
Sesaat Erina berhenti untuk memikirkan kesedihannya, waktu hidup yang tak lama lagi akan di manfaatkan sebaik-baiknya. Ia mulai mengatur jodoh untuk Sarah, memilih pemuda yang baik dan akan menjaga serta membahagiakan putrinya kelak. Sebelum ia pergi jauh meninggalkan dunia. Ia sudah harus mendapatkan pendamping yang baik untuk Sarah dan membuat Arsen untuk mundur dan tak mengharapkan cinta Sarah lagi.
Kecemburuan Arsen melihat kedekatan Bian dan Sarah, membuat Erina mendapatkan perintah untuk memecat pelayan terbaik di rumah Hutama. Perintah itu telah membuktikan bahwa ambisi cinta Arsen untuk bersama Sarah begitu besar, hingga rela melakukan apa-pun bahkan menggunakan kekuasaannya.
Erina berjalan menuju dapur menemui ibu Odah. Seperti Biasa perempuan itu berada di kursi makan menatap di dinding menonton sinetron kesukaannya.
“Nyonya Erina!” sapa ibu Odah menatap heran pada perempuan yang ada di hadapannya dengan wajah serius, kemudian berdiri memberi hormat. “Ada apa nyonya kemari?” tanya ibu Odah menghentikan tatapannya pada tv.
“Aku ingin bertemu dengan putramu. Ada hal penting yang akan aku bicarakan padanya. Apa dia akan kemari?” tanya Erina.
“Ia nyonya dia akan menjemput saya,” jelas bi Odah tentang kebiasaan Bian menjemputnya.
“Tolong saat ia datang, antarkan dia ke kamarku,” titah Erina.
“Baiklah nyonya. Saya akan menyuruhnya untuk bertemu dengan Anda.”
Erina pergi meninggalkan ibu Odah namun baru beberapa langkah berjalan perempuan ini berbalik lalu menarik napas panjang mengumpulkan kekuatan. “Bi Odah, ini hari terakhir kamu, bekerja di rumah ini,” jelas Erina menjalankan perintah Arsen dengan berat hati kemudian kembali melangkah. Ia tak sanggup berhadapan dengan perempuan itu.
Ibu Odah mematung mendengar ucapan nyonya Hutama yang mengisyaratkan jika perjalanan pengabdiannya pada keluarga Hutama akan berakhir.
“Ini semua pasti karena hubungan Bian dengan Sarah dan mereka telah berpacaran, Bian juga pasti dalam masalah kali ini,” batin ibu Odah khawatir dengan putranya, selain dirinya nyonyanya juga akan mengusik kehidupan Bian
****
Bian telah berdiri di depan pintu kamar Erina menyiapkan diri untuk menghadapi ujian pertama cintanya. Bian mengerti mengapa ia di panggil untuk mengahadapi nyonya Hutama. Ini pasti perihal kedekatannya dengan Sarah, putri tiri di keluarga yang berkuasa ini. Sama seperti ibunya yang berakhir dengan pemecatan begitu juga dengan nasibnya. Erina pasti mencoba memisahkannya dengan gadis yang ia cintai, namun ia tak akan gentar dan mundur. Ia akan memperjuangkan cintanya walau ia sadar itu sulit karena level mereka.
Bian mengetuk pintu kamar pelan kemudian masuk perlahan, matanya merotasi melihat keadaan kamar yang besar dan mewah. Tatapannya terhenti pada sosok perempuan yang duduk dengan keangkuhan.
“Ada apa nyonya ingin bertemu dengan saya?” Sapa Bian.
“Duduklah!” titah Erina.
Bian pun duduk berhadapan dengan Erina, bola matanya tertuju pada meja yang bertumpuk banyak lembar-lembar berkas yang berada di hadapan Erina.
“Aku ingin kau menjauhi putriku,” ujar Erina langsung ke inti masalah memasang tatapan tajam pada pemuda yang ada di hadapannya.
Mendengar ucapan Erina, Bian mencoba untuk tenang hal yang ia pikirkan benar adanya jika ibu dari gadis yang ia cintai tak menyetujui hubungannya.
