CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
mantan


__ADS_3

Sarah telah berhasil pergi meninggalkan rumah Bian dengan membawa kesedihan yang mendalam, ia sangat hancur saat mengatakan kata perpisahan untuk kekasih hatinya. Cerita mereka telah berakhir saat ia memilih menikah dengan Arsen.


Sarah berjalan tertatih dengan derai air mata, kakinya melangkah tak tentu arah, seraya mengingat semua kilas balik hubungan indah mereka. Bian yang selalu menjaganya, akan melakukan apa-pun untuknya, mendampingi menjalani hari sulit saat tinggal di rumah Hutama, sekarang hanya akan menjadi masa lalu indah.


“Setelah semua yang kita lakukan, sekeras apa-pun kita berjuang kita tidak berjodoh, maafkan aku membuat semua perjuanganmu sia-sia,” batin Sarah terus terisak.


\


Malam telah larut Arsen masih berada di luar rumah berjalan mondar-mandir menunggu ke datangan istrinya. Raut wajah cemas terpancar begitu jelas, memikirkan bagaimana keadaan gadis yang sangat dicintainya. Ia telah mencari ke mana-mana, sejak sore ia terus membela jalan untuk mengetahui keberadaan Sarah, namun tidak membuahkah hasil. Membuatnya semakin panik saat ia mencoba menghubungi ponselnya namun selalu gagal. Setelah lama mencari ia memutuskan untuk pulang berharap jika istrinya itu telah berada di rumah.


“Ara kamu di mana? Ke mana lagi aku harus mencarimu? Semoga saja kamu baik-baik saja. Apa kamu pergi meninggalkan aku sendiri di sini?” batin Arsen pikirannya mulai kalut, di penuhi pikiran buruk. Arah pandangnya menatap ke arah jalan berharap istrinya akan muncul di sana.


Arsen menajamkan penglihatan saat manik matanya menangkap bayangan seorang gadis yang berjalan tertatih pelan ke arah rumah kontrakan.


“Ara,” ucap Arsen saat melihat Sarah telah datang. Ia kemudian berlari ke arah istrinya yang telah membuatnya cemas.


“Ara akhirnya kau pulang.” Arsen memegang kedua bahu Sarah, menatap wajah yang terlihat sembab.


Arsen lalu membawa tubuh Sarah ke dalam pelukannya mendekap untuk menghilangkan rasa cemasnya. “Ara kamu dari mana saja? Aku sangat mencemaskanmu? Kau membuatku sangat takut,” cecar Arsen mempererat pelukannya seraya mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali, akhirnya bisa bernapas lega karena istrinya telah kembali.


Sarah hanya diam tanpa kata-kata, tidak bisa menjawab semua pertanyaan Suaminya tentang kepergiannya tadi. Seakan terasa mimpi, hari ini ia telah bertemu dengan pemuda yang sangat ia hindari dan parahnya lagi ia telah mematahkan hatinya.


“Ayo kita masuk.” Arsen merangkul bahu Sarah, mengarahkan untuk masuk ke dalam rumah.


Pasangan ini telah berada di dalam rumah, mereka duduk di sofa berdampingan, Sarah hanya termenung.


“Ara kamu dari mana saja tadi?” tanya Arsen penasaran ingin mendengar cerita kepergiannya, namun tak di idahkan oleh Sarah, ia masih termenung.


“Ara kamu kenapa?” Arsen menatap wajah Sarah yang sembab terlihat jelas jika gadis ini telah menangis. “Ara kamu habis nangis ya?” Arsen semakin bertambah cemas.


Pertanyaan Arsen yang bernada khawatir membuatnya tersentak akan lamunannya. Ia tidak mau Arsen tahu tentang apa yang terjadi padanya, jika ia telah bertemu dengan Bian mantan kekasihnya.


“Aku tidak apa-apa? Aku tadi hanya bertemu dengan teman lama,” jawab Sarah pelan lalu menyembunyikan wajahnya tak mau Arsen menatap terus dengan tatapan menyelidik seakan ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Sarah.


Sarah kemudian bergegas berdiri untuk menghindari pertanyaan Arsen lagi. “Aku akan mandi dulu,” ucap Sarah cepat kemudian pergi menuju kamar meninggalkan Arsen yang memasang wajah heran.


Arsen terus menatap tubuh Sarah yang pergi meninggalkannya. “Aneh. Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat sangat sedih,” gumam Arsen kemudian beranjak mengikuti langkah Sarah masuk juga ke dalam kamar pemuda ini telah melihat handuk menempel di pundak istrinya hendak pergi ke kamar mandi.


“Ar.”  Sarah terkejut saat berbalik Arsen sudah ada di belakangnya, berdiri menjulang.

