
Saat ini Sarah mendekam di dalam kamarnya, kamar yang dulu berada tepat di samping milik Arsen. Demi agar tidak bertemu dengan pemuda yang di cintainya itu. Ia rela mengurung dirinya hingga merasa keadaan aman dan Arsen telah pergi ke kantor barulah ia keluar.
Matahari telah naik, sesuai agenda hari ini ia akan menonton film Nikita. Sarah akan menikmati waktunya dengan jalan-jalan. Gadis cantik ini telah berpenampilan rapi siap untuk pergi, namun sebelum itu ia meraih ponselnya menghubungi teman yang akan menemaninya menghabiskan waktu.
Sarah menempelkan ponsel di telinganya.
“Halo Ian, ini aku Ara.” Sarah menghubungi Bian.
“Ara, syukurlah kamu menghubungiku, kamu di mana?” cecar Bian
“Aku di kota ini.”
“Benarkah? Kamu sudah kembali!” Suara di seberang sana sangat terdengar sangat senang.
“Ia, Ian, waktuku tidak banyak temani aku jalan-jalan ya, aku ingin menonton film pertama Nikita.” Sarah.
“Baiklah tunggu aku akan menjemputmu.” Bian
“Tidak usah kita akan bertemu di sana.” Sarah
“Baiklah.” Bian.
Sarah memutuskan panggilannya, memasukkan ponsel ke dalam tas selempang yang ia pakai. Gadis ini menarik sudut bibirnya. Sarah memang tidak bisa bersama dengan Bian sebagai kekasih. Tapi, dia akan menjadi kakak-adik, walau bagaimana pun Bian adalah teman yang terbaik untuknya. Sarah sangat menyayangi ibu Bian dan mereka adalah keluarga baginya.
****
Sarah telah berada di gedung bioskop menanti kedatangan Bian, suasana sangat riuh di penuhi oleh banyak orang yang ingin menyaksikan akting seorang penyanyi besar Nikita Milly.
Sarah mengernyitkan dahinya, menatap bingung pada suasana yang semakin riuh dengan teriakan orang-orang hingga ia mengarahkan pandangan pada arah orang berlari.
Deg ....
Gadis cantik ini mematung menatap dari kejauhan, jantung Sarah seketika berdetak dengan kencang, tubuhnya bergetar ketika ia melihat kembali wajah pemuda yang ia cintai, rasa rindu menyeruak dalam hatinya. Sekuat hati ia membendung air matanya agar tidak menetes jatuh.
“Ar,” lirih Sarah. Ia terus menatap dengan penuh kerinduan pada pemuda yang bergandengan tangan dengan sahabatnya, ingin rasanya ia berlari memeluk pemuda tampan yang semakin mempesona itu.
Sejenak kerinduan itu menguasai dirinya tanpa sadar ia melangkah mendekat tak kalah orang menutup pandangannya. Sarah terlarut hingga masuk dalam kerumunan. Lupa jika ia sedang menghindari pemuda itu. Ia tidak menyangka akan melihat Arsen di tempat ini.
“Mba jangan diam saja!” protes orang yang ada di belakangnya.
Sarah akhirnya tersadar setelah orang mulai mendesak tubuhnya untuk bergerak lebih maju lagi mendekat ke arah pasangan terlihat serasi itu.
“Dia tidak boleh melihatku di sini,” batin Sarah kemudian berbalik meninggalkan kerumunan.
Sesuai permintaan Nikita, Arsen sedang menemani gadis cantik itu untuk pemutaran perdana filmnya, kali ini si tuan jutek kembali membantu Nikita untuk semakin tenar.
Arsen hanya diam raut wajah malas dan memaksakan senyuman yang di tampakkan pemuda itu, sesekali ia menggerutu di telinga Nikita tidak nyaman dengan banyaknya orang mengelilinginya. Hanya Nikita yang menjawab dan menyapa penggemar tidak peduli dengan sikap Arsen.
“Ara,” Mata Arsen mengerjap saat menatap sekilas punggung gadis yang berjalan menjauh, ia berjinjit agar pandangannya semakin luas namun bayangan itu telah menghilang.
