CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
kepergian Erina


__ADS_3

Sarah sedang membasuh tubuh ibunya dengan kain basah. Air matanya seakan ingin menetes jatuh saat menyentuh tubuh ibunya yang telah sangat lemah seakan tak ada lagi tenaga. Gadis ini membuang pandangannya ke sesembarang arah, agar ia tak melihat wajah pucat ibunya. Sarah sangat tak berdaya kondisi ibunya semakin memburuk. Tak ada tanda-tanda jika perempuan ini akan membaik, seakan hanya menunggu tarikan napas terakhir.


 


Sarah telah selesai dengan kegiatan mengurus ibunya lalu kembali duduk di samping, menatap putus asa pada peralatan yang semakin hari semakin banyak melekat di tubuh ibunya.


 


“Ara , ibu kepingin makan puding buah buatan kamu,” ujar Erina dengan suara lemah.


 


“Benarkah ibu ingin makan sesuatu,” sambut Sarah dengan semangat akhirnya ibu ingin makan sesuatu setelah beberapa hari selalu memuntahkan makannya. Itu berati kondisi ibunya mulai membaik.


 


“Tapi buatan kamu ya. Kamu pulang, buatkan untuk ibu,” pinta Erina seperti memohon.


 


“Ara suruh pelayan saja yang mengatarnya kemari. Ara ngak mau jauh dari ibu,” tawar Sarah.


 


Erina menggeleng perlahan tanda ia tak menyetujui rencana Sarah. “Kamu pulang ke rumah, sekalian lihat di lemari kamu, ibu menaruh semua perhiasan ibu di kamar kamu, tolong kamu simpan dengan baik dan jaga itu sebagai kenang-kenangan dari ibu, pulanglah simpan dengan baik,” titah Erina dengan suara lemah dan nafas yang terdengar telah pendek. Erina tersenyum dengan ekor mata yang basah menuangkan air mata. Terdengar seperti pesan terakhir darinya untuk Sarah.


 


“Sarah ngak mau ninggalin ibu.” Sarah mencium tangan ibunya, takut dengan kondisi ibunya yang sudah semakin melemah dan ada firasat tak tenang di hatinya, takut jika ia pergi tidak akan lagi bertemu dengan ibunya selamanya


 


“Pulanglah Ra, di sini ada papa kamu dan Arsen, ibu ngak apa-apa,” paksa Erina menatap pada dua orang yang mengobrol di sofa.


 


Melihat ibunya yang memaksa ia menjadi tak tega hingga akhirnya mengiyakan.


 


“Baiklah Ara pulang, tapi ibu harus tunggu Ara,” pinta Sarah menatap ibunya lekat. Firasatnya sungguh tak enak, takut ibunya pergi tanpa pamit padanya.


 


Erina kembali hanya mengulas senyuman pada putrinya.


“Ingat Bu ... Tunggu Ara,” pesan Sarah kemudian berlalu meninggalkan ibunya dengan keragu-raguan. Kembali ia berbalik melihat wajah ibunya yang dari tadi terus menanamkan senyuman.


 


Sarah pun pergi setelah pamit pada Wisnu dan Arsen. Pulang ke rumah untuk mengabulkan keinginan ibunya.


 


***


Arsen dan Wisnu menghabiskan waktu dengan mengobrol hal yang telah lama tak mereka lakukan, semenjak Erina sakit hubungan mereka membaik. Sesekali mereka mengarahkan pandangnya pada Erina yang yang tertidur, obrolan ayah dan anak ini semakin serius hingga kembali arah pandang Arsen tertuju pada Erina.


 


“Papa!” teriak Arsen tersentak kemudian dengan cepat bangkit ke arah Erina yang terlihat sedang mengalami kejang.


 


“Sayang!” teriak Wisnu tak kalah kagetnya melihat kondisi Erina yang tiba-tiba menurun. Wisnu meraih tangan Erina menatap wajah Erina yang terlihat kesulitan bernapas.  “Sayang kamu kenapa? Mana yang sakit? Tahan sayang,” ujar Wisnu dengan raut wajah cemas memeluk tubuh istrinya.


