
Arsen berada di kantor duduk termenung di kursi kebesarannya dengan ke dua tangan menopang pipi. Senyum menawan menghiasi wajah tampannya hingga terlihat berseri-seri saat memikirkan wajah istrinya, membuat Dion yang melihat dari kejauhan bergidik ngeri. Bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang terjadi pada pemuda bergelar tuan jutek itu. Semenjak memasuki ruangan belum sedikit pun ia menyentuh berkas-berkas yang bertumpuk di meja padahal Dion telah mempersiapkan diri akan dampratan di bos karena sensasi Nikita serta insiden salah antar menjadi terselamatkan.
Arsen meraih ponsel yang disimpan di meja, ia merasakan perasaan teramat rindu pada istrinya. Seperti merasa seorang abg yang sedang kasmaran. Wajar ia bersikap seperti itu, wanita yang telah lama ia cintai akhirnya mencintainya namun sayang mereka belum bisa menghabiskan waktu bersama karena harus merahasiakan semua dari mamanya.
Menekan ikon dalam ponsel Arsen lalu mengarahkannya ke telinga.
“Halo bunda.” Arsen
“Ada apa Ayah.” Sarah.
“Kangen.” Arsen.
“Baru juga satu jam.” Sarah
“Kanget liat wajah cantik bundaku,” goda Arsen
“Wah suami jutek sudah pandai merayu. Udah jadi murid Nikita.”
“Hahahaa.” Arsen tertawa membuat Dion semakin menatap heran tanpa dia sadari ada yang telah masuk dalam ruangan itu.
“Kamu telepon siapa, senang banget,” tegur perempuan yang baru saja masuk membuat Arsen terjengkit kaget lalu menegaskan pandangannya.
“Mama.” Arsen lalu memutuskan sambungannya cepat dengan perasaan gugup melingkupi, mamanya tidak boleh tahu jika ia telah kembali bersama Sarah sesuai keinginan papanya. Arsen bisa menebak Wina pasti menemuinya untuk membahas masalah Nikita dan mengapa ia tidak pulang ke rumah semalam.
“Ke mana saja kamu semalam? Kenapa tidak pulang?” tanya Wina lalu duduk di sofa menatap putranya tajam tersirat jelas jika perempuan ini sedang kesal.
Arsen mendekat pada mamanya kemudian duduk di samping perempuan yang telah melahirkannya.
“Aku menginap di rumah papa. Dion yang salah mengantarkan aku,” tuduh Arsen mengarahkan ekor matanya pada Dion membuat sang asisten bergetar.
“Berhenti berhubungan dengan Nikita, lancang sekali dia membuat berita sampah seperti itu!” sembur Wina akhirnya meledakkan amarahnya pada Arsen setelah semalam ia hampir gila menahan diri.
Arsen menarik napas berat melihat amarah mamanya. “Ma biarkan saja, aku tidak merasa terganggu,” ucap Arsen santai.
“Mama ngak suka Ar dia dekat denganmu, dia hanya memanfaatkanmu,” bentak Wina bangun dari duduknya meninggalkan ruangan Arsen dengan rasa kesal.
Arsen hanya menatap kepergian mamanya sungguh miris semenjak dia dekat dengan Nikita hubungannya dengan orang yang melahirkannya renggang namun ia juga tidak bisa mengabaikan teman seperjuanganya, di kala dulu ia hanya menjadi Arsen pemuda biasa dan ia telah menganggap gadis genit itu keluarga.
****
Malam telah menyambut Arsen baru saja menginjakkan kaki ke dalam rumah yang sedang tidak ingin dikunjungi, dengan langkah berat ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Arsen menatap malas kamar mewahnya, Pikirannya terus tertuju pada perempuan yang berada di rumah papanya.
Pemuda tampan ini telah membersihkan diri mengenakan pakaian santai siap untuk meregangkan ototnya yang lelah di pembaringan. Dia duduk di pinggiran ranjang lalu meraih ponselnya untuk melepaskan sedikit rindu pada istrinya, seharusnya saat ini ia bermesraan dengan orang yang di cintai namun karena hidup yang telah lama di jalani pertemuan itu menjadi terhalang.
