CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
menikah


__ADS_3

Segala persiapan pernikahan Asen dan Sarah telah siap, berkas pernikahan pun telah diatur semua oleh Wisnu. Arsen dan Sarah akan menikah secara diam-diam di rumah Hutama dan hanya mendatangkan penghulu ke rumah. Pernikahan diakan dengan sederhana dan rahasia hanya beberapa orang kepercayaan Wisnu yang hadir menjadi saksi. Bahkan di hari bahagia ini Arsen merahasiakan pernikahan ini dari mamanya. Entah apa yang akan terjadi kelak jika pernikahan diam-diam itu terbongkar. Wina pasti murka mengetahui putra kesayangannya menikah dengan anak musuhnya.


Hari ini adalah hari sangat spesial bagi Arsen, moment yang paling di tunggu dalam hidupnya. Pernikahan bersama dengan gadis yang telah lama ia impikan, bersanding dengan wanita yang dicintai. Raut wajah tampannya berseri-seri dengan senyuman bahagia terus tersungging di bibirnya. Berbanding terbalik dengan kebahagiaan Arsen menyambut pernikahan, Sarah bahkan tak bisa menutupi raut wajah kesedihannya. Hari ia akan menjadi istri dari pemuda yang sama sekali tak di cintainya, tak pernah ia bayangkan jika dia akan berjodoh dengan tuan jutek.


Sarah dan Arsen duduk berdampingan di hadapan penghulu, yang akan menikahkan mereka. Lelaki itu pun mulai menikahkan mereka, menjabat tangan Arsen, tak beberapa lama giliran Arsen mengucapkan ijab dengan satu tarikan napas dan tanpa kendala ia berhasil mengucapkan kalimat yang membuat Sarah menjadi miliknya.


Kata Sah dari saksi sekeliling membuat air mata Sarah jatuh akhirnya ia tak bisa menghindari lagi takdirnya, ia benar-benar telah menikah dengan tuan jutek. Senyum kemenangan penuh kebanggaan terus tertanam di wajah Arsen telah berhasil membuat Sarah menjadi miliknya, bukan bersama Bian.


Setelah menandatangani berkas pernikahan, serta mengambil foto pernikahan untuk dokumentasi. Pernikahan  mereka telah usai, orang-orang mulai meninggalkan rumah Wisnu.


“Selamat untuk pernikahan kalian, berbahagialah. Kalian telah resmi menjadi suami istri,” ucap Wisnu berdiri di hadapan mereka kemudian memeluk Arsen terharu putra kesayangannya telah menikah dan memiliki keluarga baru.


“Terima kasih Pa,” Arsen membalas pelukan papanya.


“Papa menyerahkan Sarah padamu, jaga dia dengan baik. Bahagiakan dia.” Wisnu menatap Wajah Sarah yang tak bersemangat tak ada gurat wajah bahagia sebagai pengantin baru selayaknya gadis yang telah menikah. Dan Wisnu mengerti perasaan Sarah.


“Ar pasti menjaga Sarah dengan baik,” ucap Arsen dengan mantap.


“Pa, kami sudah harus bersiap untuk pergi dari rumah ini,” jelas Arsen tertunduk sedih sesuai dengan kata-katanya ia akan keluar dari rumah Hutama jika telah menikah dengan Sarah.


“Kalian pikirkan lagi, kalian baru saja menikah, kenapa terburu-buru,”


“Tidak Pa kami harus pergi,” ujar Arsen, di sampingnya Sarah hanya terdiam tak menimpali sedikit pun.


“Baiklah.” Wisnu mengiyakan.


Sarah dan Arsen kemudian kembali ke kamar masing-masing mempersiapkan pakaian yang akan mereka bawa pergi dari rumah.


***


Sarah berada di kamarnya mulai memasukkan barang penting dalam koper, ia hanya mengemas sedikit barang serta membawa kenang- kenangan dari ibunya berupa perhiasan yang di tinggalkan untuknya. Saat sibuk berkemas Wisnu masuk ke dalam kamar menemui Sarah.


“Ara!” panggil Wisnu.


Sarah berbalik tersenyum pada papanya. “Papa! Ada apa?” tanya Sarah menghentikan kegiatannya.


Wisnu duduk di sofa kemudian di susul oleh Sarah yang juga duduk di samping Sarah. Laki-laki ini meraih tangan Sarah dengan lembut.


