CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
kelahiran


__ADS_3

Mentari pagi bersinar dengan cerah tidak secerah wajah pemuda tampan yang telah mengenakan stelan jas siap untuk bekerja.


“Papa curang seharusnya dia itu yang gantiin aku memimpin rapat. Aku kan harus jadi suami siaga di rumah,” keluh Arsen untuk ke sekian kalinya memeluk tubuh Sarah dari belakang, mengelus perut buncitnya, rasanya ia tidak rela meninggalkan Sarah yang sedang menantikan hari kelahiran.


“Ngak apa-apa, lagi pula aku belum merasakan tanda-tanda melahirkan, ayah pergi saja,” ucap Sarah mengelus pipi suaminya.


“Benar kamu ngak apa-apa aku tinggal?” tanya Arsen untuk ke sekian kalinya.


“Ia. Sudah kan ada papa yang temani aku,” jelas Sarah.


Arsen berdecak akan papanya yang lebih memilih menemani Sarah dari pada harus mengikuti rapat, papanya itu sudah sangat tidak sabar menantikan cucunya.


Pasangan ini keluar dari kamar menuju lantai bawah mengantarkan kepergian Arsen ke kantor. Di bawah sudah ada Wisnu duduk di ruang santai yang akan bertugas menemani Sarah di rumah.


“Kenapa bukan Papa saja sih yang memimpin rapat,” keluh Arsen di hadapan papanya.


“Papa malas mending nemenin Sarah di rumah tunggu cucu papa lahir.”


“Ayah anak ini itu aku, bukan Papa seharusnya, aku yang di rumah menunggui Sarah, ini malah Papa,” ucap Arsen memasang wajah cemberut.


“Sudah kamu pergi sana,” usir Wisnu membuat Wajah putranya semakin masam saja.


“Ia aku pergi. Tapi ingat kalau ada apa-apa hubungi aku.”


“Kamu tenang saja.”


“Ingat panduan di buku cara menghadapi persalinan,” jelas Arsen yang kompak bersama papanya mempersiapkan diri.


“Beres bos,” ejek Wisnu


Sarah menarik sudut bibirnya sambil mengelus perut buncitnya, melihat ayah dan anak ini sangat antusias menyambut bayi dalam kandungannya, hingga sering bertukar informasi.


“Bunda aku pergi dulu, kalau ada apa-apa ingat hubungi aku,” pamit Arsen mengecup seluruh wajah istrinya tidak peduli jika di tempat yang sama papanya juga berdiri memutar bola mata jengah melihat tingkah putranya.


“Ia.” Wajah Sarah merona karena malu.


Arsen akhirnya telah pergi dari rumah meninggalkan Sarah dan Wisnu.


“Mau jalan-jalan?” tawar Wisnu tahu jika jalan kaki bagus untuk ibu yang sedang menanti kelahiran.


“Ayo Pa.” Sarah mengangguk.


Sarah dan Wisnu jalan-jalan pelan beriringan di sekitar rumah seraya mengobrol untuk menghabiskan waktu.


“Kamu tahu Ra, papa dulu tidak pernah merasakan menunggu kelahiran Arsen,” ucap Wisnu dengan wajah sedih mengingat kenangan rumah tangga mereka.


Alis Sarah mengernyit mendengar pengakuan mertuanya. Berpikir menyambut kelahiran cucunya saja antusias mengapa menyambut anak kandungnya sendiri tidak?


“Bahkan saat Arsen lahir aku tidak mendampingi mamanya,” ungkap Wisnu.


“Kenapa begitu Pa.”


“Aku sangat sibuk dan hubunganku dengan mama Ar tidak begitu baik. Papa berpikir toh banyak dokter terbaik yang akan membantu persalinannya,” jelas Wisnu.


“Melihat Arsen sangat bersemangat. Ternyata papa salah yang sebenarnya yang dibutuhkan adalah pendamping.” Wisnu menatap jauh.


