CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
Episode 52


__ADS_3

Pernikahan Sarah dan Arsen telah berjalan beberapa hari, selama itu Sarah hanya berkurung di dalam kamar, meratapi garis takdirnya berjodoh dengan tuan jutek. Rasa benci dan kecewa pada Arsen masih sangat besar hingga saat ini ia belum bisa menerima Arsen sebagai suaminya. Tak pernah terpikir sedikit pun jika ia akan mengarungi bahtera rumah tangga dengan pemuda yang tidak di cintainya.


Sarah berada di dalam kamar duduk termenung di tempat tidur tak tahu apa yang harus di lakukan, sudah berhari-hari ia mendiamkan Arsen. Dia tak akan pernah menerima pemuda itu sebagai suaminya. Sarah tak akan melakukan tugasnya sebagai istri, ia tak peduli bagaimana dengan Arsen, yang harus menjalani harinya menjadi pemuda susah tak punya apa-apa, bahkan ia tak tahu di mana suaminya itu tidur, karena ia tak ingin Arsen tidur di kamar yang sama dengannya. Walau pun Arsen telah berjanji padanya tak akan meminta haknya sebagai suami, Sarah tetap merasa tak aman bersama Arsen.


“Awww,” teriakan terdengar dari luar kamar, membuyarkan lamunan Sarah membuatnya, tersentak kaget mendengar suara Arsen, Sarah bangkit dan akhirnya keluar kamar mencari sumber suara yang terdengar sedang mengalami kesulitan.


Sarah bergegas berjalan ke arah dapur di mana sumber suara teriakan. Matanya gadis ini membulat sempurna saat melihat Arsen berdiri ketakutan di depan kompor yang menyalah dengan penggorengan yang meletupkan minyak, serta asap yang mengepul. Seketika kepanikan melanda melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


“Ahhhh. Panas,” rintih Arsen mengusap tubuhnya yang terkena letupan minyak.


“Ar, minggir dari sana!” teriak Sarah panik kemudian bergegas mendekat mencoba menolong, mendorong tubuh Arsen menjauh, kemudian dengan hati-hati tangan Sarah menjulur mematikan kompor.


Sarah menghembuskan napas lega saat api kompor telah berhasil padam, letupan minyak terhenti, dan asap pun mulia mengurang, Sarah berjalan mendekat menatap ke arah wajan penggorengan melihat apa yang sedang di masak oleh Arsen.


Sarah menarik napas panjang mencoba menghilangkan kepanikan yang ditimbulkan oleh Arsen, kemudian berbalik menatap tajam pemuda yang berdiri mematung di belakangnya.


“Apa yang kau lakukan!” bentak Sarah menghakimi dengan nada kesal serta tatapan tajam pada Arsen yang hampir saja menghaguskan semuanya.


“Aku sedang belajar memasak,” cicit Arsen dengan nada terendah merasa bersalah dengan kekacauan yang telah ia perbuat, hampir saja ia membakar rumah kontrakan mereka.


“Masak kau bilang! Kau masak apa!” bentak Sarah suaranya meninggi.


“Aku sedang belajar membuat nasi goreng,” jelas Arsen pelan.


“Ha ... Nasi goreng!” ulang Sarah menatap tak percaya memutar bola mata malas sambil melipat tangan di dada. “Dan kau menghabiskan sebotol minyak goreng!” dengus Sarah tersenyum miring menatap sinis pada Arsen. “Mana ada orang yang membuat nasi goreng dengan satu liter minyak!” berdecak kesal melihat pengetahuan memasak Arsen tentang makanan yang hampir saja membakar rumah.


“Aku pikir karena namanya nasi goreng jadi aku menggorengnya dengan banyak minyak dan minyaknya malah meletup-letup, dan aku takut mematikan kompor,” jelas Arsen dengan wajah tampan yang terlihat polos membuat Sarah tak jadi marah dan seketika menahan tawanya. Melihat kelakuan seorang Ceo mencoba hal baru yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya yaitu memasak.


“Nasi goreng hanya menggunakan sedikit minyak. Bukan seperti menggoreng ikan atau ayam goreng,” jelas Sarah merasa lucu namun masih berpura-pura kesal.

__ADS_1


“Aku sudah belajar mencuci pakaian, menjemur pakaian, mencuci piring, menyapu, mengepel lantai semua dari internet. Belajar memasak nasi di penanak. Tapi saat akan belajar memasak nasi goreng aku kehabisan kuota internet,”


“Apa!!! Kuota internetmu habis!” sambar Sarah menutup mulutnya tak percaya, Ceo besar seperti Arsen kehabisan kuota internet. Mungkin ini benar-benar kejadian menyedihkan yang di alami seumur hidupnya.


