
Malam telah larut mengantar setiap insan untuk menuju ke alam mimpi Sarah berada di dalam kamar mencoba untuk terlelap. Di ranjang kecil gadis ini terus menggeliat tak dapat memejamkan mata memikirkan bagaimana agar ia bisa mendapatkan kamera untuk Arsen, agar suaminya itu memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, apalagi hanya itu yang bisa dilakukan dan di sukai oleh Arsen.
“Kamera ... dapat uang dari mana membelinya? Kami tidak punya uang, kamera bagus bukan harga yang murah. Tapi, ini adalah kesempatan emas bagi Arsen, dia sangat suka memotret, ini waktunya ia merasakan bekerja sesuai dengan keinginannya, dia pasti sangat berharap dengan pekerjaan itu,” gumam Sarah menarik nafas berat kembali membalikkan badannya di kasur memutar otak keras. “Kamera ... Kamera ... Bagaimana caranya aku mendapatnya?” Mata gadis ini tertuju pada lemari pakaiannya, kemudian teringat akan sesuatu.
Sarah bangun beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah lemari. Tangan Sarah menarik pintu lemari lalu mulai membuka laci yang berada di dalam merogoh sebuah kotak.
Sarah duduk dipinggir tempat tidur membuka kotak berisi dengan perhiasan dari ibunya. Ia menyentuh perhiasan itu memeluknya dengan sayang itu adalah kenang-kenangan dari ibunya bahkan menyuruhnya menyimpan dengan baik.
“Haruskah aku menjualnya untuk membeli kamera? Ini kenang-kenang terakhir dari ibu. Tapi Arsen sedang membutuhkan uang membeli kamera, dia sangat bersemangat tadi,” guman Sarah berpikir hingga akhirnya ia mengambil keputusan. “Saat ini kami lagi membutuhkan kamera, dari pada perhiasan ini. Aku akan menjual perhiasan ibu untuk Arsen, harga ini cukup untuk membeli kamera dan satu motor untuk ia pakai nanti pergi bekerja, dia kan mual jika naik kendaraan umum. Ibu maafkan ... aku terpaksa menjual perhiasan peninggalan ibu, ibu tak akan marah kan? ini juga demi putra kesayangan ibu, tuan Arsen,” batinnya terasa sangat berat, menjual kenangan ibunya. Tapi, ia tak punya pilihan lain. Setelah berguman sendiri Sarah memutuskan untuk tidur menyiapkan diri untuk hari pertamanya bekerja di minimarket.
****
Malam telah berganti pagi, sinar cerah mentari menyinari bumi. Sarah telah bersiap untuk memulai hari pertama menjadi kasir di minimarket. Sebelum pergi tak lupa ia membawa perhiasan ibunya untuk ia jual lalu membeli kamera.
Arsen duduk termenung di sofa merasa bosan, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Setelah sarapan bersama istrinya dan menjalankan tugasnya mencuci piring dia tak punya kegiatan lain.
“Ar ... aku pergi dulu,” pamit Sarah yang telah siap.
“Ia, hati-hati Ra,” ucap Arsen menatap gadis cantik yang ada di hadapannya.
“Ini hari pertamaku. Aku akan pulang agak telah sedikit,” alibi Sarah tak mau pemuda ini mencemaskannya karena ia sedang menyiapkan kejutan untuk Arsen.
***
Hari telah petang Sarah telah menyelesaikan semua urusan dan pekerjaannya. Perhiasan ibunya pun telah tiada. Berganti dengan barang yang di perlukan oleh Arsen. Dia telah menyiapkan semua yang di butuhkan oleh suaminya.
Sarah masuk ke dalam rumah membawa paperbag besar dan di sambut oleh senyuman Arsen.
“Ara kamu baru pulang,”
“Ia.” Sarah menghempaskan tubuhnya di sofa duduk sebelah Arsen, menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi, rehat sejenak melepaskan lelah setelah seharian bekerja.
Arsen memperhatikan wajah lelah Sarah, ia merasa sangat bersalah karena membiarkan wanita yang ia cintai harus bekerja keras.
“Aku ambilin kamu minum.” Arsen bangkit dari kursi memberikan pelayanan untuk istrinya.
