
Matahari pagi telah menyambut, setiap insan mulai bersiap menjalani aktivitasnya. Sarah masih berada di tempat tidur sukar untuk membuka mata, ini adalah imbas dari semalam iya tidak bisa terlelap dengan nyenyak akibat memikirkan esok adalah hari ia akan menjalani kehidupan sebagai istri Arsen sesungguhnya.
Sarah mulai terbangun menggeliat pelan tubuhnya. Ia membuka mata perlahan, mengerjap lalu seketika ia tersentak saat pandangan pertamanya di pagi hari menangkap wajah tampan Arsen yang berbaring miring menatap wajahnya.
“Ar.” Sarah terjangkit kaget hingga memundurkan tubuhnya, belum terbiasa dengan situasi ini.
“Pagi sayang,” ucap Arsen dengan senyum tertanam, wajah tampannya telah bersinar di pagi hari dan pemuda ini telah terlihat rapi.
Ini adalah pagi mereka sebagai suami-istri, sejak semalam Arsen juga sukar terlelap, menunggu hari esok yang dijanjikan oleh Sarah. Ia ingin melihat dan membuktikan seberapa kesungguhan Sarah akan ucapannya.
Arsen terus menatap wajah cantik istrinya membuat perempuan ini merona dan salah tingkah.
“Ar jangan menatapku seperti itu,” protesnya, saat Arsen melihat muka bantalnya di pagi hari.
“Aku sedang menatap wajah cantik istriku,” goda Arsen membuat Sarah tersipu malu atas tingkah suaminya.
Arsen kemudian semakin bergerak mendekat ke arah Sarah, membuat gadis ini menjadi gugup dan memasang wajah cemas jika suaminya ini akan menerkamnya di pagi hari.
“Ka...u... ma … u apa?” tanya Sarah terbata melihat suaminya bergerak mendekat kemudian telah berada di atasnya menindih tubuhnya.
Arsen menatap wajah Sarah dan tersenyum melihat wajah tegang istrinya yang membuatnya semakin gemas.
“Aku mau mengambil kado ulang tahunku,” goda Arsen mengerlingkan matanya lalu mendekatkan wajahnya, mulai mengecup wajah istrinya bertubi-tubi, menggoda ingin melihat kesiapan Sarah menjalankan rumah tangga bersamanya.
Sarah tersentak menahan dada Arsen agar tak mendekat lagi, mencari cara menghindar. “Ya ampun aku lupa! Aku harus ke minimarket, aku bekerja shiff pagi,” jelas Sarah panik ia telah terlambat kemudian dengan cepat mendorong tubuh itu menjauh kemudian dia bangun.
Sarah berjalan mengambil handuk di gantungan. Arsen beranjak dari tempat tidur kemudian memeluk tubuh Sarah dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang, meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
“Ya Tuhan ... Aku bisa jantungan jika ia terus menempel seperti ini padaku,” batin Sarah tak siap dengan sentuhan suaminya.
“Ar,” protes Sarah mencoba berontak ia belum terbiasa dengan sentuhan yang di berikan oleh Arsen, terlebih dengan detak jantungnya yang bergemuruh saat dekat dengan suaminya.
“Kamu libur saja yah hari ini? Aku juga mengambil libur hari ini, aku sudah menyuruh orang menggantikanku, kita akan berduaan saja di rumah,” ucap Arsen pelan tak bersemangat niatnya bermesraan dengan istrinya pupus akibat pekerjaan.
“Ngak bisa Ar. Aku sudah libur kemarin saat merayakan ulang tahun kamu, sekarang sudah ngak bisa lagi,” jelas Sarah seraya mencoba melepaskan pelukan suaminya.
“Kenapa kamu ngak berhenti saja dari pekerjaan kamu, sekarang gaji pemotretanku sudah lumayan,” jelas Arsen yang karier memotonya telah berkembang, banyak klien yang puas dengan hasil kerjanya.
