CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
perintah Arsen


__ADS_3

Cahaya keemasan menghias langit sore, Bian dan Sarah baru saja masuk ke dalam gerbang rumah Hutama. Sepasang kasih di mabuk cinta ini baru saja pulang, selepas kencan yang indah mereka jalani. Bian menghentikan kendarannya, Sarah pun turun melepaskan helm yang melekat di kepala lalu memberikannya pada Bian.


“Makasih Ian.”


“Kamu suka? Lain kali kita kencan lagi. Bagaimana jika malam minggu pertama kita,” cetus Bian.


“Boleh.” Sarah mengangguk antusias.


Bian turun dari motor berdiri di samping Sarah.


“Senang banget Ra. Sekarang kalau aku ke sini bukan lagi nemui teman atau jemput ibu. Tapi ....” Bian mengantung ucapanya.


“Tapi apa Ian?” tanya Sarah penasaran.


“Sekarang kalau kesini, sudah di sebut ngapelin pacar,” ucap Bian mengelus puncak kepala Sarah membuat wajah gadis itu merona.


Sarah dan Bian melangkah masuk bersama dengan langkah kecil.


“Kamu ngak pulang Ian?” tanya Sarah melihat pemuda ini berjalan bersamanya.


Bian memeperhatikan arah jarum jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


“Nanti saja sekalian nunggu ibu, biar sama ibu saja.”


Sarah menghentikan niatnya untuk masuk, kemudian tercetus sebuah ide kegiatan apa yang akan mereka lakukan.


“Bian sambil tunggu ibu, kita main basket yu?” ajak Sarah.

__ADS_1


“Oke, sudah lama juga kita ngak main basket bersama.”


Sarah kini berada di lapangan basket menghabiskan waktu dengan mereka dengan permainan ini. Mereka sangat hebat memainkan bola basket, karena tata letak lapangan ini berada di belakang tempat yang paling dekat dengan dapur. Di sana mereka menghabiskan waktu hingga mahir seperti sekarang bahkan Arsen saja di buat terpukau dengan kemampuan Sarah.


“Ayo Ian rebut bolanya.” Sarah memantulkan bola basket dan Bian mencoba untuk merebutnya dari tangan gadis ini. Kedua tangan Bian merentang hingga tubuh gadis ini masuk dalam lingkar pelukan membuat wajah mereka saling memerah. Sarah dan Bian menikmati moment romantis mereka bermain basket. Masa indah berdua sebagai pacar yang baru sehari tersemat.


Mereka larut dalam permainan tak menyadari jika ada sepasang mata dari kejauhan menatap mereka dengan tatapan tajam dan kecemburuan.


“Sudah ah Ian. Cape,” keluh Sarah kemudian duduk di tengah lapangan dengan napas yang terenga-engah. Bian ikut duduk di samping Sarah dengan bahu yang hampir menempel.


“Ra. Hari ini Arsen ada di rumahkan?” tanya Bian yang juga mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


“Ia. Ian, tapi sekarang dia sudah berubah baik banget,” jelas Sarah.


“Berubah baik.” Bian mengernyitkan dahinya mendengar tuan jutek itu baik pada Sarah.


“Entahlah, kalau di ingat sih, sejak pesta ulang tahunnya kemarin ia berubah. Aku juga ngak tahu kenapa seperti itu.” Wajah Sarah terlihat berpikir keras.


“Ha ...ha ....” Sarah tertawa keras mendengar ucapan pacarnya.


Arsen masih setia berdiri di balkon kamar menatap dari kejauhan amarahnya semakin menjadi melihat Sarah tertawa bersama Bian, pemuda ini kembali mengepalkan tangannya. Tak tahan melihat kemesraan sejoli di mabuk cinta ini.


****


Erina masuk ke dalam kamar Arsen bersama pelayan yang membawa nampan berisi cemilan ringan dan teh. Erina memutar pandangannya saat melihat pemuda ini tak berada di kamar, ia terus melangkah mencari di mana anak tiri itu, hingga sebuah sosok bayang berdiri dari arah balkon nampak olehnya.


Erina berjalan menghampiri Arsen yang termenung, terlihat jika raut wajahnya, sedang menahan amarah, wanita ini pun memperhatikan arah tatapan Arsen apa yang membuat pemuda ini sangat marah dan Erina melihat Bian dan Sarah duduk bersama di lapangan basket.

