
“Ara!” panggil laki-laki itu dengan suara bergetar.
“Ia!” jawab Sarah dengan cepat kemudian berbalik. Saat gadis cantik ini berbalik.
Tubuh Sarah seketika membatu, kakinya terasa lemas, kotak pengaman yang ia siapkan untuk malam ke dua dengan suaminya terlepas dari genggamannya saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya
“Bian!” ucap Sarah dengan suara bergetar dan air mata yang telah menggenang siap untuk menetes. Melihat pemuda yang telah menempati hatinya selama bertahun-tahun berdiri di hadapannya. Sarah membeku dengan tatapan mata yang terus menatap ke arah Bian yang telah memiliki penampilan berbeda dari empat tahun yang lalu, pemuda yang dulu selalu mengenakan kaos di balut jaket serta celana jeans sekarang berubah berdiri tegak memakai setelan jas lengkap membuat ketampanannya semakin bertambah, terlihat jelas jika kehidupan pemuda ini telah berubah.
Tatapan mata mereka beradu, keduanya hanya diam berdiri membeku menyalurkan rasa rindu saling memandang wajah yang telah empat tahun tidak saling bertatapan dan hanya diingat melalui kenangan. Terlihat jelas mata mereka berkaca-kaca, akibat rasa haru. Bian melangkah perlahan ke arah Sarah, ia juga merasa tubuhnya lemah, akibat dentuman jantungnya yang kembali menggila, cinta yang telah ia rindukan kita ia telah berada di hadapannya.
“Bian,” ucap Sarah suaranya bergetar akibat menahan tangis keharuan. Melihat Bian telah berdiri tegak di hadapannya, pemuda yang ia dambakan selama bertahun-tahun. Begitu banyak kerinduan yang tersimpan untuk lelaki ini.
“Ara akhirnya aku menemukanmu,” ucap Bian kemudian mendekap tubuh Sarah erat mencurahkan segala kerinduan yang terpendam setelah empat tahun berpisah.
“Bian.” Sarah membalas pelukan itu seraya meneteskan air mata rindu.
“Aku sangat merindukanmu, sudah empat tahun kita berpisah,” ucap Bian mempererat pelukannya, Sarah hanya menganggukan kepalanya dalam dekapan, tanda ia juga merasakan rindu yang sama dengan Bian. “Kenapa kau menghilang?” tanya Bian membuat perasaannya yang hanyut di penuhi rindu itu pudar, seketika pikiran Sarah kembali jernih membuka memorinya, akan hubungannya dengan pemuda lain.
“Maaf,” lirih Sarah, mendengar pertanyaan Bian membuat Sarah tersentak lalu dengan cepat melepas pelukannya. Jawaban alasannya menghilang telah mengingatkannya jika ia telah menjadi istri orang lain, tidak pantas untuk memeluk pemuda lain, walau pun ia sangat merindukannya.
Pelukan itu terlepas, Sarah mencoba menjaga jarak dengan pemuda dari masa lalunya, dia sadar hubungannya dengan Bian telah berakhir, namun ia juga tidak memiliki kemampuan untuk mengatakan pada Bian jika ia telah menikah, ia tahu perasaannya pasti hancur.
Bian sejenak menatap aneh dengan sikap pujaan hatinya seakan menghindarinya, kemudian Bian tak berhenti ia memegang ke dua bahu Sarah.
“Ara, kenapa kamu berada di sini? Mengapa kamu keluar dari rumah Hutama? Apa Arsen mengusirmu,” cecar Bian dengan banyak pertanyaan akan teka-teki menghilangnya Sarah. Begitu banyak cerita yang ingin ia tahu semenjak perpisahan mereka.
“Aku ....” Sarah tertunduk tak sanggup menatap wajah Bian. Lidahnya seakan keluh untuk menjawab pertanyaan Bian, serta membuka rahasia menyakitkan untuknya, jika ia telah menikah dengan Arsen musuhnya sendiri.
“Sudah. Ayo kita pergi dari sini. Ibu pasti sangat senang bertemu denganmu.” Bian menarik tangan Sarah agar ikut bersamanya.
“Ian, maaf. Tapi aku sedang bekerja,” tolak Sarah berhenti di tempat, ia masih memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas sebagai seorang kasir.
“Sudah ayo ikut, asistenku akan mengurus semuanya,” jelas Bian menarik tangan Sarah untuk ikut bersamanya membuat gadis ini tidak berdaya untuk menolak lagi.
