
Sarah berlari meninggalkan rumah dengan derai air mata membawa rasa sakit akibat penghinaan dari perempuan yang seharusnya menjadi ibu mertuanya. Ia terus berjalan hingga langkahnya terhenti di sebuah tanah lapang yang sepi masih di lingkungan dekat dengan kontrakan mereka. Di sinilah Sarah duduk menangkan pikiran seraya menumpahkan air mata kesedihan itu.
“Apa aku sehina itu dimatanya? Apa aku dan ibuku serendah itu. Apa aku benar-benar tidak pantas di cintai.” Sarah terisak hatinya terasa tersayat, ia merasa begitu merasa rendah seakan ia tidak memiliki harga diri.
“Ibu ....” ratap Sarah menatap ke arah langit yang cerah meratapi nasibnya, mengaduh seakan ibunya sedang melihat kesedihannya.
“Mengapa ini selalu terjadi padaku. Kenapa aku tidak bisa bahagia. Apa benar karena aku anak pembawa sial.” Gadis ini memegang dadanya yang terasa sesak.
“Ibu kau telah meninggalkanku. Dulu Bian sekarang Arsen. Semua orang yang aku cintai akan meninggalkan aku. Kenapa aku selalu sendiri,” lirih Sarah menatap kosong ke depan cairan itu jatuh sendiri membasahi pipinya.
“Aku sudah sangat mencintainya, berpisah dengannya akan membuat hatiku sakit,” ungkap Sarah akan perasaannya yang terdalam. Arsen telah memiliki hatinya namun halangan kembali menghadang cintanya.
“Bodoh Ara, seharusnya kau menutup hatimu . Seharusnya kau sadar siapa dirimu. Seharusnya kau tidak terbuai melihat cintanya yang besar padamu, kau akan tetap patah hati lagi karena Arsen,” rutuk Sarah sekuat hati ia menutup hati namun perhatian Arsen selalu berhasil membuatnya terlupa jika ia tidak akan pantas bersama dengan pemuda itu.
“Kami tidak akan bisa bersama. Sampai kapan pun mamanya tidak akan pernah merestui kami. Dunia kami berbeda. Kehidupannya penuh dengan penghormatan sedangkan aku hanya penuh dengan kerendahan. Mamanya benar bersamaku hanya akan memberikan penderitaan.”
“Apa yang harus aku lakukan? Sekuat apa-pun aku bertahan bersamanya, dia akan tetap pergi meninggalkanku. Mamanya memiliki kuasa ia bisa melakukan apa-pun untuk memisahkanku dengan Arsen. Cepat atau lambat tinggal menunggu waktu aku akan kembali patah hati yang kedua kalinya dan ini akan sangat sakit dari sebelumnya,” batin Sarah.
***
Sarah telah selesai dengan tangisannya cukup lama ia berada di tempat itu sambil menenangkan diri, hingga memutuskan untuk pulang, Wina juga pasti telah meninggalkan rumah kontrakan mereka dan Arsen pasti sedang cemas memikirkan keberadaannya saat ini. Sarah berdiri menarik napas panjang agar hatinya kuat dan menjadi tenang menghadapi masalah yang ada.
Sarah percepat langkahnya untuk pulang ke rumah. Dia akan berpura-pura tidak tahu, jika ia tahu kedatangan Wina dan mendengar semua hinaan yang telah di ucapkan ibu mertuanya itu. Sebab jika Arsen tahu Sarah mendengarkan suaminya itu akan diliputi oleh rasa bersalah padanya.
Sarah telah berada di depan rumah manik matanya merotasi melihat keadaan yang telah sepi, pertanda jika Wina dan anak buahnya sudah tidak ada di dalam.
Sarah kembali menarik napas panjang menyiapkan diri untuk berpura-pura seolah tidak terjadi apa-pun. Ia pun lalu memegang handle pintu membuka pintu perlahan.
“Mama akan memisahkan kalian, kau harus menceraikannya dan pulang bersama mama,” kata Wina itu terus terniang di pikiran Arsen sungguh membuatnya sangat khawatir.
