CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
mencari kerja


__ADS_3

Pagi telah menyambut Sarah siap untuk memulai hidup baru dengan semangat menjalani hari bersama Arsen. Dia akan membimbing pemuda itu untuk menjalani kehidupan sebagai orang biasa dan berharap Arsen menyerah hidup bersamanya.


Setelah berperang batin semalaman Sarah mulai menata hidupnya. Ia akan menghargai pengorbanan Arsen untuknya dan tidak akan mendiamkannya lagi. Walau pun ia kecewa dan marah pada Arsen. Tapi, ia tidak bisa terus-terusan menyimpan kebencian. Ia harus bangkit dan bagaimana pun ia bertanggung jawab akan hidup Arsen si anak emas jika terjadi sesuatu nanti serta menghargai kebaikan papa Wisnu padanya.


Arsen duduk di sofa hanya mendengar aktifitas istrinya di dapur, tak berani mendekat, karena takut istrinya akan marah jika ia mendekati. Arsen Duduk di ruangan depan yang menjadi tempat inti di dalam rumah, yang memiliki beberapa fungsi selain tempat makan, menerima tamu jika ada. Serta menjadi tempat tidur Arsen di malam hari karena rumah sewa mereka begitu sempit.


“Ayo sarapan Ar,” ajak Sarah yang membawa makanan serta dua piring dan sendok untuk mereka.


Pagi ini Sarah memasak sarapan untuk mereka berdua. Setelah insiden nasi goreng Arsen semalam, yang hampir saja membakar rumah. Dia sudah tak membiarkan untuk pemuda ini memasak.


Arsen menarik sudut bibirnya melihat perlakuan Sarah yang sudah tak mendiamkannya lagi dan merasa ia seperti sedang di layani oleh seorang istri. Hatinya berbunga


“Makanlah.” Sarah menyodorkan piring ke arah Arsen.


“Makasih Ra,” Arsen tersenyum lembut menyambut piring dari istrinya.


Tak ada kata lagi keheningan memenuhi ruangan, hanya dentingan sendok yang terdengar. Tatapan Arsen terus tertuju pada wajah cantik Sarah seakan terbius, ia sangat bahagia menjalani pernikahannya, hanya sarapan pagi sebagai suami-istri namun terasa sangat menyenangkan.


Sarah yang menyadari Arsen terus menatapnya membuatnya tak nyaman. “Aku sudah kenyang,” ucap Sarah hendak berdiri mengangkat piringnya namun di cegah oleh Arsen.


“Biar aku yang mencuci piringnya Ra,” kata Arsen mengambil piring dari tangan Sarah


Sejenak Sarah tercengang mendengar Arsen akan mencuci piring, melakukan hal yang tak pernah di lakukan selama hidupnya. “Tidak perlu, kamu ngak bisa, biar aku,” tolak Sarah menatap remeh.


“Ra, aku sudah belajar cara mencuci piring. Beri aku kesempatan. Aku tidak ingin menyusahkanmu, melihatmu mengerjakan semuanya. Kita akan bekerja sama menjalani rumah tangga kita,” jelas Arsen membuat mulut Sarah terbungkam.


“Baiklah, tapi hati-hati jangan sampai kau memecahkan piringnya.”


Arsen mengangguk dengan semangat. “mulai sekarang kita akan membagi tugas kau memasak dan aku akan mencuci piring. Aku akan menjadi suami yang bisa kau andalkan.”


Arsen beranjak membawa piring kotor meninggalkan Sarah menarik.


“Kasian juga melihatnya mengerjakan perkerjaan rumah, tangan halus tuan Arsen bisa menjadi kasar nanti,” batin Sarah hatinya menjadi iba, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Tidak Ara kau tidak boleh kasian padanya, kau harus keras padanya agar ia tak betah dan menyerah lalu pergi meninggalkanmu,” batin Sarah menyeringai.


****


Setalah Sarapan bersama, Sarah memutuskan untuk keluar sejenak  meninggalkan Arsen yang berada di dapur mencuci piring hendak menemui sahabatnya Nikita untuk mencarikan sebuah pekerjaan untuknya.


Sarah keluar dari pintu, senyuman mengembang di wajahnya tak kala melihat orang yang ia cari kebetulan duduk di bangku panjang yang ada di teras rumah.


