
Arsen berdiri depan jendela menyingkap sedikit tirai jendela mengintip keberadaan Sarah yang berada di bawah. Seringai licik tercetak jelas di wajah tampannya, saat melihat gadis yang telah memporak-porandakan hatinya itu, sedang berkutat dengan kegiatan mencuci mobil. Hasil dari perbuatan kejam, hanya untuk meyakinkan perasaanya jika ia sama sekali tak mencintai gadis itu.
Telah berhari-hari Arsen mengganggu hidup Sarah. Mengerjai, berdebat, bertengkar, hanya untuk membuktikan jika ia membenci Sarah. Namun selama itu, ia belum bisa mengubah debaran jantungnya yang menggila jika dekat dengan Sarah. Walau semakin gencar serangan yang diberikan, perasaannya tidak berubah sedikit pun malahan yang ia dapatkan hanya rasa aman dan nyaman jika berdekatan dengan Sarah.
Arsen semakin tahu Sarah sebagai perempuan hebat yang memiliki banyak kemampuan terlepas dengan statusnya sebagai anak haram tapi ia gadis yang mengagumkan. Apa pun yang ia tugaskan pada Sarah semua pasti bisa ia lakukan degan mudah. Mulai mengerjakan tugas kampusnya hingga menjadi pelayan.
Arsen menghela nafas mengingat bagaimana ia bertentangan dengan Sarah yang tak ingin lagi ditindas lagi oleh Arsen. Hingga ia mengambil langkah licik hingga membuat gadis malang itu berakhir dengan mencuci mobilnya.
Flashback on
“Anak tiri cuci semua mobilku,” titah Arsen.
Sarah yang mendengar perintah Arsen seketika menatap sinis. “Semua mobilmu!” ketus Sarah. “Kau pikir itu cucian piring kotor dengan mudah di cuci! Lihat berapa banyak mobil di garasi itu,” berang Sarah yang merasa permintaan Arsen sudah melampaui batas.
“Aku ngak mau! Sudah cukup aku menuruti semua keinginanmu. Kau pikir aku ini pelayanmu.” Sarah sudah tak ingin di tindas oleh pemuda semena-mena ini.
“Turuti aku, atau kau aku akan melaporkanmu pada ibu tiriku,” ancam Arsen.
“Terserah, aku sudah tak perduli lagi.” Sarah berlalu meninggalkan Arsen. Dengan wajah merah padam menahan amarah.
“Baiklah anak tiri jika itu kemauanmu.” Senyum licik terbit dari wajah tampan Arsen.
Flash back off.
Di sinilah Sarah berada di halaman depan rumah menikmati pagi dengan mencuci mobil. Sebuah perintah yang di berikan oleh tuan Arsen padanya. Pemuda itu benar-benar membuktikan ucapannya ibunya Erina benar-benar datang kepada Sarah menyuruh gadis ini untuk menuruti semua keinginan Saudaranya.
“Dasar gila, tuan sombong, menyebalkan awas saja, aku akan membalasmu,” gerutu Sarah sambil mengusap spoon yang berbusa ke bagian body mobil. Wajahnya yang marah terlihat lucu dengan busa sabun yang menempel.
“Jika bukan karena ibuku aku pasti sudah menghajarmu, kenapa dulu aku tidak mematahkan lehermu saat kita bertengkar dulu,” oceh Sarah yang tidak terima dengan perlakuan Arsen.
Sarah seakan hampir gila setelah perkelahiannya dengan Arsen di butik. Hidupnya menjadi tak tenang, pemuda ini selalu membuat masalah padanya. Tak henti mengerjai, tak seperti biasanya dulu Arsen hanya akan menghina, sekarang telah berubah seakan Arsen menindas, memperlakukan semena-mena dan sarah menganggap itu serangan balasan yang dilakukan Arsen yang tak terima Sarah mencekiknya di depan umum.
******
Suasana kediaman Hutama tampak ramai banyak pelayan yang lalu lalang menyiapkan acara ulang tahun putra kesayangan mereka. Sarah berada di dapur menyandarkan punggungnya di sandaran kursi bersantai sejenak melepas lelah setelah mencuci mobil milik Arsen. Mata gadis ini merotasi melihat dan memperhatikan pelayan yang sangat sibuk.
Sarah juga berniat akan ikut mengambil andil bagian dalam mengatur kelancaran pesta. Ia akan mendampingi ibu dari pemuda yang ia cintai yaitu ibu Odah. Andai bukan karena ibu itu, ia juga tidak akan sibuk dalam perayaan ini.