“Karena itulah Papa ingin merasakan momen terlewat itu dengan terus mendampingi kalian. Apalagi kamu ngak merasakan perhatian dari mertua perempuan kamu, seharusnya dia juga ada di sini memberikan kamu nasehat.” Wisnu menyesali Sarah tidak di temani sosok seorang ibu yang bisa membuatnya nyaman sesama perempuan.


“Ngak apa-apa Pa. Ara yakin lambat laut juga mama Ar pasti mengerti, dia sangat sayang sama Arsen,” ucap Sarah dengan senyuman.


“Terima kasih karena kamu sudah mengerti keadaan Arsen.”


Sarah dan Wisnu terus berjalan pelan seraya mengobrol. Hingga langkah Sarah terhenti saat ia merasakan ada sesuatu merembes dari pangkal pahanya.


“Pa,” panggil Sarah menatap kakinya yang basah akibat rembesan cairan bening.


“Ya Ara.” Wisnu menatap kaki Sarah dan melihat cairan bening keluar. “Ar kamu kenapa? Kenapa seperti ini?” ucap Wisnu.


“Papa sepertinya aku sudah ingin melahirkan,” jelas Wisnu.


“Benarkah. Cucu papa ngak lama lagi lahir.” Wisnu mengembangkan senyuman tidak lama lagi ia akan menimang cucu namun saat teringat ia hanya berdua Sarah, seketika menjadi panik. “Aduh kenapa sekarang, Arsen ngak ada lagi,” ujar Wisnu rasa antusias itu menghilang.


“Apa yang harus Papa lakukan sendirian.” Panik Wisnu memegangi kepalanya semua ilmu yang ia baca di buku seolah semua menguap entah ke mana pikirannya hanya di isi kecemasan.


“Pa tenang jangan panik, telepon Arsen,” Sarah yang melihat mertuanya kebingungan.


“Oh Ia. Kenapa aku bisa lupa menghubungi Arsen, tunggu sebentar.” Wisnu meraih ponsel yang ada di saku celana setelah mengusap layar ia lalu mengarahkan ketelinga.


“Halo Ar.” Wisnu.


“Ya pa.” Arsen.


“Cepat kamu pulang Ara sudah mau melahirkan. Papa bawa ke rumah sakit ya.” Wisnu.


“Jangan dulu Pa. Tunggu aku, aku harus menjadi suami siaga sama seperti di buku.” Arsen terdengar panik.


“Tapi Ar, papa takut ....”


Panggilan telepon terputus sepihak Wisnu berdecak kesal suasana sudah dalam keadaan genting Arsen masih ingin mengikuti petunjuk yang ada di buku.


“Ara tahan ya kita tunggu Arsen.”


“Kita pulang ke rumah Pa,” saran Sarah mereka masih berada di sekitar rumah.


Sarah dan Wisnu telah berada di rumah, Wisnu mendudukkan Sarah di kursi dengan perasaan cemas, seluruh tubuh Wisnu bergetar ia sangat cemas menghadapi pengalaman pertama mendampingi seorang perempuan melahirkan. Sedangkan Sarah sangat tenang menunggu suaminya karena ia juga belum merasak perutnya bergejolak hanya cairan bening yang terus merembes.


“Aduh bagaimana ini,” keluh Wisnu menatap jam yang ada di pergelangan tangannya, rasanya ia sudah tidak bisa merasakan kakinya. “Kenapa Arsen lama sekali!”


Wisnu kembali merogoh saku celananya mengambil ponsel namun kali ini ia menghubungi seseorang yang lebih memiliki pengalaman.


“Halo mas.” Wina.


“Wina tolong, aku sedang bersama menantu. Wina menantu kita mau melahirkan dan aku tidak harus berbuat apa. Arsen masih di kantor.” Wisnu


“Apa melahirkan! Cepat bawa ke rumah sakit.” Wina.


“Ar meminta kami menunggunya.”


“Aku akan segera ke sana.” Wina.


Wisnu menatap wajah Sarah yang masih terlihat tenang saja.


“Sabar sayang tunggu suami siaga kamu datang dulu. Kamu tenang, ngak lama lagi Ar datang. Papa mau ke kamar mandi dulu,” ucap Wisnu tidak bisa menutupi kecemasannya hingga terus ingin ke kamar mandi.


