CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
semakin hancur


__ADS_3

Melihat kesedihan serta perubahan sikap putrinya yang selalu murung membuat  hati Erian juga ikut hancur, bahkan gadis itu sangat marah dan membencinya. Kecewaan dan kesedihan Sarah membuat kondisi Erina semakin memburuk. Hingga saat ini wanita ini sudah tak bisa bertahan lagi dan harus berakhir di ranjang rumah sakit.


Sarah baru saja pulang dari tempatnya menimba ilmu. Alisnya berkerut saat ia masuk dan di sambut oleh pelayan yang memasang wajah gusar mendekat ke arahnya.


“Nona Sarah, saya ingin memberitahukan jika nyonya Erina tadi jatuh pingsan dan sekarang berada di rumah sakit,” jelas pelayan. Membuat gadis ini panik dengan kabar yang ia dengar.


“Ibu,” ucap Sarah lirih, bergegas pergi meninggalkan pelayan untuk menyusul ibu yang telah mengecewakan hatinya, pikirannya kalut perasaan cemas saat mendengar ibunya jatuh pingsan dan sedang menerima pengobatan.


****


Sarah telah berada di rumah sakit berjalan cepat menuju ruangan di mana tempat ibunya di rawat. Saat ia semakin dekat dengan ruangan ia menatap tajam pada beberapa lelaki yang berdiri dengan gagah menjaga keamanan di depan pintu. Sarah mengerti arti situasi  sekarang ini. Lelaki berseragam hitam itu adalah pengawal Wisnu ayah tirinya. Melihat Sarah mendekat mereka hanya diam sebab tahu jika Sarah adalah anak tiri Hutama dan membiarkan gadis ini untuk masuk menemui ibunya.


Dengan ragu-ragu Sarah membuka pintu kamar jika ia masuk ke dalam ruangan, itu berarti ia akan bertemu dengan ayah tirinya yang, dia tidak begitu dekat dengan suami ibunya, bahkan jarang bertegur sapa namun ia juga ingin melihat keadaan Erina.


Sarah melangkah masuk perlahan sorot mata tertuju pada pada wanita yang ia sayang, berbaring di bangkar rumah sakit dengan mata tertutup rapat dan di dampingi oleh lelaki duduk di samping memasang wajah sedih.


“Sayang kenapa kamu menyembunyikan semuanya? Kenapa kamu tidak bilang tentang sakitmu? Maafkan aku yang terlalu sibuk,” ratap Wisnu mendekap tangan Erina sesekali menciumnya. Sarah bisa melihat jika lelaki itu sedang menangisi untuk ibunya.


Langkah Sarah terhenti saat mendengar rintihan Wisnu di samping ibunya. Menyembunyikan Sakit. Kata itu yang ia tangkap gadis ini dari raungan ayah tirinya. Seribu pertanyaan mulai mengganjal di hati akan kondisi kesehatan Erina apa ibunya dalam keadaan sakit parah.


Menyadari kedatangan anak tirinya Wisnu dengan cepat menghapus air matanya dengan telapak tangan.


Wisnu bangun dari duduknya berpura-pura bersikap biasa agar gadis ini tidak mencemaskan keadaan Erina. “ibumu baik-baik saja,” tutur Wisnu mencoba menyembunyikan semua dari Sarah. Ia yakin sama seperti dirinya Sarah juga pasti tidak tahu perihal sakit ibunya.

__ADS_1


Sarah menatap wajah ibunya yang pucat, rasa iba memenuhi relung hati, kekecawaan yang ia rasakan pada perempuan itu seketika sirna saat melihat ketidakberdayaan ibunya. Sarah tak bisa membendung air matanya lagi, cairan bening kesedihan menetes membasahi pipi untuk perempuan sangat ia sayangi dan berharga.


Telah tiga jam Wisnu dan Sarah duduk di ruang rumah sakit. Hening menguasai, terdiam tanpa saling bicara mata mereka menatap pada satu titik yaitu Erina yang belum mendapatkan kesadarannya.


“Bangun bu! Ada apa denganmu?” batin Sarah meraup wajahnya dengan putus asa takut ibunya tak akan bangun lagi.


Raut wajah cemas masih tertanam di wajah cantik Sarah yang sesekali menyeka dengan telapak tangan sebab terbasahi oleh air mata. lama ia menunggu kesadaran Erina, namun tak kunjung juga membuka mata. Rasa penasaran akan kondisi ibunya semakin menariknya untuk mencari tahu. Sarah pun memutuskan untuk keluar lalu mencari tahu jawaban pertanyaannya di ruang dokter.