Hati Arsen seketika berdesir saat panggilannya terhubung, melihat wajah cantik istrinya dari panggilan video.
“Ya Ayah.” Sarah.
“Lagi ngapain?” Arsen.
“Habis temani Papa ngobrol. Dia kesepian Ar.” Sarah.
“Ia. Untung sekarang ada kamu yang nemani.” Arsen
“Bun.”
“Ya.”
“Kangen banget ngak bisa tidur. Pengen tidur peluk kamu,” jelas pemuda yang katanya masih dalam suasana pengantin baru bagaimana tidak terpisah dua tahun baru juga beberapa jam bertemu sekarang terpisah lagi.
“Aku juga kangen Ar.”
“Malam ini jangan matikan sambungannya ya kita ngobrol saja, sampai kita tidur,” ucap Arsen kemudian berbaring miring menyanggah ponselnya dengan bantal
“Ia.” Sarah pun melakukan hal yang sama saat ini mereka berbaring miring saling menatap ponsel seakan mereka sedang berbaring di ranjang yang sama. Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk melepas rindu.
“Kamu ingat kan bulan depan ulang tahunku.” Arsen memulai obrolan.
“Yang ke 29.”
“Ia. Tapi di usia segitu hidupku masih di saja perebutkan oleh orang tuaku terutama mamaku.” Arsen
“Mereka sangat menyayangimu Ar.” Sarah
“Aku tahu, aku adalah kebahagiaan mereka. Tapi aku sudah menikah dan punya hidup sendiri.”
“Sabar Ayah.” Sarah menyemangati.
“Kapan kita punya anak kalau kita pisah terus seperti ini,” ucap Arsen spontan membuat wajah Sarah di seberang sana merona.
“Anak.” Merasa malu jika membahas urusan ranjang dengan suaminya.
“Kita sudah menikah lebih dari dua tahun tapi terasa aneh kita baru melakukannya tiga kali,” pembicaraan sekarang ke hal mesum sesuai isi pikiran Arsen sekarang.
__ADS_1
“Ar, jangan bahas itu.” terlihat jelas di layar ponsel pipi Sarah merona.
“Kau malu bunda.”
“Ya jangan di hitung juga,” protes Sarah.
“Memang itu yang terjadi, kita bercinta masih bisa di hitung jari, baru tiga kali selama pernikahan kita lebih yang dua tahun.”
“Kalau kita tidak bertemu seperti ini, bercinta kita ngak akan bertambah.” Arsen berdecak kesal merasa payah.
Sarah hanya diam hanya Arsen yang menominasi percakapan.
“Nanti saat aku seminggu di sana aku akan, akan tambah jadi 30 puluh.” Target Arsen membuat Sarah bergidik ngeri mendengarnya target bercinta Arsen dalam seminggu tiga puluh kali membayangkan saja membuatnya ngilu baru satu kali saja semalam membuat tubuhnya terasa remuk.
“Ar ngak salah.”
“Ngak.” Arsen dengan suara menggebu.
Malam semakin larut perbincangan mereka tentang masalah ranjang terhenti saat mata Sarah telah tertutup dia sudah tidak sanggup meladeni suaminya hingga tanpa sadar ia telah terlelap. Dari balik layar Arsen menatap wajah teduh Sarah membuat hatinya semakin rindu di tambah pembahasan mereka telah membuat tubuhnya memanas dan terbakar gairah, rasanya ia sudah tidak dapat menahan hasratnya bertahun-tahun ia menahan diri untuk menjamah istrinya sekarang saat ia telah bebas melakukannya, ia masih mendapatkan halangan.
“Ahh aku mendambakannya, aku tidak bisa tidur semalaman,” ucap Arsen mengacak rambutnya prustasi lalu bangun menatap jam di ponselnya yang telah pukul satu.
“Mama pasti sudah tidur lebih baik aku pergi diam-diam menemuinya.” Arsen menarik garis bibirnya akan pikirannya lalu bangkit hanya meraih jaket keluar kamar dengan mengendap-mengendap.
