
Siang telah berganti dengan malam, jutaan bintang bertabur dilangit terlihat sangat indah. Di balkon kamar Arsen termenung, menatap layar ponsel yang bertuliskan kontak spesial.
“Sarah nama yang lumayan juga,” rancau Arsen menyebut nama yang dulu sangat ia benci. Arsen tak menyangka jika nama itu akan menambat di dalam hatinya.
“Sedang apa anak tiri itu?” guman Arsen menerka-nerka terus melihat layar ponselnya. “Kenapa aku sangat ingin mendengar suaranya. Apa ini yang di bilang rindu.” Arsen menarik sudut bibirnya.
Hembusan angin malam membuat Arsen meninggalkan balkon melangkah masuk ke dalam kamar. Pemuda ini menghempaskan tubuh di ranjang nyaman miliknya.
“Telepon tidak ya? Tapi kalau telepon mau bicara apa?” Arsen terus berbicara sendiri, bergumam dengan pikirannya hingga akhirnya setelah dua jam mondar-mandir dan berperang batin dengan diri sendiri, ia memutuskan untuk menggeser layar ponselnya.
“Aku sudah tidak bisa menahan lagi.” Arsen menekan lembut nomor kontak di ponselnya kemudian menaruhnya di telinga mencoba menelepon Sarah.
Setelah menunggu raut muka Arsen berubah kesal. “Kenapa ngak di angkat.” Arsen mengulangi kegiatannya lalu menempelkan ponsel itu di telinga. “Masih tidak di angkat! Apa yang sedang anak itu lakukan? Ke mana dia?” perasaan Arsen semakin kacau. “Anak tiri kenapa kau tidak menjawab teleponku.”
*****
Di tempat lain Sarah berajalan masuk menuju dapur tempat favoritnya, telah beberapa hari tidak dia datangi, akibat ulah Arsen yang melarang lagi untuk melangkah ke dapur dan bergabung bersama pelayan.
“Ibu Odah, Ara kangen sama Ibu,” sapa Sarah tersenyum lembut kemudian memeluk perempuan yang duduk menatap tv di dinding. Seperti biasa menonton acara kesukaannya.
“Sayang, kamu bikin kaget ibu saja.”
“Ibu belum pulang, ini sudah malam?” tanya Sarah kemudian duduk di samping ibu Odah.
“Belum sayang, ibu lagi nungguin Bian, katanya dia mau jemput ibu,” jelas perempuan ini sambil menatap arah tv. Mendengar nama Bian Sarah menarik sudut bibirnya, itu berarti pujaan hatinya akan datang. Dengan senyum lebar ia akan menunggu kedatangan Bian.
“Ara, sudah ngak sedih lagikan sayang? Ibu mencemaskan kamu. Maaf karena suara ibu yang membuat Gerald datang ke dapur ini.” Bi Odah merasa bersalah mengusap rambut Sarah dengan sayang.
“Ia bu, Ara sudah ngak sedih lagi kok.” Kembali tersenyum lebar dan ceria.
Dret ... dret ... getar ponsel terasa di saku celana Sarah saat perbincangan dengan Bi Odah. Sarah meraih ponselnya, menatap layar lalu meletakkan di meja tak menghiraukan panggilan itu.
“Kenapa ngak dia angkat Ra?” tanya perempuan ini melihat sikap acuh Sarah.
“Ngak ah bu, nomor baru. Ara malas entar orang iseng.”
Sarah dan ibu Odah kembali berbincang, tak perduli panggilan yang telah membuat pemuda di seberang sana menjadi kesal dan penasaran.
“Kok bisa sih Ra, tuan jutek itu nyuruh kamu pindah kamar?” tanya Bi Odah, baru bisa membahas kejadian tempo hari saat ia di paksa untuk pindah kamar, karena setelah Sarah pindah kamar. Mereka tidak pernah lagi berbincang.
__ADS_1
“Ia, Ara juga ngak tahu bu. Aku kira dia marah karena sebagian rahasianya terbongkar. Tapi tidak dia malah memberikanku kamar di samping kamarnya. Bahkan tuan jutek itu melarang aku untuk tidak pergi ke dapur lagi.” Sarah memasang wajah cemberut memikirkan larangan tak boleh ke dapur lagi.
“Aneh, ya?” Tatapan heran serta banyaknya misteri di balik sikap baik Arsen pada saudara tirinya membuat perempuan ini bertanya-tanya..
“Ia, Bu. Ara juga heran dia kenapa jadi baik begitu.” Sarah melipat tangan di dada memasang wajah berpikir.
Obrolan Sarah dan ibu Odah terus berlanjut hingga berhenti saat pelayan datang mengganggu mereka.
“Nona Sarah, tuan Arsen menelepon dan berpesan agar Anda menjawab teleponnya,” tutur pelayan.
Sarah dan dan ibu Odah kompak mengernyitkan dahi, tak habis pikir dengan ulah saudara tiri ini. Lagi-lagi penuh teka-teki, kenapa pemuda ini menghubunginya.
“Telpon yang mana ....” Sarah meraih ponsel yang berada di meja lalu menatap layarnya. “Jadi ini nomornya tuan jutek itu.” Sarah ibu Odah saling tatap sama heran.