Arsen yang sedang duduk di sofa memikirkan kehadiran mama itu dalam rumah tangganya. Seraya menunggu kedatangan istrinya seketika menarik napas lega melihat perempuan cantik itu telah membuka pintu. ia pun beranjak menyambut kedatangan orang yang cintainya.
“Ara kau dari mana saja. Aku mencemaskanmu?” Arsen memeluk tubuh istrinya dari tadi hatinya tak tenang, membiarkan Sarah berjumpa dengan mantan kekasih ia takut Sarah tidak akan kembali padanya.
Arsen melepaskan pelukannya beralih memegang bahu Sarah. “Apa yang kau bicarakan dengan Bian? Kenapa kamu lama sekali kembali,” cecar Arsen dengan banyak pertanyaan dan Sarah hanya diam tertunduk.
“Wajahmu ... Kau habis menangis ya?” tanya Arsen dengan nada khawatir menangkup wajah Sarah menatap manik mata yang mengecil dan sembab.
“Aku tidak apa-apa,” ucap Sarah pelan melepaskan tangan Asen yang menempel di pipinya.
“Apa yang bicarakan padanya?” tanya Arsen tidak akan puas jika belum mendengar jawaban dari Sarah.
“Bukan apa-apa. Aku hanya bertemu untuk tidak mengganggu pekerjaanmu lagi,” jelas Sarah.
“Benarkah. Kau tidak apa-apa?” ulang Arsen dan diangguki oleh Sarah.
Arsen terdiam sejenak hingga ia memutuskan untuk percaya perkataan istrinya. Walau ia merasa aneh dengan sikap Sarah padanya yang berubah diam.
__ADS_1
“Kamu pasti laparkan. Kamu belum makankan. Ayo kita makan,” tawar Arsen hendak mengarahkan Sarah untuk duduk menyantap hasil masakannya.
Sarah hanya diam di tempat, sungguh kedatangan Wina telah mempengaruhi pikirannya rasa takut kehilangan, kesedihan akan patah hati semua berbaur menjadi satu, setiap melihat perhatian Arsen, air matanya seakan ingin jatuh memikirkan tidak lama lagi suaminya ini akan pergi meninggalkannya dan ia tidak akan mendapatkan perhatian ini lagi.
“Ar aku akan ke kamar aku lelah,” tolak Sarah berjalan cepat ke dalam kamar meninggalkan Arsen yang menatap aneh padanya.
“Ada apa dengannya? Apa yang Bian katakan padanya. Ia selalu saja bersedih jika bertemu dengan mantan pacarnya itu,” batin Arsen menatap bingung tubuh istrinya yang telah menghilang di balik pintu kamar. Pikiran Arsen hanya tertuju pada Sarah yang telah bertemu dengan mantan. Istrinya pasti sedih bertemu dengan lelaki yang ia cintai itu pikirnya. Ia tidak tahu penyebab Sarah bersedih adalah kehadiran mamanya.
Sarah membaringkan tubuhnya di ranjang, berbaring miring menutup matanya ia berharap ini semua adalah mimpi buruk, ia tidak ingin berpisah dengan suaminya.
Sarah membuka mata setelah merasakan ada pergerakan di tempat tidur. Dia pun menatap ke bawah tubuhnya lengan Arsen telah melingkar di pinggang memeluk dari belakang, menempelkan wajahnya di ceruk leher Sarah.
“Sayang ada apa denganmu?” tanya Arsen dengan lembut tentang yang terjadi pada Sarah.
“Tidak apa-apa. Ar aku hanya ingin tidur,” jawab Sarah singkat.
“Tidur,” ulang Arsen merasa aneh.
“Baiklah tidurlah. Aku akan menemanimu.” Arsen mempererat pelukannya mengecup sesekali belakang telinga Sarah.
“Ar lepaskan,” berontak Sarah kali ini merasa tidak nyaman dengan pelukan Arsen padahal selama ini ia tidak masalah dengan apa-pun yang di lakukan Arsen padanya.