Arsen telah berada di gerbang penjagaan, dengan sekali ancaman untuk tutup mulut pada penjaga keamanan, dia telah berhasil keluar dengan mobil sport mewahnya untuk menemui istrinya.
Arsen mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di jalan yang telah lengang, hanya beberapa saat dia telah sampai di rumah Hutama. Penjaga keamanan menatap heran pada anak pemilik rumah yang datang di malam yang petang walau bertanya-tanya mereka tidak berani berkata-kata pada tuan jutek, hanya bisa mempersilahkan.
Arsen telah berada di dalam kamar Sarah, melihatnya terlelap meringkuk dengan ponsel masih berada di hadapan. Arsen meraih ponsel itu menaruhnya di nakas kemudian berbaring di samping Sarah. Pemuda ini berbaring miring menatap kecantikan istrinya tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi wajah teduh istrinya membuatnya semakin bertambah gairah.
Arsen mendekap tubuh Sarah yang terlelap seraya mengecup seluruh bagian wajah Sarah hingga berlabuh di bibir merona itu membuat Sarah mulai tersadar jika ada seseorang yang telah menyentuh tubuhnya.
Sarah tersentak tidak tahu siapa yang telah mencumbuinya hingga tidurnya terganggu.
“Ar, kau di sini,” tegur Sarah saat matanya telah menangkap jelas suaminya.
“Ia sayang, Aku menemuimu mau nambah bercinta kita jadi yang ke empat kalinya,” ucap Arsen seketika bergerak menindih Sarah kemudian mellumat bibir Sarah dengan penuh nafsu yang sedari tadi dia tahan.
Sarah hanya pasrah di bawa kungkungan suaminya menikmati percintaan yang bergelora mengeluarkan semua perasaan mereka sebagai pengantin baru.
Fajar hampir menyingsing acara memadu kasih itu telah usai. Arsen dengan perasaan berat akan meninggalkan tubuh lelap Sarah yang polos di bawah selimut, terlihat jelas jika istrinya itu kelelahan melayaninya. Sudah waktunya ia kembali sebelum mamanya tahu. Setelah membersihkan diri Arsen kembali ke ranjang mengecup kening istrinya sekilas.
“Aku pergi dulu bunda, maaf sudah membuat kelelahan, makasih sudah yang ke enam,” batin Arsen menarik sudut bibirnya kemudian beranjak pergi dengan hati tak rela.
“Lumayan nambah dua kali,” batin Arsen menarik sudut bibirnya menghitung percintaannya selama pernikahan yang mereka jalani dua tahun lebih, seraya memegang stir mobil membelah jalan malam yang sunyi.
Arsen telah menemukan cara agar terus bisa bersama dengan Sarah, demi cinta ia akan bertemu sarah lagi sama seperti yang tadi ia lakukan pergi di tengah malam dan pulang sebelum dini hari. Demi bersama dengan Sarah apa pun akan dia lakukan.
***
Suara gemuruh terdengar membela angkasa, guyuran air jatuh deras dari langit membuat suasana seakan mencekam namun tidak di sebuah kamar, pasangan ini sedang menikmati dinginnya malam, serta suara berisik hujan yang dapat mengurangi suara erangan dan desahan yang mereka timbulkan, decitan ranjang mengiringi setiap desakan yang Arsen lalukan ke dalam tubuh Sarah, mendorong terus menerus hingga menimbulkan kenikmatan yang membuat seakan melayang, pergerakan Arsen semakin cepat hingga mereka seakan merasakan ingin meledak dalam kenikmatan puncak.
“Ahh,” desah keduanya, Sarah meremmas kuat punggung Arsen saat kenikmatan itu telah mereka raih bersamaan, hingga benih cinta itu masuk ke dalam rahim istrinya.
Dengan tubuh bergertar Arsen ambruk di atas tubuh istrinya, terdengar jelas napas yang terengah-engah dari keduaannya, keringat bercucuran membasahi tubuh. Seperti biasa malam ini kembali mereka lewati dengan penuh cinta.