Sarah masih duduk untuk menghilangkan lelahnya tiba- tiba Erina datang hendak melihat persiapan para pelayan dan memastikan semuanya berjalan lancar.
“Ibu di sini,” sapa Sarah.
“Emm,” Erina berdehem membuang pandangannya ia marah pada putrinya, saat ia menerima pengaduan dari Arsen tentang keinginannya yang di tolak.
“Ibu marah sama Ara? Karena ngak menuruti keinginan anak itu?” tanya Sarah inilah yang ia takutkan jika Arsen mengadu pada ibunya karena ibunya pasti marah jika tahu keinginan anak tirinya tidak di kabulkan.
“Kata Arsen kamu ngak nurutin permintaannya dia?” ucap Erina merajuk.
“Dia itu hanya hanya ingin mengerjai Ara. Udah berapa hari ini aku terus mengikuti semua keinginannya. Mulai memasak untuknya, mengantarkan makanan, mengerjakan tugasnya bahkan aku mencuci semua mobilnya. Memangnya aku pelayannya,” ucap Sarah meyakinkan ibunya jika ia tidak bersalah hal ini.
“Dari dulu ibu selalu peringatkan kamu dia itu saudaramu, turuti semua keingiannya, lagi pula dia hanya seminggu di rumah ini. Besok ulang tahunnya dan setelah itu ia akan pulang ke rumah mamanya jadi apa susahnya bersabar dan turuti semua keinginannya,” jelas Erina memperingatkan putrinya.
“Dia bukan saudaraku, untuk apa aku menuruti semua keinginannya. Dia hanya mempermainkanku.” Gadis ini mulai emosi.
__ADS_1
“Pokoknya ibu ngak mau tahu turuti semua keinginan Arsen,” tegas Erina.
Erina dan Sarah mengaduh Argumen tentang Arsen tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka.
“Nyonya Sarah. Tuan Arsen sedang berenang dan ia memerintahkan Anda membawa minuman dan cemilan untuknya,” jelas pelayan wanita tertunduk memberi hormat.
“Itu kan bu, ibu dengar sendiri. Kenapa harus Ara? Dari sekian banyak pelayan di rumah ini.” Sarah berdecak kesal.
“Sabar ra, ingat hanya seminggu. Turuti semua keinginannya. Cepat lakukan apa yang ia minta tadi” Erina berlalu pergi tak memperdulikan perasaan Sarah yang kecewa padanya.
Sarah hanya bisa bersabar mengelus dada atas semua kemalangan yang ada pada dirinya.
*****
Sarah telah berada di pinggir kolam berdiri memegang nampan di atasnya terdiri dari jus buah serta camilan untuk tuan Arsen yang menyebalkan itu. Sarah menarik nafas panjang melihat pemuda itu sedang asyik berenang hanya mengenakan celana renang, memperlihatkan kesempurnaan tubuh mulus pemuda ini. Arsen yang menyadari kedatangan Sarah menghentikan sejenak kegiatannya kemudian menepi di pinggir kolam renang
“Ini minumanmu,” ketus Sarah menaruh nampan di meja saat Arsen telah memperhatikannya.
“Anak tiri bagaimana kau habis di marahi ibumu kan?” tanya Arsen menyeringai terlihat puas telah membuat Sarah kembali tak berdaya dan menuruti semua keinginannya.
Sarah mendengus tersenyum miring. “Dasar tukang ngadu, sebenarnya apa masalahmu padaku? Kenapa kau selalu menggangguku!” Sarah melipat tangan di dada. Berang pada pemuda ini.
Arsen naik dari kolam renang tak menghiraukan kekesalan Sarah ia hanya berlalu meraih jubah mandi yang terletak di kursi santai dan memakainya kemudian mendudukkan tubuh di kursi Sambil meminum jus yang di bawah Sarah. Bersikap santai seolah menikmati ocehan Sarah.
“Apa karena aku mencekikmu dan hampir membunuhmu saat itu jadi sekarang kau membalasku, kau yang salah kau telah .... “ Sarah tak sanggup melanjutkan kalimatnya tak ingin membahas masalah dada lagi. Sarah Mengamati perubahan sikap Arsen padanya ia menindas Sarah saat setelah kejadiaan di butik itu.
Itu akibatnya kerena kau terus berada di pikiranku dan mengacaukan hatiku batin Arsen.
Arsen tersenyum sinis kemudian berdiri berhadapan dengan Sarah.