“Gak usah Ar,” cegah Sarah menarik napas panjang mengumpulkan kembali kekuatan lalu menegakkan tubuhnya, merogoh sesuatu.
Arsen kembali duduk memperhatikan gerak Sarah.
“Ini untuk kamu.” Sarah menyodorkan sebuah paperbag.
“Apa ini?” tanya Arsen mulai melihat pemberian Sarah.
__ADS_1
Alis Arsen berkerut melihat sebuah kamera.
“Kamera ....” Arsen membolak-balik kamera ini dengan melihat dengan penuh ketelitian.
“Ia buat kamu,”
Arsen mengalihkan pandangannya pada Sarah. “Tapi Ra, kita kan ngak punya uang untuk membeli kamera, apalagi ini bukan kamera biasa. Ini mahal, kamu dapat uang dari mana?” Arsen tak percaya menatap Sarah dengan tatapan menyelidik.
“Pakai saja, jangan banyak tanya,”
“Ngak, jawab dulu ini dari mana?” desak Arsen dengan nada dingin tahu jika ada sesuatu yang di sembunyikan istrinya.
“Aku ... Aku menjual perhiasan ibuku,” ucap Sarah lirih.
“Ra.” suara Arsen meninggi tak percaya gadis ini menjual perhiasan, kenang-kenangan dari ibunya. “Kenapa kau menjual perhiasan ibumu, itu kenanga-kenangan dari ibumu,” sesal Arsen meletakan kamera itu dengan kasar di meja.
“Kita butuh uang untuk membeli kamera, ini kesempatan kamu mengembangkan kemampuanmu, hanya pekerjaan itu yang cocok untukmu,” jelas Sarah membujuk pemuda yang memang wajah dingin itu terlihat sedang menahan kekesalan.
“Tapi itu kenangan terakhir dari ibumu, kalau aku tahu aku lebih baik berkerja bongkar panggung dari pada kau harus menjual perhiasan ibumu.” Arsen sangat menyayangkan tindakan Sarah bahkan perhiasan itu menjadi permintaan Erina saat di rumah sakit untuk menjaganya.
“Sudahlah, pakai saja. Ngak apa-apa kita ngak butuh perhiasan. Kenang ibuku hanya akan tersimpan dalam hatiku.” Sarah memegang dadanya, tersenyum memberikan ketengan, jika ia baik-baik saja menatap Arsen. “Ini dunia kesukaan kamu jadi jalanilah sebelum kau kembali menjadi Ceo lagi,”
Arsen memasang wajah dingin menatap Sarah tajam, gadis ini terus bicara meyakinkan Arsen agar menerima kamera itu dan tak marah padanya atas keputusan sepihak yang ia ambil, ditatap seperti itu membuat Sarah seperti sedang melakukan kesalahan besar.
Arsen menarik tubuh Sarah mendekat padanya kemudian memeluk gadis itu dengan erat, membuat mata Sarah terbelalak sangat terkejut menerima pelukan dari suaminya.
“Ar ... lepaskan.” berontak Sarah menolak pelukan Arsen, namun pemuda ini semakin memperat pelukannya.
“Terima kasih atas perhatianmu padaku, makasih karena kamu masih peduli padaku dan tak mengacuhkanku. Aku janji ngak akan mengecewakan kamu. Aku akan bekerja keras demi kamu.” Arsen terharu dengan apa yang Sarah lakukan padanya, setelah semua yang di lakukan padanya, gadis ini masih memperlakukannya dengan baik. Kebaikan hatinyalah yang membuatnya Arsen sangat mencintainya.
“Ar ....” lirih Sarah tak berontak lagi, mematung menerima pelukan hangat dari suaminya.
Pelukan terlepas membuat Sarah menjadi kikuk. “Kau harus bekerja dengan baik, itu kamera mahal,” ucapnya cepat mengalihkan wajah.
“Ayo keluar lihat motor baru yang aku beli untukmu.” Sarah bangun dari duduknya keluar untuk menunjukkan motornya.
***
Arsen dan Sarah telah berada di luar rumah, berdiri di depan sepeda motor matic berwarna hitam.
“Bagaimana Ar?” tanya Sarah pendapat Arsen melihat motor yang akan ia pakai nanti.
