CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
Reuni 2


__ADS_3

reuni tetangga ini masih berlangsung mereka mengobrol tanpa Sarah yang masih berada di toilet hingga beberapa saat Sarah telah kembali dengan wajah pucat dan lesu setelah memuntahkan semua isi perutnya. Ia duduk di sebelah Arsen.


“Ra, kamu ngak apa-apa?” tanya Arsen dengan wajah cemas menatap wajah pucat istrinya.


“Ngak apa Ar. Aku baik-baik saja.”


“Tapi muka kamu pucat, aku antar ke dokter ya?” tanya Arsen raut wajah cemas masih melekat.


“Ngak perlu, kamu sudah pilih barang Mami?” tanya Sarah mengalihkan pembicaraan agar suaminya itu tak khawatir lagi.


“Ia semua untuk kamu. Pemberian dari mami,”


“Semua!” Sarah tercengang.


Arsen mendekatkan badannya pada Sarah. “Ia, ini persiapan kamu pakai nanti, saat kita bertemu,” bisik Arsen seketika membuat wajah Sarah kembali memerah karena malu.


“Terima kasih Mi,” ucap Arsen


“Sama ganteng, nanti kalau kurang mami akan kirim, hubungi mami saja.”


“Baiklah.”


Arsen mengarahkan pandangannya pada Sarah menggenggam tangan halus itu.


“Maaf bun. Untuk saat ini kita tidak bisa sering ketemu, mamaku mulai mencurigaiku,” jelas Arsen dengan wajah terlihat sedih.


“Ngak apa-apa ayah, itu berarti aku bisa libur,” balas Sarah mengembangkan senyuman terbebas dengan pergumulan ranjang selama beberapa hari.


“Bunda jangan begitu, aku yang tersiksa nahan kangen,” ucap Arsen merangkul Sarah.


“Ya ampun kalian ini bikin iri aja jadi pengen,” celetuk Rena pada pasangan yang sedang bermesraan.


“Makanya cepat! Sudah deh sama pak satpam sekolah aja,” ejek Nikita.


“Niki,” gemas Rena.


Arsen menatap pergelangan tangannya, sudah waktunya ia kembali ke kantor.


“Aku harus pergi, aku ada pekerjaan di kantor,” pamit Arsen bangun dari duduknya, ia teringat jika ia harus meeting namun sebelum pergi ada pesan yang akan ia beritahukan.


“Oh ia aku lupa, lusa aku ulang tahun. Mami dan Ale harus datang ya,” pesan Arsen yang akan merayakan pertambahan usia di rumah mamanya.


“Oke ganteng. Kami pasti datang.”


“Bunda, aku pergi dulu, beri tahu aku jika ada apa-apa.” Arsen memeluk serta mengecup kening Sarah kemudian pergi.


Arsen akhirnya pergi meninggalkan mereka. Tiga perempuan ini kembali melanjutkan obrolannya. Mereka masih dalam restoran menghabiskan waktu untuk saling berbincang mengenai kehidupan selama dua tahun berpisah.


“Ra, mama Arsen belum tahu anaknya kembali pada kamu?” tanya Nikita menatap Sarah.


Sarah menggeleng pelan. “Belum, kata papa kami harus merahasiakannya dulu, hingga waktu yang tepat,” jelas Sarah.


“Sampai kapan, jadi selama ini kalian bertemu diam-diam?” tanyanya lagi.


“Pokoknya kalian jangan pisah lagi ya, dia sudah ngak bisa ngancam kamu lagi, mami dan Nikita udah tajir melintir,” tambah Rena memegang tangan Sarah.


“Ia, kami tidak akan menyerah lagi.”


“Jadi ulang tahunnya nanti, kau tidak akan hadir?” tanya Nikita.


“Aku akan ketahuan jika menghadirinya.”


“Sabar saja Ra, semua akan indah pada waktunya,” ucap Nikita.

__ADS_1


Dret ... dret ... suara getar telepon terdengar dari tas Nikita yang terletak di meja, perempuan ini kemudian merogoh tasnya. Nikita mengembangkan senyuman saat melihat layar ponselnya, ia lalu bergegas meninggalkan mereka untuk menjawab panggilan itu.


“Tunggu bentar aku ada telepon penting,” pamit Nikita berlari meninggalkan mereka.


“Dia terima telepon dari siapa sih girang banget.” Rena menatap heran Nikita yang menjauh.