__ADS_1


“Apa kamu benar ngak apa-apa? Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku? Apa ada orang yang mengganggumu,” tanyanya sekali lagi memastikan keadaan gadis yang ia cintai, tidak ingin terjadi apa-apa.


“Benar aku tidak apa-apa.” Memberi senyuman lebar agar pemuda yang ada di depannya ini merasa tenang.


“Baiklah.” Mencoba mempercayai kata-kata istrinya.


Sarah kemudian menerobos tubuh Arsen hendak berjalan keluar namun suaminya menghentikan langkahnya.


“Ada apa Ar?”


“Tunggu di sini aku akan memberikan sesuatu untukmu,” terang Arsen berjalan ke arah lemari mengambil sesuatu. Saat telah meraihnya ia kembali berdiri di depan Sarah.


“Pakai ini malam ini.” Arsen menyodorkan sebuah dari daster berwarna merah seperti lipstik pelakor, yang ia beli tadi siang dari tetangga pengganggu untuk persiapan malam ke dua mereka.


“Ini?” tanya Sarah alisnya mengernyit tak mengerti akan apa tujuannya menggunakan daster itu, ia terlupa akan janjinya pada Arsen.


“Pakailah, aku tadi membelinya dari tetangga kita, untuk kamu pakai malam ini, kamu pasti sangat cantik mengenakan baju ini,” jelas Arsen tersenyum lembut pada gadis yang ia cintai.


Sarah meraih daster dengan wajah datar, itu lalu berjalan keluar kamar tidak ada sedikit pun terlintas di pikiran, jika ia akan menjadi istri Arsen seutuhnya malam ini yang ia pikirkan hanya tentang pertemuan menyedihkannya dengan sang mantan kekasihnya yaitu Bian, hanya itu yang terus berputar dalam ingatannya.


Arsen diam terpana menatap Sarah yang berjalan ke arahnya. Sarah tampil dengan daster merah tanpa lengan dan panjang selutut, rambut panjangnya basah terurai semakin terlihat mempesona, kulit putihnya semakin bersinar. Wajahnya sangat cantik, berseri-seri dengan susah payah Arsen menelan salivanya melihat apa yang  dibayangkannya bersama mami Rena tadi siang, dan benar tersaji di hadapannya. Membuat tubuhnya mulai memanas, geloranya mulai naik.


Sarah terdiam menautkan alisnya melihat Arsen yang menatap dengan tatapan tak berkedip hanya karena baju yang ia kenakan. “Ar ada apa?” tanya Sarah.


“Kamu sangat cantik menggunakan baju itu,” puji Arsen tersenyum menatap dengan tatapan mendamba pada cintanya.


Sarah hanya memasang wajah datar tidak bereaksi dengan pujian Arsen lalu berjalan ke arah ranjang hendak merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, terutama hatinya.


Arsen dengan cepat beranjak dari tempat tidur hendak membersihkan diri juga sebelum ia melakukan malam ke duanya bersama Sarah.


Sarah telah berbaring di atas kasur hendak terlelap ia sangat lelah. Pertemuannya dengan Bian hari ini telah banyak mempengaruhi suasana hatinya, rasanya ia hanya ingin terus menangis.


Sarah berbaring miring, matanya telah tertutup ingatannya telah hampir menuju alam mimpi hingga ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya, membuat matanya terbuka. Ia lalu mengarahkan pandangnya ke bawah arah perutnya yang ternyata telah melingkar tangan Arsen.


Deg ...


Sarah tersentak ingin berontak atas apa yang di lakukan Arsen pada padanya dan bertanya mengapa pemuda itu tiba-tiba berada di kasur yang sama dengannya dan memeluknya, namun belum bertanya, matanya membulat sempurna ia telah tersadar, ingatannya telah kembali jika ini adalah malam keduanya bersama suaminya, malam ini ia akan menjadi istri yang akan menyerahkan diri sepenuhnya untuk suaminya.


Tubuh Sarah seketika bergetar, jantungnya berdetak dengan kencang, ia belum siap melalui malam ini di saat pikirannya yang kalut. Dan hanya terus memikirkan perasaan Bian. Namun ia tidak kuasa untuk menolak.

__ADS_1


Pelukan dari belakang itu semakin erat, mendekapnya, deru napas Arsen terasa di tengkuknya membuat tubuhnya semakin bergetar detak jantungnya semakin memacu.


“Ini adalah malam kedua kita,” ucap Arsen pelan berbisik di telinganya membuat tubuh Sarah semakin menegang mendengar suaminya telah meminta haknya, ia masih tak bergeming pada posisi membelakangi Arsen tanpa satu kata pun.