Sarah tercengang saat melihat wajah Mike asisten Bian yang ternyata adalah pelanggan yang menatapnya lekat tadi dan tak mengambil uang kembalian dari belanjaannya.
Sarah dan Bian berjalan hendak keluar dari minimarket, namun sebelum itu Bian berhenti saat akan melalui asistennya.
“Bian dia?” tanya Sarah menatap heran menunjuk ke arah Mike lelaki aneh tadi.
“Dia asistenku dia yang telah memberi tahuku jika ia bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan fotomu dan saat aku ke tempat ini, untuk memastikannya ternyata itu benar kamu.
“Mike mana kunci mobil? Kau di sini saja kau urus tempat ini dan telepon pelayan di rumahku untuk bersiap-siap untuk menyambut calon istriku,” ucap Bian dengan kebahagiaan serta senyum tertanam, membuat sang anak buah juga ikut senang melihatnya. Berbeda dengan Sarah hatinya terdengar miris mendengar Bian menyebutnya sebagai calon istri.
__ADS_1
“Baik bos.” Mike mengembangkan senyumnya kemudian menyerahkan kunci mobil membiarkan Bian dan Sarah untuk berduaan.
“Ayo.” Sarah hanya pasrah mengikuti langkah Bian yang menariknya untuk ikut bersamanya.
Mereka berada di parkiran Sarah takjub melihat mobil mewah yang menjadi milik Bian, ternyata pemuda ini telah berhasil meraih kesuksesan sama seperti dulu yang ia janjikan untuknya.
“Ayo masuk.” Bian membuka pintu mobil untuk Sarah.
Sarah pun masuk ke dalam mobil ia akan menuju rumah Bian untuk bertemu dengan ibu yang juga sangat ia rindukan ibu Odah.
“Ara ibu pasti akan senang sekali melihat kamu! Dia sangat merindukanmu,” jelas Bian sambil memegang kemudi tatapan matanya mengarah jalan sesekali melihat Wajah cantik Sarah.
“Ibu kamu apa kabar Ian?” tanya Sarah yang juga sangat merindukan kabar orang tua itu.
“Baik, Ibu masih seperti dulu, suka berlebihan kalau nonton tv, malahan sekarang lebih parah Ra.”
“Parah,” ulang Sarah tak mengerti.
“Ia. Sekarang ia sudah bisa seenaknya melempar tv dengan apa-pun, jika ia kesal dengan adegan di tv,” ujar Bian.
“Benarkah?”
“Ia, Ibu aku sudah tidak pernah memikirkan berapa harga tv lagi, saat kesal, ia dengan gampangnya merusaknya, kemudian membeli yang baru.” Kehidupan ibu dan anak ini telah berubah dengan limpahan materi baginya uang sudah bukanlah masalah lagi bagi mereka.
Sarah tersenyum jika mengingat bagaimana hebohnya ibu Bian jika sedang menonton sinetron seakan adegan itu ada di hadapannya. Dia akan berteriak-berteriak bahkan akan memarahi Bian jika adegan tidak sesuai dengan keinginannya.
Sebelah tangan Bian memegang setir kemudian meraih tangan Sarah ingin bermesraan dengan kekasihnya lagi sama seperti dulu. “Ara aku telah sukses, kita akan menikah secepatnya,” ucap Bian lembut memegang tangan Sarah yang terlihat tak nyaman dan untuk mencoba melepaskannya.
Mendengar keinginan Bian membuat Sarah menarik tangannya dengan cepat, mengingat jika ia telah tak pantas bersama pemuda ini. Ia telah mengingkari janji mereka dan telah menikah dengan Arsen.
“Itu tidak akan mungkin Ian, aku telah menikah dan aku sudah tidak pantas untukmu,” batin Sarah, hatinya terasa sakit melihat perjuangan besar ini untuknya namun berakhir sia-sia. Mereka tak jodoh.
Suasana hening tak ada lagi perbincangan dari keduanya, walau Bian merasa aneh dengan sikap kekasihnya, namun ia tidak tak terlalu memikirkannya, ia hanya menganggap jika Sarah masih canggung dan malu-malu setelah empat tahu tidak bertemu.
Setelah beberapa saat mengendarai mobil akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Bian. Mobil berhenti Bian bergegas turun membuka pintu mobil untuk Sarah.
Sarah turun dari menatap rumah Bian, rumah besar megah bertingkat hasil kerja keras pemuda itu.