“Apa mungkin itu Ara? Tapi, tidak mungkin. Aku hanya berhalusinasi,” batin Arsen matanya masih merotasi mencari bayangan itu.
*****
Seorang pemuda tampan berdiri tegak di dalam sebuah gedung, manik matanya menyapu keadaan sekitar sesekali menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Suasana mulai sepi, seluruh orang telah masuk ke dalam, menyaksikan film perdana Nikita Milly namun gadis yang berjanji akan bertemu dengannya belum menampakkan batang hidungnya.
Bian menarik napas lega saat melihat gadis cantik yang telah menjadi mantan kekasihnya itu berjalan mendekat padanya. “Ara,” ucap Bian.
“Maaf ya, buat kamu menunggu, sebenarnya aku dari tadi menunggu di sana,” jelas Sarah ia sengaja menunggu suasana sepi agar tidak terlihat oleh Arsen.
“Kenapa? Kau takut bertemu Arsen?” tebak Bian ia tadi melihat Arsen dan Nikita. Bian tahu Sarah pasti tidak ingin bertemu dengan Arsen.
Sarah hanya menampilkan senyum simpul pada mantan pacarnya itu.
__ADS_1
“Apa kabar kamu Ra?” tanya Bian mengacak rambut Sarah selayaknya seorang kakak pada adiknya, hubungan mereka tetap seperti dulu sahabat.
“Kabar aku baik Ian, Kamu apa kabar? Ibumu kamu baik-baik saja kan?” tanya Sarah telah dua tahun ia tidak berjumpa dengan pemuda ini dan ibu Odah penggemar menonton sinetron itu.
“Ke mana saja kamu selama ini?” tanya Bian namun kembali Sarah hanya melayangkan senyuman.
“Ayo kita masuk ke dalam filmnya sudah di mulai.” Sarah mengalihkan pembicaraan, menarik tangan Bian untuk ikut bersamanya.
“Ia, tapi setelah ini kau harus pulang bersamaku, bertemu dengan ibu, kamu harus cerita semuanya,” ucap Bian pasrah tubuhnya tertarik oleh Sarah.
*****
Film telah berhenti, namun mereka masih betah berada di dalam ruangan menunggu waktu yang tepat untuk keluar agar Sarah tidak bertemu dengan Arsen. Setelah memastikan telah aman mereka pun keluar mencari di mana keberadaan sang artis.
Sarah yang berdiri di samping Bian, menarik sudut bibirnya saat melihat gadis cantik yang sedang berdiri melayani fansnya untuk tanda tangan dan foto bersama terlihat sudah tidak ada Arsen di sampingnya.
“Ayo Ian, aku kenalin dengannya,” ajak Sarah menarik tangan Bian.
“Temui dia dulu, aku akan menelepon ibu dulu,” kata Bian.
“Baiklah.”
Sarah akhirnya melangkahkan kakinya mendekat ke arah sahabatnya itu.
“Boleh minta tanda tangannya juga, saya fans setia Anda,” ucap Sarah menyodorkan telapak tangannya ke arah Nikita, membuat artis cantik bersuara emas ini mengarahkan manik matanya pada pemilik telapak tangan.
“Ara!” teriak Nikita heboh tidak peduli dengan sekitarnya ia sangat senang bertemu dengan sahabatnya kembali.
“Ara, akhirnya kita bertemu lagi!” kembali berteriak memeluk erat tubuh Sarah.
“Maaf ya, saya harus pergi,” ucap Nikita begitu saja meninggalkan kerumunan.
Nikita menarik tangan Sarah meninggalkan orang-orang yang kebingungan melihat dirinya.
“Kau tidak boleh pergi. Kita harus ngobrol-ngobrol banyak, kamu harus cerita ke mana saja kamu selama ini?” oceh Nikita.
“Ara aku merindukanmu ke mana saja kau?” tanya Nikita antusias mengawali obrolannya.
Kembali Sarah tidak menjawab pertanyaan ke mana saja ia selama ini.
“Selamat Nik kamu sudah jadi Artis besar,” ucap Sarah menatap bangga pada sahabatnya ini.
“Ini semua berkat kamu dan Ar,” jelas Nikita, menatap wajah Sarah yang tertunduk saat ia menyebut nama pemuda jutek itu.
