisiku agar kau menjadi gadis kuat telah membuatmu tersiksa dan terluka. Kau benar seharusnya kita tidak masuk dalam keluarga ini,” batin Erina dengan penyesalan
Pelayan datang menghampiri Erina yang masih mengurai air mata.
“Nyonya tuan Arsen telah datang.” Pelayan memberi laporan pada Erina.
Erina menyeka air matanya dengan sapuan telapak tangan.
“Aku akan ke sana melihatnya.”
Pelayan keluar kamar, Erina bergegas memunguti laporan kesehatannya, kemudian menyimpannya dengan rapi. Hingga detik ini belum ada yang mengetahui jika perempuan yang terlihat kuat ini mengidam penyakit mematikan dan telah lama menyembunyikan sakitnya bahkan sang suami pun tak mengetahuinya. Erina selalu berhasil menyimpan rapat semuanya.
****
Setelah mengetuk pintu Erina masuk melihat keadaan Arsen. Mata Erina membulat saat melihat kondisi kamar yang sangat berantakan ranjang yang acak-acakkan bantal dan guling berserakan di lantai.
“Ada apa ini Ar?” tanya Erina pada pemuda yang duduk termenung di sofa sambil berjalan memunguti bantal dan guling berserakkan kemudian mulai mengaturnya.
Arsen bangun dari duduknya berdiri menjulang di hadapan Erina.
“Mengapa kau membiarkan putrimu dekat dengan anak pelayan?” tanya Arsen dengan ketus dan wajah kesal, di rasuki oleh perasaan cemburu.
“Anak ibu Odah, maksudmu Bian. Mereka telah berteman sejak dulu,” jelas Erina dengan santai tak ada kecemasan di wajahnya mengetahui anak pelayan dekat dengan putrinya.
__ADS_1
“Jadi kau setuju putrimu bersama dengan anak pelayan?” hardik Arsen.
Erina mengernyitkan dahinya menatap heran pada anak tiri yang peduli dengan siapa Sarah berteman. Telah tiga tahun Sarah dan Bian berteman dekat, namun mengapa pemuda ini tiba-tiba sangat marah dan mencampuri urusan pribadi putrinya.
“Itu urusan pribadi Sarah. Ibu ngak penah melarang Sarah berteman dengan siapa saja. Lagi pula mereka hanya berteman,” ujar Erina masih santai menanggapi kedekatan Sarah dan Bian.
Arsen mendengengus menatap jengah melihat perempuan yang ada di hadapannya. “Oh, ia aku lupa, dari dulu kau memang tidak pernah peduli padanya,” sembur Arsen ia mengira jika ibu tiri gila harta ini akan marah jika mengetahui Sarah berhubungan dengan Bian ternyata dugaannya salah. Erina hanya terdiam mendengar kata-kata tajam anak tirinya
“Putrimu berpacaran dengan anak pelayan, bukankah itu tidak sesuai dengan harapanmu. Dia tidak sederajat dengan keluarga kita. Bagaimana pun putrimu itu anak keluarga Hutama, jangan sampai ia membuat malu dengan berhubungan dengan anak pelayan,” jelas Arsen dengan menggebu.
Erina semakin menatap bingung pada Aren kata kita dan keluarga Hutama membuat Erina merasa jika Arsen menganggap mereka seakan keluarga. Hal yang tidak pernah di lakukan pemuda tampan ini selama tiga tahun.
Melihat Erina mematung terus menatapnya membuat Arsen membuang pandangan ia tak mau jika ibu tirinya, curiga dan dapat membawa jika ia telah jatuh cinta pada Sarah.
“Aku ... melakukan ini, karena aku merasa pemuda itu tak pantas, jika putrimu menyukai anak pelayan itu,” Arsen mencoba tenang dan menguasai dirinya agar kecemburuannya tak terlihat.
Erian hanya diam dengan pikirannya setelah mendengar kepedulian Arsen pada Sarah. Melihat ucapannya tak di idahkan Erian pemuda ini menyerah.
“Keluarlah, aku lelah. Aku ingin sendiri,” titah Arsen dengan wajah dingin.
Sebelum Erina meninggalkan kamar Arsen terlebih dulu, ia merapikan kasurnya, agar pemuda ini dapat berbaring dengan nyaman.
“Istiratlah, ibu akan keluar,” kata Erina saat semuanya telah rapi kemudian berlalu meninggalkan kamr pemuda itu.
Erina keluar dari kamar dengan langkah kecil memikirkan perubahan Arsen yang akhir-akhir ini peduli dengan Sarah.
“Apa yang terjadi dengan anak itu kenapa akhir-akhir ini ia sangat perhatian pada Sarah. Kenapa ia marah dengan saat melihat Sarah dekat dengan Bian. Sejak kapan ia peduli pada hubungan Bian dan Sarah?” Erina terus berjalan dengan penuh pertanyaan.
__ADS_1
“Kalau di lihat dia selalu mencari perhatian Sarah dan mencoba mendekatinya. Matanya berbinar senang jika melihat Sarah, ada apa dengannya. Jangan-jangan Erina menghentikan langkahnya, mulutnya terbuka lebar dengan kesimpulan yang ia dapatkan namun belum ingin menarik kesimpulan.
“Ngak mungkin dia mencintai Sarah.” Erina menepis pikirannya yang menjurus ke tanda cinta itu dan tidak menyimpulkan jika pemuda itu jatuh cinta pada putrinya sebab mereka saling membenci.