“Tolong jaga Arsen Ra, kamu tahukan dia tidak pernah hidup susah.” Suara Wisnu bergetar mencemaskan kehidupan putranya kelak.

__ADS_1


“Pasti Pa,” ucap Sarah.


“Papa tahu dia egois dan caranya memiliki kamu salah. Tapi, dia sangat mencintaimu,” tutur Wisnu tahu perasaan cinta Arsen yang bertepuk sebelah tangan. “Tolong Ra, buka hatimu untuknya, belajarlah mencintainya, balas perasaannya. Kau adalah perempuan yang paling di inginkannya. Dia rela melepaskan semua demi kamu,” jelas Wisnu menjelaskan betapa besar cinta putranya.


Sarah hanya terdiam tak bisa berkata apa pun. Dia tak mungkin bisa mencintai Arsen itu pikirnya.


“Dia pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Dia pasti akan melakukan apa pun agar kamu bahagia. Jadi terima dia sebagai suamimu,” pinta Wisnu sekaligus memberi nasehat untuk Sarah agar iklas menerima Arsen.


“Tolong jaga Arsen Ra, kamu tahukan dia tak pernah hidup susah. Bimbing dia,” Suara Wisnu bergetar menahan tangis putra kesayangannya akan pergi.


“Pasti Pa,” ucap Sarah.


Pria ini menarik napas panjang. “Tak terasa papa telah berada di titik menikahkan Arsen. Anak arogant itu akhirnya menikah,” Senyum Wisnu. “Kamu tahu Ra, papa ngak pernah melihat Arsen begitu meningingikan sesuatu, seperti ini hingga rela memohon pada papa untuk menikahkanmu dengannya. Bahkan rela meninggalkan segalanya demi kamu, merahasiakan pernikahan dari mamanya,” tutur Wisnu.


“Arsen adalah korban keegoisan kami, sejak dulu kami selalu memperebutkan keberadaannya. Papa tahu dia sangat sedih, tapi mencoba untuk menahannya demi agar kami tak bertengkar. Dia tidak pernah bahagia, sekarang ia telah menemukan kebahagiaan dan kebahagiannya itu hidup bersama denganmu. Terus dampingi dia, jangan berpikir untuk menyerah hidup dengannya.”


“Ara akan memcobanya,” ucap Sarah


Wisnu terus memberi nasihat agar Sarah dapat menerima Arsen yang juga telah berkorban besar demi cintannya. Ia bukanlah tak mengerti perasaan Sarah yang tak mengingikan Arsen tapi semua telah terjadi mereka telah menjadi suami istri.


***


Pasangan pengantin baru ini telah berkemas dan siap untuk pergi dari rumah, sebelum pergi mereka akan pamit pada Wisnu.


Wisnu membalas pelukan Arsen, cairan bening membasahi ekor matanya. “Hiduplah bahagia nak, kalian harus saling mengasihi,” Pria ini melepaskan pelukannya.


“Ganti nomor ponsel kalian agar mamamu tak bisa melacakmu, kalian hati-hati, jaga diri kalian.” Wisnu memperingatkan.


“Sekali lagi Ar, mohon tolong rahasiakan semua ini pada mama,” pinta Arsen.


Pria ini merangkul pundak Arsen,“Kamu tenang saja papa pastikan tak ada yang bisa melacak keberadaan kamu termaksud mamamu dan rahasia pernikahanmu tak akan terbongkar semua sudah papa atur dan papa bungkam semua orang yang tahu pernikahan ini,” jelas Wisnu panjang lebar bersikap bijak mendukung putranya untuk hidup bersama dengan orang yang ia cintainya.


“Kepergianmu ini juga sudah papa siapkan semua, tujuanmu juga akan tersimpan rapat, papa juga sudah mengatur alasan untuk mamamu jika kamu pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis papa,” tambah Wisnu menjeda sejenak ucapannya, menatap Sarah sekilas lalu kembali melanjutkan berkata, “Bahkan Bian tak akan menemukan kalian,” ucap Wisnu dengan ragu-ragu, Sarah seketika mengarahkan pandangannya pada Wisnu sorot mata mereka bertemu, dia tak menyangka jika semua telah di perhitungkan termasuk mantan kekasih Sarah yang pasti akan terus mencari keberadaan gadis ini.


Arsen tersenyum tipis. “Terima kasih Pa, karena telah membantu dan mendukung Arsen.”