Sarah dan Wisnu masih duduk berdampingan menunggu Arsen. Telah berapa kali Wisnu berlari ke dalam kamar mandi akibat rasa cemasnya, pelayan pun berjajar di hadapan mereka atas perintah Wisnu yang ia juga tidak mengerti mengapa ia melakukan itu. Suara langkah kaki membuat Wisnu menarik napas lega akhirnya Arsen datang. Mereka menatap lekat wajah yang ternyata bukan Arsen melainkan mantan istrinya Wina.


“Wina, untung kau datang, Arsen belum datang juga.” Wisnu sedikit lega mantan istrinya itu datang, setidaknya bebannya terbagi.


“Ar belum datang?” tanya Wina mendekat ke arah Sarah, menatap menantunya dengan lekat membuat Sarah menjadi gugup ia merasa cicit menghadapi Wina.


“Belum cairan terus keluar tapi dia tidak merasakan sakit,” jelas Wisnu.


“Kalian ini bagaimana kenapa tidak di bawa ke rumah sakit secepatnya! Ayo ikut mama ke rumah sakit jangan menunggu Arsen lagi.” Wina membantu Sarah untuk bangun.


Sarah tidak bisa mengeluarkan kata-kata akan perhatian Wina padanya ternyata perempuan ini sangat mencemaskan keadaan cucunya dan ia tidak mampu menolak saat Wina telah mengiringnya perlahan keluar dari rumah.


“Wina.”


“Sudah hubungi saja Arsen untuk menyusul ke rumah sakit. Dasar bodoh, istri mau melahirkan malah di suruh menuggu, awas saja kalau terjadi sesuatu pada menantu dan cucuku,” oceh Wina.


Sarah menatap Wina dengan mata berkaca-kaca akan  sikap Wina yang hangat ia merasa telah di terima sebagai menantu.

__ADS_1


****8


Arsen berlari melalui lorong rumah sakit untuk menemui istrinya, raut wajah cemas tercetak jelas di wajah tampannya.


“Bagaimana Ara, Pa?” tanya Arsen dengan cemas mendekat pada papanya yang duduk di depan ruangan.


Wisnu berdiri. “Ara di dalam bersama dengan mamamu, sedang konsultasi dengan dokter,” jelas Wisnu menunjuk dengan ekor matanya.


Tanpa banyak bicara lagi Arsen masuk ke dalam ruangan, manik matanya menatap dua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya. Ia melangkah mendekat ke arah istrinya yang terbaring akan menjalani persalinan.


“Ayah,” sapa Sarah saat melihat suaminya datang.


“Bunda,” ucap Arsen berdiri di samping ranjang rumah sakit menggenggam tangan istrinya lalu mengecup keningnya dengan lembut memberikan kekuatan.


Arah pandang Arsen kini tertuju pada mamanya. “Mama.” Arsen beralih memeluk mamanya sungguh ia sangat bahagia mamanya datang dan mengantar Sarah ke rumah sakit itu berati ibunya masih sangat peduli padanya.


“Ar mama merindukanmu. Maafkan semua kesalahan mama. Tidak seharusnya mama menyimpan kebencian di hati mama.” Wina menangis dalam pelukan Arsen menyesali semua perbuatannya.


“Ar juga minta maaf Ma. Telah mengecewakan Mama, Ar sangat sayang sama mama.” Arsen mempererat pelukannya, jujur dia sangat merindukan dekapan mamanya. Sarah ikut meneteskan air matanya melihat ibu dan anak itu akhirnya telah berbaikan.


Pelukan itu terlepas Wina mendekat pada menantunya menggenggam tangan Sarah. “Ara tolong maafkan semua kesalahan mama, karena telah memisahkan kalian dan menghina ibumu,” ujar Wina dengan perasaan bersalah akhirnya ia menyadari Sarah tidak memiliki hubungan dengan kebenciannya.


“Ia. Saya juga minta maaf nyonya.”


“Ara panggil mama sama seperti Arsen,” pinta Wina.


