
Malam telah larut Arsen baru saja pulang ke rumah setelah menjalani hari sebagai fotografer di tempat pernikahan. Sepanjang hari hatinya resah, memikirkan Sarah yang merajuk padanya. Atas tuduhan kembali pada mantan kekasih masa lalu.
Arsen telah berada di dalam rumah rasa lelah, letih tak dia rasakan. Di pikirannya hanya ada Sarah, ia berharap istrinya itu tidak marah lagi padanya. Pemuda ini langsung melangkahkan kaki menuju kamar saat berdiri di depan kamar. Ia menarik napas berat saat tangannya memegang handle pintu dan ternyata pintu itu masih terkunci rapat sama seperti tadi pagi saat ia pergi bekerja.
“Dia masih marah padaku. Aku memang sudah keterlaluan,” gumam Arsen merasa bersalah ia hendak mengetuk pintu kamar namun takut jika Sarah sudah terlelap dan mengganggu tidur nyenyaknya.
Arsen memutuskan menjauh dari kamar lalu membersihkan diri, malam ini ia akan tidur di sofa. Sarah yang berada di dalam kamar menyadari kedatangan Arsen namun mencoba menahan diri untuk tidak bertemu dengan suaminya sebab luka bekas tamparan di wajahnya yang ia coba untuk ia sembunyikan. Arsen pasti murka jika tahu mamanya datang dan menyerangnya. Biarlah Arsen mengira masih merajuk tentang tuduhannya dengan Bian. Apalagi ia mengeluarkan beberapa pakaian Arsen agar pemuda ini tidak punya alasan untuk masuk.
Pagi menyambut Arsen terbangun dini hari, tatapannya terus mengarah ke arah kamar menanti pintu itu terbuka, namun hingga ia telah rapi dan bersiap kembali bekerja keadaan masih sama saja seperti kemarin Sarah belum juga menampakkan diri.
Tok ... tok ...
Arsen kembali berdiri di depan pintu kamar mengetuk pelan berharap Sarah sudah tidak marah lagi padanya.
Tok ... tok ...
“Ara aku mohon tolong buka pintunya,” ucap Arsen berbarengan dengan ketukannya.
“Ara jangan marah lagi! Aku benar-benar minta maaf. Makilah aku, tapi jangan mendiamkan aku seperti ini, aku tidak bisa. Aku sangat tersiksa,” bujuk pemuda tampan ini merasa putus asa orang yang sangat ia cintai sedang mendiamkannya terasa menyesakkan.
Sarah bersender di depan pintu dengan mata berkaca-kaca ia tahu jika Arsen pasti sangat merasa bersalah namun ia tidak bisa keluar luka di sudut bibirnya masih tampak.
“Maaf Ar. Aku hanya tidak ingin kau marah pada mamamu, Aku tidak ingin kalian bertengkar,” batin Sarah.
Arsen kembali menyerah membujuk Sarah, ia harus kembali bekerja waktunya telah habis, dia tidak harus bersikap profesional tidak boleh terlambat.
“Ara aku pergi dulu. Aku harap kau tidak marah lagi nanti. Sekali lagi aku minta maaf,” harap Arsen kemudian meninggalkan pintu kamar tempat dari tadi ia berdiri.
Arsen telah bersiap dengan semua peralatannya meninggalkan rumah. Pemuda tampan ini telah berjalan keluar melangkahkan kakinya ke arah motor namun saat hendak naik di kendaraannya. Ia melihat dua tetangga genit secara bersamaan keluar dari pintu rumah. Sejenak Arsen dan mereka saling bersitatap.
“Aduh ada si ganteng lagi,” keluh Rena lalu bergegas berbalik masuk ke dalam rumah tidak ingin berhadapan dengan Arsen ia merasa cicit karena selalu menggoda pemuda itu lagi.
“Ada Ar,” ucap Nikita juga tersentak kaget lalu kembali masuk ke dalam rumah belum siap bertemu dengan Arsen setelah tahu siapa sebenarnya pemuda tampan yang sering ia goda itu, ternyata bukan orang sembarangan.
Arsen mengernyitkan dahinya menatap heran pada dua perempuan yang kompak masuk kembali ke dalam rumah seakan takut bertemu dengannya. Ia merasa aneh melihat tingkah dua tetangga pengganggunya, kali ini mereka tidak membuatnya kesal, tidak seperti biasa mereka akan mendekat dan menggodanya.
“Ada apa dengan mereka. Mengapa mereka seperti ketakutan melihatku. Tumben biasanya mereka tidak tahan untuk tidak membuatku kesal dan kali ini mereka tidak menggangguku,” batin Arsen menatap bingung dengan tingkah dua perempuan yang selalu mengganggunya dengan permintaan tolong.
Arsen mengendarai motornya meninggalkan lingkungan rumah kontrakan itu. Nikita dan Rena yang melihat bayangan Arsen telah tidak ada kembali keluar.
Nikita duduk di depan rumah kontrakan hari ini ia tidak memiliki kegiatan apa-pun, akibat ulah Wina ia kembali menjadi pengangguran.
__ADS_1
“Kamu nggak kerja Nik?” tanya Rena yang menghampiri gadis ini melamun lalu duduk di sampingnya.
“Ngak. Aku diberhentikan oleh bosku katanya dia udah punya pengganti yang baru, ada penyanyi yang lebih bagus dariku,” keluh Nikita dengan tak bersemangat tertunduk lesu.