“Ara,” sapa Nikita yang melihat Sarah mendekat padanya.


“Ta, aku ada perlu bantuan kamu,” jelas Sarah duduk di samping perempuan yang selalu berpenampilan seksi ini.


“Bantuan apa, Ra?” tanya gadis ini.


“Kamu tahu kan kami baru saja pindah dari kota ini,” tutur Sarah dengan suara pelan dan di angguki oleh Nikita. “Aku lagi cari kerjaan Ta, kamu tahu ngak tempat yang lagi cari lowongan kerja? Atau kamu punya teman yang bisa kamu hubungi untuk ngasih aku pekerjaan?” jelas Sarah.


Alis Nikita berkerut sedikit berpikir. “Bagaimana ya Ra? Aku ini kan hanya penyanyi di pesta pernikahan. Aku ngak punya perkerjaan yang bagus untuk kamu,” terang gadis berambut pirang panjang ini.


“Kerja apa-pun Ta, yang penting halal. Aku sangat butuh pekerjaan,” desak Sarah.


Nikita menghembuskan napas pelan mulai memikirkan mengenai keinginan Sarah bekerja, hingga tak lama matanya membulat di sertai senyuman yang terbit. “Ada Ra, aku punya teman yang punya mini market, kalau kamu mau aku bisa memintanya untuk menerimamu bekerja di sana,” terang Nikita bersemangat.


“Mini market,” ulang Sarah kemudian diam sejenak. “Aku mau Ta.”


“Baiklah tunggu di sini aku akan menghubunginya dulu.” Nikita kemudian beranjak masuk ke dalam rumah mengambil ponsel hendak menghubungi temannya.

__ADS_1


Sarah duduk menunggu Nikita dengan penuh harap. Tak beberapa lama Arsen datang menghampiri Sarah.


“Kamu di sini? Aku sudah mencuci piringnya,” lapor Arsen berdiri di samping Sarah.


“Aku sedang menunggu Nikita. Dia lagi mencarikan perkerjaan.”


Nikita keluar dari rumah memegang ponselnya memberi kabar baik pada Sarah.


“Aku sudah hubungi Ra. katanya kamu bisa ke mini marketnya besok,” terang Nikita.


“Apa minimarket!” sambar Arsen terkejut mendengar Sarah akan kerja di sebuah mini market.


“Ia. Kalau kamu mau juga bisa,” tawar Nikita dengan nada menggoda menatap manja Arsen, membuat pemuda ini mendengus melihat tingkah genit gadis ini, serta mendengar tawaran ia akan bekerja di sebuah tempat kecil.


“Besok kalian datang. Lalu sebut saja namaku Nikita Milly, akan ku bongkar minimarketnya jika ia tak menerima kalian,” jelas Nikita berapi-api menepuk dadanya dengan bangga.


“Terima kasih Ta,” ucap Sarah dengan tulus.


Perbincangan mereka terhenti tak kalah pintu rumah sewa yang ada di ujung terbuka dan terlihat anak-anak lelaki berseragam sekolah keluar.


“Kak Nikita,” sapa anak lelaki itu tersenyum ceria memperlihat gigi ratanya mendekat ke arah Nikita.


“Ale,” balas Nikita memanggil anak lelaki itu. “Ale ini sudah jam berapa? kamu sudah telat ke sekolah,” protesnya melihat jam tangan melingkar di pergelangan tangannya.


“Mami lama banget ngantarnya, dia masih dandan,” jelas anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun.


“Mami kamu itu mentang-mentang dekat dengan satpam sekolah seenaknya saja datang terlambat, dia pasti lagi mau goda itu pak satpam,” oceh Nikita, kemudian membulatkan matanya, teringat akan sesuatu.


“Gawat Ra, aku lupa, cepat suruh suamimu masuk ke dalam. Pemilik rumah ganjen itu ngak akan lama lagi keluar. Dia pasti godain suamimu.” Nikita menepuk jidatnya menjadi panik menatap cemas ke arah Arsen.


Arsen pun menjadi ikut panik, hendak melangkah pergi namun kakinya terhenti mendengar suara teriak seorang perempuan, ia pun hanya bisa menunduk menyembunyikan wajah tampannya.