Sarah menjadi terisak mendengar akhirnya ia telah mengantongi restu dari mertuanya. “Ya, mama.” Wina memeluk tubuh menantu tanda jika mereka telah menghapus seluruh permusuhan. Sarah bisa bernapas lega ia akan melahirkan dengan hati yang tenang.


Dokter menghampiri mereka memberi tahu proses yang akan di jalani Sarah.


“Istri Anda belum merasakan kontraksi dan dia juga ingin melahirkan normal karena itu, kami menyarankan untuk melakukan induksi untuk membuatnya kontraksi,” jelas Dokter perempuan ini.


“Bunda operasi saja ya? Aku ngak mau kamu merasakan sakit,” tawar Arsen merasa cemas akan pengetahuan melahirkan normal yang penuh perjuangan.


“Aku ingin merasakannya.” Sarah mengelus pipi suaminya.


“Lakukan yang terbaik untuk menantuku dok,” sela Wina yang akan ikut mendampingi Arsen dan menantunya.


Sarah telah menjalani proses induksi dari dokter, beberapa saat ia telah mulai merasakan perutnya terasa sakit bak dia aduk, bayi dalam kandungannya mulai aktif mencari jalan lahir.


Sarah meringis menggenggam tangan Arsen kuat saat sakit itu telah datang membuat wajah suaminya menjadi ketakutan melihat Sarah menahan sakit, bulir keringat menempel di dahinya.


“Sakit ya bunda,” tanya Arsen mengusap kening istrinya.


Sarah hanya menggeleng mencoba mengatur napas sesuai pengetahuan yang ia dapat.


“Auwww.” Rintih Sarah semakin mencengkeram tangan suaminya saat sakit itu telah semakin menyiksanya, Arsen pun meringis akibat rematan tangan Sarah.


“Dokter dia sudah kesakitan, sepertinya bayinya sudah mau lahir!” teriak Arsen panik.


“Belum Ar,” jawab Wina yang memang ikut bergabung untuk menenangkan putranya.


Arsen menatap tajam mamanya. “Belum bagaimana Ma, dia sudah sangat kesakitan.”


Wina menarik napas berat melihat tingkah putranya, menatap dokter-dokter yang terus berdiri di samping mereka. tuan jutek ini tidak akan membiarkan dokter pergi meninggalkan mereka.


“Sakit banget ya.” Arsen mengecup kening Sarah memberi kekuatan Sarah hanya memberikan senyum tipis.


Tak beberapa lama kemudian Sarah semakin gelisah wajahnya telah memucat menahan sakit keringat dingin telah membasahi wajahnya.


“Auwww,” keluh Sarah menggeliat menahan sakit.


“Dokter cepat periksa, keluarkan bayinya. Istriku semakin tersiksa!” teriak Arsen.


“Belum Ar, dari jarak kontraksinya masih belum intens, ini akan agak lama karena ini anak pertama,” jawab mama Arsen selayaknya dokter hanya ia yang bisa menghadapi tuan jutek ini karena jika dokter yang berbicara pasti akan terkena semburan amarah Arsen, dokter hanya bisa tersenyum pelik melihat Arsen.


“Beri dia suntikan atau apalah untuk menghilangkan rasa sakitnya!” teriak Arsen menggenggam tangan Sarah seraya mengusap keningnya.


Arsen hampir gila menghadapi kelahiran anaknya. Rintihan-rintihan Sarah membuatnya menjadi tidak tega, ia sangat takut istrinya tidak sanggup bertahan menjalani perjuangan hidup dan mati itu.


“Ahhhh,” rintih Sarah wajahnya semakin memucat.


“Sakit banget ya bunda? Kita operasi saja ya,” tawar Arsen untuk ke sekian kalinya.


“Dokter kau tidak menyuntik mati istriku kan, kenapa dia kesakitan seperti itu!” bentak tuan jutek menatap tajam pada dokter membuat dokter menjadi bergetar ketakutan.