“Aku hanya ingin memelukmu. Kamu tahu aku sangat mencemaskanmu. Aku kira kamu tidak akan kembali padaku dan kembali bersamanya,” ujar Arsen meluapkan perasaannya.
Sarah hanya diam membiarkan Arsen memeluknya menikmatinya, mungkin ini akan menjadi yang terakhir bagi mereka. Ia tidak tahu rencana apa yang akan di lakukan mama Arsen untuk memisahkan mereka.
Ia tidak juga memikirkan kedatangan mamanya yang kekeh akan memisahkannya dengan Sarah. bahkan kata perceraian yang mamanya perintahkan selalu terniang di telinganya. Ia sangat takut dengan kata-kata itu sampai kapan pun itu tidak akan keluar dari mulutnya. Ia akan bertahan bersama dengan Sarah.
“Aku juga sudah mencintaimu. Tapi aku tidak tahu apa kita bisa mempertahankan cinta kita. Mamamu bisa melakukan apa-pun agar kita berpisah. Sampai kapan pun ia tidak akan bisa menerimaku. Aku akan patah hati karena kehilanganmu, setidaknya saat ini aku membiasakan diriku tanpamu,” batin Sarah mereka pun mencoba terlelap menuju alam mimpi dengan hati yang sama sedang resah dan diliputi oleh rasa takut akan perpisahan namun mencoba merahasiakan keresahan itu masing-masing. Arsen pun menyembunyikan kedatangan mamanya dari Sarah karena tidak ingin istrinya itu akan menyerah begitu saja jika tahu mamanya telah memintanya untuk pulang.
****
Pagi telah menyambut sinar mentari masuk. Melalui celah jendela Sarah menggeliat perlahan menatap ke arah samping melihat pemuda tampan yang beberapa bulan terakhir menghiasi paginya dan harinya memeluknya erat. Mungkin tak akan lama pemandangan ini tidak akan hadir lagi untuknya.
Sarah mendekat lalu mendaratkan kecupan di kening suaminya yang masih terlelap kemudian bangun lebih dulu.
Sarah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah selesai ia memutuskan untuk membuat sarapan pagi untuk mereka.
Arsen sedang berada di kamar masih terlelap hingga suara dering ponsel membuatnya terbangun, ia pun meraih ponselnya kemudian menempelkannya di telinga.
Arsen terbelalak menerima panggilan yang ternyata dari bosnya mengabarkan jika perkerjaan mereka semua telah kembali seperti semula. Tak beberapa lama kemudian panggilan terhenti. Arsen menarik sudut bibirnya mendengar kabar itu, akhirnya ia bisa kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya bersama istri cinta satu masalah telah hilang. Namun merasa heran apa yang telah Sarah lakukan hingga dalam sehari semua telah berubah bersamaan dengan perubahan sikap Sarah yang menjadi dingin dengannya. Arsen lalu menatap ke arah sampingnya ternyata telah kosong istrinya sudah tidak ada di ada di sampingnya.
“Ara,” gumam Arsen bergegas bangun kemudian meraih handuk hendak untuk membersihkan diri.
Arsen menarik sudut bibirnya melihat Sarah telah berada di depan kompor. Ia pun mendekati kemudian mendekap tubuh istrinya dari belakang.
“Pagi sayang,” ucap Arsen mengecup pipi Sarah dengan lembut membuat Sarah tersentak kaget dengan tindakan Arsen.
__ADS_1
“Ar aku sedang masak.” Berontak Sarah meminta untuk di lepaskan.
“Ar lepaskan aku!” bentak Sarah mendengar suara meninggi Arsen lalu melepaskan pelukannya, Sarah lalu memberi jarak pada Arsen membuatnya menatap heran lagi-lagi Sarah seperti menjauhinya.
Arsen memasang wajah datar lalu meninggalkan Sarah menuju kamar mandi dengan hati bertanya-tanya, ada apa dengan Sarah.
Sarah tertunduk merasa sangat bersalah kembali melanjutkan kegiatannya menyiapkan Sarapan.
