
Sarah menggeliat perlahan, kesadaran mulai kembali ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang semalam membatu, tak bisa ia gerakan. Kali ini dengan tubuh yang terasa remuk redam ia mencoba bergerak. Matanya mengerjap perlahan disertai dengan tangan memegangi kepalanya yang masih berat. Saat kesadaran telah ia dapatkan dan bola matanya terbuka sempurna. Sarah memutar pandangannya merasa asing dengan keadaan sekitar.
Separuh ingat Sarah telah kembali hanya potongan tentang Bian datang dan sedang menunggunya.
“Bian ... Dia menungguku ....” Sarah bangun hendak turun. “Aww,” keluh Sarah terduduk merasakan sesuatu yang sakit di bagian bawah tubuhnya dan kepalanya yang terasa berat. Ia memegangi kepalanya, Otaknya mulai berpikir keras mengingat kejadian semalam. Ia mulai merangkai kejadian itu, setelah telepon Bian yang menunggunya lalu pengakuan cinta Arsen dan ia mengingat penjaga membekapnya dengan obat bius atas perintah Arsen hingga ia menjadi lemah, di setengah kesadaran tubuhnya di gendong oleh Arsen menuju kamar mengingat Arsen terus menciumnya.
Sarah tersentak mengingat Arsen menciumnya, ia dengan segera menunduk mengarahkan matanya pada tubuh yang terbungkus selimut.
“Tidak mungkin!” teriak Sarah air matanya mengurai deras melihat tubuhnya polos di balik selimut dengan banyak tanda kemerahan menghiasi kulit mulusnya serta ada bercak darah di seprei yang berwarna putih itu.
“Ini hanya mimpi, ini tidak terjadi,” histeris Sarah menangis sejadi-jadinya menutup wajahnya dengan selimut. Ia telah hancur mahkotanya telah di rebut. Kesucian yang telah ia jaga untuk Bian telah di rampas oleh laki-laki lain. Keindahan malam pengantin bersama pemuda yang ia cintai hilang sudah.
Sarah terus menangis dirinya, ia merasa sangat hina, kotor. Empat tahun yang di lalui menjadi sia-sia. Semua hancur hanya dengan semalam.
Arsen keluar dari ruang ganti pakaian, pemuda ini telah rapi dengan wajah bersinar bak pengantin baru. Ia melihat Sarah telah bangun dan menangis menutup wajahnya.
“Ara.” Arsen mendekat pada Sarah duduk di tepi ranjang.
Sarah mendongak menatap Arsen dengan penuh amarah yang membuncah.“Apa yang telah kau lakukan padaku!” murka Sarah.
“Maafkan aku, aku melakukan itu padamu karena aku sudah tidak tahu dengan apalagi agar kau menjadi milikku dan kau percaya jika aku benar-benar menyukaimu,” jelas Arsen.
“Kau menghancurkan masa depanku. Kau membuatku menjadi perempuan kotor dan hina,” teriak Sarah dengan air mata kekecewaan yang tak bisa berhenti menetes.
“Masa depanmu bersamaku, kita akan menikah.” Arsen mencoba mendekat ke arah Sarah memberi pengertian.
“Berhenti! Jangan mendekat! Jangan menyentuhku! Aku tidak akan menikah denganmu, aku sangat membencimu. Hingga rasanya aku ingin menghabisi nyawamu!” berang Sarah hanya akan menanamkan kebencian di hatinya untuk Arsen. Pemuda itu telah merengut semua, merampas mimpi-mimpinya bersama Bian. Mengagalkan rencana ibunya.
Arsen memasang raut sedih mendengar makian kebencian dari Sarah untuknya. Hatinya terasa pilu gadis ini benar-benar menolak keinginan untuk menikah. Namun Arsen tak peduli dengan amarah Sarah. “Kau harus menikah denganku,” paksa Arsen menatap dingin.
“Tidak akan! Keluar! Aku muak melihatmu! Keluar, pergi kau!” teriak Sarah penuh dengan emosi. Melempar Arsen dengan bantal.
“Aku akan keluar.” Arsen turun dari ranjang meninggalkan Sarah untuk bertemu papanya yang dari tadi menunggu penjelasan darinya.
“Bian maafkan aku ....” lirih Sarah kembali melanjutkan tangisan kehancuran.
****
Arsen masuk ke dalam ruangan papanya memutar pandangan mencari keberadaan lelaki paruh baya itu. Arsen menangkap bayangan papanya yang berdiri di depan jendela menatap pemandangan indah di luar.
__ADS_1
“Papa,” panggil Arsen berdiri di tempat tak melanjutkan langkahnya.
Melihat Arsen telah datang, Wisnu berjalan cepat mendekat ke arah putra kesayangannya.