“Lumayan.” Arsen menarik garis bibirnya menatap bangga, termenung sejenak membayangkan ia akan melalui hari bersama dengan istrinya dengan motor baru ini. “Ra, kita bisa sama-sama pergi kerja nanti.” Arsen antusias.
__ADS_1
“Ia, kalau aku kerja shif pagi, kita bisa berangkat sama-sama. Kalau siang biar aku naik angkutan umum.”
Pasangan ini masih berbincang di depan rumah, hingga pintu rumah sewa ujung kiri terbuka terlihat pemilik rumah yang keluar.
“Gawat Ra ada pemilik rumah! Aku mau masuk dulu,” sungut Arsen tak bisa jika bertemu dengan pemilik rumah yang aneh, namun langkahnya terhenti tak kalah Rena telah berdiri di depannya, pemilik rumah ini menatap motor yang ada di samping dengan dengan kagum.
“Wa ... motor baru ya!” seru Rena nada suaranya mengema tersenyum, berjalan menggelilingi motor baru mereka. “Nikita keluar! Tetangga kita beli motor baru,”teriak Rena
Sarah dan Arsen tercengang saling tatap melihat tingkah pemilik rumah.
“Hei biasa saja ngak perlu teriak!” Ketus Arsen.
Pintu rumah Nikita terbuka, gadis menggoda ini keluar dengan cepat berjalan ke arah mereka.
“Wah ... Ra motor baru ya! Hebat kamu Ra,” heboh Nikita berdecak kagum.
Arsen melipat tangan di dada memasang wajah malas kembali berhadapan dengan dua perempuan genit dan berisik itu.
“Selamat ya. Karena motor baru traktiran dong, makan-makan kita,” cetus Rena dengan semangat.
“Ia, kita harus makan-makan hari ini. Ayo masuk, kita pesan saja,” ajak Nikita mengarahkan masuk ke dalam rumah sewa Arsen.
Sarah hanya diam sedangkan Arsen membuka mulutnya lebar tercengang, hampir gila karena kesal melihat dua tetangga tak tahu malu itu, menerobos masuk belum ke rumah dan belum meminta izin apakah mereka akan makan-makan bersama mereka.
“Hei kita baru jadi tetangga beberapa hari, dan kalian sudah minta makan-makan, lagi pula siapa yang mengatakan kami mau,” gerutu Arsen tidak suka mereka masuk ke dalam rumah.
“Ar ... tetangga adalah saudara. Jangan jutek sama mereka.” Sarah kembali memperingat Arsen.
“Amit-amit saudaraan sama mereka. Ra mereka itu orang aneh.”
Arsen dan Sarah kemudian masuk ke dalam rumah. Duduk di kursi
Nikita dan Rena kemudian berlomba duduk di samping pemuda tampan itu.
“Ta, dia sudah punya kamera, sudah bisakan ketemu bos kamu,” jelas Sarah.
“Oke Ra, gampang itu besok aku akan bawa dia bertemu dengan bos aku,” Nikita tersenyum menggoda ke arah Arsen membuat pemuda ini bergidik.
“Ganteng kamu kan sudah punya motor. Terus tempat kerja kita juga sama nanti, kita akan selalu dekat. Kita bisa pergi dan pulang bareng,” goda Nikita dengan manja.
“Apaan kamu Ki, kamu kan punya motor juga, ngak usah manja deh, mau di bonceng si ganteng,” protes Rena membuat Nikita berdecak kesal namun dengan lembut dan manja kini giliran si pemilik rumah. “Mending si ganteng bonceng si Ale, kasihan anak yatim lebih berkah dapat pahala,” sosor Rena tak mau kalah membuat mereka bertatapan kilat penuh persaingan.
“Ngak mau! Aku hanya akan membonceng istriku,” ketus Arsen melipat tangan di dada memutar bola mata jengah.
__ADS_1
Mereka pun berkumpul berbincang sesekali menggoda si ganteng. Inilah yang kelak akan menjadi keluarga baru Arsen, ia akan hidup membagi suka dan dukanya dengan tiga perempuan itu. Menjaga Sarah, Nikita dan Rena yang akan membuat hidupnya lebih berwarna.