“Kau pikir aku suka melihatmu, kau lelaki angkuh sombong menyebalkan, manja, suka semena-mena. Aku benci padamu rasa benciku beribu klai lipat dari rasa bencimu padaku,” murka Sarah mengepalkan kedua tangannya mengungkapkan isi hatinya dengan menggebu.
Mendengar ujaran kebencian dari Sarah entah mengapa Arsen seketika meradang. Entah mengapa ia seperti tak suka mendengar Sarah membenci serta memakinya.
“Kau berani memakiku! Kau sangat membenciku!” bentak Arsen tak terima.
“Ia, aku sangat membencimu, benci, benci, benci,” lontar Sarah mengentakkan kaki.
Sarah membuang pandangannya tak sudi menatap pemuda menyebalkan itu. Melihat tingkah Sarah membuat Arsen murka “Diam.” Karena kesal Arsen mendorong tubuh Sarah ke arah kolam hingga gadis ini tercebur di kolam renang. Memberinya pelajaran karena telah menyatakan kebencian.
Bukk.
Suara keras terdengar saat Sarah tercebur ke dalam air. Arsen menarik kedua sudut bibirnya melihat musuhnya terjatuh.
“Bagaimana anak tiri? Itu akibatnya jika kau membuatku kesal,” teriak Arsen membungkuk, memperhatikan Sarah yang meliuk-liuk badan dalam kolam yang membuat airnya beriak serta kedua tangannya melambai ke atas.
“Tolong ... “ ucap Sarah lirih yang kepalanya timbul dan terkadang tenggelam dalam air.
Melihat Sarah yang meminta tolong dan terlihat seakan ingin tenggelam membuat Arsen hanya menyeringai. Mengira jika gadis ini hanya mengerjainya. “Jangan pura-pura tenggelam anak tiri. Aku tidak akan tertipu.” Arsen terus melihat pergerakan Sarah di dalam air tanpa berniat untuk menolong.
“To ... long.” Suaranya semakin terdengar samar namun masih mencoba menyelamatkan diri dengan bertahan.
“Aku tidak akan tertipu, kau jago basket, jago bela diri, bisa mengerjakan tugasku. Kau itu robot Jepang yang bisa segalanya. Ngak mungkin kau tidak bisa berenang, bahkan mungkin bapakmu itu seorang perenang handal, mungkin kau anak perenang,” tuturnya tak percaya setelah mengenal Sarah lebih dekat dan sedikit tahu kemampuan gadis ini. Arsen terus masih menghina Sarah dia saat gadis itu semakin lemah tak berdaya.
__ADS_1
“To ... “ Suara Sarah menghilang bersamaan dengan tubuhnya yang telah tak bergerak kemudian menghilang di telan air. Gadis ini telah tenggelam.
Melihat Sarah yang telah tenggelam, membuat wajah puas yang tadi menghiasi raut Arsen seketika berubah memucat. Tersadar jika gadis ini tidak mengerjainya dan benar tidak bisa berenang.
“Oh ... sial. Dia benar-benar tak bisa berenang.” Arsen berdecak kemudian dengan cepat ia melompat ke dalam kolam renang menolong Sarah.
Arsen berenang menggapai tubuh Sarah yang telah tak sadarkan diri merangkulnya kemudian ke tepi lalu dengan susah payah menaikkan ke atas pinggir kolam kemudian ia juga dengan cepat naik melihat keadaan Sarah.
“Hei anak tiri! Bangun!” Arsen menepuk pipi Sarah mencoba menyadarkan gadis yang wajahnya telah memucat seakan tak teraliri darah lagi membuat Arsen panik melihat mimik muka itu.
“Anak tiri jangan bercanda, ini ngak lucu!” Menggoncang tubuh Sarah namun tak ada pergerakan dari gadis itu.
“Anak tiri bangun, buka matamu.” Arsen semakin panik kemudian melakukan prosedur pertolongan pertama pada Sarah. Ia menekan dada gadis itu dengan kedua telapak tangannya, agar air yang telah masuk ke dalam tubuh Sarah keluar dan membuat kembali tersadar.
“Sadar buka matamu! Aku bilang bangun jangan membuatku takut! jangan mati!” ucap Arsen dengan frustrasi terus menekan dada Sarah namun setelah upaya yang ia lakukan tak membuat perempuan ini membuka matanya.
Arsen meraup wajahnya dengan kasar saat melihat gadis ini tergeletak rasa takut akan kehilangan merasuk menghantui hatinya. Ia membayangkan jika perempuan ini tak akan membuka matanya lagi.
