CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
2 janji Wisnu


__ADS_3

Arsen kembali berada di rumah sakit mendampingi keluarga papanya, tak mengidahkan amarah ibu yang telah melahirkannya, baginya saat ini mereka sedang membutuhkan kebersamaan dalam menghadapi cobaan yang melanda keluarga mereka.


Arsen membuka pintu ruangan dan mendapati papanya sedang duduk termenung di samping tubuh Erina yang terbaring. Di sofa dengan setia Sarah duduk menunggu ibunya dengan mata sembab serta di gurat wajah yang melukiskan lelah.


“Ar kamu kemari?” sapa Wisnu saat melihat putranya masuk, ada perasaan bangga melihat putranya yang selalu bersikap dingin pada keluarga barunya telah berubah menjadi perhatian.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Arsen berdiri di samping papanya menatap wajah pucat Erina yang sedang tertidur.


“Dia tertidur, dokter tadi memberikannya suntikan.”


 


Arsen dan Wisnu keluar setelah pamit pada Sarah untuk menjaga Erina. Wisnu dan Arsen duduk di bangku panjang menikmati minuman kaleng bersoda berbicara santai antara sesama lelaki.


 


“Terima kasih Ar, mau mengerti keadaan ini,” ucap Wisnu merasa lega karena bebannya terbagi dengan Arsen yang memahami keadaannya.


“Mamamu pasti tidak setuju, jika kamu selalu kemari,” terang Wisnu yang tahu hubungan Erina dan Wina.


Arsen menarik napas berat memandang jauh kemudian kembali menenggak minumannya. “Dia marah padaku, semalam aku bertengkar dengannya.” Curhat Arsen.


 


“Jangan seperti itu, bagaimanapun dia mamamu, dia sangat menyayangimu,” nasehat Wisnu tak mau jika Arsen membuat ibunya marah.


 


Wisnu menghela napas hubungan cinta masa lalunya menyakiti perasaan banyak orang. “Maafkan papa, kesalahan kami membuat kamu terluka, aku sangat mencintainya Ar,” ungkap Wisnu berbicara dari ke hati bersama putranya.


 


“Ar mengerti pa, kita tidak bisa memaksakan perasaan kita,” jelas Arsen memahami perasaan papanya sama seperti dirinya yang tidak bisa menghapus Sarah dari pikirannya begitu jugalah yang di rasakan papanya tak bisa melupakan Erina.


 


Wisnu menarik sudut bibirnya menatap wajah putranya dalam, merasa terharu sekarang Arsen telah memahami dirinya. Putranya telah tumbuh menjadi lelaki yang bisa ia andalkan.


“Kelak Ar ketika kau jatuh cinta, pilihlah perempuan yang kau inginkan jangan menikah dengan perempuan yang tidak kau cintai,” pesan Wisnu menepuk bahu putranya.

__ADS_1


Arsen tersenyum penuh arti. “Apa papa bisa berjanji untukku? Siapa pun gadis yang aku pilih nanti menjadi istriku, papa harus mendukungku dan menikahkanku dengannya,” pinta Arsen menatap lelaki yang ada di sampingnya dengan tatapan penuh permohonan.


 


“Memangnya kau sudah punya gadis yang kau suka?” tanya Wisnu dengan tatapan menyelidik. Penasaran jika Arsen memang memiliki perempuan yang ia suka karena setahunya putranya ini sangat tertutup dan dingin terhadap kaum hawa.


Arsen membuang pandangannya tak mau papanya membaca raut wajahnya yang berseri membicarakan masalah wanita.


“Ar sudah punya, tapi ....”Arsen menggantung ucapannya terlihat ragu-ragu mengungkapkannya.


“Tapi apa Ar?” sambar Wisnu.


Arsen tertunduk lesu. “Kami sangat jauh berbeda bagai bumi dan langit. Dan mungkin semua orang akan mencibirnya jika kami bersama. Papa tahukan perempuan yang bersama Ar, hidupnya akan menjadi sorotan. Belum lagi mama pasti tak merestuinya,” jelas Arsen tertunduk mengungkapkan cintanya yang kelak akan penuh perjuangan. Namun ia mencoba mencari dukungan dari papanya.


“Tapi papa harus janji, siapa pun perempuan yang Ar pilih nanti, papa akan merestuiku dan menikahkan aku dengannya, walaupun semua orang tidak setuju, termaksud mama dan tak ada mendukungku. Papa harus tetap menikahkanku dengannya. Janji ya Pa?” desak Arsen pada papanya.


 


Wisnu tersenyum melihat permohonan putranya yang baru kali ini Arsen mengungkapkan isi hatinya.


 


 


“Ingat janji papa, seorang lelaki tidak akan melanggar janjinya,” ucap Arsen menarik napas lega setelah mendapatkan dukungan dari papanya.


