CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
keinginan Arsen.


__ADS_3

Sarah berada di kamarnya setelah mandi membersihkan diri. Gadis cantik ini duduk di meja rias, menatap wajah cantiknya. Bulir air mata kembali menetes membasahi pipi, tak kala melihat pantulan dirinya di cermin. Sangat menyedihkan dengan wajah pucat menghiasi, mata sembab disertai banyaknya tanda bekas kecupan yang ditinggalkan Arsen di leher putih mulus itu, membuatnya menatap jijik pada dirinya sendiri.


"Kenapa semua jadi begini? Aaaahhh ....” teriak Sarah penuh amarah. Sarah menyapu apa pun di atas meja dengan tangannya, menghambur semua yang berada di atas meja rias, hingga semua berantakan terburai di lantai. Suara tangisan semakin keras. Ia merosotkan tubuhnya duduk di lantai, semua telah hancur bersama dengan mahkota kebanggaan yang telah direbut oleh lelaki yang dianggap hanya sebagai Kakak. Sarah tak menyangka pernyataan cinta yang diterima dari Arsen akan membawa petaka baginya.


"Bian maafkan aku, telah mengecewakanmu. Aku gagal menjaga kehormatanku," batin Sarah dengan air mata yang tiada henti berlinang.


"Ibu maafkan aku juga. Aku gagal menjalankan keinginan Ibu. Aku gadis yang tidak berguna, sekarang aku tidak pantas mendampinginya. Dia yang aku anggap kakak, tega melakukan semuanya padaku tidak ada gunanya selama ini aku berlindung di rumah ini,” gumamnya putus asa.


Sarah larut dalam tangisan tak menyadari jika Arsen masuk ke dalam kamar, hendak membujuk gadis yang dicintai itu, untuk menikah dengannya. Sesuai dengan janji papa, yang akan menikahkan mereka jika Sarah setuju, kini tinggal mendengar keputusan Sarah maka Wisnu akan menikahkan mereka, satu langkah lagi maka Arsen bisa memiliki Sarah sang pujaan hati.


“Ra!” panggil Arsen di depan Sarah yang duduk tertunduk menangis menutupi wajahnya, tak menyadari kapan Arsen masuk ke dalam kamarnya.


Sarah mendongak mendengar panggilan Arsen, mengusap air mata dengan punggung tangannya.


“Mau apa kamu?” bentak Sarah emosi melihat Arsen di depannya.


“Ra. Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab. Kita akan menikah. Menikahlah denganku,” pinta Arsen dengan tulus, terlihat jelas di wajahnya terdapat penyesalan besar karena melakukan cara hina untuk memiliki gadis yang ia cintai.


“Jangan mimpi, aku sangat membencimu. Kau telah menghancurkan semuanya,” geram Sarah kemudian berdiri menjauh dari Arsen.


Sarah berjalan cepat menuju arah lemari pakaiannya mulai membuka pintu lemari dengan kasar, lalu meraih koper dan bergegas mengisi dengan pakaiannya. Ia akan pergi dari rumah Hutama. Rumah yang dia anggap bisa memberinya kehangatan keluarga dan menjaganya, justru keluarga inilah yang telah menghancurkannya.


“Ara! Apa yang kamu lakukan?” tanya Arsen panik saat melihat Sarah mengemasi pakaiannya.


“Aku akan pergi, tidak ada gunanya lagi aku disini!”


“Tidak kau tidak boleh pergi dari rumah ini." Arsen menghentikan pergerakan Sarah menahan pergelangan tangan gadis itu


“Lepaskan jangan hentikan aku!” Sara mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Arsen sungguh kuat membuat Sarah semakin bertambah kesal dengan pemuda yang ada di hadapannya.


“Ara mengertilah aku sangat mencintaimu,” kembali Arsen mengungkapkan isi hatinya.


“Dan aku membencimu, sangat membencimu! Kau membuatku menjadi perempuan yang tidak berguna. Aku akan pergi!" murka Sarah menyentak tangannya dengan keras hingga akhirnya terlepas dan gadis ini kembali mengemas pakaiannya.


“Jangan pergi kita harus menikah!” paksa Arsen mulai putus asa mendengar penolakan-penolakan dari Sarah.

__ADS_1


“Apa kau akan tetap pergi bersamanya!” bentak Arsen menatap tajam, amarahnya mulai naik melihat Sarah tak mengurungkan niat meninggalkan rumah ini, serta membayangkan gadis ini akan kembali pada pujaan hatinya.


“Kau masih bertanya setelah semua yang kau lakukan padaku! Apa sekarang aku masih pantas bersamanya!” teriak Sarah suaranya menggema memenuhi ruangan amarahnya memuncak. “Biarkan aku pergi! Aku tidak akan kembali bersamanya lagi. Bahkan aku tidak punya keberanian untuk menampakkan wajahku di hadapannya,” lirih Sarah tertunduk sedih kembali cairan bening itu tak bisa terbendung.


Sarah telah selesai mengemasi pakaiannya hendak pergi, namun Arsen masih mencoba menghentikannya. Ia menarik lengan Sarah mencegah kepergian gadis yang ia cintai.


“Sarah jika kau tidak menikah denganku. Aku bersumpah padamu, aku akan menghancurkan Bian!” ancaman terucap dari mulut Arsen, menatap tajam pada Sarah, tidak ada lagi bujukan untuk gadis ini, sekarang dia menggunakan ancaman mematikan agar Sarah bisa menerimanya.


Sarah mendengus menatap sinis pada Arsen yang mengancam orang dicintainya, kemudian melepaskan cengkeraman tangan Arsen secara paksa.