“Ngak bisa Ar, Aku suka bekerja.” Sarah kemudian memaksa melepaskan pelukaannya. “Sudah, aku sudah terlambat. Lagi pula aku akan pulang nanti sore,” kata Sarah pelukan itu pun terlepas.
Arsen kembali menahan, dengan menarik tangan Sarah hingga langkahnya terhenti ada sesuatu yang terasa menganjal hatinya.
“Ara! Apa malam ini, aku bisa tidur bersamamu,?” tanya Arsen menatap lekat wajah Sarah.
“Emmm,” sarah berdehem tak mampu mengeluarkan kata-kata.
“Apa nanti malam, kita sudah bisa melakukannya?” tanya Arsen memastikan kesiapan Sarah untuk menerimanya untuk melakukan hubungan suami-istri.
Mendengar pertanyaan Arsen membuat rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya, wajah Sarah merona hingga tertunduk malu.
“Ia, malam ini,” ucapnya pelan kemudian berlari menuju kamar mandi.
Arsen mengembangkan senyuman, serasa mimpi gadis yang ia cinta benar telah menerimanya sebagai suami. Walau pun ia sadar belum menguasai hatinya namun mendapatkan pengakuan saja baginya sudah cukup dan sangat membahagiakan untuknya.
Pagi ini Sarah dan Arsen memulai pagi dengan kemesraan, senyum terus mengembang dari sudut bibir keduannya. Arsen mengendarai motor mengantarkan kepergian istrinya untuk menjalani tugas sebagai karyawan di sebuah minimarket. Hening menguasai keadaan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing tentang malam kedua mereka, yang akan di jalani malam ini. Hingga motor telah terhenti di tempat kerja, sarah pun turun dari motor.
“Aku masuk dulu,” pamit Sarah hendak melangkah masuk.
“Baikalah, Aku akan menunggumu di rumah,” ucap Arsen tersenyum penuh arti. Telah tak sabar menanti kepulangan istrinya dan akan bermesraan dengannya.
Arsen kemudian berdiri di samping Sarah kemudian dengan cepat mendaratkan ciuman di pipi gadis itu dan membuatnya menjadi membatu kembali belum siap dengan apa yang di lakukan Arsen.
“Aku akan menjemputmu nanti,” jelas Arsen tersenyum pada Sarah yang terdiam. Kemudian kembali mengendarai motornya pergi meninggalkan minimarket dengan kebahagiaan.
***
__ADS_1
Arsen telah berada di depan rumah kontrakan perasaan bahagia menyelimuti, detak jantungnya terus memacu kencang, serasa ada jutaan kupu dalam hati, membayangkan malam ini, ia akan memadu kasih dengan gadis yang paling ia cintai. Setelah memarkirkan motornya ia beranjak berjalan dengan langkan ceria, bersiul riang sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya hingga suara panggilan dari orang yang membuat wajahnya berubah, muram dan merasa akan merusak hari bahagianya lagi kali. Karena setiap kali akan dekat dengan istrinya mereka pasti menjadi pengganggu.
“Ganteng!” suara itu sudah sangat melekat di telinga Arsen, walau tanpa berbalik ia tahu siapa itu, dan sadar harinya akan kembali kacau jika bersama dengan pemilik suara itu.
Arsen berbalik menatap ke arah sumber suara, melihat seorang wanita berdiri dengan gaya manja seakan menggodanya. Ia menarik napas berat pemilik rumah sedang bicara padanya.
“Hei ganteng,” sapa Rena mendekat ke arah Arsen.
“Ada apa?” tanya Arsen memasang wajah jutek seperti biasanya saat melihat tetangga pengaggunya.
“Ganteng tolongin dong, angkatin daster dagang mami masuk ke dalam rumah” ucap Rena telunjuknya mengarah ke sebuah karung putih besar yang terlihat sangat berat.
Arsen mengarahkan pandangannya ke arah barang yang di tunjuk Rena. Ia pun tercengang, rahangnya seakan jatuh mendengar permintaan tolong tak tahu diri dari tetangganya, dan kembali mulai kesal lagi-lagi tetangganya ini akan merepotkannya.