*****


“Ibu saya sakit apa dokter?” tanya Sarah saat telah berada di ruangan dokter perempuan yang menangani Erina.


“Apa beliau tidak pernah bercerita tentang kondisinya?” Dokter menatap heran pada Sarah kemudian melanjutkan ucapannya. “Nyonya Erina mengidap kanker stadium akhir,” ungkap dokter.


Seakan dunianya runtuh saat mendengar bahwa ibunya mengidap penyakit yang begitu parah. Ekor mata Sarah meloloskan cairan bening. Kristal kesedihan itu jatuh bercucuran membasahi baju yang ia kenakan. Tubuhnya lemas seakan tidak teralirih darah.


“Ibu Anda telah berjuang selama tiga tahun melawan penyakit ini, namun semakin hari ia tak dapat bertahan dan kondisinya memburuk,” jelas dokter.


Penjelasan dokter tentang ibunya yang telah lama mengidam penyakit. Membuat Sarah hanya menagis membekap mulutnya dengan sebelah tangan ingin rasa ia berteriak dan meraung di ruangan itu. Sebelah tangannnya lagi ia letakkan di dada yang terasa sesak tak bisa bernapas akibat isakan serta lajunya air mata.


“Ibu teganya kau menyimpan semua selama tiga tahun dan tak berbagi denganku,” batin Sarah lalu menangis sejadi-jadinya.


Sarah berlari meniggalkan ruangan dokter telah tak sanggup mendengar penjelas dokter lebih banyak lagi. Seakan ingin lari dari kenyataan pahit kehidupan, yang di jalaninya satu persatu orang yang ia sayang meninggalkannya. Belum kering air matanya menangisi kepergian Bian sekarang ia juga akan menghadapi kenyaatan jika ibunya juga akan pergi meniggalkannya bahkan untuk selamanya.

__ADS_1


Sarah berlari kembali ke dalam ruang Erina. Dengan tangan bergetar ia membuka pintu ruangan. Saat memasuki ia telah mendapati Erian telah tersadar dengan di dampingi oleh Wisnu. Sarah semakin mendekat pada ibunya. Wisnu bangun dari duduknya membiarkan ibu dan anak ini bicara.


“Ara,” sapa Erina tatapannya sayu, melepaskan senyum lembut pada Sarah yang terlihat mencemaskannya dan terlihat jelas jika putrinya ini telah menangisinya.


Arah pandang Erina tertitik pada Sarah yang mendekat padanya.


“Apa kau juga akan meninggalkanku?” tanya Sarah melemparkan tatapan tajam pada ibunya disertai raut wajah dingin. Gadis ini terlihat putus asa


Dengan lemah Erina menarik tangan putinya. “Ara. maafkan ibu,” ucap Erina dengan rasa bersalah.


“Kenapa semua orang yang aku sayang semua meninggalkanku.” Sarah meluapkan isi hatinya, tertunduk di samping Erina agar air matanya yang langsung menetes ke bumi tak lagi membasahi pipi lagi.


“Apa yang harus aku lakukan, Agar kau tidak meninggalkanku juga. apa yang harus aku lakukan agar kau bertahan, ke mana aku jika kalian semua meninggalkan aku sendiri?” rintih Sarah.


“Sarah jangan menangis sayang.”


“Ibu menyembunyikan semuanya padaku. Kenapa ibu tidak pernah cerita penyakit ibu,” keluh Sarah masih tertunduk ia tak bisa melihat dengan baik genangan air mata menutupi penglihatannya.


“Ibu ngak mau kamu sedih dan khawatir. Ibu sangat menyagangimu Ra.”


“Ibu.” Sarah memeluk tubuh ibunya dengan erat, berpindah menangis dalam dekapan hangat ibu yang telah melahirkannya. “Ku mohon, bertahanlah jangan biarkan aku sendiri. Aku hanya punya ibu. Aku tidak punya tempat bersandar lagi. Bian juga telah pergi,” ratap Sarah terdengar pilu dan menyayat hati.


“Maafkan ibu ra. ibu sudah berjuang. Waktu ibu tidak banyak lagi. Kamu harus perempuan kuat, jangan menangis lagi dan ibu mohon jangan marah lagi pada ibu.”

__ADS_1


Sarah hanya terdiam menangis memeluk ibunya menikmati sentuhan yang hanya akan sesaat lagi di rasakan. Ia berjanji mulai saat ini  Sarah akan selalu di samping ibunya menemani detik terakhir ibunya. Setiap detik yang akan ia lalui bersama akan sangat berharga.


__ADS_2