“Maaf nyonya. Saya tidak akan menjauhi nona Ara!” jelas Bian dengan tegas tak ada rasa takut di wajahnya menghadapi orang yang berkuasa di rumah ini.
“Kau sadar siapa dirimu! Di mana posisimu?!” Suara Erina meninggi mencoba membuat nyali pemuda ini ciut.
__ADS_1
“Saya tahu posisi saya hanya anak pelayan, tapi saya tidak tidak akan menjauhinya dan merasa rendah hanya untuk dekat nona Ara.” Bian memasang wajah dingin akan bertahan dengan keyakinan berjuang untuk cintanya tak akan gentar.
“Liat semua yang berada di atas meja itu. Itu semua adalah aset berharga. Aku akan memberikannya padamu jika kau menjauhi Sarah.” Erina melipat tangan di dada menunjuk meja dengan ekor matanya memberi penawaran pada pemuda yang ada di hadapannya.
Tangan Bian terkepal seketika emosinya naik, perempuan ini begitu merendahkannya dan menatap hina dirinya. Namun masih mencoba menahan diri.
“Maaf nyonya, saya tidak akan terima penawaran Anda. Saya tidak akan menjauhi putri Anda. Bahkan jika Anda menawarkan segalanya. Dia sangat berharga bagi saya tak ternilai dengan apa-pun di dunia ini.
“Kau mencintai putri?” tanya Erina menyeringai tatapan tajam masih tak lepas dari pemuda yang ada di hadapannya
“Maaf nyonya dengan jujur saya katakan saya sangat mencintai putri nyonya dan tidak akan melepaskannya,” akunya dengan tegas dan penuh keyakinan.
“Apa yang bisa kau lakukan untuknya? Apa kau bisa membahagiakannya. Kau hanya anak pelayan.” Erina tersenyum remeh.
“saya akan melakukan apa-pun untuknya, saya akan selalu menjaga dan membuatnya bahagia.”
Erina terdiam sejenak raut wajahnya yang dingin telah berubah lembut dan menghangat.
“Baiklah jika kau sangat mencintai putriku dan ingin bersamanya. Aku akan mengizinkanmu bersamanya dan memberi restuku padamu,” jelas Erina tersenyum lembut pada Bian.
Sejenak Bian tercengang mendengar ucapan Erina. “A ... pa nyonya?” tanya Bian terbata kembali memastikan. Bagaimana wanita ini begitu mudah memberi restunya pada anak pelayan.
Melihat kesungguhan Bian begitu mencintai putrinya, Erina bisa bernapas lega setidaknya ia akan memberikan putri kesayangannya pada pemuda yang tepat yaitu Bian pemuda yang juga sangat di cintai putrinya.
“Apa Nyonya?” alis pemuda ini berkerut.
“Aku ingin kau pergi dari kota ini. Di atas meja itu, semua adalah harta yang kudapatkan dari menjadi nyonya Hutama dan kelak akan aku berikan pada Sarah tapi, untuk saat ini meminjamkannya untukmu. Ambillah dan kembangkan kau harus sukses dan memiliki banyak harta. Kau harus punya kekuasaan,” jelas Erina.
“Tapi nyonya,” protes Bian.
Erina bangun dari duduknya mencoba menjelaskan. “Aku tahu kau sangat mencintai putriku dan putriku juga sangat mencintaimu. Tapi cinta saja tidak cukup. Kau tidak punya kekuatan untuk bertahan, dengan mudah ada orang masuk ke dalam hubungan kalian dan menekanmu dengan harta dan kekuasaan yang ia miliki. Bisa berbuat apa-pun. Dan kau tidak berdaya untuk membuat Sarah berada di sisimu,” jelas Erina mengarahkan ucapannya pada Arsen yang akan melakukan segalanya untuk mendapatkan Sarah dan Bian bukan lawan yang sebanding dengan Arsen.
“Kau harus sukses Bian, kau tidak tahu siapa lawanmu dia sangat kuat. Arsen Pemuda ambisi yang akan melakukan segalanya untuk memiliki Sarah dan dengan kau hanya pemuda biasa dengan mudah ia akan merebut Sarah dari tanganmu. Setikdaknya kau juga punya kuasa dan kekuatan untuk melindungi Sarah,” batin Erina telah menyiapkan rencananya dengan rapi agar putrinya tak jatuh ke pelukan Arsen.