“Hei kau pikir, aku ini kuli panggul ngangkat barang segitu besar!” sembur Arsen dengan permintaan tolong tetangganya.
"Dia mau membuatku tidak bisa melalui malam keduaku, karena kehabisan tenaga setelah mengangkat karung besar itu, benar-benar penganggu" batin Arsen.
“Tolonglah itu, barang baru,” mohon Rena selalu tanpa rasa berat hati jika ia telah menyusahkan tetangganya.“ Tolonglah Ayah,’ pinta Rena mencontohkan seperti yang sering Ale lakukan saat meminta sesuatu pada Arsen dan pemuda ini pasti tak bisa menolak.
Arsen berdecak kesal, entah mengapa saat mendengar kata ayah selalu membuat hatinya senang . Ia seolah luluh, tak berdaya dan akan melakukan apa-pun.
“Dasar tetangga menyebalkan, merusak suasana bahagiaku saja.” batin Arsen yang dari tadi memikirkan malamnya bersama pujaan hati.
“Ya baiklah.” Arsen pasrah mengikuti keinginan dari tetangganya kemudian berjalan mendekat ke arah karung besar itu, ia menarik napas menyiapkan kekuatan untuk mengangkat barang yang berisi daster barang dagangan Rena.
Dengan seluruh tenaga ia mulai memikul karung besar, menaikkan di pundaknya itu layaknya buruh panggul, sumpah demi apa-pun seumur hidup ia baru kali ini mengangkat barang seberat itu hingga membuatnya kesulitan dan bercucuran berkeringat.
“Aku adalah Ceo, pewaris dua perusahaan besar, kenapa aku harus mengangkat barang seberat ini. hidup antara mereka membuatku tak ada harganya sebagai Ceo, menyebalkan sekali, kau akan gila jika, kau tahu bahwa yang kau suruh ini bukan orang sembarangan, anak emas, mamaku pasti bisa-bisa membakar rumah kontrakanmu jika ia tahu anak kesayangannya di suruh angkat karung daster, ” umpat Arsen berjalan tertatih menuju rumah Rena, merasakan sangat berat di pundaknya, merasa harga dirinya sebagai Ceo telah jatuh akibat tetangga pengganggu.
Arsen telah masuk ke dalam rumah Rena menolong tetangganya itu.
“Taruh di mana?” tanya Arsen ketus.
“Taruh di sini saja,” titah Rena memberi instruksi tanpa rasa berdosa sedikit pun.
“Sudah terima kasih ya ganteng. Ayah,” canda Rena membuat Arsen mendengus kesal.
“Aku pulang,” ketus Arsen kemudian berjalan keluar memijat pundaknya yang terasa pegal.
“Kamu sudah mau pulang!” ujar Rena sambil membuka karung dagangannya. “Kamu nggak mau lihat-lihat dulu, barang baru mami? Kamu nggak mau beliin istri kamu daster. Lihat lho Mami punya barang baru,” ujar Rena sambil mengambil satu daster dari karung.
“Nggak perlu.” Arsen terus berjalan keluar meninggalkan rumah, ia mana mengerti masalah urusan pakaian wanita apalagi baju daster seragam kebangsaan ibu-ibu.
“Bagus-bagus loh ini barang barunya, daster batik pendek, ini pasti terlihat cantik jika Ara memakainya,” jelas Rena merayu layaknya seorang penjual pada pelanggan yang telah akan meninggalkannya.
Arsen menghentikan langkahnya saat mendengarkan kata, jika istrinya akan terlihat sangat cantik bila memakai baju dari Rena, ia menarik sudut bibirnya membayangkan wajah cantik Sarah kemudian pemuda ini berbalik tak jadi meninggalkan rumah.
“Benarkah?” tanya Arsen dengan wajah sumringah terbayang-bayang wajah cantik istrinya.