Sarah bungkam tidak ada yang bisa ia bahas mengenai Arsen mendengar nama itu saja membuat dadanya sesak menahan rindu. Tatapan matanya berubah sayu terlihat menyimpan kesedihan dan Nikita bisa membaca raut itu.
Nikita meraih tangan Sarah, menggenggamnya, menatap dengan tatapan lembut. “Ara ini sudah dua tahun, kembalilah padanya. Aku tahu kalian sama-sama tidak bahagia selama ini dan masih menyimpan cinta masing-masing,” ungkap Nikita yang selama ini dekat dengan Arsen ia tahu bagaimana hati pacar bohongannya itu.
“Ini sudah berakhir Niki. Kami sudah memilih jalan masing-masing.” Suara Sarah bergetar mengingat kata terakhir Arsen yang tidak akan mengejar cintanya lagi dan tidak berharap untuk kembali bersama. “Dia juga tidak ingin bersamaku lagi.”
“Ara aku tahu benar dia masih mengharapkanmu. Dia hanya takut patah hati, kau selalu membuatnya kecewa, menolaknya, mengacuhkan. Ia merasa kau tidak pernah menghargai cintainya dan aku rasa juga begitu.” Nikita merupakan saksi bagaimana hubungan Arsen dan Sarah, walau pun sikapnya terlihat tidak pernah serius, tapi ia mengerti tentang yang terjadi dengan hubungan mereka, Sarah yang awalnya mengacuhkan Arsen, seolah tidak menghargai Arsen di sisinya hanya pemuda itu yang selalu memperlihatkan cintanya.
“Kamu ingat kamu selalu menjauhinya, hanya dia yang selalu menunjukkan cintanya padamu,” jelas Nikita.
“Ra kini giliranmu, kejar dia berjuanglah untuknya kembalilah bersamanya. Sedikit saja kau menurunkan egomu dan harga dirimu, katakan kamu ingin kembali bersamanya ia pasti menerimamu.”
“Niki kami berbeda, mamanya tidak akan pernah setuju. Aku tidak pantas untuknya.”
“Ra jangan takut lagi dengan ancamannya, jangan pedulikan kami. Mamanya sudah tidak bisa mengancam kamu melalui kami. Aku sudah sukses, dan mami dia juga sudah mengolah bisnis pakaiannya yang sukses, dia bahkan punya pabrik,” jelas Nikita akan kehidupan mereka selama ini.
“Ra katakan kamu mencintainya, egoislah untuk kebahagiaanmu.”
“Niki aku harus pergi.”
__ADS_1
“Ra, aku mohon kalian harus bahagia. Tinggallah bersamanya,” Nikita menatap Sarah dengan wajah penuh permohonan ingin tuan jutek bahagia.
Obrolan Sarah dan Nikita terhenti saat Bian datang dan ikut bergabung dengan mereka.
“Duduk Ian,” ajak Sarah melihat Bian masih berdiri di sampingnya. Pemuda itu pun duduk berdampingan dengan Sarah.
“Ian kenalin ini Nikita,” jelas Sarah memperkenalkan Artis terkenal itu pada Bian dan Nikita tersenyum menawan, melihat pemuda tampan ini yang menurutnya tidak kalah dari Arsen.
Wajah tampan Bian terlihat mendengus, tersenyum miring. “Kau tidak perlu mengenalkannya padaku Ra, aku sangat tahu dia, semenjak dia menjadi artis, sudah banyak tv yang ibu pecahkan gara-gara aktingnya sebagai pelakor,” jelas Bian tentang emosi ibunya yang terlalu berlebihan saat menonton tv.
“Ibu kok jadi ngeri banget Ian,” Sarah bergidik membayangkan ibu Odah sedang menonton sinetron.
“Benarkah! Bagus dong, itu berarti aktingku hebat dong.” Nikita melayangkan senyuman bersikap centil seperti biasa.
“Ibuku sangat kesal padamu! Jika ia bertemu denganmu mungkin ia akan menyerangmu, saking kesalnya,” tukas Bian.
Dret ... Dret ... sebuah panggilan masuk di ponsel Bian membuat pemuda itu izin untuk pergi meninggalkan mereka sejenak untuk menjawab panggilan.