Arsen melipat tangan di dada sekarang akan menggunakan kekuasaannya setelah semua ucapan permohonan, gagal membujuk Sarah.


“Kamu tahukan aku terkenal sebagai Ceo yang bisa menghancurkan siapa pun yang tidak aku suka dan tiga bulan lagi ulang tahunku. Saat itu aku akan memegang perusahaan papaku. Itu artinya kekuasaan tertinggi ada padaku jadi walau sekaya dan sehebat apa pun Bian, dia tidak ada apa-apa dan sebanding denganku. Aku bisa menghancurkannya dengan mudah, aku bisa menaklukkan semuanya," ancam Arsen wajahnya berubah serius tak main-main dengan apa yang telah dia ucapkan.


“Ar kau semakin menjijikkan!” Sarah mengepalkan tangan, wajahnya memerah menahan amarah dan semakin emosi melihat pemuda yang ada di hadapannya.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin dirimu.”


“Arsen kau gila!" teriak Sarah frustrasi dengan ancaman Arsen tahu pemuda ini tidak akan main-main dengan ancamannya.


"Iya apa pun demi bersamamu, pikirkan itu baik-baik. Menikah denganku atau kamu mau aku menghancurkan Bian.” Arsen memasang wajah dingin tak ada kelembutan yang ia tampak jika dengan membujuk gagal, ia akan menggunakan kekuatannya.


“Jangan ganggu Bian. Dia tidak tahu apa pun, dia sudah bersusah payah mendapatkan semuanya,” mohon Sarah dengan nada terendah dan terisak mengharapkan belas kasih dari Arsen, ia sadar siapa yang diajak berdebat yaitu tuan berkuasa.


Arsen mengalihkan pandang ke samping tak kuasa melihat Sarah menangis di hadapannya dan memohon belas kasih demi orang yang ia cintainya.


“Pilihan ada padamu, kuharap pilihanmu adalah menikah denganku,”


Suasana hening Sarah dan Arsen terdiam dengan pikiran masing-masing hingga kedatangan pelayan membuat perhatian mereka mengarah pada pelayan.


“Nona Sarah, Bian datang mencari Anda, ia sangat ingin bertemu Anda,” jelas pelayan.


Tubuh Sarah bergetar mendengar Bian datang mencarinya, rasa rindu, sedih, takut, kecewa semua berbaur jadi satu ia tak sanggup. Hanya air mata yang turun.


Arsen mengepalkan tangannya rasa cemburu merasuk dalam hati. Tanpa persetujuan dari Sarah, Arsen memerintah pelayan.

__ADS_1


“Suruh dia pergi dan katakan padanya, Sarah sedang tidak bisa di ganggu,” ketus Arsen memasang wajah dingin pada pelayan. Tak peduli apakah Sarah setuju jika pelayan menyuruh Bian pergi atau tidak.


Sarah tertunduk, hanya terisak mendengar Arsen memerintahkan Bian untuk pergi. Dan ia juga tak sanggup untuk menemui orang di cintainya itu. Perasaannya terluka saat Arsen mengusir pemuda yang dicintainya pergi.


“Aku beri waktu kamu berpikir hingga besok. Kamu sudah harus mendapatkan jawaban,” ucap Arsen berbalik meninggalkan Sarah tanpa ingin mendengar keluhan dari Sarah lagi.


“Sarah Alia Wardani, aku pastikan kau akan menjadi milikku,” batin Arsen melangkahkan kaki keluar dari kamar dengan seringai terlukis di wajah tampannya.


Sarah berdiri mematung mendengar ancaman Arsen dia sungguh sangat takut jika pemuda itu benar membuktikan kata-katanya, menghancurkan usaha Bian yang sudah dia bangun selama ini.


Air mata Sarah semakin deras mengalir, terduduk di lantai seluruh tubuhnya terasa lemah setelah mendapatkan ancaman dari Arsen. Dia tidak mungkin melihat Arsen dengan mudah menghancurkan seluruh kerja keras Bian, tapi akankah ia menyerahkan dirinya, pada pemuda yang telah menghancurkan semua mimpinya. Akankah ia mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Bian dari kehancuran.


Dret ...Dret ... getar ponsel terdengar di nakas Sarah bangun meraih ponsel, sebenarnya ia sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya, itu pasti panggilan dari Bian.


Sarah bergegas meraih ponselnya menatap layar dan benar saja panggilan dari Bian. Gadis ini hanya menatapnya tak ingin menjawab panggilan itu, hingga getarnya terhenti, Sarah menggeser layar setelah melihat ada pesan yang di kirim Bian.


Ara kamu di mana sayang?


Kenapa kamu enggak datang?


Mengapa kamu enggak menjawab panggilanku.


Ara aku sangat merindukanmu ...


Apa kau masih marah padaku karena aku meninggalkanmu, Aku minta maaf, jangan marah lagi sayangku.


Ara sayang aku sudah kembali untukmu.


Aku bisa gila mencarimu Jawab teleponku, aku sangat ingin bertemu denganmu.


Apa kau tak merindukanku setelah empat tahun kita berpisah.


Ara aku sangat mencintaimu. aku sangat ingin bertemu denganmu


Pesan beruntun yang di kirim Bian membuat hati Sarah terenyuh. Ia tahu Bian pasti sangat mencemaskannya. Bian sangat mencintainya lebih dari apa pun.

__ADS_1


“Bian kita sudah tidak bisa bertemu lagi. Sebaiknya kau melupakan aku,” batin Sarah memeluk ponselnya.


Hubungan percintaan mereka semakin rumit bak benang kusut selain di halangi oleh Arsen, ia juga sudah merasa tak pantas untuk hidup dengan Bian.


__ADS_2