“I love you bunda.” Arsen mengecup kening Sarah lalu turun dari tindihannya. Membawa tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.
“Bunda sudah yang ke delapan puluh enam kali,” bisik Arsen di telinga Sarah hingga membuatnya menjadi malu, menyembunyikan wajahnya di dada Arsen.
“Kita tidak pernah libur dalam semalam pun,” keluh Sarah
“Tapi bunda suka kan,” goda Arsen lalu mendapatkan cubitan di pinggang.
“Aduh sakit bunda,” keluh Arsen.
“Dalam minggu ini sudah harus seratus,”
“Ayah ....” kembali Arsen menerima cubitan dari sang istri.
Tak terasa hitungan percintaan mereka telah mencapai delapan puluh enam hanya dalam jarak baru satu bulan setelah bersama. Arsen tiada henti melakukan gempurannya pada orang yang ia cintai. Apalagi jika saat giliran seminggu yang ia miliki di rumah Papanya maka dia akan menggunakan waktu sebaik-baiknya hingga seakan malam mereka hanya terlewatkan dengan menyalurkan gairah. Bahkan saat Arsen tinggal bersama mamanya pemuda ini tetap datang tengah malam dan pulang saat akan pagi, benar-benar tiada henti melakukannya. Seperti sekarang, saat ini adalah malam giliran Arsen tinggal bersama mamanya namun dia kembali bermain kucing-kucingan untuk bertemu dengan orang yang ia cintai.
Arsen bergegas bangkit dari tidurnya hendak ke kamar mandi membersihkan diri, dia sudah sangat terlambat untuk pulang suasana hujan membuatnya hanyut dalam percintaan hingga lupa fajar akan segera menyingsing.
Sarah juga beranjak dari tempat tidur hendak membersihkan diri, namun ia hentikan langkah itu dan kembali duduk di pinggir tempat tidur. Ia tiba-tiba merasakan kepalanya berat sekali.
Melihat Sarah kembali duduk di pinggir tempat tidur membuat Arsen mendekat.
“Ada apa Bun? Kamu sakit?” tanya Arsen jongkok di hadapan Sarah sambil memegang bahunya, raut wajahnya seketika berubah cemas saat melihat istrinya meringis.
“Ngak Cuma sedikit pusing,” keluh Sarah mengerjapkan matanya agar rasa itu sedikit berkurang.
__ADS_1
“Aku panggilin dokter ya.” Arsen semakin cemas mendengar ucapan Sarah.
“Ngak perlu Ar. Aku hanya kelelahan dan akhir-akhir ini ngak makan dengan baik, di tambah lagi kurang tidur tiap malam,”
“Aku khawatir kamu harus periksa,” paksa Arsen apalagi melihat wajah yang Sarah pucat.
“Ngak usah Ar, ini pasti karena kamu, yang buat aku begadang tiap malam sampai kurang tidur,”keluh Sarah menarik sudut bibirnya pada Arsen.
“Maaf, aku akan menguranginya,” tutur Arsen merasa bersalah. mengecup punggung tangan istrinya dengan sayang.
“Tidak apa-apa, aku suka,” goda Sarah agar Arsen sedikit tenang dan benar jawaban Sarah membuat pemuda ini kembali tersenyum kembali melayangkan ciuman di pipinya.
“Bantu aku ke kamar mandi,” pinta Sarah dan tanpa kata Arsen langsung mengendong istrinya.
Tak beberapa lama mereka telah kembali Sarah telah membersihkan diri.
“Kamu benaran ngak apa-apa? Tidak mau aku panggilkan dokter” tanya Arsen sekali lagi.
“Aku cukup tidur saja,” jelas Sarah.
“Baiklah, Istirahatlah.” Arsen menggiring tubuh Sarah untuk kembali berbaring di tempat tidur menarik selimut menutupi sebatas dada.
“Pergilah kamu sudah terlambat, nanti mama kamu tahu kamu ngak ada di rumah,” Saran Sarah pada Arsen yang duduk di pinggiran ranjang.
“Tapi, kamu.” Arsen seakan tidak ingin pergi meninggalkan istrinya yang terlihat dalam keadaan lemah.