“Memalukan,” teriak Wisnu dengan kemurkaan.
Plak ... Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Arsen. Membuat pemuda ini terhuyung dan wajahnya memerah.
“Apa yang kau lakukan Ar, kau membuat keluarga kita malu ....”
Plak .... Satu tamparan lagi di pipi Arsen, pemuda ini hanya diam menerima kemarahan papanya.
“Kalian Saudara! Kalian sudah gila melakukan seperti itu!” bentak Wisnu di hadapan Arsen menyesalkan perbuatan dua bersaudara ini.
“Ara tidak bersalah, dia tidak sadar, aku memperdayainya hingga menodainya,” ungkap Arsen tidak mau Sarah juga menerima kemarahan papanya. Cukup di saja yang menerima hukuman atas kesalahannya.
Mendengar pengakuan putranya membuat Wisnu meraup wajahnya frustasi dengan kelakuan bejat Arsen. Emosinya semakin meninggi, rahangnya mengeras mendengar putri kesayangan Erina mendapatkan perlakuan seperti itu dari Arsen. Putri yang telah di titipkan padanya dari perempuan yang ia cintai.
“Kenapa kau melakukan itu padanya Ar? Kau tahu ibunya menitipkannya pada kita!” Wisnu kembali mengibaskan telapak tangannya di pipi Arsen
Plak ... satu tamparan lagi untuk Arsen.
“Kau anak yang tidak berguna. Kau menghancurkan masa depannya. Apa tidak ada perempuan lain selain dia yang bisa kau tiduri, kau bisa membayar jallang untuk memuaskanmu,” murka Wisnu kembali tangannya mengantung, kembali hendak memukul Arsen rasanya berapa kali ia memukul putranya ia tidak akan merasa puas dan sebanding dengan kesalahannya.
Wisnu terdiam mendengar pengakuan cinta Arsen pada padanya, lelaki ini tahu itu berarti ini pertama kali Arsen jatuh cinta pada seorang gadis, tangan Wisnu menggantung niatnya kembali memberi tamparan pada Arsen dia terhenti.
“Cinta,” ucap Wisnu lirih memikirkan jika semua firasatnya benar Arsen benar jatuh cinta pada Sarah, namun sejak dulu ia menepis pikiran buruknya dan menganggap perhatian Arsen selayaknya kakak pada adiknya.
“Kamu gila Ar! kalian bersaudara! Dia adikmu! Dari sekian banyak gadis yang mengejarmu mengapa kau malah mencintainya!” bentak Wisnu rasanya ia ingin menelan putranya hidup-hidup.
“Bukan Pa. Dia bukan adikku, kami tidak memiliki hubungan darah sedikit pun dan aku tidak pernah menganggapnya adik!” Suara Arsen meninggi tidak terima jika cintanya terus di tentang hanya karena alasan mereka bersaudara.
“Arsen!” teriak Wisnu penuh amarah menggertakkan giginya melihat Arsen yang tak mengakui Sarah sebagai saudara tirinya.
“Aku sudah menodainya. Aku mohon papa menikahkanku dengannya. Aku harus bertanggung jawab dengan perbuatanku,” jelas Arsen dengan raut wajah bangga tak merasa bersalah sedikit pun.
“Menikahinya Ar!” Wisnu mendengus mendengar permintaan putranya segampang itu dia mengucapkan kata menikah.
“Aku sudah mencintainya sejak dulu,” akunya dengan tegas dan penuh keyakinan.
__ADS_1
“Itu tidak mungkin Ar di tidak mencintaimu dia. Dia hanya menganggapmu kakak.” Wisnu menatap sinis pemuda percaya diri di hadapannya. Sesuai pesan Erina, Sarah hanya mencintai anak bi Odah.
“Papa ingat di rumah sakit sebelum ibu Erina meninggal empat tahun yang lalu Papa berjanji akan mendukungku. Siapa pun gadis yang aku pilih papa akan menikahkanku dengannya siapa pun gadis itu,” beber Arsen
Wisnu terdiam teringat dengan janjinya pada Arsen bahwa siapa pun gadis yang di sukai oleh Arsen ia akan mendukungnya dan di hari yang sama juga ia telah membuat janji pada Erian menikah Sarah dengan pemuda pilihan Erina. Ia tak menyangka jika gadis yang di maksud putranya adalah Sarah. janjinya telah menyerang dirinya membuatnya tidak berdaya. Memilih kepada siapa ia harus menepati janjinya ia benar-benar dilema.
“Ar gunakan akal pikiranmu, kau jangan buta karena cinta. Kalian tidak mungkin menikah. Kau ini Ceo ternama apa kata orang nanti, liat status Sarah dan mamamu ... mamamu pasti tidak akan setuju.” Wisnu mengingatkan Arsen akan cintanya yang sulit untuk bersama Sarah.