“Kamu tenang saja ada papa di belakang kamu.” Dengan kekuasaannya Wisnu akan memastikan tak akan ada yang bisa mendapatkan Arsen.


Sarah maju memeluk pria yang menjadi papa tirinya.

__ADS_1


“Ara pamit Pa,” Sarah memeluk Wisnu dengan derai air mata.


“Jaga diri kamu, sayang.” Peluk Wisnu.


Kata perpisahan pun terlontar raut wajah sedih menghiasi mereka, saat akan pergi pelayan datang menemui mereka, hendak menyampaikan sesuatu.


“Maaf tuan, di luar ada anak Bi Odah, Bian. Sangat ingin bertemu dengan nona Sarah bahkan memaksa untuk masuk,” jelas pelayan tertunduk. “Sudah berkali-kali dia kemari, sekarang ia akan menerobos untuk menemui nona Sarah.”


 


Wisnu dan Arsen saling pandang mendengar mantan kekasih Sarah dan bersikeras bertemu dengan gadis yang baru saja menikah ini, mereka lalu kompak menatap Sarah yang seketika mematung mendengar laporan pelayan, tubuhnya membeku tangannya terkepal erat, tak berdaya menghadapi semua ini. Di dalam hati ia sangat merindukan pemuda itu, empat tahun menahan perasaan dan ingin melihat bagaimana keadaan Bian sekarang, namun itu semua sudah tak mungkin, ia telah menjadi istri Arsen dan juga tak punya keberanian bertemu bahkan mengatakan jika, ia telah menikah. Bian pasti patah hati dan sangat hancur merasa usaha panjangnya selama ini bersama Sarah sia-sia.


Arsen menatap Sarah lekat melihat jika istrinya telah terpengaruh dengan pesan pelayan membuat hatinya sedikit cemburu. Sarah bersedih demi Bian.


“Suruh penjaga untuk mengusirnya,” titah Arsen dengan wajah dingin. Dan Sarah hanya diam tak berbuat apa pun demi Bian karena dia pun tak siap bertemu Bian.


“Baiklah tuan,” pamit pelayan meninggalkan mereka.


Sejenak Arsen dan Sarah menunda kepergian menunggu hingga Bian benar-benar pergi dari rumah setelah itu mereka akan pergi.


“Ara ... Ara ... Ara! Keluarlah! Aku datang! Tolong keluarlah sayang, temui aku, aku sangat merindukanmu, Ara!” teriak Bian dengan keras dan sekuat tenaga agar Sarah keluar menemuinya.


Dari dalam mata Sarah berkaca-kaca hanya bisa menahan tangis dadanya terasa sesak, hatinya terasa tersayat mendengar pemuda yang di cintai, berteriak memanggil namanya dan mencoba melewati hadangan penjaga rumah yang banyak demi bertemu dengannya.


Arsen dan Wisnu memperhatikan Sarah hanya diam tertunduk, meremmas tangannya.


“Ar tempat yang kalian tinggali nanti bersama ada kota tempat Sarah dan ibunya dulu. Itu hanya kota kecil tapi walau pun begitu kemajuan di sana sudah sangat pesat dan teknologi di sana juga berkembang dengan baik sama saja di kota besar. bukan kota kecil yang susah menemukan jaringan,” jelas Wisnu memecah keheningan agar suasana menghangat.


Arsen memaksakan senyuman menarik napas lega setidaknya ia masih bisa mengikuti perkembangan nanti, tatapan matanya masih pada Sarah yang tertunduk sedih dengan kehadiran sang mantan yang mencari.


“Nanti kamu juga harus menutupi wajahmu, menyembunyikan statusmu, karena kamu sering muncul di tv, siapa tahu ada yang mengenalimu, itu akan membuat heboh.”


“Ia Pa.”


“Ara apa kamu akan tinggal di rumah bekas ibu dulu?” tanya Wisnu basa-basi agar Sarah tak memikirkan mantannya yang sudah cukup membuat Arsen di bakar cemburu.


“Ia, Pa,” jawab Sarah.


Ayah dan anak ini berbincang Sarah hanya mendengar pikirannya masih tertuju pada Bian.

__ADS_1


Cukup lama mereka menunggu kepergian Bian hingga akhirnya setelah semua aman mereka pun kembali pamit dan pergi.


Sarah dan Arsen akhirnya meninggalkan rumah Hutama menuju tempat yang akan menjadi awal mereka akan hidup sebagai suami istri.


__ADS_2