“Aku ngak apa-apa, sudah pergilah,” paksanya.
“Baiklah aku pergi. Hubungi aku jika ada sesuatu,” jelas Arsen lalu mengecup kening istrinya.
Arsen telah meninggalkan rumah papanya dengan perasaan cemas akan kondisi Sarah. di sepanjang perjalanan pikirannya terus di penuhi istrinya hingga tak sadar jika fajar telah menyingsing ia terlambat kembali.
Pemuda tampan ini telah berada di rumah mamanya seperti biasa berjalan mengendap berharap tidak ada yang mengetahui kedatangannya.
“Dari mana kamu Ar.” suara terdengar dari ruangan yang di lalui Arsen membuat langkahnya terhenti dan jantung ingin terlepas karena kaget.
Arsen berbalik mendapati mamanya duduk di kursi menyilang kaki seakan tahu jika ia tidak ada di rumah semalaman.
“Ar kamu dari mana?” tanya Wina sekali dengan suara meninggi. Isi kepala Arsen seketika berputar akan jawaban apa yang akan ia berikan.
“Mama liat kamu sering keluar saat tengah malam dan pulang sebelum subuh,” tambah Wina dengan penyelidikannya.
“Kamu pikir mama ngak tahu.” Tatapan menyelidik di layangkan Wina pada putranya yang masih diam saja belum menjawab pertanyaannya.
“Dugem,” ucapnya singkat.
“Dugem sama siapa? Gerald sudah menikah ngak mungkin di pergi ke tempat itu lagi.”
“Ar habis dugem sama Dion,” jawab Arsen hanya itu yang terlintas di pikirannya untuk alasan pergi tengah malam pulang sebelum subuh dan kali ini melibatkan asisten.
“Dugem, tiap malam.” Pertanyaan itu semakin menyudutkan Arsen terlihat jelas mamanya tidak yakin dengan jawabannya.
“Ia ma. Buang stres,” alibi Arsen.
“Kamu ngak bohongkan sama mama ngak ada yang kamu sembunyikan.” Wina menatap tajam putranya dengan insting seorang ibu ia tahu ada yang di rahasiakan Arsen darinya.
“Ya, ngak lah. Udah ah Ma Ar mau tidur dulu,” jelas Arsen akan bergegas meninggalkan mamanya tidak mau berlama-lama takut jika Wina semakin curiga padanya.
“Mama mau ingatkan ulang tahun kamu tinggal beberapa hari lagi jadi jangan cari masalah.”
“Ia, Ma.” Arsen mempercepat langkahnya meninggalkan Wina.
"Saat ini aku harus hati-hati mama sudah mulai curiga padaku," batin Arsen.
“Ar kamu bohong sama mama, kamu ngak bau alkohol maupun asap rokok,” batin Wina tidak percaya akan ucapan putranya.
Hai raider aku tuh lagi kepo, pusing sudah seharian ngitung pakai kalkulator, jari, pembagian hari. Aku curiga kalau Ayah ma bunda salah Ngitung? malam percintaan mereka. masa udah 86 aja , itu kira-kira berapa kali tuh ya dalam semalam? sebulan udah main 86 aja, padahal hari Cuma 30. ketemu Cuma tiap selang seling seminggu pul, ma seminggu kucing-kucingan sesempatnya ambil jatah kok bisa, tadi ayah nyuri cuma dapat dua ronde. Apa kalau libur kantor kalinya baru di banyak-banyakin?🤷♂️
Aduh aku jadi kurang kerjaan ngitung ini, kelakuanku ini jangan di contoh. jangan kalian hitung juga. cukup aku yang pusing.🤦♀️
Itu mereka tidur ngak sih? Pantas saja Ara sampai lemes begitu. Astaga aku mulai lagi keponya, udah ah bodo amat sama malam mereka entar bikin iri, kan pengen akunya.
😍😍😍
Pesanku jangan hitung malam percintaan ayah dan bunda entar pusing juga. komen aja isi cerita jangan hitungan author.👍👍🤞🤞🤞
__ADS_1