“Masa sih. Kamu kan udah ikut sama Wo mereka bertahun-tahun. Kok Seenaknya saja mereka menggantikanmu,” oceh Rena seolah tidak terima.
“Entahlah Mi,” Nikita menarik napas berat lalu menatap bingung Rena yang duduk di sampingnya.
“Mami sendiri kok nggak ngurus daster?” tanya gadis biduan ini.
“Barang lagi mandek Ki. Daster pesan batal di kirim. Padahal ini nggak pernah terjadi aneh Ki? Ada apa ya?” ucap Rena bertanya-tanya dengan kendala yang sedang ia hadapi.
“Ini pasti ada hubungannya dengan mamanya Ar?” celetuk Nikita dari kemarin ia sudah punya pikiran itu.
“Iya Ki, aku rasa juga begitu dia sangat berkuasa, dia bisa melakukan apa-pun, pasti dia yang melakukan semua ini,” ucap Rena dengan menggebu dan penuh kekesalan
“Kamu ingat kan kemarin dia mengancam akan membalas kita. Gila banget itu perempuan cepat banget gerakannya baru juga satu hari dia sudah mengacaukan semuanya,” umpat Nikita melihat kehebatan dari ibu Ar sekaligus mertua dari Sarah.
“Aaaa. Ini juga gara-gara aku mengusirnya, hampir saja aku menyelepetnya sandal. Andai aku tahu dia sekaya itu, aku tidak akan mengusirnya,” ucap Rena dengan putus asa menyesali kesalahannya.
“Hush ... Mami ngak boleh bilang seperti itu,” protes Nikita.
“Coba lihat sekarang kita juga kena imbasnya kan.”
Rena dan Nikita masih membincangkan tentang kehebatan seorang Wina Raditya. Hingga tidak menyadari jika Sarah datang dan akan ikut bergabung dengan mereka.
“Niki, Mami. Kalian mengapa di sini kamu ngak kerja Nik?” tanya Sarah menatap heran lalu duduk di samping gadis cantik yang selalu berpakaian minim ini.
“Dia di berhentikan oleh bosnya Ra,” sambar Rena santai terlupa dengan pesan yang baru saja di sampaikan oleh Nikita .
“Mami,” protes Nikita melototkan matanya baru saja ia berpesan jangan beritahu Sarah tapi perempuan yang selalu mengoceh itu telah terlupa.
“Di berhentikan?” ulang Sarah ia sudah yakin jika ini pasti ulah Wina
“Ia, Ra,” sahut Rena lagi.
“Mami.” Nikita melototkan mata pada si pemilik rumah.
__ADS_1
“Ini pasti ulah mama Ar,” ungkap Sarah ia sudah tahu orang terdekatnya pasti juga akan menerima imbasnya.
Nikita meraih tangan Sarah, menatap wajah yang tercetak jelas penuh dengan rasa bersalah padanya, ia mencoba memberi kekuatan jika semua tidak apa-apa untuknya.
“Ngak apa-apa Ra, aku masih kerja di tempat lain kok.”
“Kerja apa Ki? Ini adalah dunia yang kau sukai,” ujar gadis cantik yang memiliki mertua galak ini.
“Aku bisa ikut mami jualan daster lagi seperti kemarin, saat aku dan Arsen menganggur dulu,” jelas Nikita melemparkan senyum simpul.
“Bantu apa Nik? Barang aja udah ngak ada, kiriman daster juga sudah mandek,” ucap Rena kelepasan tidak sadar ia juga telah memberitahukan masalah yang ia hadapi. “Upps.” Rena menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Mami,” geram Nikita menatap tajam pada pemilik rumah ingin rasa ia menyerang wanita yang tidak bisa menyimpan rahasia ini.
Rena tersenyum pelik lalu bergegas berdiri menghindari amukan Nikita. “Aku lupa aku kan tadi mau beli sayur,” ucap Rena berlari pergi berjalan ke depan.
“Dasar mulut ember,” umpat Nikita.
“Nik jadi Mami juga mendapatkan kesulitan dari mamanya Ar?” tanya Sarah pelan.
“Emm.” Nikita hanya berdehem tanda mengiyakan.
Air matanya seakan ingin menetes mengapa orang terdekatnya yang menjadi sasaran mama Arsen, ia bisa terima semua yang terjadi padanya namun ia tidak tega jika mereka juga mengalami kesulitan.
“Ara ngak apa-apa, kamu jangan merasa bersalah pada kami. Kami akan selalu mendukungmu.” Nikita merangkul bahu sahabatnya.
“Tapi Nik bagaimana dengan kehidupan kalian.” Rasa bersalah menggunung di hati Sarah
“Sudah Ra. Aku minta kamu berjuang, Ar sangat mencintamu, kamu jangan menyerah ya,” Nikita mengelus bahu Sarah yang air matanya akan menetes turun.
“Bagaimana lukamu? Sudah baikan?” tanya Nikita mengalihkan pembicaraan.
“Sudah mendingan.” Sarah meraba pipinya
“Ar tahu?” tanya Nikita.
“Tidak aku sedang mencoba menghindarinya.”
Sarah dan Nikita sedang berbincang, arah pandang mereka seketika tertuju pada si pemilik rumah yang tadi meninggalkan mereka untuk membeli sayur kembali dengan berjalan tergesa-gesa seperti sedang ada yang mengejarnya.
“Gawat!” teriak Rena dengan napas tersengal-sengal telah berdiri di hadapan Sarah dan Nikita.
__ADS_1
“Ada apa Mi?” tanya mereka kompak berdiri.