“Ini rumah kita Ra,” jelas Bian berdiri di samping Sarah menatap rumah megah itu yang akan menjadi rumah saat mereka menikah nanti. Setiap kata yang di ucapkan oleh Bian selalu berhasil membuat Sarah ingin menangis akan harapan pemuda itu padanya, yang telah ia hempaskan.
“Ayo ke dalam,” ajak Bian kembali menarik tangan Sarah.
__ADS_1
Sarah dan Bian kemudian masuk ke dalam rumah saat pintu terbuka beberapa pelayan berdiri menyambut dengan senyuman kebahagiaan ketika kedatangan calon nyonya rumah mereka.
“Dia calon istriku,” jelas Bian memperkenalkan Sarah pada pelayannya. Sarah hanya memaksakan senyuman pada pelayan rumah itu.
“Mana ibu? Kenapa ia tidak menyambut calon mantunya?” tanya Bian.
“Dia sudah kemari tadi, tapi Anda belum datang jadi dia kembali menonton sinetronya, tanggung katanya,” jelas pelayan membuat Bian menjadi menarik napas panjang di buatnya.
“Kamu dengarkan Ra? bahkan calon mantunya datang saja, dia ngak peduli,” keluhnya.
Sarah hanya menarik sudut bibirnya mendengar keluhan Bian tentang ibunya.
Bian menarik kembali tangan Sarah agar semakin masuk ke dalam rumah mewahnya.
Sarah dan Bian berjalan ke ruang tengah menemui ibu yang gila akan tontonan di tv. Mereka jalan mengendap-endap akan memberikan kejutan pada orang tuan ini.
“Sudah minta cerai saja! Suami kamu itu sudah ketahuan selingkuh, di depan kamu lagi! Ayo cepat minta pisah,” teriak ibu Odah menatap tv tak menyadari kehadiran Sarah dan Bian yang ada di dekat mereka, seperti kata putranya walaupun rumah terbakar dia tidak akan sadar saking asyiknya.
“Ibu!” panggil Bian namun tak dihiraukan oleh orang tua ini.
“Ibu!”
“Bentar Ian, ibu lagi tanggung ini! Dia harus minta cerai, suaminya sudah nyelingkuhi dia.” Wajah ibu Odah semakin tegang menatap layar tv hingga ia kembali berteriak.
“Pingsan ... Ya malah pingsan lagi, bukannya minta cerai!” teriaknya heboh. “Udah deh, dia pasti hamil nih, ngak jadi deh minta cerai! Di siksa deh sama suaminya,” oceh ibu Odah kemudian mulai tersadar lalu membulatkan matanya mengingat jika calon mantunya akan datang.
Ibu Odah kemudian berdiri menatap Bian dan ternyata benar ada Sarah berdiri di sampingnya, senyum kebahagiaan meliputi langkahnya mendekat pada gadis yang sudah ia anggap anak kandungnya sendiri telah berdiri di hadapannya.
“Ibu.” Sarah meneteskan air mata kemudian berhambur memeluk ibu Odah perempuan yang sangat menyayanginya.
“Ara, ibu sangat merindukanmu sayang. Ke mana saja kamu?” tanya ibu Odah memeluk dengan sayang mengelus rambut Sarah.
“Ara juga rindu ibu.” Sarah meneteskan air matanya ketika kembali bertemu dengan ibu yang selalu mendukungnya dulu di rumah Hutama.
Bian tidak bisa menahan air mata harunya, melihat dua wanita yang ia cintai di dunia, telah berkumpul seperti yang sering mereka lakukan dulu bercengkraman bercanda tawa.
Pelukan itu terlepas Bi Odak kemudian mengarahkan Sarah untuk duduk di sofa.
“Ara, maafkan ibu, kami ngak hadir di pemakaman ibu kamu, kamu pasti sangat sedih.” Perempuan paruh bayah ini menepuk punggung tangan Sarah memberikan kekuatan.
“Ngak apa-apa bu Sarah ngerti.”
__ADS_1
“Ara. Banyak yang ibu mau cerita ke kamu, kamu ngak ada urusankan, kita akan mengobrol.”Ibu Odah sangat bersemangat.
Sarah hanya tersenyum pelik ke arah Ibu Odah, memikirkan Arsen yang pasti khawatir dan sedang mencarinya, apalagi dia tidak membawa ponsel, semua tertinggal di minimarket. Suaminya itu pasti sangat mencemaskannya.