Beberapa saat kemudian Arsen telah selesai dengan ritual membersihkan diri kembali mendekati istrinya yang duduk di ruang tengah menunggunya untuk Sarapan bersama.
“Kamu kenapa sih Ra?” tanya Arsen duduk di samping Sarah.
Hatinya semakin yakin jika ada sesuatu yang di tutupi oleh istrinya. Ia berubah setelah bertemu dengan mantan kekasihnya.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Sarah pelan tertunduk merasa bersalah telah meninggikan suara pada Arsen tadi.
“Hari ini aku akan bekerja,” jelas Arsen memasang wajah datar menatap tajam pada Sarah.
“Benarkah? Baguslah kalau begitu.” Sarah menatap Arsen lalu mengembangkan seulas senyuman.
Arsen menatap dingin pada Sarah. “Ara. Apa yang kau katakan pada Bian?” tanya Arsen menyelidik ingin mengupas semua apa yang terjadi.
“Ada apa Ar?” tanya Sarah tak mengerti.
“Jadwal kami telah kembali seperti semula dan hari ini aku akan kembali bekerja,” tutur Arsen.
“Aku hanya bilang jangan mengganggu kita,” terang Sarah ia tidak memberi tahu jika ia telah mengakui pada Bian cintanya telah ia berikan pada Arsen. itulah yang membuat pemuda itu mundur.
Arsen memegang bahu Sarah menatap tajam wajah cantik yang terlihat menyembunyikan kesedihan itu. “Hanya itu kau tidak mengatakan apa-pun kan. Kau tidak menukar apa-pun kan dengan pekerjaan ini. Kau tidak melakukan kesepakatan dengannya yang tidak masuk akal.”
“Apa maksudmu Ar?” sembur Ara mulai kesal.
“Kau tidak akan meninggalkanku dan kembali bersamanya jika semua kembali semula,” jelas Arsen mencoba menahan amarah membayangkan saja hatinya sudah panas kecemburuan merasuk dalam dirinya.
“Ar itu tidak mungkin, aku tidak mungkin kembali bersamanya,” bantah Sarah tentang tuduhan Arsen.
“Tapi kenapa kau berubah menjadi diam. Kau seolah menghindariku, kau ingin kembali bersamanya kan?” ucap Arsen yang tidak mengerti jika diamnya Sarah akibat kedatangan mamanya. Ia mengira ini semua ulah Bian.
“Kenapa kau tidak percaya padaku, apa pun yang terjadi aku tidak akan kembali padanya, hubungan kami telah berakhir, asal kau tahu, aku juga tidak ingin berpisah denganmu, aku ingin kita selamanya seperti ini,” kesal Sarah meneteskan air mata lalu pergi meninggalkan Arsen dengan emosi mengungkapkan keresahan dan keinginannya untuk bersama dengan Arsen namun ia tidak memiliki daya apa-pun untuk memperjuangkan cintanya. Perasaannya hanya bisa di hantui rasa takut kehilangan, butuh kekuatan dan keberanian besar untuk mencintai seorang Arsen Raditya Hutama dan ia tidak memiliki itu.
Arsen termenung menatap kepergian Sarah ia telah membuat istrinya marah padanya, atas tuduhan yang ia berikan. namun sangat bahagia karena mendengar Sarah juga ingin untuk terus bersamanya.
Arsen berjalan ke arah kamar hendak membujuk Sarah agar tidak marah lagi padanya.
“Ara aku minta maaf, aku sudah salah sangka padamu,” ucap Arsen berdiri di depan pintu kamar yang terkunci. “Aku hanya takut kau meninggalkanku. Maafkan aku. Tolong buka pintunya,” bujuk Arsen merasa bersalah karena telah membuat Sarah kesal.
kedatangan Wina telah sukses membuat mereka merasa cemas dan ketakutan akan kehilangannya serta perpisahan, akan ada badai yang akan kembali menerjang rumah tangga mereka. Wina telah mengancam akan memisahkan mereka dengan cara apa-pun.
__ADS_1