“Saya akan berjuang dengan kemampuan saya. Saya tidak membutuhkan itu semua,” tolak Bian.
“Aku tidak memberikannya padamu, hanya meminjamkannya. Ambillah bawa bersamamu dan kembangkanlah sebagai modal. Kelak kembalikan semua pada Sarah. Pergilah dari kota ini dan kejarlah kesuksesanmu. Kau harus berhasil dan menjadi orang hebat serta pantas mendampingi putriku. Aku memberikan waktu hingga Ara lulus kuliah. Saat itu kau harus sudah kembali dengan kesuksesan setelah itu menikahlah dengan Sarah. Aku akan merestuimu,” jelas Erina merencanakan jodoh yang terbaik untuk Sarah, dan Bian adalah pemuda pilihannya. Ia yakin Bian bisa mendampingi putri sama seperti yang sering di lakukan pemuda itu sejak dulu.
Hening menguasai keadaan di dalam ruangan terlihat jika Bian berpikir keras dengan rencana Erina.
“Ibu Sarah benar adanya. Jika aku memiliki banyak uang aku akan membahagiakan Sarah, membuatnya hidup dengan layak dan nyaman bersamaku seluruh keinginannya bisa aku kabulkan. Dia sudah banyak menderita. Aku ingin melindunginya dengan kekuatan kekuasaan. Ibu Sarah benar, bagaimana jika nanti ada orang yang lebih hebat menginginkan Sarah dan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankannya, lagi pula hanya sampai Ara lulus kuliah setelah itu kami akan bersama,” batin Bian dengan pikirannya.
__ADS_1
“Nyonya saya akan berpisah dengan nona Ara, saya tidak bisa dan nona juga pasti tak setuju jika saya pergi,” jelas Bian mempertimbangkan kesedihan Sarah jika berpisah darinya.
“Ini ujian cinta kalian. Aku yakin kalian pasti biasa melaluinya. Soal kesedihan Ara perlahan dia pasti juga akan mengerti. Dia sangat mencintaimu. Ia pasti menunggumu.” Erina memberi pengertian akan kecemasan Bian pada nasib putrinya.
Lama Bian berpikir akhirnya mengiiyakan. “Baiklah, nyonya saya terima tawaran Anda. Saya dan ibu saya akan pergi dari kota ini. Saya akan kembali membawa kesuksesan,” tegas Bian dengan mantap menerima tantangan Erina.
Erina menarik napas lega rencananya akan menyatuhkan Bian dan Sarah akan berhasil. Itu berarti Arsen tak akan punya kesempatan untuk memiliki Sarah apalagi jika Bian kembali membawa keberhasilan. Ia berharap walaupun tak bisa seberkuasa Arsen setidaknya Bian bisa bertahan dan melawan Arsen kelak dalam memperebutkan Sarah.
“Semoga kau mengerti, aku hanya ibu yang menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Fokuslah dengan tujuanmu, kau harus berhasil setelah itu kau boleh menikah dengan Sarah.” nasehatnya lalu Erina mendekat ke arah Bian memegang tangan pemuda yang telah ia percayakan menjadi pendamping Sarah. “Tolong jaga putriku Bian, bahagiakan dia. Kelak aku percayakan kebahagiaan putriku padamu,” Suara Erina bergetar menahan tangisannya terharu melihat calon pasangan putrinya kelak.
“Saya akan datang tepat waktu dan membahagiakan nona Ara.”
“Pulanglah ceritakan ini semua pada ibumu dan maaf aku telah mengatakan pada ibumu, jika dia di pecat. Itu adalah alasanmu untuk pergi bersama ibumu. Jangan beri tahu Sarah jika itu adalah rencanaku.”
Bian bangun dari duduknya. “Saya permisi nyonya,” pamit Bian.
Bian meninggalkan kamar Erina dengan membawa aset berharga milik Erina yang akan menjadi pegangannya mengejar kesuksesan yang telah di percayakan kepadanya. Demi cintanya yang besar pada Sarah dia rela berjuang agar pantas dan bisa memiliki Sarah.
.
.
.
Like. Coment. Vote.....
__ADS_1