“Ia, ini daster pendek bagus untuk Ara,” jelas mami Rena kemudian memperlihatkan daster tanpa lengan dengan panjang hanya selutut. “Iya daster pendek terlihat sangat seksi, ini anggap aja pengganti lingerie,” oceh Rena memajangnya di hadapan Arsen, .
Arsen mengernyitkan dahinya menatap aneh. “Lingerie ... Daster di samakan dengan lingerie?” ketus Arsen dengan Rena yang berbicara apa-pun demi agar pelanggannya tertarik.
“Ia. Dari pada beli lingerie mahal-mahal, lebih baik beli daster batik Mami saja, murah meriah. Ini juga bisa membuat istri kamu terlihat lebih menggoda, ngak salah seksinya dengan pakai lingerie” jelas Rena dengan manja dan gaya menggoda.
Arsen terdiam memikirkan malam ini, ia akan melakukan malam ke dua dengan Sarah, membayangkan Sarah akan memakai daster batik pendek itu, akan membuatnya bertambah gemas saja apa lagi ia tidak pernah melihat istrinya mengenakan baju terbuka, Sarah selalu memakai pakaian tertutup, melihat model daster yang hanya selutut itu lumayan juga, fikir Arsen.
“Dia pasti akan terlihat lebih seksi dengan baju agak terbuka seperti itu malam ini, baiklah walaupun tidak terlalu terbuka seperti lingerie tapi apa salahnya, dia memakainya malam ini, untuk malam ke dua kami,” batin Arsen dengan pikiran mesumnya.
“Uda jangan banyak berpikir, pilih saja, ini barang baru semua loh, barang mami itu selalu bagus-bagus, suaminya si janda aja sering beliin daster sama mami,” oceh mami yang sedang melakukan trik dagangan apa-pun akan di katakan agar pembeli tertarik.
“Suami si janda,” ucap Arsen tak mengerti dan berpikir dengan keras ucap penjual yang ada di hadapannya.
“Udah Kamu pilih saja, mau yang mana semuanya bagus-bagus.” Rena kemudian merogoh isi karung satu persatu mengeluarkan baju daster itu.
__ADS_1
Rena membuka plastik yang membungkus daster.“Ini bagus, warnanya terlihat lembut. Warna pink babii cocok di kulit putih Ara,” ucap Mami mengibarkan baju itu di hadapan Arsen.
“Pink babii Mi!” ulang Arsen kembali mengernyitkan dahinya mendengar nama warna baju dari sang penjual.
Rena meletakkan baju ke lantai kemudian kembali membuka bungkusan yang kedua.“Atau mau yang ini, lebih terlihat kalem di kulit warna abu-abu monyet.”
“Abu-abu monyet.” Arsen semakin tercengang, tatapan matanya hanya melihat Rena yang sibuk memilih daster yang terbaik.
“Nah ini juga warnanya keren, gelap bikin kulit Ara kelihatan bersinar warna coklat kuda.”
Arsen mulai kesal mendengar warna-warnah aneh dari sang penjual.“ Hey ini jualan daster atau kebun binatang!” sembur Arsen.
“Ya sudah, kalau memang ngak suka sama warna-warna itu, yang ini aja,” pilih Rena.
“Biru. Kamu mau yang warna biru apa? ini juga banyak pilihan, ada biru langit, biru muda. Atau ini nih yang agak gelap biru memar,” oceh Rena yang telah memberikan banyak pilihan untuk Arsen.
“Biru memar,” ulang Arsen semakin tercengang. Ia mulai pusing berhadapan sang penjual.
Rena seolah tak putus asa menunjukkan barang yang bagus untuk Arsen.
“Nah ini nih, dia yang bagus. Warna merah lebih ngejreng. warna merahnya menggoda sama kayak merahnya lipstik pelakor,” jelas Rena dengan semangat menggebu mengangkat baju itu di hadapan Arsen seraya mengoceh.