“Yaelah ... mami, biasa saja kali, baru juga telat dua hari,” protes Nikita memasang wajah datar.


“Jangan pakai protes bayar sekarang,” paksa perempuan itu mengarahkan telapak tangannya ke arah Nikita, Kemudian menatap ke arah Sarah menyelidik. “Ini siapa?” tanya pemilik rumah yang bernama Rena.


“Teman aku Mi, ini yang menempati kontrakan yang di tengah,” jelas Nikita yang kemarin mengurus kepindahan Sarah tanpa bertemu sang pemilik rumah karena menghindari agar Arsen tak di goda.


“Oh begitu ... ingat ya saya ngak suka kalau bayar kontrakan telat, sama kaya Nikita ngak pernah tepat waktu,” sindir Rena menatap sinis pada Nikita masih fokus membicarakan uang tak memperhatikan Arsen yang berdiri di samping Sarah.


“Kakak ganteng banget.” Suara terdengar dari anak lelaki yang telah siap untuk ke sekolah tadi. Berdiri mendonggakan kepalanya di depan Arsen yang tertunduk. Membuat perhatian si pemilik rumah pecah dan mengarahkan pandangannya pada Arsen yang berdiri di samping Sarah.


Rena tercengang tak kalah Arsen mengangkat kepalanya. “Astaga Tuhan, ganteng banget,” puji Rena mendekat ke arah pemuda itu.


Arsen tersenyum pelik mulai tak nyaman dengan tatapan pemilik rumah, yang mendekat. Dan mulai menyentuh kulitnya dengan telunjuk.


“Gila ... kulitnya putih banget, mulus, licin kaya mangkok cina,” Rena terus berdecak kagum melihat Arsen terus memperhatikan setiap detil wajah pemuda itu sama seperti Nikita ia juga tak pernah melihat pemuda tampan seperti Arsen.


Nikita memutar bola mata malas. “Ya ialah emangnya kaya mami, muka doang yang putih, tangan sama leher item,” sosor Nikita dengan nada remeh.


“Huss awas kamu Ta.”


Ibu dan anak ini terus memperhatikan Arsen membuat pemuda ini mendengus memutar bola mata jengah. Melihat makhluk yang lebih ajaib dari Nikita yang tak pernah di dapati oleh Arsen.


“Bening banget ini kulit, bisa buat ngaca ... Nikita, Ini kalau dia minum air putih pasti sama kaya iklan yang ada di tv, yang tenggorokannya kelihatan ada air terjunnya,” ocehan heboh dari janda ganjen ini mengarahkan sebuah iklan produk yang ada di tv. Berlebihan mengungkapkan ketampanan Arsen. Membuat Arsen bergidik ngeri mendengar ocehan perempuan ini. Seakan ia bukan pemuda yang normal hingga kulit putihnya terlihat transparan. Sama sepeti Nikita yang melihatnya seperti bukan makhluk bumi.


“Pertama Nikita sekarang pemilik rumah. Ngak lama aku bisa gila melihat dua perempuan ini, mana sekarang jadi tetangga lagi,” batin Arsen.

__ADS_1


“Jangan melihatku seperti itu!” sembur Asen tak nyaman memasang wajah ketus.


“Suami orang woi,” Ketus Nikita mengingatkan Rena.


“Ih ... kamu ini,” protes Rena tak terima lalu mengarahkan pandangannya pada putranya. “Ale sayang, dulu mendiang papimu juga persis punya wajah seperti ini,” ungkap Rena dengan semangat menjelaskan pada putra.


Nikita tersenyum remeh memutar bola mata jengah. “Sama dari mana, model anakmu coklat seperti ini!” sembur Nikita. Ia bisa berbicara santai pada sang pemilik rumah karena usia mereka yang seumuran.


“Nikita!”


“Kenapa ngak bila kalau yang tinggal di sini, ganteng banget kalau tahu begitu kan uang sewanya bisa aku kurangi dua setengah persen, biar betah,” oceh Rena sang pemilik rumah kontrakan pada Nikita.


“Dasar pelit, cuma kurang dua setengah persen, kau kira kaum duafa yang di santunin,” serang Nikita berdebat dengan pemilik rumah.


Nikita dan Rena terus berdebat di hadapan Arsen.