“Aku mohon kau harus membuka matamu! Kau tidak boleh seperti ini. Anak tiri sadarlah! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” lirih Arsen sebuah pengakuan yang tanpa sadar ia lontarkan saat ketakukan akan kehilangan gadis ini. Akhirnya selama berhari-hari berperang batin meyakinkan perasannya tentang kebencian atau cinta. Di saat ini dia telah sadar jika ia benar-benar telah jatuh cinta pada saudara tiri sekaligus musuhnya.
Setelah pengakuan cintanya yang tercetus tak sengaja dan tanpa di sadari, Arsen membungkuk melakukan langkah terakhirnya yaitu memberikan napas buatan pada gadis ini.
Arsen membungkuk menempelkan bibirnya pada bibir Sarah memberikan udara agar gadis itu sadar kembali melakukan upaya agar Sarah membuka matanya. Setelah beberapa saat berusaha Arsen merasakan tubuh gadis ini bergerak. Perlahan Sarah menggeliat kemudian terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya. Mata Sarah mulai terbuka perlahan samar melihat pemuda itu tersenyum padanya. Melihat Sarah yang telah sadar membuat Arsen menarik napas lega.
Arsen merengkuh tubuh Sarah kepelukkanya sangat senang gadis ini telah membuka matanya.
“Syukurlah kau sudah sadar! Kau membutku ketakutan.” Arsen mengankat bagian atas tubuh gadis ini, memeluk Sarah dengan erat. Sedangkan Sarah yang mulai kembali mengingat bagaimana perlakuan pemuda itu padanya seketika emosi. Ia teringat bagaimana Arsen mendorongnya dan hanya menertawakan saat ia tenggelam.
Dengan tenaga yang tersisa dan dalam pelukan Arsen. Sarah mengepalkan tangannya lalu meninju pelan dada Arsen meluapakan kekesalan walaupun pukulan itu sangat lemah.
Merasakan jika Sarah berontak dalam pelukannya. Arsen menatap Sarah yang terlihat kesal padanya, gadis ini hanya mengarahkan jari telunjuk pada wajah Arsen tanda ia marah serta tak terima dengan perlakuan Arsen padanya namun ia tak punya tenang untuk mengeluarkan suara.
Arsen seketika membelalakan mata, menyadari perlakuannya pada Sarah mulai mengingat semua yang telah ia lakukan tadi. Ia telah memeluk tubuh gadis itu bahkan telah menciumnya dan parahnya lagi ia telah mengakui mencintainya.
“Tidak mungkin,” lirih Arsen yang masih memeluk tubuh atas Sarah lalu seketika menghempaskan tubuh Sarah ke lantai saat ia telah menyadari apa yang dilakukannya tadi.
“Aduh,” keluh Sarah dengan lemah mengadu kesakitan karena kepalanya yang terbentur lantai, belum hilang rasa lemasnya sekarang ia juga merasakan sakit di kepala karena pemuda menyebalkan itu.
Dengan cepat pemuda ini beringsut mundur menjauhi tubuh Sarah. Arsen menarik rambutnya dengan kedua tangan menyesali kejadian itu ingin rasanya berteriak dengan keras dan seakan ingin mengakhiri hidupnya.
Apa yang aku lakukan, aku memeluk anak tiri itu, aku menciumnya, aku mengakui mencintainya. Sial, jadi aku benar-benar telah mencintainya. Tuhan aku mencintainya, Ternyata perasaan ini benar cinta. Apa yang harus aku lakukan aku mencintai musuhku sekaligus saudara tiriku Batin Arsen seakan ingin mati saja karena telah menyadari dan mengakui perasaan cintanya pada musuh.
Sarah dan Arsen saling bertatapan di kejauhan. Arsen masih duduk termenung dengan perasaan cintanya, sedangkan Sarah tergeletak menatap Arsen penuh amarah. “Kau mau membunuhku! Aku akan menghabisimu,” umpat Sarah suaranya terdengar sangat lemah namun penuh dendam, ia hampir mati karena Arsen. Dua saudara yang selalu menyimpan dendam saling memandang satu sama lain dengan dua peraasan berbeda Arsen dengan cintanya dan Sarah dengan kebenciannya.
Arsen termenung tak tahu bagaimana harus mengghadapi perasaanya benci telah menjadi cinta.
.
.
.Gimana Arsen? sudah sadarkan? Pasti malu banget tuh jatuh cinta sama musuh yang diselalu di hina. Makanya jangan terlalu membenci. Galaukan !! musuh lagi. ayo Ar dikejar itu cinta Sarah atau di lupakkan? kalau bisa sih
__ADS_1
.
.Like,coment,vote .....