“Ya Tuhan ... Anak pemilik dua perusahaan besar, Ceo Kehabisan kuota,” batin Sarah merasa lucu dan juga sedih mendengar jawaban Arsen. pemuda ini benar-benar hidup sederhana demi dirinya.


“Aku sudah tidak punya uang lagi, aku hanya membawa uang terbatas, aku keluar rumah tidak membawa apa-apa, beberapa hari ini aku selalu memesan makanan melalui aplikasi,” jelas Arsen membuat Sarah terenyuh mendengar nasib Arsen yang telah jauh berbeda bahkan selama beberapa hari Sarah mendiamkannya tak peduli dengan keadaan Arsen.


“Aku ingin memasak untukmu, kau belum makan. Dan kita hanya punya nasi, karena itu aku ingin membuat nasi goreng, ” terang Arsen menghawatirkan keadaan Sarah yang terus mengurung diri di kamar.


Sarah terdiam sejenak hatinya melunak dan menjadi iba dengan pemuda yang ada di hadapannya. Arsen yang arogan selalu dikelilingi pelayan seketika berubah hidup serba kekurangan demi hidup bersama dirinya. Sarah sedikit menyesal karena telah mendiamkan Arsen beberapa hari dan tak pedulinya jika suaminya itu butuh bimbingan untuk menjalani hari baru.


“Sudahlah kau tidak perlu memikirkan aku.”


Sarah mendekat ingin mengetahui keadaan Arsen, ia melihat beberapa bekas percikan minyak yang memerah mengenai tangan putih mulus tuan Arsen.


Gadis ini menarik tangan Arsen untuk meninggalkan dapur lalu membawa pemuda ini duduk di meja makan hendak mengobati luka Arsen, walau bagaimana pun ia masih memiliki rasa kasihan tak bisa diam saja melihat Arsen terluka.


Tak beberapa kemudian Sarah kembali membawa kotak obat ditangan yang ia peroleh dari tetangga sekaligus sahabatnya Nikita. Sarah kemudian duduk di samping Arsen.


“Kemarikan tanganmu,” perintah Sarah.


Arsen menarik sudut bibirnya melihat Sarah yang masih perhatian padanya, walau pun istrinya ini marah namun masih peduli dan memperhatikannya. Dengan cepat Arsen menjulurkan lengannya.


Sarah mulai mengoles satu persatu bintik merah yang ada di tangan Arsen.


“Pulanglah Ar, kau tidak akan bisa bertahan. Ini semua tak semudah yang kau bayangkan,” ucap Sarah tertunduk sambil mengoles tangan Arsen dengan gel sesekali memberi tiupan.


“Tidak! Aku akan selalu bersamamu. Sesulit apa pun itu asal aku bersamamu  itu tidak masalah bagiku,” kekeh Arsen penuh keyakinan menatap ke arah Sarah.

__ADS_1


Sarah mendongak mengarahkan pandangannya pada Arsen. “Kau jangan keras kepala!” Sarah kembali kesal dengan keras kepala Arsen.


“Kita sudah terikat dengan pernikahan, kita akan terus bersama selamanya. Belajarlah mencintaiku. Aku adalah suamimu sekarang.” Tersenyum lembut.


“Setelah semua yang kau lakukan padaku, aku tidak tahu akan apa aku bisa mencintaimu. Kau hanya akan terus menderita jika terus berada bersamaku. Kau tahu kan tak ada laki-laki lain di hatiku selain dia,” jelas Sarah rasanya ia kembali ingin menangis mengingat apa yang telah Arsen lakukan padanya.


“Maafkan atas kesalahanku, cintaku padamu sangat tulus padamu, aku akan terus bertahan bersamamu,” kekeh Arsen tersenyum lembut pada Sarah membuat gadis ini hanya mencebikkan bibirnya.


“Baikah terserah padamu. Aku sudah memperingatkanmu, sebaiknya kau berhenti sebelum semuanya semakin menyakitkan bagimu.” Sarah bangun dari duduknya kemudian beranjak meninggalkan Arsen sendiri sambil menghentakkan kaki.


Arsen tersenyum melihat Sarah yang meninggalkannya dengan memasang wajah kesal. “Aku tidak akan menyerah untuk selalu bersamamu, aku tidak butuh semuanya, hanya kamu Ara,” batin Arsen merasa bahagia mimpinya hidup bersama Sarah telah terwujud walau pun yang ia dapatkan hanya amarah dari gadis itu.