“Sama seperti papa yang meninggalkan mamaku, demi cinta papa pada ibunya. Begitu juga denganku. Aku akan meninggalkannya semua demi dia.” Keyakinan Arsen.
“Arsen!” teriak Wisnu penuh amarah mendengar kelancangan Arsen.
“Aku sangat mencintainya. Kumohon nikahkan aku dengannya. Tolong tepati janji papa padaku, ini pertama kalinya aku meminta sesuatu.” Arsen memohon dengan kesungguhan hati demi menikah dengan Sarah. meminta pada papa yang di percayakan oleh Erina mengatur masa depan Sarah.
“Kau tahu permintaan terakhir ibunya pada papa. Ibunya ingin aku menikahkah putrinya dengan pemuda yang di cintai Sarah yaitu anak Bi Odah. Tidak mungkin aku menikahkannya denganmu,” jelas Wisnu kepalanya terasa berat melihat keinginan keras Arsen yang memaksakan kehendak sendiri untuk bersama Sarah.
“Aku sudah tidur dengannya, bagaimana jika nanti jika dia mengandung anakku,” kekeh Arsen.
“Ar. Sarah tidak mencintaimu, kau akan menderita menikah dengan orang yang tidak mencintaimu, kalian berdua tidak akan bahagia, sadarlah Nak,” bujuk Wisnu melunak miris melihat cinta putranya yang besar untuk pertama kali pada seorang gadis dan itu pun tak terbalas.
“Yang penting dia menjadi milikku dan terus bersamaku. Cintanya tak penting untukku.”
“Arsen ....” Wisnu semakin frustrasi dengan keinginan Arsen. Ia tak bisa membujuk pemuda ini.
Hening mengusai sejenak Wisnu diam memikirkan keputusannya yang akan dia ambil untuk cinta egois putranya. Wisnu benar-benar dalam kebimbangan dalam dua pilihan. Satu pesan terakhir dari istri tercinta, menikahkah putri yang dititipkan padanya untuk dinikahkan dengan anak Bi Odah dan satu lagi janji pada Arsen yang akan mendukung siapa pun gadis pilihan Arsen dia akan menikahkan. Wisnu sama sekali tidak tahu jika gadis yang di maksud Arsen adalah Sarah, ia mengira jika putranya hanya mencintai gadis biasa yang tak sekelas ternyata benar rumit gadis yang ia suka adalah saudara tirinya.
Wisnu menarik napas dalam memberi keputusan. “Baiklah, papa akan menikahmu dengannya ....”
senyum mengembang terbit di wajah tampan Arsen mendengar persetujuan papanya.
“Papa akan menikahkanmu dengannya dengan satu syarat dia juga mau menikah denganmu. Papa tidak mungkin memaksanya menikah. Itu sama saja menyakitinya. Dia juga anak papa, aku tidak akan membuatnya menderita. Aku harus mendengar keinginannya,” jelas Wisnu pasrah mendukung Arsen. Lagi pula putranya telah melakukan yang tidak pantas pada Sarah, Arsen harus bertanggung jawab
“Baiklah Pa, aku akan bicara padanya. Terima kasih karena Papa sudah mendukungku.” Senyum masih tertanam di wajahnya.
Arsen meninggalkan ruangan papanya, penuh dengan pengharapan tinggal persetujuan Sarah ia akan menikah dengan gadis ini.
Wisnu melangkah menuju meja, meraih bingkai foto yang terpajang memperlihatkan wajah cantik Erina tersenyum.
“Maafkan aku Erina. Aku tidak bisa mengabulkan permintaan terakhirmu. Aku terpaksa mengabulkan keinginan Arsen. Dia telah melangkah terlalu jauh, dia harus bertanggung jawab, dia sangat menginginkan putrimu. Apa kau bisa melihat putraku, dia sama sepertiku jika sudah mencintai kami tak bisa berpaling lagi. Aku merasakan besar cintanya Erina, kisah cinta kita terulang lagi pada anak kita, tapi dia lebih berani dariku. Dia berani berjuang untuk perasaannya. Maafkan aku jika aku menyerahkan putrimu pada Arsen,” keluh Wisnu memegang foto istrinya.
__ADS_1
“Aku tidak berdaya Erina, mungkin takdir Sarah bersama Arsen bukan anak Bi Odah.”
Arsen telah mendapatkan persetujuan dari papanya tinggal membujuk Sarah agar mau menerimanya. Apa dia akan berhasil membuat Sarah untuk menikah dengannya? Lalu bagaimana dengan Bian.