__ADS_1


Arsen tersadar jika Erina memperhatikan gerak-geriknya. Lalu dengan cepat mengarahkan matanya pada Erina.


“Ar, Ibu bawakan cemilan sore untukmu.”


“Aku mau kau memecat bi Odah!” berang Arsen kecemburan telah membuat matanya buta, ia akan melakukan apa-pun, agar Sarah tak dekat lagi dengan anak pelayan.  Itu jalan satu-satunya memecat Bi Odah agar anaknya tidak pernah datang lagi menemui Sarah.


Erina sangat terkejut dengan ucapan Arsen yang menginginkan pelayan terbaik di rumah Hutama di pecat dari pekerjaanya.


“Bi Odah salah apa Ar?” Erina tak mengerti arah pikiran Arsen mengapa pemuda ini sangat marah dan menyuruhnya untuk harus memecat ibu Odah.


“Pokoknya aku ngak mau tahu! Pecat bi Odah. Aku berkuasa atas segalanya. Aku mau pecat bi Odah.” Suara Arsen meninggi hingga lupa jika Bi Odah adalah pelayan yang melayaninya dari kecil.


“Aku beri waktu dua dari dan dalam waktu itu aku sudah harus mendengar kabar pemecatan ibu Odah,” berang Arsen kemudian meninggalkan Erina di balkon kamarnya tanpa ingin di bantah dan menerima alibi lagi.


Erina berdiri di balkon lalu melangkah kecil tempat Arsen berdiri, perempuan itu melihat Sarah dan Bian duduk bermesraan begitu sangat dekat. Fikiran Erina melayang-layang setelah mengingat perhatian Arsen pada Sarah. Saat pemuda itu meminta maaf pada Sarah dan saat pemuda itu memindahkan kamar Sarah dan berubah  baik. Semua ingatan itu berputar di kepalanya.


Erina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan ingin rasanya ia berteriak, napasnya terasa sesak, matanya mulai berkaca-kaca, kesedihan tampak di wajahnya. Kesimpulannya ternyata benar adanya. Pemuda ini sedang cemburu melihat kedekatan Sarah dan Bian.


“Bagaimana ini ternyata Arsen selama ini telah jatuh cinta pada Sarah dan saat ini ia merasa cemburu melihat kedekatan mereka.” Erina menatap perih punggung putrinya, cobaan apa lagi yang akan di terima gadis malang ini, saat Arsen mencintainya itu berarti gadis ini akan terluka oleh sang pemilik kuasa.


Erina berjalan keluar kamar melewati Arsen tanpa kata, perempuan ini terus berjalan. Hingga akhirnya ia sampai di kamarnya. Erina duduk di kursi rias di hadapan cermin besar.


“Ya Tuhan kenapa di sisa terakhir hidupku, kau memberi putriku ujian yang sangat berat. Kenapa kau membuat pemuda itu mencintai putirku. Ia pemuda yang berkuasa dan bisa melakukan apa pun cintanya pasti melukai putirku. Ia pasti memastikan kehendaknya pada Sarah,” ratap Erina dengan berurai air mata.


“Kenapa semua jadi begini Arsen mencintai Sarah dan itu tidak boleh teradi. Aku tidak akan membiarkan putri kesayangannku bersama Arsen. Dia memang pemuda baik dan bisa melindungi, menjaga Sarah. Tapi Wina mamanya pasti akan menyiksa putriku, membuatnya menderita. Arsen akan menjadi penguasa dua perusahaan, kehidupan perempuan yang mendampinginya akan menjadi sorotan publik, mereka akan mencari tahu siapa Sarah dan kehidupannya. Seluruh dunia akan menghina putriku anak haram” rancau Erina dengan pikiran jika Sarah dan Arsen begitu banyak derita yang telah siap di terima oleh Sarah.


“Ini tidak  boleh terjadi. Aku tidak akan membiarkan Wina menyiksa putriku. Apa jadinya jika ia memiliki menantu anak musuhnya.  Aku harus mencari jodoh yang terbaik untuk Sarah.

__ADS_1


“Ya Tuhan kenapa waktu yang kau berikan padaku hanya sedikit. Mengapa kau tidak memberi aku kesempatan melihat putriku  bahagia dan menikah.”


“Di sisa hidupku ini beri aku sdikit waktu untuk merancang kebahagian putrikku, beri aku waktu merancang jodoh terbaik untuknya. Agar aku bisa pergi dengan tenang dari dunia ini.


__ADS_2