Melihat Bian yang telah pergi meninggalkan mereka. Nikita menggeser tubuhnya dekat dengan Sarah. “Ra, dia itu mantan kamu kan?” tanya Nikita mengingat wajah Bian saat bertengkar dengan Arsen dan di jawab Sarah dengan anggukan kepala pelan. “Beruntung banget sih kamu di cintai pemuda tampan. Dia juga kaya banget pemegang perusahaan Bie group,” jelas Nikita tahu siapa Bian.
“Ganteng Ra, aku suka,” jelas gadis centil ini merangkul lengan Sarah menatap gemas punggung Bian yang jauh di sana.
Sarah mendengus, menatap malas ia mengerti apa maksud dari sahabatnya. Sarah tahu jika Nikita tidak akan tahan dengan pesona cowok ganteng sama seperti yang sering ia lakukan.
“Ra, bagi nomornya dong, uruskan aku sama dia, ngak apa deh bekas kamu juga, kalau ganteng begitu aku mau,” rengek Nikita.
“Kamu ngak dengar ibunya sebel banget sama kamu,” jelas Sarah mengulum senyuman.
“Ya, Ara, pelit banget sih.” Nikita memasang wajah cemberut.
Obrolan mereka terhenti saat Bian telah kembali menemui mereka.
“Ayo, Ra, ibu sudah nyariin kamu, sudah ngak sabar ketemu sama kamu, kangen banget. Begitu tahu aku jalan sama kamu, langsung mau ketemu,” ajak Bian berdiri di samping Sarah.
Sarah bangun dari duduknya, berdiri di samping Bian.
“Niki aku pergi dulu.” Sarah memeluk Nikita seraya berbisik di telinga. “Jangan beritahu Arsen jika bertemu,” pesan Sarah.
“Ia, Hati-hati.”
Sarah dan Bian berjalan beriringan meninggalkan tempat itu, sambil berjalan santai Sarah mencoba berbincang dengan sahabatnya. Sarah tahu hingga saat ini ia masih melihat cinta yang besar di mata Bian untuknya, pemuda itu tidak akan melupakannya dengan mudah.
“Bian, Nikita itu gadis yang baik, cantik, Cobalah dekat dengannya,” ucap Sarah menurutnya lucu juga jika Bian bersama dengan Nikita,
Bian menatap Sarah lekat, ia tahu jika mantannya ini sedang mencoba untuk membuatnya kembali membina hubungan dengan gadis lain. “Tidak Ra, ngak ada yang bisa menggantikan kamu di hati aku,” jelas Bian, gadis di sampingnya ini akan selalu menempati hatinya walau cintanya ini sudah tidak ingin kembali lagi padanya.
“Ian, buka hatimu, kamu harus menjalin hubungan lagi.”
“Aku tidak bisa Ra,” tolak Bian.
“Ian demi aku cobalah, kamu ngak akan menyesal bersamanya, dia sangat baik, ceria,” mohon Sarah membuat wajah sememelas mungkin, membuat Bian menjadi tidak tega melihat raut wajah itu.
“Ra kalau pun aku mencoba dekat dengannya, ibuku juga tidak akan suka padanya kau tahukan aktingnya sebagai orang jahat membuat ibu membencinya,” jelas Bian membayangkan ibunya pasti akan kejang-kejang jika ia bersama Nikita.
“Ian, coba dulu. Aku akan membantumu nanti bicara dengan ibu, Ian please demi aku, aku ingin kamu menemukan kebahagiaanmu.”
“Baiklah, aku akan mencobanya.” Bian pasrah.
“Makasih Ian, handphone kamu mana?” tanya Sarah mengulurkan telapak tangannya.
“Buat apa?” tanyanya tak mengerti.
“Aku akan menyimpan nomor Niki di ponsel kamu, kamu harus menghubunginya, jangan tidak,” tutur Sarah.
__ADS_1
“Baiklah. Aku pasti menghubunginya.” Bian kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menyodorkannya kepada Sarah.
Sarah berharap jika suatu saat nanti Bian akan menemukan kebahagiaannya dan melupakan masa menyedihkan tentang cintanya yang kandas bersama dirinya.