“Arsen diam, kalau kau seperti ini terus lebih baik keluar biar mama yang menemaninya Ara,” usir Wina ia menjadi ikut berang melihat kemarahan Arsen.


****


Di sinilah Arsen di depan pintu ruangan berjalan mondar-mandir setelah mamanya dan Sarah kompak bersatu mengusirnya keluar akibat rasa paniknya.


“Ar tenang,” ujar Wisnu saat melihat Arsen berjalan mondar-mandir membuatnya pusing.


“Pa, Ara di dalam sedang merasakan sakit.”


“Ia kamu juga sih, marah-marah dan menyalahkan dokter terus. Mereka semua itu dokter-dokter terbaik,” jelas Wisnu.


“Habis mereka ngak becus Ara sudah sangat kesakitan mereka terus mengatakan belum, belum, belum. Sampai kapan?”


Pintu ruangan terbuka Wina dan seorang dokter memanggil Arsen untuk masuk mendampingin karena sudah saatnya proses Sarah melahirkan. Arsen pun bergegas masuk.


“Kamu masuk Ar, Ara sudah mau melahirkan,” titah Wina memutuskan untuk menunggu di luar saja.


Arsen bergegas masuk melangkah masuk mendekat pada istrinya.


“Ara,” Arsen berdiri di samping Sarah menggenggam tangannya erat, wajah Arsen semakin cemas saat melihat wajah Sarah benar-benar terlihat kacau. “Kamu ngak apa-apa sayang?”


Sarah sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Arsen, baginya bagaimana agar anak mereka cepat terlahir.


“Istri Anda sudah siap untuk melahirkan, Anda tenang ya terus dampingi.” Arsen terus menggenggam tangan Sarah.


Dokter mulai melakukan proses persalinan berdiri di depan kaki Sarah.


“Baiklah, ibu siap, Bu atur napas dulu, saat saya bilang dorong, ibu mengejan,” dokter memberi petunjuk membuat jangtung Arsen menjadi deg-deg kan menyambut bayinya.


“Siap bu, atur napas. Dorong,” titah dokter.


Sarah pun memulainya. “Uhhhhhhgggg.” Sarah mengerahkan sekuat tenaga agar ia bisa memeluk bayi mungilnya.


Sarah terhenti sejenak mengatur napas rasa sakit yang dirasakan seakan sangat menyiksa.


“Sayang kamu bisa, kamu harus kuat,” Arsen memberi semangat menggengam erat tangan istrinya.


“Dorong lagi.”


Sarah memulai kembali. “Ahhhggg.” Dengan napas yang seakan hampir habis ia melakukan sesuai perintah dokter.


Sarah menggeleng ia telah kehabisan tenaga untuk mengejan, ia merasa tubuhnya seakan mati tiada tenaga lagi. membuat Arsen yang melihatnya menjadi putus asa dan ketakutan.


“Dokter dia kenapa?” tanya Arsen saat melihat Sarah telah sangat lemah.


“Dia kelelahan.”


Arsen semakin panik. “Sayang bertahanlah demi anak kita, aku berjanji ini pertama dan terakhir kalinya kau melahirkan, aku tidak akan menghamilimu lagi,” ucap Arsen mengecup kening istrinya dengan setetes air mata, ia sangat sedih melihat perjuangan berat istrinya untuk melahirkan anaknya.


“Ayo bu, sedikit lagi Bu, kepalanya sudah terlihat.” Mendengar ucapan dokter membuat Sarah menjadi kembali bersemangat.


“Ayo sayang!”


“Atur napas, ayo sekali lagi, dorong yang kuat, kita akan bisa melihat bayinya."

__ADS_1


Sarah mulai mengatur napas dalam-dalam mengerahkan seluruh tenaganya.


“Aaaggghhh.” Sarah pun mendorong dengan kuat.


“Ya bagus bu, lagi. sedikit lagi.”


“Ya akhirnya.” Dokter menarik bayi mungil itu dan suara tangisan pun terdengar menggema mememuhi ruangan membuat semua orang menarik napas lega.


Oeee! Oeee


Arsen meletakan kepalanya di kening Sarah akhirnya perjuangan istrinya telah berhasil.