Sarah mengendikan bahunya, dia juga tidak tahu, mengapa Nikita begitu senang, dia berbalik menatap dari kejauhan namun saat tatapannya kembali pada posisinya tiba-tiba kepala Sarah kembali pusing dia pun meringis menahan sakit.


“Kamu kenapa Ra?” tanya Rena menatap wajah Sarah yang memang terlihat pucat.


“Ngak apa-apa Mi, hanya saja beberapa hari ini aku hanya sedikit pusing dan selalu mual, kurang nafsu makan,” keluh Sarah.


“Ke dokter dong Ra, kamu periksa, jangan di biarkan nanti tambah parah,” Saran Rena lalu membulatkan matanya teringat akan sesuatu. “Atau jangan-jangan kamu hamil,” ucap Rena dengan menggebu-gebu.


“Hamil!” ulang Sarah memasang wajah tegang mendengar ucapan Rena menatap Rena.


“Ia, Mami waktu hamil Ale juga begitu,” tambah Rena melihat Sarah hanya diam.


“Kenapa kamu kaget? Kamu kan punya suami, ya Bisa hamillah beda kalau aku dan Nikita yang hamil baru kamu kaget,” canda Rena yang menatap wajah Sarah.


“Kami baru satu bulan bersama,” kilah Sarah


“Ya ampun Ra, siapa tahu aja si ganteng tokcer, yang sekali saja bisa jadi” goda Rena.


“Hamil. Apa mungkin benar aku hamil? Memang sih semenjak aku datang ke kota ini, aku memang tidak pernah mendapatkan menstruasi lagi,” batin Sarah mengingat semua gejala-gejala kehamilan yang ia tahu dan salah satunya tidak mendapatkan tamu bulanan. 


“Kamu harus sering cek kehamilan Ra, Apalagi kalau dilihat suami kamu itu perkasa banget, pasti sering lembur ya kamu?” goda Rena dengan gaya genitnya.


“Mami ini,” protes Sarah wajahnya memerah membayangkannya dan benar apa yang Rena katakan tentang suaminya yang selalu menyerangnya tiada henti, membuat Sarah kewalahan dan kelelahan, mengingat itu wajar saja jika dia hamil, mengingat mereka selalu melakukannya setiap malam.


“Baiklah, aku akan mencoba mengecek dengan tes kehamilan nanti,” batin Sarah.


Nikita kembali bergabung setelah menyudahi panggilannya dengan wajah berseri-seri.


“Ada deh, mami ngak usah kepo deh.” Nikita kembali memasukkan ponselnya tas.


“Ayo pulang yuk! Aku ada janji ini, ketemuan dengan seseorang,” ajak Nikita dengan senyum mengembang kemudian berdiri.


“Ayo aku juga lagi ngak enak badan.” Sarah juga berdiri di susul oleh Rena dan Ale.


Mereka telah meninggalkan restoran, menumpangi mobil mewah yang di kendarai sendiri oleh Nikita. Artis ini yang akan mengantarkan mereka satu persatu.


“Mami kenapa ngak nginap aja sih di rumahku?” tanya Nikita seraya memegang stir kemudi akan mengantarkan Rena lebih dulu ke hotel.


“Ia Mi, atau ikut aku aja, Ale mau kan nginap sama kakak Ara?” tawar Sarah.


“Mau Kak,” ucap Ale dengan wajah berbinar.


“Ngak ah malas, aku mau ngerasain nginap di hotel berbintang, kaya orang-orang kaya lainnya,” jawab Rena dengan heboh.


Nikita tersenyum miring. “Dasar, pasti Cuma mau pamer aja sama ibu-ibu di sana kan.”


“Biarin aja.”


Nikita akhirnya mengantarkan Rena ke hotel, tempat di mana janda anak satu ini menginap. Mobil menepi Rena dan Ale pun turun dari mobil.


“Oke mami pergi dulu,” pamit Rena yang berdiri di samping mobil.


“Hati-hati Mi, jangan lupa ke ulang tahun Ar,” pesan Nikita mengingatkan.


“Oke.” Rena dan Ale melambaikan tangannya masuk ke dalam hotel.


Nikita kembali melajukan kendaraannya memecah jalan untuk mengantar Sarah pulang ke rumah papanya, setelah itu ia akan bertemu dengan orang yang telah membuat janji padanya.

__ADS_1


Sarah mengarahkan pandangannya ke samping, mengingat akan obrolannya dengan Rena, jika ia harus membeli tes kehamilan untuk mengecek apa benar? kata Rena jika ia hamil sedang menunjukkan gejala kehamilan.


