CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
kepulangan Bian


__ADS_3

“Bian ....” ucap Sarah dengan suara bergetar serta disertai kristal bening jatuh membasahi pipi mendengar kembali suara pemuda yang ia rindukan lagi. Akhirnya selama empat tahun hari itu datang juga. Degup jantung Sarah kembali berdebar kencang setelah mendengar suara pemuda itu.


Mendengar nama Bian yang terucap dari bibir Sarah membuat tubuh Arsen melemah, semangatnya hilang seketika mengingat jika rivalnya itu pasti telah kembali dan akan menemui Sarah. Rasa kecewa, amarah, tak rela semua berbaur di hati Arsen. Ia bahkan baru mau mengungkapkan isi hatinya namun batal karena telepon Bian. Arsen mematung di hadapan Sarah mencoba mendengar percakapan gadis itu dengan kekasihnya.


“Bian ....” ulang Sarah seakan tak percaya.


“Ia, Ra. Aku sangat merindukanmu. Aku sudah kembali, sayangku.” Bian


“Aku juga sangat merindukanmu.” Sarah dengan derai air mata kerinduan.


“Datanglah kemari, kita bertemu di tempat kita jadian dulu. Aku menunggumu.” Bian


“Baiklah tunggu aku, aku pasti datang.” Sarah sangat bersemangat ingin rasanya ia melompat kegirangan. Tak menghiraukan Arsen yang menatap dengan tatapan dingin.


“Aku menunggumu, cepatlah aku sudah tak sabar bertemu denganmu sayang.” Bian dengan lembut.


“Aku segera ke sana sekarang juga.” Sarah.


Panggilan terputus Sarah mendekap ponselnya di dada dengan sayang dan meneteskan air mata haru sangat bahagia dia akan kembali bertemu dengan cintanya, penantian panjangnya akan berakhir hari ini. Bian akan kembali padanya menemani menjalani hari lagi. “Akhirnya kamu kembali padaku Bian.” Hati Sarah sedang berbunga pacarnya menunggunya di taman.


 


“Aku harus pergi Ar.  Bian telah kembali.” Sarah bangun dari duduknya menerobos tubuh Arsen yang masih jongkok di hadapannya, yang tadi ingin mengatakan sesuatu penting namun di urungkan karena telepon Bian.


 


 


“Ngak Ra, kamu ngak boleh pergi,” cegah Arsen mencekal pergelangan tangan Sarah membuat langkah gadis ini terhenti. Arsen tak akan membiarkan Sarah menemui kekasihnya.


“Ar Bian telah datang, aku harus menemuinya. Aku sangat merindukannya,” jelas Sarah merasa menatap heran dengan sikap Arsen yang melarangnya pergi, Sarah mencoba menarik tangan yang di pegang erat Arsen namun cekalan itu semakin kuat.


“Tidak Ra, aku mohon jangan pergi tetap di sini,” mohon Arsen dengan suara penuh harap agar Sarah memilih untuk bersamanya.

__ADS_1


“Ar tidak bisa, dia sedang menungguku. Aku harus pergi. Aku akan mendengar ceritamu setelah aku kembali.” Sarah terus menarik tangannya.


“Ra, tolong aku membutuhkanmu di sisiku jangan meninggalkanku,” pinta Arsen meninggikan suara.


Sarah terdiam sejenak memikirkan mengapa Arsen seperti itu padanya tak rela ia pergi, tapi Bian sedang menunggunya.


“Ar.” Sarah menyentak tangan dengan keras hingga tangan mereka yang bertaut terlepas dari cekalan Arsen. Sarah kemudian menerobos tubuh Arsen yang menghalangi jalannya. Langkahnya semakin ia percepat bergegas menemui pemuda yang telah menunggunya di taman.


“Ara berhenti!” teriak Arsen namun tak menghentikan langkah Sarah yang meninggalkannya. “Ara berhenti! Jangan pergi!” Arsen semakin meninggikan suaranya namun Sarah tetap tak berhenti. “Sarah Alia Wardani, aku mencintaimu!” teriak Arsen mengungkapkan isi hati yang ia pendam selama bertahun-tahun agar Sarah tidak pergi meninggalkannya.


Jeduar ....


Akhirnya langkah kaki Sarah terhenti saat mendengar pengakuan cinta dari Arsen gadis ini berbalik melihat Arsen. Arsen lalu berjalan mendekat pada Sarah.


“Ara aku mencintaimu,” ungkap Arsen memegang tangan Sarah.


“Ar itu tidak mungkin,” lirih Sarah menatap wajah Arsen mencoba membaca raut wajahnya mencari senyum canda di muka itu, namun ia tak melihatnya, sorot mata pemuda itu menyiratkan jika ia serius dan tak bercanda  dengan ucapannya.


“Aku mencintaimu sudah sejak lama,” tambah Arsen mengungkap semua yang ia tahan ungkapan cinta adalah langkah terakhirnya sebagai usaha keras mengejar Sarah selama ini.


“Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai adikku. Kita bukan saudara, kita tidak punya setetes pun hubungan darah. Semua yang aku lakukan, sayangku, perhatianku, selama ini adalah perasaan laki-laki pada gadis yang ia suka, buka sebagai kakak,” jelas Arsen.


“Ar kau tahu kan? Dari dulu aku hanya mencintai Bian.” Sarah masih mencoba tenang walaupun sebenarnya ia merasa gusar dengan cinta Arsen yang sampai kapan pun tak bisa berbalas. Dia  mulai mengingat semuanya, pantas saja Arsen tak pernah memiliki kekasih ternyata ia memendam cinta padanya.


“Aku tahu tapi aku tidak peduli. Aku mohon jangan pergi bersamanya. Hiduplah denganku, aku lebih baik darinya, aku akan membahagiakanmu. Apa pun akan kulakukan untukmu tapi tolong ku mohon tetaplah bersamaku. Menikahlah denganku.” Arsen mendekap tangan Sarah di dada bidang miliknya.


“Ar hentikan,” bentak Sarah menepis tangannya merasa aneh dengan pengakuan cinta Arsen.


“Maaf aku tidak bersamamu. Aku harus pergi menemui Bian, dia telah menungguku.” Sarah kembali mempercepat langkahnya meninggalkan Arsen untuk bertemu dengan Bian, tak peduli dengan perasaan Arsen padanya ia hanya menganggap itu semua angin lalu.


“Ara kau tidak boleh pergi! Kau hanya akan bersamaku!” teriak Arsen mengikuti langkah Sarah tak membiarkan Sarah bertemu dengan kekasihnya.


“Itu tidak mungkin Ar.” Sarah mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Sarah telah berada di depan gerbang berlari dari kejaran Arsen, saat gadis ini hendak keluar.


“Tangkap dia! Jangan biarkan ia keluar dari rumah ini,” titah Arsen pada penjaga rumah yang berdiri menjaga ke diaman Hutama.


Mendengar perintah tuannya beberapa penjaga pun berdiri mengitari mencekal kepergian Sarah.


“Arsen! Apa yang kau lakukan? Biarkan aku pergi! Dia menungguku!” bentak Sarah emosi pada Arsen karena telah menghalangi jalannya.


“Tidak Ara, kau tidak akan bersama dia. Aku tidak rela kau bersamanya.”


“Tahan dia,” titah Arsen.


Beberapa penjaga rumah yang bertubuh besar mulai memegang kedua tangan Sarah namun gadis ini tidak tinggal diam, dengan kemampuan bela diri yang ia punya, Sarah tak akan tinggal diam saja ia akan melawan mereka.


Perkelahian Sarah dengan beberapa penjaga rumah tak dapat di elakkan gadis ini terus melakukan perlawanan.


“Lumpuhkan dia,” perintah Arsen yang melihat penjaga mulai kewalahan.


Penjaga semakin banyak menghalangi Sarah hingga mereka berhasil memegang kedua tangan Sarah mengunci tubuh itu hingga tak berkutik. “Ar lepaskan aku, biarkan aku pergi menemuinya sebentar saja,” mohon Sarah meronta-ronta terlihat putus asa dia sangat ingin melihat wajah Bian, empat tahun lama ia menahan rindu sekarang saat mereka akan bertemu Arsen menjadi penghalang.


“Tidak akan,” Arsen melirik satu penjaga dengan ekor matanya lalu salah satu dari mereka maju, akan membekap wajah Sarah dengan sapu tangan yang telah di basahi oleh obat bius.


“Apa yang kalian lakukan!” Sarah mencoba menghindar memalingkan wajahnya. Namun tak bisa mulut dan hidupnya telah terbekap.


Tak beberapa lama tubuh Sarah mulai bereaksi kepalanya mulai terasa berat penglihatnya mulai buram.


Arsen mendekat ke arah Sarah yang terhuyung memerintah penjaga rumah untuk melepaskan tubuh itu memerintah dengan sorot mata, mereka pun mundur melepaskan Sarah yang telah lemah. Sarah memegangi kepalanya yang terasa berat. Arsen lalu mengendong tubuh Sarah masuk ke dalam rumah


“Lepaskan aku, aku mencintai Bian biarkan aku bersamanya,” ucap Sarah lemah dengan kesadaran yang mulai tinggal setengah.


“Tidak kau hanya milikiku.” Arsen membuka pintu kamar kemudian menutup dengan kaki membawa tubuh lemah Sarah ke dalam kamarnya.


Arsen membaringkan tubuh Sarah di ranjang besar miliknya menatap wajah cantik itu dengan lekat mengelus pipi mulus itu dengan lembut.

__ADS_1


“Kau hanya akan  menjadi miliku,” Arsen mengecup kening Sarah dengan lembut.


__ADS_2