 


Wisnu telah membuat janji pada Arsen yang harus ia tepati, janji yang tidak di mengerti jika kelak ia akan menyetujui jika putranya menyukai anak tirinya.


****


Erina dan Wisnu berada dalam ruangan perawatan menikmati kebersamaan, setelah mendengar diagnosa dokter yang mengatakan jika kondisi Erina semakin menurun rasa takut dan putus asa menghantui perasaan Wisnu.


“Sayang waktu terasa cepat berlalu baru tiga tahun kita hidup bersama, kamu harus kuat.” Suara Wisnu bergetar, sambil mencium tangan istrinya dengan sayang ada sesuatu tertahan di hatinya dan akan meledak.


Erina tersenyum pada suaminya. “Siapa suruh kamu dulu meninggalkanku menikah dengan yang lain, sekarang giliranku yang akan meninggalkanmu,” canda Erina dengan air mata yang lolos di ekor mata, telunjuknya mencolek hidung suaminya.


“Maafkan aku, aku menyesal dulu meninggalkanmu.” Wisnu tertunduk dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


 


“Kau bisa mengejarku lagi, nanti di sana.” Erina mengangkat jari telunjuknya ke atas. “Itu pun kalau kau tak terpikat dengan kecantikan bidadari.” Erina terkekeh pelan kembali melayangkan candaan pada suaminya.


 


“Tidak akan. Aku hanya ingin istriku,” balas Wisnu menggoda Erina dengan manja kemudian menghujani dengan ciuman bertubi-tubi di wajah pucat Erina.


 


“Sudah mas geli,” protes Erina. Keduanya tertawa bersama dengan air mata kesedihan yang menetes. Kehangatan ini mungkin tak lama mereka rasakan tak kalah Erina pergi untuk selamanya.


 


Erina menatap manik mata suaminya. “Mas jika aku sudah tak ada lagi ....” Suara Erina tercekat kembali membicarakan sesuatu buruk yang akan terjadi padanya. “Mas tolong jaga Sarah putriku,” pinta Erina dengan penuh harap menggenggam erat tangan suaminya.


Wisnu mengecup punggung tangan Erina. “Pasti. Dia putriku juga dan saat ini Arsen telah menerimanya sebagai saudara, jadi aku akan memberikan kasih sayangku yang sama padanya dan adil pada mereka,” janji Wisnu yang dulu tak menghiraukan Sarah karena takut Arsen kecewa dan tak mau lagi tinggal bersamanya.


“Mas aku punya satu permintaan untuk terakhir kalinya padamu ....” suara Erina semakin terdengar lemah.


“Jangan berkata seperti itu, kau pasti akan sembuh,” potong Wisnu. “Katakan apa permintaanmu? Apa pun itu pasti akan aku kabulkan,” janji Wisnu.


Erina terdiam sesaat lalu mengungkapkan keinginan dan sebagian rencananya.


“Kelak beberapa tahun lagi anak Bi Odah bernama Bian akan datang dengan niat baik untuk meminang Sarah. Aku ingin kau menikahkan putriku dengannya. Tolong mas ini permintaan terakhirku. Nikahkan Sarah dengan anak Bi Odah,” pinta Erina dengan penuh harap, rencananya akan semakin berjalan lancar jika Wisnu juga mendukung hubungan Sarah dan Bian.


“Sarah sangat mencintainya dan dia pemuda yang baik, aku ingin putriku hidup bersamanya,” tambah Erina.


Wisnu tersenyum mengelus pipi Erina dengan lembut. “Baiklah sayang. Aku akan menikahkan mereka dengan meriah, aku janji padamu. Bahkan jika saat ini kau mau aku menikahkan mereka sekarang aku akan melakukannya.” Wisnu serius dengan ucapannya jika itu keinginan Erina dengan mudah ia akan menikah Sarah dan Bian walaupun saat ini juga.


 


“Jangan sekarang mas tunggulah dia. Dia pasti datang untuk Sarah.”


“Kau tidak perlu khawatir aku akan menikahkan putri kita dengan pemuda yang ia cintai.”


“Terima kasih mas. Aku percayakan masa depan Sarah padamu.”


Kembali Wisnu membuat janji, kali ini pada Erina perempuan yang ia cintai. Kelak janji itu akan menjadi boomerang baginya. Ia akan bimbang harus menepati janji pada siapa. Janjinya kepada Arsen yang akan menikahkannya dengan gadis yang ia suka atau janji permintaan terakhir Erina padanya, yang meminta menikahkan Sarah dengan pemuda yang ia suka. Pada siapa akan ia memenuhi janjinya untuk menikahkan Sarah. Siapa yang akan ia pilih Bian atau? Arsen masa depan gadis ini ada di tangan Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2