Ibu Odah berpikir keras merasa aneh dengan pesan pelayan. Ia telah bertahun-tahun melayani keluarga Hutama dan dia paham benar dengan sikap tuan jutek itu, dia tidak pernah perhatian pada orang lain kecuali dengan orang yang ia sayang.
"Ia ada apa?" sarah
"Anak tiri kenapa kau tidak menjawab telponku?" Arsen
"Ini nomerku simpan mulai sekarang jika aku menghubungimu jawab panggilanku." Arsen
Hening tak ada lagi suara pertanyaan ada apa dari Sarah, membuat otak Arsen yang berada di seberang sana berpikir dengan keras hingga masih mencari jawaban yang tepat.
Halo ... halo ... halo ....
Tut ...Tut ....
“Aneh ....” Sarah mendengus memutus panggilan lebih dulu karena tak mendengar suara Arsen lagi. Padahal pemuda ini sedang mengatasi rasa groginya dan berpikir kata apa yang ia akan ucapkan.
“Dasar anak tiri kenapa kau memutuskan sambungan telponku,” umpat Arsen.
Sarah meletakan ponselnya di meja, seketika senyum ceria tercetak saat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Bian,”sapa Sarah.
“Bagaimana perasaan kamu, masih sedih?” tanya Bian duduk di samping Sarah, masih mencemaskan keadaan gadis yang tidak di akui oleh ibu kandungnya itu.
“Sudah ngak Ian.” Sarah tersenyum lebar memamerkan giginya membuktikan jika ia baik-baik saja.
__ADS_1
Dret ... dret ... getar telpon kembali terasa di meja membuat mereka kompak melihat ponsel yang ada di meja itu.
“Siapa? Kenapa ngak di jawab? Tanya Bian.
“Ngak penting. Sudah ngak usah peduli.” Sarah meraih ponselnya kembali memasukannya ke kantung celana. Belahan jiwanya berada di sampingnya tak mungkin ia mengabaikan hanya untuk menjawab telepon ngak penting dari Arsen.
“Jangan sedih lagi Ra, kalau kamu ingin nagis, menangis saja denganku. Aku akan menambah waktumu jadi 30 menit. Bagaimana kamu setuju? Sekarang sudah bisa di nego kok,” tawar Bian.
“Benarkah Ian? Janji bisa nego.” Sarah tersenyum ceria menaikkan jari kelingkingnya. Bian menyambut uluran tangan Sarah. Jari kelingking mereka bertaut, bersamaan dengan tatapan mata yang kembali bertemu. Keheningan tercipta hanya debaran jantung yang seakan ingin lompat keluar.
“Rasanya aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi. Aku sangat mencintainya dan ingin dia menjadi milikku. Haruskah aku mengungakapkan perasaanku padanya dan kami bukan teman lagi tapi pacar,” batin Bian yang terpukau dengan wajah cantik yang ada di depannya.
Dret ... dret ....
Tatapan syahdu mereka kembali terhenti dengan wajah memerah kompak melepaskan tautan jari, tersipu malu, saling membuang pandangan terlihat malu-malu.
“Menganggu saja,” batin Sarah kemudian meraih ponsel di saku celananya. Sarah menatap layar ponselnya membaca pesan dari Arsen
Hai Sarah? lagi ngapain? Membaca pesan dari Arsen membuat Sarah mendekatkan matanya ke layar ponsel, membaca pesan itu dengan baik, meneliti setiap huruf yang tersusun. Apa itu benar di kirim oleh tuan jutek itu. Seketika ia bergidik ngeri dengan pesan lembut menurut Sarah, bagi ukuran tuan jutek itu.
“Ada apa Ra?” tanya Bian
“Ha ... ngak apa-apa.” Sarah menggelengkan kepala mengetikkan pesan singkat untuk Arsen kemudian mematikan ponsel yang mengganggu kemesraannya itu.
“Ra. Aku bosan besok kita jalan-jalan yuk,” Ajak Bian dengan keinginan terselubung.
“Boleh. Sudah lama kita ngak jalan-jalan.” Sarah antusias.
“Besok aku jemput ya!”
“Ia, aku tunggu.”
“Aku pulang dulu. Ibu sudah menunggu di luar dari tadi.” Melemparkan senyuman terbaiknya.
“Hati-hati,” balas Sarah tersenyum penuh kebahagian hatinya berbunga setelah bertemu dengan Bian.
Di seberang sana Arsen hendak membanting ponselnya saking kesalnya dengan balasan pesan yang di kirim oleh Sarah, membuatnya hanya menahan kesal setengah mati. “Dasar anak tiri! Kenapa kau membalas pesanku seperti itu. Padahal aku berpikir keras dan memikirkan kata di pesan itu dan kau hanya membalas.
Jangan ganggu aku. Aku lagi sibuk. Pesan Sarah.
__ADS_1
Membuat Arsen menggila dan sukses guling-guling di kasur akibat membaca pesan Sarah yang seakan mengacuhkannya. Arsen benar-benar merasakan kegalauan akibat rindu.