“Selamat putra Anda telah lahir.” Dokter menggendong bayi mungil melakukan prosedur memotong tali pusar dan membersihkannya.


“Terima kasih Bunda atas perjuanganya melahirkan anak kita, aku janji ini yang terakhir.” Arsen mengecup seluruh bagian wajah Sarah sangat terharu rasa panik, tegang, pikiran buruk semua telah menghilang saat melihat bayinya, ia mengusap air mata haru saat ini ia telah berstatus sebagai ayah.


“Ayah anak kita.” Sarah menatap bayinya dalam gendongan dokter.


“Ia sayang.


***


Sarah telah di tangani oleh dokter, sekarang mereka menantikan putra mereka yang masih dalam gendongan dokter.


“Ayah jadi beri nama itu?” tanya Sarah membahas nama yang akan mereka berikan pada anak laki-laki mereka.


“Ia bunda, itu adalah namaku saat kita kabur dulu dan nama itu telah aku pakai menjadi brand produk di perusahaanku, dan menjadi studio foto,” jelas Arsen.


“Baiklah aku setuju.”


Dokter melangkah mendekat ke arah mereka memberikan jagoan kecil mereka.


“Ini babynya.”


Arsen membantu Sarah untuk duduk lalu menerima bayinya, menggendong dengan penuh kebahagian.


“Jagoan bunda,” Sarah mengecup pipi bayinya yang masih merah dengan air mata menetes terharu ia telah menyandang gelar seorang ibu.


“Anak ayah,” ucap Arsen merangkul bahu istrinya menatap kagum malaikat kecil  mereka.


“Arsya anak bunda.” Sarah menimang putranya terus menciumnya.


Sarah dan Arsen larut dalam kebahagiaan akan pertama kalinya menjadi orang tua.


Wisnu dan Wina yang menunggu di luar akhirnya masuk ke dalam ruangan. Bayi mungil itu telah dalam gendongan setelah Arsen mengazankannya. Mereka pun mendekat sudah tidak sabar menggendong cucunya.


“Ar berikan sini mama gendong,” Pinta Wina mengulurkan tangannya, Arsen pun memberikan kesempatan pada mamanya, air mata Wina menetes kala menggendong cucu yang sempat tidak ingin ia akui akibat kebenciaanya. “Cucu Oma.” Wina mencium pipi bayinya.


“Ganteng banget cucu Opa,” ucap Wisnu menatap cucunya gemas.


“Ia dong Pa siapa dulu yang cetak, bundanya cantik, ke tampan ayahnya jangan di tanya lagi,” kelakar Arsen dengan perasaan bangga.


“Memang ganteng kamu itu dari mana kalau bukan dari papa,” balas Wisnu.


Arsen mencebikkan bibirnya mendengar ucapan papa.


“Kalian jadi kasi nama Arsya?” tanya Wisnu yang sudah tahu nama cucunya dari dalam kandungan.


“Ia, pa. Arsya Raditya Hutama,” jelas Arsen.


“Arsya cucu Oma pewaris keluarga Raditya. Kalian pulang sama mama ya, mama kesepian,” ucap Wina menatap wajah cucunya.


“Ngak Wina, aku juga mau tinggal dengan mereka,” sambar Wisnu ia telah menantikan lama hari ini bersama cucunya.


“Sama aku dong mas, Ara kan habis melahirkan biar aku bantu mengurus bayinya,” kekeh Wina.


“Biar Sarah di rawat pelayan terbaik di rumahku,” kekeh wisnu menatap tajam mereka mulai bersaing mendapatkan tempat untuk merawat cucu mereka.


“Kalau begitu kita bagi saja lagi harinya sama seperti dulu seminggu sama kamu seminggu sama aku,” jelas Wina.


“Ngak,” sambar Arsen sebagai penengah inilah tujuannya memiliki rumah karena ia tahu mereka tidak akan berhenti berdebat tentang keberadaannya walau pun ia telah memiliki keluarga. “Ar sudah tidak akan memilih dia antara kalian, sudah cukup aku saja yang pusing jadi rebutan kalian jangan anak kami,” terangnya ia menatap mama dan papanya bergantian.