Arsen memulai aksinya ia mengecup telinga belakang Sarah dengan lembut. Membuat Sarah meremang, ia menutup matanya rapat, menggigit bibir bawahnya saat kecupan itu mulai menjalar ke tengkuk lehernya membiarkan suaminya menjamah tubuhnya dan memberikan haknya.


Arsen menarik bahu Sarah pelan mengubah posisi agar berbaring lurus lalu bergerak menindihnya. Sarah membuka matanya perlahan saat ia merasa kecupan itu telah terhenti, tubuhnya semakin lemah dan sulit bernapas saat ia telah berada dalam kungkungan suaminya. Manik mata mereka bertemu, Arsen menatap dengan tatapan mendamba wajah istrinya mencari persetujuan dari sorot mata itu.


“Kita kita akan memulainya,”


Sarah hanya diam menutup matanya jantung berdetak sangat kencang, sangat gugup menyerahkan dirinya pada suaminya.


Mata sarah terbuka saat ia merasakan bibirnya telah si lummat Arsen dengan lembut, ia hanya diam tak membalas mencoba pasrah menerima apa pun yang suaminya lakukan pada dirinya. Lummatan itu semakin dalam dan menuntut, lidah Arsen telah bermain-main ke dalam rongga mulutnya, menggoda untuk membalasnya, namun Sarah hanya diam menutup mata rapat.


Sarah mengalihkan wajahnya mencengkeram seprai dengan kuat saat kecupan Arsen beralih menuju ceruk lehernya memberi kecupan, sesapan yang membuatnya menahan geli seakan ada sesuatu yang akan meledak dalam dirinya. Arsen semakin menjamah tubuh Sarah, napasnya semakin memburu terbakar oleh gairah. Tangannya mulai bergerliya meraba seluruh tubuh Sarah hingga meremmas bagian dada Sarah.


Sarah menutup matanya rapat mencoba menikmati sentuhan yang di berikan oleh suaminya yang membuat tubuhnya juga ikut memanas, tangannya mulai menggelayut di leher Arsen. Namun ia tersentak saat bayangan Bian seketika berputar dalam ingatannya membuat dadanya seketika sesak dan merasa bersalah pada sang mantan kekasihnya, ia pun tak sanggup melalui malam ini dengan terus mengingat Bian, ia sangat merasa bersalah seakan sedang berkhianat,  pikirannya bersama Bian sedangkan ia bersama pemuda lain walau pun itu telah menjadi suaminya. Ini tidak adil bagi ke dua pemuda ini.


Sarah lalu menolak dada Arsen dengan kedua tangannya, mendorong tubuh suaminya dengan keras membuat pemuda ini mundur ke agak belakang dan terkejut. Arsen menatap heran dengan apa yang di lakukan Sarah masih tak mengerti gairahnya seketika surut.


Sarah lalu bangun terduduk. “Ar maaf aku, aku tidak siap untuk malam ini,” ucap Sarah lirih dengan suara bergetar menahan air matanya. Bayangan Bian terus terputar dalam ingatannya hingga rasanya ia tidak sanggup melalui malam ini. Ini tidak adil bagi suaminya.


Arsen terdiam sejenak menatap istrinya yang tertunduk sedih dan tubuhnya bergetar seakan ketakutan, ia merasa iba, lalu tersenyum lembut. Kembali memeluk tubuh istrinya yang terlihat merasa bersalah.


“Tidak apa-apa jika kau tidak siap untuk malam ini. Aku tidak akan meneruskannya. Kita akan melakukannya saat kau telah siap dan aku akan selalu menunggumu.” Arsen mengerti dengan penolakan Sarah mungkin istrinya masih trauma dengan kejadian yang telah ia lakukan padanya.


“Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu.” Air mata Sarah lolos dari pelupuk mata ia sadar telah mengecewakan suaminya, namun ini tidak adil dia sedang bersama suaminya namun memikirkan pemuda lain.


Pelukan itu terlepas. “Sudah jangan menangis. Ini bukan salahmu, aku mengerti ini pasti sulit bagi.” Arsen mengusap air mata istrinya memberi pengertian jika ia tidak keberatan dengan penolakan itu. “Ara. Terima kasih karena kau mau mencobanya.” Arsen mengecup kening Sarah.


“Tidurlah ....” Arsen mengarahkan tubuh Sarah agar berbaring kembali.


Sarah pun kembali berbaring Arsen mengecup kening Sarah lalu ikut berbaring di samping. Sarah menatap wajah Arsen yang telah menutup mata.


“Maafkan aku, aku juga tidak tahu perasaanku padamu. Tapi aku telah nyaman hidup bersamamu. Lain kali kita pasti akan melakukannya dengan baik, karena kaulah suami, beri aku sedikit untuk memantapkan hatiku,” batin Sarah hatinya terus diliputi oleh rasa bersalah pada mantannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2