 


“Ar panggil dokter!” teriak Wisnu. Arsen melangkah cepat menekan tombol panggil di dinding lalu hendak berlari keluar meminta pertolongan namun saat memegang handle pintu. Langkahnya terhenti saat mendengar raungan papanya.

__ADS_1


 


“Erina ....” Wisnu membawa Erina dalam pelukannya, rasa takut akan kepergian wanita yang di cintai meninggalkannya untuk selamanya. “Jaga Sarahku,” ucap Erina dengan terbata dan napas yang telah memendek di selingi dengan setetes air mata jatuh dari ekor matanya.


 


“Ia aku akan menjaga Sarahmu. Erina ... Erina ....” teriak Wisnu histeris ketika melihat Erina menutup matanya perlahan ia pun mengguncang tubuh lemah itu. “Erina ... Erina ....”


 


“Ar! Ada apa dengan ibumu?” bentak Wisnu semakin panik Erina tak bergerak dalam dekapannya.


 


Arsen menatap layar monitor menunjukkan garis lurus, tanda jika sudah tak ada kehidupan dalam tubuh yang di dekap papanya itu.


 


 


“Pa.” Arsen menepuk punggung papanya memberi kekuatan agar lelaki itu kuat, kristal bening turun dari pelupuk matanya melihat Erina yang telah pergi selama-lamanya. “Pa, ibu sudah pergi dengan tenang,” ucap Arsen dengan lemah tak bisa menahan rasa sedihnya.


 


“Sayang bangun buka matamu, Erina jangan pergi tinggalkan kami seperti ini, putrimu tidak ada sini. Apa yang harus aku katakan padanya, bangun liat dia untuk terakhir kalinya,” ratap Wisnu di penuhi air mata.


 


Erina telah menutup mata untuk selama-lamanya, tertidur panjang dengan tenang meninggalkan Sarah sendiri berjuang akan hidupnya. Pergi ke alam yang jauh, saat Sarah tak berada di samping menemani saat terakhirnya, kembali menjalani semua sendiri sama seperti yang sering ia lakukan bahkan pada kematiannya, yang tak ingin melihat tangisan Sarah saat melepaskannya.


 


Sarah berjalan dengan cepat melalui koridor rumah sakit entah mengapa sejak tadi perasaannya tak tenang. Di sebelah tangannya menjinjing wadah tempat puding pesanan ibunya. Langkah Sarah terhenti saat melihat banyak orang yang berdiri di depan ruang perawatan ibunya. Pikirannya mulai kacau, hatinya semakin resah bertanya tanya-tanya akan keadaan ibunya.


 


“Ibu.” Sarah berlari menerobos ruangan dengan cepat masuk langsung  mengedarkan pandangan di mana tubuh ibunya berbaring.


 


 


“Ibu ... aku membawakan pesananmu, puding buah kesukaanmu,” ucap Sarah dengan suara lirih masih mencoba menepis pikiran buruk tentang ibunya menganggap ibunya tak mungkin pergi tanpanya.


 


“Ara ibumu ....” Arsen tak sanggup melanjutkan kalimatnya, melihat Sarah mendekat dengan air mata yang telah membasahi pipi.


 


“Dia mau makan puding buah buatanku, dia juga bilang akan menunggu tadi. Dia tidak mungkin pergi tanpa menungguku.” Sarah terus melangkah pelan, Air mata semakin mengalir deras.


 


Sarah mendekat ke bangkar menatap wajah teduh ibunya yang terlihat pergi dengan tenang dengan senyum tertanam. “Ibu bangun kau bilang akan menungguku tadi, kau belum pamit, kau tidak boleh seperti ini, kau belum mengucapkan kata perpisahan untukku,” raung Sarah menggoyang tubuh ibunya kemudian mendekapnya dalam pelukan.


“Ibu,” tangis Sarah semakin pecah.


 


“Ara sudah.” Arsen menarik tubuh Sarah dari jasad ibunya.


 


“Dia selalu menghadapi semuanya sendiri, bahkan saat terakhirnya. Aku tidak mendampinginya.” Sarah menangis di dada bidang Arsen dengan penuh penyesalan andai tadi ia tak pulang dan menuruti permintaan ibunya ia pasti bisa melihat kepergian ibu.