“Ar sudah mengikuti keinginan kalian selama bertahun-tahun, sekarang giliran kalian jika ingin bertemu kami, mama dan papa yang akan ke rumah,” jelas Arsen.


“Ya Ar.” kompak Wisnu dan Wina memasang wajah tak bersemangat akan keputusan yang di ambil Arsen.


****


Waktu terus berputar hari berlalu, Sarah telah pulih dari kondisi pasca melahirkan. Mereka sekarang mengadakan acara besar penyambutan kelahiran baby Arsya. Semua berkumpul dengan riang, moment ini adalah pengumuman untuk memperkenalkan pewaris keluarga Raditya dan Hutama.


Sarah, Rena dan Nikita berkumpul memandang baby Arsya dalam gendongan Sarah.


“Selamat ya Ra. Kamu sudah jadi ibu,” ucap Nikita menatap bayi lelaki dalam gendongan Sarah.


“Makasih Nik,” balas Sarah.


“Aduh gantengnya, selamat ya Ra,” sela Rena.


“Makasih Mi.”


“Baby Arsya ganteng banget, wajahnya mirip Ar,” jelas Nikita menatap kagum bibit calon pemuda tampan.


“Mudahan juteknya ngak turun ya,” sela Rena yang tidak menyadari kedatangan Arsen


“Hemm. Kalian ini,” tuan jutek ini memasang wajah cemberut menatap tajam pada mantan dua tetangga pengganggunya.


Perhatian mereka teralihkan saat melihat Wisnu dan Wina berdiri berdampingan seperti ingin menyampaikan sesuatu.


Wisnu memegang mic. “Perhatian semuanya, terima kasih atas kedatangan kalian, kami ingin memperkenalkan pewaris Angkasa Hutama yaitu Arsya Raditya Hutama, kelak akan meneruskan perusahaan kami, namun itu Saya ingin di hari bahagiaan ini saya mengumumkan jika saya mewariskan 10 persen bagian saham angkasa Hutama sebagai hadiah kelahiran cucu saya Arsya,” Wisnu jelas penuh kebanggaan.


Wina meraih micnya dari Wisnu juga akan bersuara. “Dan dari keluarga Aditya juga akan memberikan 10 persen saham central medika untuk hadiah kelahiran cucu saya.”


Suara riuh tepuk tangan terdengar akan pemberian mereka.


Nikita yang sempat tertegun mendengar pemberian itu kini mulai sadar. “Gila oma dan opanya Ra. Orang lain hadiah kelahiran perlengkapan bayi, baju atau kereta bayi, anak kamu malah dapat saham,” Nikita berdecak kagum menatap bayi dalam gendongan Sarah.


“Berapa milyar itu? Ini anak belum apa-apa sudah jadi anak emas.” Rena menatap ke atas berpikir keras sambil tangannya menghitung nominal uang.


“Sayang Ale cowok kalau ngak aku jodohin, langsung kaya mendadak deh.”


“Huss mami, itu calon mantuku nanti,” sela Nikita kali ini mereka bersaing memperebutkan Arsya.


“Ia kan Ra. didik dia dengan baik Ra jangan sampai jutek kaya ayahnya,” ujar Nikita membuat Arsen kembali kesal


“Kalian ini, menyebalkan.” protes Arsen.


“Yaelah Niki, mantu dari mana? Kamu nikah aja masih terhalang restu,” ejek Rena tentang fakta ibu Bian yang sulit memberikan restu.


“Mami!” teriak Nikita tak terima.


Rena memicingkan matanya.“Kata ibunya dalam hati. Aku tidak akan membiarkan anakku jatuh ke tangan perempuan ular sepertimu,” ejek Rena menirukan adengan sinetron memancing kekesalan Nikita.


“Mami! Awas ya.”


Arsen, Sarah dan Rena kompak tertawa mengejek Nikita itulah kebahagiaan mereka yang semakin kompak dan saling mendukung menjalani hari.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2