“Kalau Ara pakai baju ini, kulit putihnya akan semakin bersinar, tinggi badannya akan bikin paha mulusnya juga bakal ikut terlihat, lekuk tubuhnya juga akan terlihat jelas, apalagi model kerah dasternya lebar bikin belah dada Ara juga tampak jelas. Apalagi kalau Ara menggerai rambut panjangnya, dia pasti sangat seksi dan menggoda,” Rena menatap ke atas membayangkan tubuh Sarah sambil membekap baju berwarna merah itu begitu pun dengan Arsen.
Arsen menelan saliva dengan susah payah mendengar ucapan Rena yang menjabarkan lekuk tubuh istrinya yang akan terlihat seksi jika memakai baju warna merah lipstik pelakor. Tubuh Arsen seketika memanas dan menegang karena membayangkan Sarah akan mengenakan baju merah itu saat malam ke dua mereka.
“Hei kenapa Mami jadi membuat aku membayangkannya,” umpat Arsen saat tersadar wajahnya telah memerah.
“Iya aku mau warna merah itu.” Arsen mengulurkan tangannya, meminta baju merah yang akan ia siapkan untuk istrinya saat malam kedua mereka.
“Yang ini?” Rena kemudian memberikan pada Arsen.
“Harganya berapa Mi?” tanya Arsen.
“Mau bayar kredit atau cash, soalnya beda harga,” jelas Rena menatap wajah Arsen.
“Cash aja mi, aku ngak pernah ngutang, masa ia aku beli untuk istriku daster kreditan.”
“Kalau cash seratus delapan puluh ribu. kalau kredit dua ratus ribu.” Rena menyebutkan harga dagangannya.
“Ngak kurang?” tanya Arsen sang mantan Ceo yang telah tahu menawar harga sebuah barang setelah hidup dengan 3 perempuan tangguh menjalani hidup.
“Iya mau murah Rp150.000 tapi itu harga member,” ucap Rena santai.
Pemuda ini kembali tercengang bukan saja dari warna yang aneh ternyata cara bayar juga. “Gila! daster aja pakai harga member!” protes Arsen pada tetangganya.
“Ia memang begitu, soalnya kalau ikut member banyak lagi keuntungannya.”
“Memang apa keuntungannya?” tanya Arsen penasaran.
“Yang pertama harga lebih murah, yang ke dua dapat notifikasi kalau mami punya barang baru, yang ketiga boleh telat bayar uang kontrakan 3 hari,” jelas sang pemilik rumah panjang lebar tentang keuntungan membernya.
“Yang itu untung? Dasar pelit Cuma boleh telat tiga hari, kenapa ngak gratis sebulan.” Arsen memutar mata malas.
“Bagaimana mau daftar member ngak? Kalau ia jadi sama biaya daftar jadi 250.000,” oceh Rena.
“Kenapa semakin mahal.” Arsen semakin kesal dengan Rena.
“Kan baru daftar member, itu di kenakan biaya. Lebih baik kamu ikut member, bagaimana jika istrimu, mau beli lagi, member itu jangka panjang loh.”
Arsen berdecak kesal kemudian merogoh saku celananya meraih dompet kemudian memberikan uang pada Rena untuk menukar daster batik berwarna merah.
“Ini. aku ikut member,” ucap Arsen kemudian berdiri menyudahi jual-belinya dengan perempuan itu memasang wajah juteknya, jika lama-lama bersama Rena ia bisa gila.
Arsen telah keluar dari rumah Rena membawa baju yang ia beli. Malam ini ia akan menyuruh istrinya untuk memakai baju itu di hadapannya, saat mereka akan melakukan malam kedua. Pemuda ini tersenyum bahagia membayangkan Sarah akan memakai baju yang ia siapkan. Telah terbayang di pikirannya sama seperti yang ia khayalkan tadi bersama Rena jika istrinya itu akan terlihat bersinar, cantik, seksi dan menggoda.
__ADS_1
Kini yang akan ia lakukan adalah menunggu sore menjelang, lalu ia akan menjemput Sarah, namun sebelum itu, ia akan mempersiapkan diri dan tenaga untuk pertempurannya malam nanti bersama dengan gadis yang ia cintai.