 


Wisnu mendekat ke arah Sarah menenangkan gadis itu. “Ra, ibumu tidak mau pergi dengan melihat tangisanmu. Ia sangat menyayangimu,” jelas Wisnu.

__ADS_1


 


“Ibu ... kau meninggalkanku sendiri,” isak Sarah menyembunyikan wajahnya di dada Arsen.


“Kau tidak sendiri Ra, ada aku, aku akan selalu bersamamu.” Arsen memeluk tubuh Sarah erat. “Aku tak akan biarkan kau menangis lagi. Aku akan mendampingimu.” berjanji dalam hati ia tak akan membiarkan gadis ini larut dalam kesedihan lagi.


***


Hari ini adalah hari kelabu bagi Sarah, ia berdiri di tengah pelayat menangisi ibunya. Erina telah tenang selama-lamanya meninggalkan Sarah dan derita yang selama ini ibunya jalani ikut terkubur bersamanya. Perempuan tangguh yang menerima semua kepahitan hidup demi putri kesayangannya, bahkan rela menerima hujatan sebagai perebut suami orang agar ia bisa membuat putrinya hidup dengan layak.


 


“Tenanglah di sana Bu, aku akan sangat merindukanmu. Ibu jangan khawatir. Aku pasti bahagia, sesuai pesan ibu, aku akan menunggu Bian dan hidup bahagia bersamanya,” batin Sarah dengan isakan melihat ibunya telah tertutup oleh tanah.


“Bian kamu di mana? Saat ini aku sangat membutuhkanmu. KU tak bisa berhenti menangis. Datanglah sebentar saja hibur aku,” gumam Sarah penuh harap namun kenyataannya hanya ada Arsen yang selalu berdiri di sampingnya. Memberikan pundaknya untuk bersandar dari kesedihan.


 


****


Di tempat yang jauh dengan jarak yang terbentang. Bian berada di kamar sedang mengemas pakaian untuk di masukkan ke dalam tas. Berita kematian ibu Sarah telah sampai di telinganya. Ia sudah tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Sarah saat ini, pasti hancur dan selalu menangis.


 


“Bian apa yang kamu lakukan?” tanya ibu Bian menatap heran.


 


“Aku harus menemui Ara Bu. Nyonya Erina meninggal dunia. Ara pasti sangat sedih,” jelas Bian mempercepat kegiatannya.


 


 


“Nyonya Erina.” Bi Odah membekap mulutnya meneteskan air mata, tak menyangka, jika benar nyonya akan pergi secepat itu. Erina telah pergi selamanya akibat penyakit yang di derita dan pertemuan saat itu benar-benar pertemuan yang terakhir baginya.


“Bu, Bian harus pergi.”


 


 


“Jangan Ian, kita harus tetap di sini,” cegah ibu Odah.


 


 


“Ngak bisa Bu Sarah pasti menangis, dia sendiri Bu, dia tidak punya siapa pun selain kita, kita harus pergi.”


 


“Tidak Ian. Kita tidak boleh pergi. Ini pesan terakhir nyonya Erina  pada ibu,” cegah ibu.


 


Bian tercengang menatap heran pada ibunya seakan menyimpan suatu rahasia tentang ibunya.


 


“Ibu tahu?” tanya Bian penasaran.


 


“Ia ian, ibu tahu. Jika ibu Sarah mengidap kanker dan berpesan pada ibu apa-pun terjadi kita tidak boleh kembali sebelum kau berhasil. Bahkan saat berita kematiannya,” jelas ibu Odah membujuk putranya.


 


Mendengar penjelasan ibunya, Bian hanya bisa mengacak rambutnya frustrasi memikirkan nasib Sarah, tanpa bisa melakukan sesuatu untuk gadis yang di cintainya itu.

__ADS_1


 


“Maafkan aku Ra, aku tak bisa menjadi boneka bie-bie untukmu, aku tak bisa mendampingimu di saat sedih,” batin Bian penuh penyesalan.


__ADS_2