“Apa semua penghuni tempat ini gesrek seperti dua wanita ini, aku bisa gila menghadapi mereka setiap hati, baru dua orang bagaimana jika satu kampung seperti ini,” batin Arsen bergidik ngeri.


Sarah hanya bisa diam sekali-sekali tertawa kecil mendengar ocehan Nikita dan pemilik rumah, tersenyum puas melihat ekspresi Arsen yang seperti ketakutan melihat dua wanita aneh ini. Ia berharap dua wanita cerewet ini akan membantunya untuk membuat Arsen tak betah hidup bersamanya.


“Ra ayo masuk,” ajak Arsen kemudian melangkah cepat, seperti berlari dari dua wanita itu.


Sarah menahan tawa melihat tingkah lucu Arsen yang mengambil langkah seribu untuk menghindar. Sarah pamit kemudian beranjak pergi masuk ke dalam rumah.


Arsen duduk di sofa menunggu Sarah. Ia seketika berdiri melihat istrinya masuk ke dalam rumah.


“Ra ... apa kita tidak bisa pindah rumah, aku bisa gila jika bertemu mereka setiap hati,” keluh Arsen.


Sarah menahan tawanya mendengar permintaan Arsen yang mulai terdengar putus asa menghadapi dua wanita itu. Sarah duduk di kursi yang sama dengan Arsen namun agak berjauhan.


“Ngak bisa Ar, aku akan tetap di sini. Kecuali kau mau pulang ke rumahmu,” pancing Sarah kembali menawarkan Arsen untuk pergi.


“Tidak ...aku tidak akan pergi meninggalkanmu, aku akan bertahan walau pun nanti aku gila karena mereka,” tolak Arsen dengan cepat.


Sarah menarik sudut bibirnya menikmati rasa prustasi Arsen.


“Ar besok aku akan melamar kerja di mini market milik teman Nikita,” jelas Sarah.


“Kerja di mini market Ra?” ucap Arsen dengan wajah tak percaya.


“Ia, kita harus memiliki pemasukan. Kita ngak bisa diam saja tanpa penghasilan, kita harus memenuhi kebutuhan kita, belum lagi bayar sewa rumah. Kamu ngak liat tadi pemilik rumah tak mau jika terlambat membayar.”


Arsen menarik napas panjang. “Kenapa harus di mini market? Kenapa ngak di kantor. Kita punya pendidikan yang tinggi, sayang kalau ngak di pakai,” protes Arsen tak ingin melihat Sarah harus bekerja di tempat sulit.


“Aku bisa saja bekerja di kantor, itu pun kalau kau mau keberadaan kita di lacak,” tutur Sarah. ia juga sembunyi dari Bian pemuda yang sangat mencintainya ini pasti sedang mencarinya sekarang sama seperti mama Arsen.


Arsen terdiam terlupa jika mereka sedang dalam pelarian menyembunyikan identitas mereka.


“Baiklah besok aku ikut. Aku juga akan melamar pekerja di sana.” Arsen akan ikut, walau pun terasa berat ia adalah Ceo dan tiba-tiba harus menjadi bekerja di mini market.


“Memangnya kamu bisa? Jadi bekerja dengan perintah orang.” Sarah menatap sanksi apa pemuda ini bisa menerima perintah sebagai karyawan biasa.


“Setidaknya aku bisa bekerja bersama Sarah, kami akan selalu dekat sepanjang hari,” batin Arsen tersenyum kembali bersemangat.


“Demi kamu aku akan mencobanya,” ucap Arsen dengan tatapan lembut, melemparkan senyum paling menawan di hadapan Sarah, sejenak tatapan mereka bertemu, membuat gadis ini cepat memalingkan wajahnya ia tak ingin memberi cela untuk Arsen masuk ke dalam hatinya.


Sarah tak memungkiri jika Arsen adalah pemuda tampan memiliki sejuta pesona yang bisa membuat orang terpikat, Karena itu  ia menutup hati, menghindar ia takut jika niatnya untuk menghapus Bian malah membuat Arsen masuk dalam hatinya, yang akan membuatnya semakin menderita.

__ADS_1


Walau terasa sulit untuk masuk dalam kehidupan bersama gadis yang ia cintai, Arsen akan terus berjuang di untuk selalu berada di samping gadis ini dan membuktikan cintanya pada Sarah


__ADS_2