***


Malam semakin larut Sarah yang tertidur di kamar tiba-tiba terbangun, merasakan tenggorokannya terasa sangat kering ia kehausan. Dengan malas Sarah bangkit dari tempat tidur lalu keluar kamar menuju dapur untuk menghilangkan rasa dahaganya. Langkah Sarah terhenti saat melihat Arsen berbaring meringkuk di kursi tubuhnya yang tinggi membuat posisi tidurnya terlihat tidak nyaman.


Sarah berdiri di kejauhan. “Apa yang harus kulakukan padamu? Kenapa kau melakukan semua ini hanya untuk bersamaku? Apa begitu besar cintamu padaku?” batin Sarah menatap iba pada Arsen yang terlihat menyedihkan. Tak tega dengan kehidupan mewah Arsen yang seketika berubah menyedihkan demi hidup bersamanya, sungguh miris pemuda yang selalu hidup mewah dan penuh dengan kenyamanan meninggalkan semuanya demi dirinya.


“Sampai kapan kau menyadari jika kita tak mungkin bisa bersama,” batin Sarah menarik napas berat. “Aku juga tidak tega melihatmu seperti ini, hidup susah bersamaku. Orang tuamu pasti sedih melihatmu menderita seperti ini.”


Sarah pergi meninggalkan Arsen yang tertidur, melangkahkan kaki ke dapur untuk mengatasi tenggorokannya yang terasa kering. Setelah meminum air putih dia kembali menuju kamarnya meninggalkan Arsen yang terlalap.


Sarah telah berada di dalam kamar duduk di tempat tidur memikirkan keadaan Arsen yang tertidur meringkuk di kursi serta kejadian tadi bagaimana laki-laki yang telah menjadi suami itu, berusaha untuk belajar semuanya demi dirinya. Ia sangat merasa bersalah membuat seorang tuan Arsen harus hidup sederhana, Sarah sangat tahu bagaimana kehidupan Arsen sebelumnya pemuda yang selalu di layani dan bisa memerintah hanya dengan jentikan tangan dan sorot mata sekarang itu semua sudah tak lagi.


Sarah meraup wajahnya kasar di satu sisi ia marah dengan cara Arsen mendapatkannya namun di sisi lain hatinya iba melihat pengorbanan Arsen untuknya. “Sampai kapan dia menyadari jika kita tak mungkin bisa bersama,” batin Sarah menarik napas berat. “Aku juga tak tega melihatnya seperti ini, hidup susah bersamaku. Orang tuanya pasti sedih melihatnya menderita seperti ini. Apa yang harus kulakukan, berhari-hari aku marah dan mendiaminya, dia juga masih tak menyerah dan pergi, ini salah aku tidak boleh diam lagi seperti ini,” rancau Sarah prutrasi dengan keras kepala Arsen yang masih tak mau menyerah menunjukkan cintanya pada Sarah.


“Baiklah tuan Arsen, istrimu ini akan mengajarimu hidup sederhana dan menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata, kita liat apa kau bisa bertahan hidup seadanya, serba kekurangan. Saat kau menyerah hidup susah, kau akan meninggalkanku lalu aku akan terbebas darimu. Dan menyesali keputusanmu hidup bersamaku.” Sarah menyeringai dengan pikirannya yang akan membuat Arsen menyerah beramanya.


“Aku juga sudah tidak boleh lagi mengurung diri dan bersedih. Aku harus bangkit dan melanjutkan hidupku. Semua telah terjadi, tak akan bisa kembali lagi, aku tidak akan mengingat lagi masa lalu. Aku akan bekerja untuk bertahan hidup,” gumam Sarah mulai mengatur hidupnya kembali dengan semangat. “Walau pun sulit aku akan melupakan Bian.” Sarah tertunduk sedih ragu apakah ia bisa melupakan Bian yang telah bertahun-tahun menempati hatinya.

__ADS_1


Sarah kembali akan mengatur kehidupannya dengan semangat baru mencoba melupakan semua yang terjadi padanya dan akan mencoba untuk hidup bersama dengan suaminya.


Apakah Sarah akan berhasil membuat Arsen menyerah dengan kehidupan sederhana serba kekurangan ataukah malah Sarah yang akan merasakan ketulusan cinta Arsen padanya, dan berbalik mulai mencintai Arsen dan melupakan Bian. Dapatkan Arsen masuk dalam hidup berbaur dengan orang-orang yang menatap kagum padanya ketampanannya.


__ADS_2