“Nik kamu buru-buru ngak?” tanya Sarah pada Nikita yang akan bertemu seseorang.


“Ngak, kenapa Ra?”


“Nik berhenti sebentar ya di apotik itu,” jelas Sarah.


“Kenapa? Kamu sakit ya? Kita langsung ke dokter saja?” tanya Nikita seketika wajahnya berubah cemas Sarah ingin ke apotik.


“Tidak perlu, Aku hanya ingin membeli sesuatu.”


“Aku ingin memeriksanya apa benar aku hamil,” batin Sarah.


Nikita mengikuti ke ingin Sarah, ia menepikan kendaraannya di depan sebuah apotek. Sarah pun kemudian turun, meninggalkan Nikita yang menunggu di mobil. Ia masuk ke dalam apotek sendirian untuk membeli tes kehamilan.


Nikita sedang menunggu di dalam mobil seraya membalas chat yang masuk, hingga tersentak Sarah telah kembali dari apotek dan masuk ke dalam mobil.


“Chatan sama siapa Nik? Sampai kaget begitu,” tanya Sarah menatap tajam pada Nikita.


Nikita menarik sudut bibirnya tertunduk malu akan mengakui siapa yang telah membuat hatinya dari tadi berbunga.


“Ra, sebenarnya aku lagi dekat dekat dengan Bian,” jelas Nikita wajahnya merona malu-malu seperti perempuan yang sedang di mabuk cinta.


“Benarkah baguslah kalau begitu.” Sarah ikut antusias mendengar cerita sahabatnya ia senang jika hubungan mereka telah berkembang secepat ini.


“Kalian sudah pacaran?” tanya Sarah sejauh apa hubungan Bian dan Nikita.


“Belum masih dekat aja, tapi aku kepincut banget,” jelas Nikita bersemangat namun.


Wajah Nikita seketika berubah memberengut, mengingat hal yang mengganjal di hatinya. “Tapi Ra, ibunya kayanya ngak setuju anaknya sama aku,” jelasnya sama seperti yang di katakan Bian jika ibunya kesal pada Nikita yang berprofesi sebagai artis.


“Memang kenapa Nik?” tanya Sarah.


“Gara-gara aku suka berperan sebagai antagonis di tv, peranku jadi pelakor, istri tukang selingkuh, menantu durhaka, perempuan gila harta, suka bikin stroke mertua. karena itulah, ibunya berpikir aku benaran, perempuan seperti itu. Padahal itu kan Cuma akting,” Nikita tertunduk lesu, baru kali ini Sarah melihat perempuan centil ini terlihat putus asa.


“Hahahaha.” Sarah tertawa keras


“Ih Ara, jangan tertawa.”


“Dia takut kali Nik, kamu racuni kalau nanti jadi istri Bian, kaya akting kamu kalau jadi menantu kejam,” ujar Sarah.


“Ih Ara aku serius.”


“kamu juga sih Nik ngambil peran seperti itu.” masih menahan tawa.


“Aku kan hanya mencoba hal baru, belajar. Lagian bayarannya lumayan.” Nikita semakin putus asa rasanya ia sangat menyesal mengapa ia mengambil semua tawar yang datang padanya, dulu baginya yang penting uang ia tidak menyangka akan berdampak pada karakternya.


“Ra tolongin aku, bujuk ibunya supaya bisa menerima aku,” Rengeknya seperti anak kecil menggenggam tangan Sarah, ia tahu Sarah sangat dekat pada ibu Bian.


“Ra, please,” mohon Nikita.


Sarah menarik sudut bibirnya menikmati wajah Nikita yang memohon padanya. “Kamu tenang saja. Aku pasti bilang sama ibu Bian kalau kamu bukan perempuan seperti itu,” tutur Sarah membuat sahabatnya seketika tersenyum kembali bersemangat.


“Makasih Ra. Aku juga sudah ngak akan ngambil peran seperti itu lagi. Bahkan demi Bian aku rela berhenti jadi artis jika memang ibunya mau.” Nikita benar-benar serius untuk menjalani hubungan dengan Bian.


“Bian sangat baik Nik, kamu akan sangat beruntung memiliki dia,” jelas Sarah.


“Ia, Ra, karena itulah aku ingin bersamanya.”


“Aku akan membantumu.”


Nikita menarik napas lega sahabatnya akan membantunya untuk bersama Bian, membujuk calon mertua yang sangat menyukai sinetron itu.

__ADS_1


__ADS_2